|
SAMBUTAN
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
PADA
PERTEMUAN
DENGAN PARA PELAKU PASAR MODAL INDONESIA
DI GEDUNG
BURSA EFEK INDONESIA
TANGGAL 4 JANUARI 2010
Bismillahirrahmanirahiim,
Assalamualaikum
warahmatullaahi wabarakatuh,
Salam sejahtera untuk kita semua,
Saudara Menko Perekonomian, Menteri Keuangan, para
Menteri dan anggota Kabinet Indonesia Bersatu, Saudara Gubernur DKI Jakarta,
para pejabat teras jajaran Departemen Keuangan, pimpinan Bapepam, Direktur
Utama Bursa Efek Indonesia dengan segenap manajemen, para pimpinan dunia usaha,
baik usaha negara maupun usaha swasta, utamanya para pelaku pasar modal.
Hadirin sekalian yang saya hormati,
Marilah, tidak henti-hentinya sebagai umat hamba
Allah untuk senantiasa memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha
Kuasa, karena kepada kita masih diberikan kesempatan dan kekuatan, untuk
mengatasi berbagai permasalahan yang dihadapi oleh bangsa kita, dan untuk
meningkatkan karya, tugas dan pengabdian kita kepada bangsa dan negara
tercinta.
Sebelum
saya menyampaikan pandangan, harapan dan ajakan saya kepada Saudara semua, apa
yang mesti kita lakukan pada tahun 2010 ini, saya ingin memberikan komentar
singkat. Satu, yang berkaitan dengan
lagu “Mentari Bersinar” tadi. Benar sebagaimana yang disampaikan oleh pembawa
acara maupun penyanyinya, bahwa lagu itu memiliki pesan yang baik sebenarnya,
karena mendidik kita untuk menjadi manusia dan bangsa yang optimis, untuk
bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, tetapi tidak menyia-nyiakan peluang.
Dikatakan: “janji Tuhan, mari kita
wujudkan”. Sebenarnya, sama dengan sebuah ajaran agama, bahwa Tuhan tidak
akan mengubah nasib sebuah kaum, kecuali kaum itu berjuang sekuat tenaga untuk
mengubah masa depannya. Begitulah kira-kira pesan moral, pesan spiritual, dari
lagu itu dan lagu itu saya ciptakan di Merauke, tahun 2006 ketika saya
berkunjung ke bagian timur wilayah kita, yang setiap hari mengirimkan matahari.
Matahari tidak pernah terbit dari barat ke timur, dari Sabang ke Merauke, tapi
dari Merauke ke Sabang. Jadi, baiklah sesungguhnya makna dari lagu itu. Nah
yang kedua, optimisme. Menteri
Keuangan juga sudah menyampaikan.
Saudara-saudara,
Menghadapi
situasi segelap apapun, sesulit apapun, termasuk ujian yang datang silih
berganti, jangan pernah kita kehilangan optimisme. Itu sangat-sangat penting.
Saya harus mengulangi berkali-kali. Kalau jiwa kita terang, tidak gelap. Kalau pikiran kita
positif, tidak negative. Kalau sikap kita optimis, tidak pesimis. Saya mengatakan kita sudah mencapai separuh
kemenangan. Tetapi, kalau dalam hati kita, pikiran kita, jiwa kita, kita
menganggap ‘wah gelap’, ‘wah kita nggak bisa mengatasi’, bagaimana masa depan!, kita sudah kalah
di situ dan kita tidak kemana-mana. Dan kita tidak menjadi siapa-siapa. Karena kita
tidak lulus di dalam menghadapi permasalahan, ujian dan tantangan itu. Tahun
lalu di ruangan ini, 5 Januari 2009, saya menyampaikan hal yang sama karena
saya tahu hati kita dirundung kecemasan, situasi dunia tidak menentu,
ketidakpastian tinggi, boleh dikatakan saat-saat itu adalah puncak krisis
perekonomian global. Saya baru saja kembali dari sejumlah pertemuan puncak,
utamanya pertemuan puncak G-20 yang pertama, di Washington DC. Terus saya juga
mengikuti pertemuan puncak APEC di Peru, Lima, dan berkaitan dengan itu
pertemuan ASEAN, termasuk ASEAN Plus
Three, termasuk East Asia Summit.
