Pastikan Penguatan Komitmen Pemda Dukung Pencegahan dan Percepatan Penurunan Stunting, Kemensetneg Gelar Rakortek Regional Sumatera

 
bagikan berita ke :

Kamis, 27 Agustus 2026
Di baca 378 kali

Stunting masih menjadi salah satu tantangan gizi di Indonesia. Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024 menunjukkan, capaian stunting berada di angka 19,8 persen, yang berarti dua dari 10 anak Indonesia masih mengalami gangguan pertumbuhan karena stunting.

 

Sebagai tantangan komplek, pencegahan dan percepatan penurunan stunting tidak cukup dilakukan oleh satu pihak. Komitmen dan kolaborasi multipihak melalui pendekatan network governance diperlukan untuk memastikan berbagai intervensi yang dilakukan bersifat inklusif  menjangkau seluruh keluarga yang membutuhkan dan membawa kemanfaatan kongkrit.

 

Hal inilah yang menjadi fokus Kementerian Sekretariat Negara (Kemensetneg),  melalui Deputi Bidang Dukungan Kebijakan Peningkatan Kesejahteraan dan Pembangunan Sumber Daya Manusia (PKPSDM), Sekretariat Wakil Presiden (Setwapres) dalam Rapat Koordinasi Teknis dan Advokasi Pencegahan dan Percepatan Penurunan Stunting Regional Sumatera yang digelar di Kota Medan, Sumatera Utara pada Kamis (27/08/2026).

 

Kegiatan yang dilakukan secara hybrid dihadiri 800 peserta yang berasal dari refresentasi  pemerintah pusat, pemerintah provinsi, mitra pembangunan, termasuk 154 kepala daerah se-Sumatera yang  bertujuan tidak hanya menjadi forum koordinasi, melainkan juga menjadi ruang untuk monitoring dan evaluasi,  berbagi pembelajaran, serta merumuskan rekomendasi kebijakan guna mengatasi berbagai  tantangan dan strategi dalam memastikan   pelaksanaan program pencegahan dan percepatan penurunan stunting di Indonesia, khususnya di wilayah Sumatera.

 

Dalam sambutannya, Gubernur Provinsi Sumatera Utara, M. Bobby Afif Nasution, yang  dalam kesempatan ini diwakili oleh Wakil  Gubernur Provinsi Sumatera Utara,  H. Surya menyampaikan bahwa Pemerintah Provinsi Sumatera Utara berkomitmen untuk meningkatkan  penanganan stunting sebagai salah satu program prioritas.

 

Menurut H. Surya, forum ini penting untuk memperkuat komitmen bersama, mengoptimalkan pemanfaatan data, mengidentifikasi tantangan, sekaligus berbagi pembelajaran dalam pencegahan dan percepatan penurunan stunting. 

 

“Forum ini dapat menjadi ruang strategis untuk saling menguatkan dan berbagi pembelajaran guna memperkuat upaya pencegahan dan percepatan penurunan stunting yang telah dilakukan di wilayah masing-masing serta mengajak mengajak seluruh pemerintah daerah di Sumatera untuk memperkuat aksi konvergensi guna  memastikan setiap kabupaten dan kota memiliki lokus serta target prioritas yang jelas  terukur, data sasaran yang terpercaya, serta tindak lanjut yang dapat dilaksanakan,” Pungkas H. Surya.

  

Sementara itu, Deputi PKPSDM Setwapres, Eddy Cahyono Sugiarto, dalam arahannya  mengingatkan kembali bahwa Pencegahan dan Penurunan stunting merupakan bagian penting dari Asta Cita Pemerintahan  Prabowo – Gibran,  utamanya dalam membangun sumber daya manusia Indonesia yang unggul.  Karena itu,  pencegahan dan percepatan penurunan stunting menuntut komitmen yang tinggi dari pemerintah daerah dan seluruh pemangku kepentingan menjadikannya sebagai menjadi gerakan bersama,  melalui pemenuhan gizi, peningkatan kualitas kesehatan ibu dan anak, penguatan ketahanan keluarga, perbaikan sanitasi dan lingkungan.

