Informasi Kegiatan
Sehubungan dengan telah diterbitkannya Foto/Poster Resmi Presiden RI dan Wakil Presiden RI (Copyright 2009 : Biro Pers dan Media/Rumga-Pres RI). Bersama ini dengan hormat diberitahukan kepada seluruh Kantor Pemerintah (Kantor Menko, Departemen, Lembaga Negara, Pemerintah Provinsi, Pemerintah Kabupaten/Kota, BUMN dan Kantor Perwakilan RI) yang memerlukan foto/poster tersebut dapat mengambil langsung dengan membawa surat permohonan ke Biro Pers dan Media Rumah Tangga Kepresidenan Sekretariat Negara RI, Jl. Veteran 16 Jakarta 10110, Telepon 021-3860189.
 
mediacomindo
MENU UTAMA
Standar Pelayanan Setneg
Prosedur Tetap
Pengumuman CPNS Setneg
Pengumuman CPNS Setkab
Informasi Tanda Kehormatan
Indonesia Technical Cooperation Programme
Kerjasama Teknik Luar Negeri
Informasi Beasiswa
Jurnal Negarawan
Berita Foto
Pengaduan Masyarakat
Pengumuman
Webmail SETNEG
Koperasi SETNEG
Link
    www.indonesia.go.id
    www.setwapres.go.id
Hubungi Kami

SEKRETARIAT NEGARA
REPUBLIK INDONESIA
Jl. Veteran No 17 - 18
Jakarta 10110
Alamat e-mail ini telah dilindungi dari tindakan spam bots, Anda butuh Javascript dan diaktifkan untuk melihatnya

Refleksi Hari Sumpah Pemuda Bagi Generasi Muda Buat halaman ini dalam format PDF Cetak halaman ini
Selasa, 25 Maret 2008

Adhyaksa Dault

Menteri Negara Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia.

 

Peringatan Hari Sumpah Pemuda (HSP) ke-79 telah dilaksanakan serempak pada tanggal 28 Oktober 2007 yang lalu. Gema Sumpah Pemuda yang diikrarkan pada tanggal 28 Oktober 1928 silam, seolah masih bergema hingga kini. Setiap kali kita mengingat peristiwa Sumpah Pemuda, setiap kali itu pula kita menyadari betapa berharganya nilai persatuan dan kesatuan.

Demi menyegarkan kembali ingatan kita tentang Sumpah Pemuda, baiklah kita simak ulang isi sumpah suci itu:
1. Kami putra dan putri Indonesia mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia;
2. Kami putra dan putri Indonesia mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia;
3. Kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan bahasa Indonesia.

Peringatan Hari Sumpah Pemuda tahun 2007 ini mengusung tema “Meningkatkan Solidaritas, Integritas, dan Profesionalitas Pemuda Menuju Bangsa yang Sejahtera dan Bermartabat��?. Tema ini diharapkan mampu membangkitkan kesadaran segenap pemuda Indonesia dalam meningkatkan semangat kebangsaan serta mengantisipasi masih lemahnya daya saing pemuda Indonesia. Tema ini diharapkan pula dapat menginspirasi pemuda dalam melakoni pengabdiannya terhadap bangsa dan negara.

Mengacu pada tema tersebut, disadari sungguh bahwa tantangan kehidupan kebangsaan kita hari-hari ini memerlukan tampilnya para pemuda yang kuat semangat solidaritasnya, teguh integritasnya, serta profesional dalam bidang pengabdiannya. Solidaritas pada dasarnya mengandung nilai empati sosial yakni kemampuan merasakan penderitaan sesama dan kesadaran untuk berbagi rasa dengan orang lain. Integritas ditandai dengan adanya keteguhan akhlak, moralitas, sikap berani, dan bertanggung jawab.

Sedangkan profesionalitas mengandaikan adanya etos kerja, kemanapuan inovasi, produktivitas, dan kemampuan berdaya saing. Ketiga pilar inilah; solidaritas, integritas, dan profesionalitas, yang perlu kita kembangkan sebagai modal terbesar bagi pemuda dalana mengokohkan nasionalisme dan memperkuat pembentukan karakter bangsa (nation and character building), demi menuju masa depan bangsa yang lebih sejahtera dan bermartabat.

Tentu saja kita semua berkeyakinan bahwa para pemuda akan mampu mentransfer semangat Sumpah Pemuda 1928 dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan bangsa di era kekinian. Dengan begitu, peringatan Hari Sumpah Pemuda yang dilaksanakan secara rutin setiap tahun, tetap memiliki relevansi historis dari waktu ke waktu. Salah satu wujud semangat Sumpah Pemuda di era kekinian adalah dengan memunculkan kesadaran bahwa kemajuan bangsa yang berkeadilan sosial dan bermartabat, akan lebih cepat tercapai apabila bangsa Indonesia tetap mempertahankan rasa persatuan dan kesatuan. Menyadari itu semua, sudah sepatutnya para pemuda memiliki kesadaran posisi untuk terus mengasah jiwa kepeloporannya dalam memperbaiki kualitas kehidupan bangsa kita.