Interaksi saya dengan semua pemimpin dunia, Menteri Keuangan dengan para menteri
keuangan dunia, Gubernur Bank Indonesia dengan gubernur- bank-bank sentral di
dunia, sama was-was, cemas, nervous.
Kalau-kalau resesi global ini berlangsung lama dengan kedalaman yang tinggi,
sebagaimana bayang-bayang the Great
Depression pada tahun 30-an, sesaat sebelum Perang Dunia II.
Nampak sekali kerisauan kita waktu itu. Kita di dalam negeri
diam-diam. Sekarang barangkali banyak yang lupa, situasi bulan September,
Oktober, November, Desember, 2008 yang baru saja kita mengatasi krisis pangan,
dan krisis minyak. Kita khawatir kalau-kalau negeri kita jatuh seperti 1998. Ingat, perasaan
kita waktu itu. Siang dan malam kita bertemu. Pemerintah, jajaran perbankan,
pelaku sektor riil, para ekonom, para Gubernur Kepala Daerah, untuk
menyerasikan langkah kita agar bersinergi, dan sekali lagi, ekonomi kita tidak
jatuh seperti krisis yang datang 1998 yang lalu. Oleh karena itu, saya ikut
tentunya bergembira, melihat perasaan kita yang berbeda ketika membuka
perdagangan hari pertama Bursa Efek Indonesia ini yang lebih tenang, lebih
optimis dan punya harapan baru. Insya Allah tahun 2010 ini, perekonomian kita
lebih baik dibandingkan perekonomian 2009.
Menteri Keuangan menjelaskan dan Saudara sudah
mendengar berkali-kali, sudah mengikuti di berbagai ulasan, dalam dan luar
negeri. Alhamdulillah berkat kerja
keras kita, kebersamaan kita, kebijakan dan langkah tindakan yang timely, properly, telah menyelamatkan
perekonomian kita, dan sekarang kita bisa tersenyum karena ekonomi kita selamat
dari bayang-bayang krisis yang sangat mencemaskan waktu itu. Mengapa kita
selamat? Saya sudah menyampaikan berkali-kali, intinya dua sebenarnya,
kebersamaan kita, in time of crisis unity,
bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh, bersama-sama waktu itu, sebagian dari
Saudara ikut dalam pembahasan yang kita lakukan secara maraton, how to save our economy. Dan yang kedua
pilihan kita tidak keliru. Sejumlah kebijakan kita ambil, langkah-langkah cepat
dan tepat kita lakukan, dan saya berterimakasih terus terang kepada dunia
usaha, kepada sektor riil, yang bersama-sama menjaga perekonomian kita dari
ancaman krisis waktu itu.
Saudara-saudara,
Dengan
pengantar singkat itu, sekarang bolehlah kita melakukan refleksi, karena 2010
ini sesungguhnya merupakan awal dari reformasi kita dasawarsa kedua. Reformasi
pertama, 1999-2009, dan dasawarsa ke dua reformasi Indonesia, tahun ini sampai insya Allah sampai 2019 nanti. Refleksi
itu penting untuk memetik pelajaran, apa yang telah dapat kita lakukan 5 tahun
yang lalu, dan apa pula yang belum dapat kita lakukan dan mengapa semuanya itu
terjadi. Kalau kita rasional, jujur, jernih, objektif, seraya bersyukur ke hadirat
Tuhan Yang Maha Kuasa, maka kita bisa mem-printout
apa yang telah kita rekam selama 5 tahun itu. Pertumbuhan perekonomian terjadi.
Rata-rata 6%. Tentu angka terbaik sejak kita krisis. Pengangguran menurun, dari
10 sekian % menjadi 8% dalam pasang surutnya perekonomian global dan nasional,
krisis-krisis yang terjadi, tentu ini angka yang tidak buruk, meskipun we have to do more in the next five year, kemudian
pengurangan kemiskinan telah terjadi, 16,7% jadi 14,2% yang tentu harus kita
turunkan lagi, dan Debt GDP ratio dari 56% menjadi sekitar 30%,
jauh lebih rendah dibandingkan Debt GDP
Ratio negara-negara lain, Amerika,
Jepang, termasuk negara-negara di Asia Tenggara, lantas banyak indikator yang
menunjukkan angka yang positif, cadangan devisa kita mencapai US $ 65 billion. Saya berbicara dengan para menteri
ini, mestinya Indonesia minimal punya 100 billion
cadangan devisa. Mari kita capai di tahun-tahun mendatang, agar dibandingkan magnitude perdagangan kita, magnitude perekonomian kita, jumlah itu
lebih pantas dibandingkan sekarang, apalagi di waktu yang lalu.