 

“Penanganan stunting harus dilihat sebagai investasi jangka panjang untuk membangun sumber daya manusia Indonesia. Karena itu, intervensi perlu dimulai sedini mungkin, sejak remaja putri, calon pengantin, masa kehamilan, persalinan, hingga periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), ini harus harus dipandang sebagai investasi jangka panjang untuk menghasilkan generasi yang sehat, cerdas, produktif, dan berdaya saing sebagai motor penggerak utama dalam menggapai Indponesia Emas 2045,” ujarnya.

 

Lebih lanjut  Eddy  menegaskan bahwa  kerja sama lintas sektor dan penguatan komitmen kepala daerah menjadi bagian penting untuk memastikan pencegahan dan percepatan penurunan stunting berjalan dengan baik dan bisa menjangkau seluruh lapisan masyarakat di wilayahnya masing-masing.

 

“Pencegahan dan percepatan penurunan stunting membutuhkan komitmen dan kepemimpinan yang kuat serta kerja bersama dari pusat hingga daerah. Apabila semua pihak bergerak bersama dan fokus pada kualitas pelayanan, maka berbagai kebijakan dan program yang dijalankan dapat berjalan optimal dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat,” tegas Eddy.

 

Sebagai tindaklanjut dari upaya memperkuat komitmen pemerintah daerah,  Deputi PKPSDM Setwapres Kemensetneg  menfasilitasi penandatanganan Pernyataan Komitmen Pelaksanaan Pencegahan dan Percepatan Penurunan Stunting oleh kepala daerah se-Sumatera, baik yang hadir secara daring atau luring. Melalui komitmen tersebut, pemerintah daerah diharapkan dapat memperkuat kualitas intervensi, serta memastikan pemantauan dan evaluasi program berjalan dengan baik, sehingga strategi dan inovasi yang dilakukan bisa tepat sasaran dan sesuai kebutuhan wilayah masing-masing.

 

Tidak berhenti pada penandatanganan komitmen, forum juga menjadi ruang belajar antar daerah. Sejumlah kepala daerah berbagi pengalaman dan praktik baik dalam menjalankan program di wilayah masing-masing. Salah satunya Gubernur Kepulauan Riau, Ansar Ahmad, yang menyampaikan capaian penurunan stunting di Kepulauan Riau.

 

“Dalam lima tahun, prevalensi stunting di Kepulauan Riau berhasil ditekan dari 17,6 persen menjadi 15,0 persen, sementara jumlah balita stunting turun sekitar 51,7 persen, dari 6.626 menjadi 3.196 jiwa.” ujar Ansar.

 

Senada dengan yang disampaikan Gubernur Kepulauan Riau, Wakil Wali Kota Sungai Penuh, Azhar Hamzah turut menyampaikan capaian penurunan kasus stunting di daerah Kota Sungai Penuh. “Kota Sungai Penuh berhasil menurunkan jumlah balita stunting dari 36 kasus pada 2021 menjadi 17 kasus pada 2025, dengan prevalensi stunting sebesar 8,0 persen pada 2024.” ujar Azhar.

 

Sementara itu, perwakilan dari Kementerian Dalam Negeri dan Kementerian Kesehatan menyampaikan perkembangan capaian program sebagai bahan bagi pemerintah daerah untuk melihat kondisi wilayahnya dan menentukan langkah perbaikan ke depan.

 

Kegiatan ditutup dengan bimbingan coaching clinic meliputi penajaman target dan sasaran dan hal-hal teknis lainnya oleh masing-masing daerah yang dipandu oleh para narasumber sehingga diharapkan seluruh rangkaian kegiatan  dapat memperkuat komitmen dan kolaborasi antara semua pihak, sehingga berbagai pembelajaran dan temuan di lapangan dapat diubah menjadi langkah nyata untuk memastikan intervensi semakin tepat sasaran dan membawa kemanfaatan kongkrit dalam percepatan pencegahan dan penurunan stunting guna  membangun  SDM Unggul Indonesia Maju.

 

Bagaimana pendapat anda mengenai artikel ini?
1           0           0           0           0