Terjadinya perubahan iklim global dan bencana alam di berbagai negara yang akhir-akhir ini frekuensinya cenderung meningkat telah menimbulkan kekhawatiran akan dampaknya berupa kenaikan harga komoditi bahan makanan. Untuk itulah pantauan terhadap harga komoditi pokok terus dilaksanaan sebagaimana yang secara rutin dilakukan oleh Kementerian Perdagangan agar dapat diambil langkah kebijakan mengantisipasi atau mengatasi kenaikan harga yang terjadi di pasar dalam negeri.
Berikut adalah tabel perkembangan harga tujuh komoditi pokok yang diamati berdasarkan data pantauan Kementerian Perdagangan.
Perbandingan Harga Rata-Rata Nasional (Rp/Kg)
Komoditi Kebutuhan Pokok Hingga 25 Januari 2010
Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa dalam sepekan terakhir terjadi kenaikan pada beberapa komoditi pokok yang diamati. Dimana kenaikan tertinggi terjadi pada komoditi beras sebesar Rp. 90,- (1,42%) diikuti komoditi minyak goreng curah yaitu sebesar Rp. 95,- (1,00%), gula pasir lokal sebesar Rp. 23,- (0,21%), dan tepung terigu sebesar Rp. 15,- (0,20%). Sedangkan penurunan harga terjadi pada komoditi kedelai impor sebesar Rp. 74,- (0,89%), minyak goreng kemasan sebesar Rp. 43,- (0,51%), dan kedelai lokal sebesar Rp. 34,- (0,40%).
Dibandingkan dengan harga rata-rata bulan Desember 2009, pada 25 Januari 2010 terjadi kenaikan harga pada komoditi beras, tepung terigu, gula pasir lokal, minyak goreng curah, dan kedelai impor. Sedangkan penurunan harga terjadi pada komoditi minyak goreng kemasan dan kedelai lokal.
Jika dibandingkan dengan harga rata-rata bulan November 2009, pada 25 Januari 2010 kenaikan harga terjadi pada komoditi pokok beras, tepung terigu, gula pasir lokal, minyak goreng curah, dan kedelai impor. Sedangkan penurunan harga hanya terjadi pada komoditi pokok minyak goreng kemasan dan kedelai lokal.
Untuk lebih jelasnya, dapat dilihat dari grafik perbandingan harga rata-rata komoditi kebutuhan pokok di bawah ini.
Perbandingan Harga Rata-Rata Nasional (Rp/Kg)
Komoditi Kebutuhan Pokok Hingga 25 Januari 2010
Prediksi Kenaikan Harga Beras Dunia
Organisasi Pangan Dunia (FAO) memperkirakan adanya kecenderungan peningkatan harga beras dunia. Dalam laporannya, “FAO Rice Price Update” yang diterbitkan awal Januari 2010, dari indeks harga beras tampak bahwa harga beras dunia rata-rata 2009 mengalami penurunan sekitar 14,2 persen dibandingkan dengan kurun waktu tahun 2008. Namun demikian, dengan memperhatikan lebih rinci data laporan FAO tersebut terhadap harga beras bulanan, terutama dengan membandingkan antara harga beras bulan Desember dengan bulan Nopember 2009, terlihat bahwa telah terjadi peningkatan terhadap harga beras dunia. Bahkan beberapa jenis beras harganya juga lebih tinggi dibandingkan dengan harga pada bulan Desember 2008.
Berikut adalah grafik harga beras ekspor yang tertuang dalam laporan FAO Januari 2010.
Sementara harga beras ekspor sejak tahun 2005 - 2009 dilaporkan FAO sebagai berikut:
Sumber : Laporan FAO Rice Price Update Januari 2010. Diunduh dari: http://www.fao.org/ES/ESC/en/15/70/highlight_533.html
Dengan mencermati data laporan FAO tersebut, dan mengingat kondisi tingginya harga beras domestik seperti saat ini, instansi terkait perlu mengambil langkah-langkah antisipasi terutama kebijakan impor dan ekspor beras agar harga beras domestik dapat terjaga dalam level yang rasional. Langkah-langkah antisipasi tersebut semakin penting mengingat harga minyak dunia yang sekarang ini berkisar pada US$70–80 per barel, perubahan iklim global, dan bencana alam di berbagai negara yang akhir-akhir ini frekuensinya cenderung meningkat. Oleh karena itu, koordinasi antar instansi terkait seperti Kementerian Perdagangan, Kementerian Pertanian dan Bulog perlu lebih diintensifkan agar tercipta kebijakan yang sinkron, bersinergi dan saling melengkapi.
Salah satu kebijakan yang perlu dipertimbangan dengan lebih matang, misalnya wacana kebijakan ekspor beras. Karena perlu dicatat bahwa India yang selama ini dikenal sebagai eksportir beras dunia, sekarang sudah mulai mengimpor akibat menurunnya produksi beras dalam negerinya akibat gagal panen. Hal yang sama juga dialami oleh negara-negara lain, seperti Philipina dan Vietnam serta negara produsen beras lainnya yang produksi berasnya menurun akibat perubahan iklim dan gagal panen.
Berkenaan kenaikan harga beras domestik, Kementerian Perdagangan telah menyampaikan tujuh faktor yang dianggap sebagai penyebab tingginya harga beras domestik belakangan ini. Ketujuh faktor tersebut : pertama adalah karena pengaruh psikologis kenaikan HPP tahun 2010 sebesar 10 persen. Kedua, mundurnya masa tanam yang mengakibatkan mundurnya panen, sehingga masa paceklik menjadi lebih panjang. Ketiga, beras bersubsidi (rasdi) yang belum berjalan penuh atau optimal.
Keempat, ekspektasi pedagang dengan gencarnya berita tentang kenaikan harga beras dunia. Kelima, spekulasi kenaikan harga pupuk yang diperkirakan akan diberlakukan mulai April 2010. Keenam, hambatan transportasi akibat gangguan cuaca. Serta ketujuh, stok padi/beras petani, penggilingan dan pedagang relatif menipis.
Dengan adanya analisis yang tajam dan akurat terhadap faktor-faktor penyebab kenaikan harga beras domestik, diharapkan instansi yang berwewenang dapat segera mengambil langkah-langkah untuk mengatasinya dan langkah-langkah antisipasi agar hal serupa tidak terulang di masa mendatang.
( Ibnu Purna / Hamidi / Triana )
|