Tentu ada sejumlah capaian perekonomian. Cara
membandingkannya dibandingkan dengan masa-masa sebelumnya, dibandingkan dengan
negara-negara berkembang yang lain. Meskipun secara jujur harus saya akui masih
banyak pekerjaan rumah kita, masih banyak sasaran yang belum dapat kita capai,
sebagaimana yang kita harapkan. Mengapa itu bisa kita capai? Pertama, politik kita relatif stabil,
lima tahun yang lalu. Kondisi sosial relatif, baik dibandingkan tahun-tahun
awal krisis dulu. Keamanan di seluruh tanah air terjaga, jauh lebih baik
dibandingkan masa yang lalu, misalkan masih terjadi konflik komunal, konflik
horizontal Aceh, Papua, Poso, Maluku dan tempat-tempat yang lain. Hukum makin
tegak, kampanye anti korupsi besar-besaran mulai membuahkan hasil, meskipun itu
masih panjang yang harus kita lalui, but
it’s a good beginning for us. Pemerintahan, desentralisasi, otonomi daerah,
pusat dengan daerah mulai lebih tertata, eksesnya bisa kita kurangi, meskipun
masih banyak pembenahan yang harus kita lakukan. Reformasi birokrasi, misalnya.
Kapasitas pemerintah daerah, sinergi pusat dengan daerah dan sebagainya. Luar
negeri, kerja sama kita makin kongkrit. Kita membangun strategic partnership dengan mitra-mitra kita, dengan Tiongkok,
dengan Rusia, dengan Jepang, dengan negara-negara sahabat yang selama ini
hubungan kita belum pada tingkatan itu, yang semuanya tentu ikut menyumbang
kepada pertumbuhan ekonomi, yang pertumbuhan ekonomi tentu menyumbang pada
peningkatan kesejahteraan. Yang ingin saya sampaikan adalah ada strategic environment, lingkungan dalam
negeri yang kondusif untuk itu. Yang pesannya adalah, kalau pembangunan ekonomi
ingin berhasil, pastikan, bahwa ada lingkungan dalam negeri yang mendukung
untuk itu. Itu prasarat, itu precondition,
itu conditionalities. Kalau tidak
jangan harapkan. Negara lain mengapa maju? Negaranya stabil, bangsanya inovatif,
jadi menjadi negara yang makin maju.
Dan saya harus berterimakasih berulang kali kepada
semua pihak di negeri ini, utamanya masyarakat luas yang juga memiliki
ketegaran yang tinggi untuk bersama-sama mengatasi bermacam-macam krisis dan
ujian di negeri kita. Kita menghadapi wabah flu burung waktu itu cukup lama. Kemudian
bencana alam dari Aceh, Nias dan tempat-tempat yang lain. Pangan. Ada krisis,
energi, harga minyak yang kita tiga kali menaikkan bahan bakar meskipun juga
kita tiga kali menurunkan bahan bakar, semata-mata karena gejolak harga minyak
bumi yang tinggi pada pasar global.
Lantas, yang terakhir krisis keuangan. Resesi
global yang sekarang masih kita rasakan ekornya. Krisis terjadi sepanjang 5
tahun itu, dan alhamdulillah sekali
lagi 2009 kita boleh mengatakan alhamdulillah
negara kita selamat. Saya ingin menyampaikan sebab akibat, the what and the why tadi itu, untuk memetik pelajaran. Kalau kita
ingin lebih sukses lagi 5 tahun mendatang, menuju 2014 nanti, maka mari kita
pastikan sekali lagi, lingkungan dalam negeri kita harus betul-betul mendukung,
kondusif bagi pembangunan perekonomian itu. Dan pembangunan perekonomian itu
harus bisa diterjemahkan langsung, yang rakyat kita bisa merasakan semuanya,
apakah yang bisa dirasakan melalui pendidikan, kesehatan, usaha mikro kecil dan
menengah, infrastruktur yang makin baik, stabilitas harga, dan sebagainya.
Hadirin
yang saya hormati,
Itu
refleksi 5 tahun perjalanan bangsa kita dengan titik berat pembangunan ekonomi.