Rumah Besar NKRI
Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) ibaratnya adalah sebuah rumah besar yang terdiri dari berbagai kamar-kamar. Ada kamar partai, ada kamar propinsi, ada kamar etnik, dan beragam kamar kepentingan lainnya. Akan tetapi, demi kepentingan bangsa dan negara, maka kita semua sebagai anak bangsa harus keluar dari kamar-kamar tersebut dan menyatu di dalam kamar keluarga atau kamar tamu yang besar, dengan menghilangkan sekat-sekat primordialisme yang melekat pada diri atau kelompok masing-masing. Menyadari kondisi bangsa yang sarat dengan kemajemukan, maka generasi muda harus mampu mengasah semangat kebangsaannya demi menegakkan eksistensi rumah besar NKRI.

Menyimak sejarah perjuangan Para Pendiri Bangsa (the founding fathers) dalam melahirkan NKRI, maka saya sungguh berharap bahwa generasi muda mampu mentransfer semangat kebangsaan yang telah ditunjukkan oleh the founding fathers. Dengan demikian, saya sangat yakin bahwa kelak dari antara para pemuda, pasti muncul pemimpin-pemimpin bangsa yang memiliki kesadaran sejarah yang tinggi sekaligus memahami karakteristik bangsa Indonesia yang majemuk.

Kita tidak boleh melupakan sejarah. Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah; Jasmerah! Bung Kamo pernah mengatakan bahwa orang yang melupakan sejarah akan menjadi bayi seumur hidup. Oleh karena itu nilai-nilai sejarah dan semangat persatuan dan kesatuan sebagaimana yang terkandung dalam Sumpah Pemuda kiranya dapat diresapi, demi mengembangkan watak nasionalis-religius, menjaga eksistensi NKRI yang berdasarkan Pancasila dan DUD 1945 yang ber-Bhinneka Tunggal Ika.

Kita memiliki paham kebangsaan (nasionalisme) yang telah teruji oleh sejarah. Sebagai bangsa, kita telah mampu mengarungi gelombang sejarah dengan bangkit berjuang memerdekakan diri dari cengkeraman kolonia1isme. Hari-hari ini, menghadapi kolonialisme bentuk baru (neo-kolonialisme) yang berbaju modernisasi/westernisasi, atau globalisasi, sudah semestinya kita pun mampu mengatasinya dengan berpegang teguh pada paham kebangsaan Indonesia.

Untuk itu, sebaiknya para pemuda mulai mengembangkan nasionalisme populer yang bertumbuh dari bawah ke atas, tanpa harus menunggu petunjuk dari atas. Nasionalisme yang muncul dari atas biasanya bersifat elitis dan acapkali bermuatan kepentingan politik jangka pendek. Namun, nasionalisme populer yang tumbuh dari kesadaran masyarakat sebagai warga bangsa akan lebih bisa bertahan lama. Dengan berkaca pada perjuangan para pemuda yang sarat dengan idealisme kebangsaan di era 1908, 1928, 1945, 1966, dan 1998, maka saya sangat berharap agar para pemuda di seluruh penjuru tanah air mampu mentransfer idealisme, semangat juang, dan patriotisme Para Pendiri Bangsa demi menjaga martabat bangsa.

Di tengah situasi euforia reformasi yang masih terasa sekarang ini, saya berharap agar para pemuda mampu keluar dari penjara penyakit transisi demokrasi (the pain of democratic transition), di mana orang cenderung menggunakan kebebasan secara tanpa batas. Para pemuda hendaknya memupuk jiwa kepeloporan, daya intelektualitas, dan potensi profesionalitasnya agar terbangun iklim kondusif sebagai modal utama dalam menghidupkan sendi-sendi perekonomian bangsa menuju tatanan masyarakat dan masa depan bangsa yang lebih berpengharapan, lebih sejahtera, dan lebih bermartabat. Pemuda maju, Indonesia jaya!

 
< Sebelumnya   Selanjutnya >

Jurnal Negarawan
No : 01 (Agustus 2006)
No : 02 (November 2006)
No : 03 (Februari 2007)
No : 04 (Mei 2007)
No : 05 (Agustus 2007)
No : 06 (November 2007)
No : 07 (Februari 2008)
No : 08 (Mei 2008)
No: 09 (Agustus 2008)
No: 10 (November 2008)
No : 11 (Februari 2009)
No : 06 (November 2007)