Pelatihan Penyusunan Perjanjian Kerja Sama Ditutup, JF AKS Didorong Perkuat Peran Strategis

 
bagikan berita ke :

Jumat, 11 September 2026
Di baca 230 kali

Kementerian Sekretariat Negara (Kemensetneg) resmi menutup Pelatihan Teknis Penyusunan Dokumen Perjanjian Kerja Sama bagi Jabatan Fungsional Analis Kerja Sama (JF AKS) di Pusat Pengembangan Kompetensi Aparatur Sipil Negara (PPKASN) Kemensetneg, Jakarta, Jumat (11/09/2026).

Pelatihan yang berkolaborasi dengan Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kementerian Luar Negeri ini berlangsung selama lima hari, sejak 7 September 2026, diikuti oleh peserta dari 23 instansi. Pelatihan ini bertujuan memperkuat kompetensi teknis JF AKS dalam menyusun dokumen perjanjian kerja sama secara sistematis, profesional, dan sesuai dengan ketentuan yang berlaku, dengan tetap mengedepankan kepentingan nasional Indonesia.

Selama pelatihan, peserta tidak hanya mempelajari pola dan struktur dokumen perjanjian kerja sama secara konseptual, tetapi juga mengikuti diskusi, penugasan, serta simulasi penyusunan klausul dan negosiasi perjanjian internasional. Peserta juga dibekali kemampuan untuk menganalisis dan memitigasi berbagai risiko dalam penyusunan perjanjian kerja sama.

Kepala Pusat Pembinaan Analis Kerja Sama (Pusbin AKS) Kemensetneg, Andri Kurniawan, mengatakan kemampuan menyusun dokumen perjanjian kerja sama secara sistematis perlu diiringi dengan kemampuan memastikan substansi perjanjian disusun secara seimbang dan akuntabel serta mampu melindungi kepentingan nasional Indonesia.

“Jadi, yang penting dari kemampuan menyusun dokumen secara sistematis adalah memastikan bahwa substansi perjanjian tersebut disusun secara seimbang dan akuntabel serta mampu melindungi kepentingan nasional Indonesia,” ujar Andri.

Menurut Andri, pelatihan tersebut juga memberikan nilai tambah berupa terbentuknya jejaring antarpeserta yang berasal dari berbagai instansi. Jejaring ini diharapkan dapat terus dipelihara sebagai ruang untuk bertukar pengetahuan dan pengalaman dalam menghadapi berbagai tantangan pelaksanaan tugas sebagai JF AKS.

Hal senada disampaikan Direktur Sekolah Dinas Luar Negeri (Sekdilu), Harry Rusmana Irawan. Ia mengapresiasi komitmen, antusiasme, dan dedikasi peserta selama mengikuti rangkaian pelatihan.

Harry menyampaikan bahwa diskusi interaktif, studi kasus, dan simulasi yang diberikan selama pelatihan diharapkan dapat memberikan perspektif baru bagi peserta dalam meningkatkan kompetensi teknis. Namun, ia menekankan bahwa tantangan sesungguhnya berada pada tahap penerapan pengetahuan dan keterampilan tersebut dalam pelaksanaan tugas sehari-hari di instansi masing-masing.

“Pelatihan ini bukan menjadi akhir dari proses pembelajaran. Tantangan yang sesungguhnya nanti akan dihadapi dalam proses pelaksanaan pekerjaan sehari-hari di instansi masing-masing,” tutur Harry.

Selain peningkatan kompetensi, pelatihan menjadi wadah bagi para JF AKS untuk membangun jejaring profesional. Peserta yang berasal dari 23 instansi berbeda dinilai memberikan keberagaman perspektif yang memperkaya proses pembelajaran selama kegiatan berlangsung.

Andri juga menyampaikan apresiasi kepada Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kementerian Luar Negeri, khususnya UPT Sekdilu, beserta para pengajar, pemateri, dan fasilitator yang telah berkolaborasi dalam pelaksanaan pelatihan. Apresiasi turut diberikan kepada seluruh panitia penyelenggara dari Kementerian Luar Negeri dan Kemensetneg yang telah mendukung kelancaran kegiatan.

“Terima kasih atas paparan, diskusi interaktif, simulasi, dan berbagai umpan balik yang diberikan. Kehadiran Bapak dan Ibu yang memberikan wawasan menjadikan ruang kelas sebagai wadah untuk bertukar pengalaman, menguji gagasan, dan belajar bersama,” kata Andri.

Ke depan, Kemensetneg dan Kementerian Luar Negeri berkomitmen untuk terus meningkatkan kualitas penyelenggaraan pelatihan bagi JF AKS, termasuk melalui pengembangan materi pembelajaran dan pemanfaatan metode pembelajaran daring. Upaya tersebut diharapkan dapat mendukung peningkatan kompetensi JF AKS agar semakin mumpuni dalam menjalankan tugas dan fungsinya.

Menutup rangkaian kegiatan, Andri berharap ilmu, wawasan, keterampilan teknis, pengalaman, dan jejaring yang diperoleh selama pelatihan dapat diterapkan dan memberikan manfaat bagi unit kerja serta instansi masing-masing. Para peserta juga diharapkan dapat membagikan pengetahuan yang diperoleh kepada rekan kerja sehingga manfaat pelatihan dapat meluas di lingkungan organisasi.

“Dengan itu, kami yakin bahwa praktik analisis dan pengelolaan kerja sama di Indonesia akan menjadi lebih efektif, berorientasi hasil, dan berkelanjutan,” pungkas Andri.

Dengan berakhirnya pelatihan ini, penguatan kapasitas JF AKS diharapkan dapat berkontribusi terhadap peningkatan kualitas pengelolaan kerja sama, khususnya dalam memastikan setiap dokumen perjanjian kerja sama disusun secara profesional, akuntabel. (FID/Humas Kemensetneg)

Bagaimana pendapat anda mengenai artikel ini?
0           0           0           0           0