Nah, sekarang, bagaimana kita melangkah ke depan menuju Indonesia 2014,
perjalanan bangsa 5 tahun mendatang. Saudara sudah mendengar saya memberikan
pidato di hadapan Dewan Perwakilan Rakyat dan Dewan Perwakilan Daerah dalam
berbagai forum, bahwa dalam 5 tahun mendatang, yang kita ingin bangun
pertama-tama atau pilar pertama adalah pembangunan perekonomian, yang langsung
dikaitkan dengan tujuan peningkatan kesejahteraan rakyat. That’s number one. Yang kedua, kita ingin terus mematangkan
kehidupan demokrasi di negeri ini. Demokrasi yang bermartabat, demokrasi yang
bergandengan dengan kepatuhan pada pranata hukum dan etika politik, yang oleh
Bung Hatta disebut demokrasi kita, bukan demokrasi impor. Demokrasi yang juga
menggali nilai-nilai Indonesia. Itu yang akan kita bangun. Ruang kebebasan kita
perlukan, hak asasi manusia kita lindungi, partisipasi rakyat dalam pengambilan
keputusan politik dalam arti luas kita berikan, tetapi harapan kita demokrasi
itu juga mencerminkan politik yang stabil, kehidupan yang tertib, sebagaimana
roh sesungguhnya dari demokrasi yang dibangun dan dikembangkan di seluruh dunia
ini.
Yang
ketiga adalah justice, keadilan. Kita
ingin mengakhiri berbagai macam ketidakadilan, diskriminasi misalnya,
kesenjangan, yang lain dan banyak lagi yang merasakan pembangunan ini kok belum untuk semua. Dengan moto “Pembangunan
untuk Semua” (Development for All), sesungguhnya
kita ingin mengangkat keadilan, pembangunan yang inklusif, pembangunan yang
merata, dan pembangunan yang sustainable.
Itulah tiga pilar yang hendak kita bangun. Ekonomi untuk kesejahteraan,
demokrasi dan keadilan. Nah dari semuanya itu, tentu kami pemerintah, telah
menetapkan rencana pembangunan jangka menengah nasional 5 tahun mendatang. Dan juga national action plan dan juga prioritas
serta agenda-agenda utama. Saudara sudah mengikuti semua. Sebagian besar dari
Saudara mengikuti national summit.
Oleh karena itu tidak perlu saya angkat lagi pada forum yang baik ini. Yang ingin saya
sampaikan, mari kita tingkatkan pertumbuhan perekonomian kita dengan sasaran
2014 kita mencapai 7% atau lima tahun kita bisa mencapai 6,6%. Kalau 5 tahun
yang lalu kita mencapai 6%, insya
Allah dengan mengambil pengalaman di waktu yang lalu, yang baik-baik kita
lanjutkan, yang jelek kita tinggalkan dan kita koreksi, rasanya kita bisa
mencapai pertumbuhan rata-rata 6,6% itu atau 7% pada tahun 2014 nanti. Unemployment, pengganguran, harus terus
kita kurangi. Sasaran kita, sekarang angkanya 14 sekian %, kita berharap turun
jadi 8 sampai 10% saja. Caranya dengan menggerakkan sektor riil, menciptakan
lapangan pekerjaan, infrastructure
building, menggiatkan usaha mikro kecil dan menengah, sehingga mereka
mendapatkan pekerjaan.
Saya bicara kemiskinan dulu. Yang ingin kita capai,
sasaran kita 8 sampai 10 %, dari 14%. Oleh karena itu caranya kalau ekonomi
berkembang, income per capita mereka
kita harapkan makin bagus, ditambah program-program pro-rakyat. Banyak sekali
dan dalam APBN juga tidak sedikit jumlahnya. Dengan dual track untuk poverty
reduction itu, harapan kita, kita bisa mencapai sasaran seperti itu. Tidak
mudah tapi insya Allah bisa kita
capai dengan kerja keras kita.
Nah yang keempat pengangguran. Penggangguran kita
ingin angkanya 8% sekarang, kita ingin menuju 5 sampai 6% saja. Itu juga keras yang
harus kita lakukan tapi insya Allah
bisa. Buktinya, di waktu krisis ini, pengangguran kita tidak bertambah besar
secara berlebihan, modest,
dibandingkan negara-negara lain, yang sangat tajam peningkatan angka
penggangguran. Nah, mengurangi pengangguran ini menciptakan lapangan pekerjaan,
infrastructure building, sektor riil,
program—program yang memberikan pekerjaan, seperti PNPM yang kita lakukan di
seluruh Indonesia. Tetap bertumpu pada growth
with equity. Kita tidak ingin mengejar pertumbuhan semata, 8,9,10% tapi
kesenjangan semakin menganga, rakyat pada tingkat pedesaan misalkan, pada
golongan ekonomi lemah misalnya, juga tidak mendapatkan pertambahan
kesejahteraan. Itu kita cegah dan kita
hindari.
Saudara-saudara,
Tujuh
persen growth itu 2014, maka konsumsi harus kita jaga, konsumsi
masyarakat. Konsumsi masyarakat bisa terjaga kalau mereka makin meningkat
penghasilannya, yang miskin kita bantu, ada spending yang dia keluarkan
dengan program-program pro-rakyat. Pembelanjaan pemerintah kita jaga, ingat stimulus
package berhasil kita lakukan, 99% kita deliver, ditambah spending
yang lain. Kita ingin lebih optimal lagi APBN dan APBD, jangan salah sasaran,
dengan demikian government expenditure itu betul-betul konkrit dan bisa
mendongkrak pertumbuhan.
Yang kelima, adalah investment. Saudara saya minta aktif berkontribusi
untuk betul-betul meningkatkan penanaman modal ini. Kita ingin memberikan ruang
yang luas pada PMDN, investor dalam negeri. Kemudian karena memang masih kita
perlukan, kita juga mengundang mitra-mitra kita untuk bersama-sama membangun
perekonomian Indonesia dengan aturan yang baik, dengan kebijakan yang tepat,
yang membawa manfaat sebesar-besarnya bagi rakyat kita.
Kemudian tentu ekspor dan impor. Ekspor kita di tengah-tengah krisis global,
karena sudah mulai pulih pelan-pelan harus kita tingkatkan lagi, seraya kita
juga harus menghidupkan perdagangan dalam negeri. Dua-duanya penting, karena
itu adalah komponen dari pertumbuhan kita.
Saudara-saudara,
Yang penting bagi Saudara, para pelaku dunia usaha, pelaku pasar modal, 5 tahun
mendatang kita juga ingin meningkatkan sinergi, pemerintah pusat-pemerintah
daerah, pemerintah-dunia usaha. Sesungguhnya juga pemerintah, dunia usaha dan civil
society, semua harus seiya sekata, termasuk parlemen, pusat maupun daerah,
harus bersama-sama. Dengan demikian, dengan sinergi yang baik ini lebih banyak
lagi yang bisa kita lakukan untuk membangun perekonomian dan
pembangunan-pembangunan yang lain.
Saudara-saudara,
Itulah 5 tahun mendatang, ekonomi, untuk kesejahteraan rakyat, demokrasi dan
keadilan. Ekonomi sendiri sudah saya break down tadi. Dan untuk mencapai
7%, investasi, itu harus kita lakukan besar-besaran. Sudah kita hitung kemampuan
kita, mobilisasi sumber dalam negeri tidak lebih dari 50%. Artinya kita harus
bermitra dengan mitra-mitra kita, dari negara lain, untuk menggalakkan
investasi di negeri ini, kebijakan, insentif, aturan kita tata semua.
Saudara-saudara,
Melengkapi apa yang saya sampaikan tadi, yang ingin saya sampaikan adalah ada
sejumlah isu penting yang akan kita hadapi, yang mestinya kita kelola dengan
sebaik-baiknya. Pertama, sudah saya sampaikan investasi. Tapi investasi ini
yang saya maksudkan adalah, investasi akan berkembang, baik di pusat maupun
didaerah, maksud saya pintunya pusat maupun daerah, manakala, sekali lagi,
kondisi riil dimana investasi itu dijalankan itu baik, mendukung. Tidak mungkin
peraturannya kacau balau, politiknya gonjang-ganjing, infrastrukturnya sangat
kurang, proses perizinannya berbelit-belit dan sebagainya. Siapa yang mau datang
berinvestasi, Saudara pun juga mikir-mikir. Bahkan mungkin meskipun tidak saya
kehendaki, banyak yang lebih senang berinvestasi di negara yang sudah stabil,
yang sudah mapan, yang certain
dibandingkan negeri kita. Tapi poin saya, benar-benar, mari kita jaga
lingkungan dalam negeri kita, agar investasi ini tumbuh dengan baik.
Yang kedua, infrastruktur. Ya, saya tahu, ini pekerjaan rumah yang
sangat-sangat penting dan kita akan all out 5 tahun mendatang untuk
membangun itu. Financing, semua rencana yang bagus-bagus tidak mungkin
bisa dilaksanakan tanpa sumber pembiayaan yang cukup, dengan mekanisme
pembiayaan yang baik pula. Oleh karena itu, mesti ada satu mekanisme yang credible
di negeri ini untuk pembiayaan, public
private financing, perlu peran perbankan, peran pasar modal, peran lembaga
keuangan non-bank dan sebagainya. Kita harus punya national strategy,
bagaimana kita mendayagunakan, kita punya sumber-sumber kapital atau modal di
dalam negeri ini. Jangan kita merugi, jangan kita apa istilahnya itu idle,
underutilized, kita punya, tapi tidak bisa dibelanjakan dengan baik.
Yang keempat, isu yang kita hadapi adalah domestic market. Saudara sudah
mendengarkan beberapa kali saya bicara, bahwa ke depan, di samping ekspor tetap
kita tingkatkan, kita juga harus meningkatkan pasar dalam negeri, domestic
market. Jangan disia-siakan wilayah kita yang luas, sumber daya alam kita
yang besar, human capital kita yang terus meningkat, baik kualitas
maupun kuantitasnya. Kemudian, banyak hal yang apabila ini kita ciptakan dengan
baik, dengan logistik, nasional yang baik pula, maka ini akan menjadi kehidupan
baru dalam perekonomian di negeri kita. Connectivity kita bangun,
transportasi, IT dan sebagainya.
Saya sudah berbicara dengan seluruh gubernur di Indonesia. Kalau ingin
meningkatkan ekonomi domestik, ya semua dikembangkan. Kalau provinsi-provinsi
berkembang, maka otomatis domestic market akan growing, dan
kemudian semua akan mendapatkan nilai tambah, dan akhirnya Indonesia sendiri
sebagai satu kesatuan ekonomi. Kalau kita bicara geo-ekonomi di kawasan Asia
Tenggara, maupun Asia Pasifik, tentu akan lebih banyak lagi yang kita lakukan.
Lantas yang terakhir adalah global cooperation. Saudara-saudara, kita
tidak bisa hidup sendiri karena sebetulnya sudah ada inter-connectedness, mau tidak mau. Oleh karena itu, marilah kita cerdas, marilah kita tidak
gamang, marilah kita tidak memiliki pikiran yang sempit seolah-olah tidak
diperlukan kerjasama antar bangsa, baik secara regional maupun secara global.
Tetapi harus punya arah politik luar negeri kita, harus punya agenda yang
jelas, kerjasama internasional kita dan semuanya diabdikan untuk kepentingan
rakyat kita.
Itu adalah pekerjaan-pekerjaan besar. Saudara-saudara, yang akan kita hadapi 5 tahun
mendatang. Meskipun semua itu telah kita persiapkan dalam satu strategic
plan yang lebih komprehensif, dan setiap saat pemerintah bisa merespon
setiap dinamika yang terjadi, sebagaimana yang kita lakukan 5 tahun yang lalu,
sehingga Saudara harus yakin dan pasti, bahwa perjalanan bangsa ini,
pembangunan kita sudah pada arah yang benar, kebijakan dan strategi dasarnya
sudah tepat. Bahwa sepanjang perjalanan ada hambatan, rintangan, shock,
discontinuities, crisis, itu terjadi di negara manapun juga. Oleh karena
itu, tidak ada kata untuk tidak optimis, dan tidak ada kata untuk kita tidak
lebih bersatu lagi, bekerja lebih keras lagi, bersinergi agar apa yang ingin
kita capai dapat kita capai bersama atau dengan sebaik-baiknya.
Demikian yang dapat saya sampaikan. Dan saya ingin memberi kesempatan kepada
Saudara yang ingin menyampaikan pandangan-pandangan kepada saya, welcome,
karena tentu tidak mungkin seluruh urusan di negeri ini bisa diselesaikan oleh
pemerintah sendiri, mesti ada kebersamaan di antara kita. Dengan niat yang
baik, dengan pikiran yang ikhlas dan tulus semuanya untuk kepentingan rakyat
kita.
Sekian.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Biro Naskah dan Penerjemahan
Deputi Mensesneg Bidang Dukungan Kebijakan
Sekretariat Negara Republik
Indonesia
|