Pengantar Presiden pada Rapat Penanganan Bencana Gempa Bumi di Pulau Flores, NTT

 
bagikan berita ke :

Rabu, 26 Agustus 2026
Di baca 485 kali

di Posko Penanganan Gempa Bumi, Batalyon Yonif TP 834/WM, Kabupaten Nagekeo, Provinsi Nusa Tenggara Timur

Presiden RI Prabowo Subianto:
Baik, ada lagi? Baik, saya, saya rangkum dan saya memberi komentar-komentar saya. Yang pertama, saya ucapkan terima kasih, penghargaan saya kepada seluruh instansi terkait. Terima kasih BNPB Nasional, terima kasih kementerian-kementerian terkait, TNI, Polri, terima kasih saya. Panglima TNI, Kapolri, semua kepala staf, Pangdam, Kapolda, Basarnas, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), sampaikan terima kasih saya atas nama pemerintah pusat kepada Saudara-saudara sekalian, semuanya, yang telah bekerja sangat keras, reaksi cepat. 

Memang sengaja saya, di awal-awal saya tidak mau datang, karena saya mau beri kesempatan semua instansi untuk melayani rakyat langsung. Kadang-kadang kalau terlalu banyak pejabat pusat datang, terpecah konsentrasi. Jadi, pejabat daerah harus menjemput, dan sebagainya. Itu kadang-kadang ada kecenderungan, akhirnya bisa menjadi mengalihkan fokus pertama. Tapi, kita terus memonitor dan kita yang paling penting dari pusat adalah mengerahkan pelayanan dan bantuan. Itu yang paling penting, ya. Kalau kita datang, habis itu hanya lihat bencana tapi ndak bisa mengatasi, ndak bisa kirim bantuan, ya itu akhirnya kurang efektif. 

Jadi, setelah saya dapat laporan Saudara-saudara, saya mantau, kita sudah berbuat maksimal, tentunya kita ingin berbuat lebih, ya. Terima kasih tadi laporan dari Gubernur (NTT) dan Bupati (Nagekeo). Saya terima kasih. Ya, ini Bupati pemimpin yang paling dekat sama rakyat. Jadi ya, Anda yang merasakan, mungkin manfaat juga dari MBG, ya. Kalau saya punya keyakinan hanya beberapa elite politik, ya, dengan kepentingan politik, tidak memahami, tapi pada ujungnya mereka akan memahami. Kalau untuk orang yang mampu, satu porsi makanan itu tidak ada artinya. Tapi untuk mereka yang dalam keadaan susah, dan susahnya juga berhari-hari, banyak yang cerita kepada saya, mereka-mereka yang sebetulnya sudah, sudah jadi orang, mereka ingat, “Waktu saya kecil, Pak, saya berangkat sekolah lapar, saya pulang sekolah lapar”. Syukur dia sudah lolos, tapi sekarang yang kita mikir adalah ibu-ibu dan anak-anak. Jadi, MBG berperan, kemudian saya yakin dengan nanti Koperasi Merah Putih dan Desa-Desa Nelayan kalau sudah berfungsi benar dan sudah optimal berfungsi, saya kira juga akan sangat membantu. 

Saya catat tadi saran dari Bupati, ya, saya kira ini bagus sekali, kita akan dukung, ya. Jadi, yang tadi Anda siapkan lahan 8.000 hektare, ya, nanti, nanti dicari sumber air yang benar, ya, sumber airnya. Kalau tidak, kita…kita bisa bor atau kita bikin desalinasi. Saya minta BRIN, BRIN mungkin dengan Unhan, ya, TNI, dan fakultas-fakultas teknik, saya minta teknologi desalinasi untuk yang kita mampu bangun sendiri, segera dikirim ke daerah-daerah yang sangat membutuhkan tadi, terutama Pulau Palue, ya, segera dikirim ke pulau-pulau tersebut, atau ke daerah-daerah yang membutuhkan, di pinggir, di pantai-pantai, ya. Kemudian apakah yang 8.000 hektare ini dekat dengan pantai? 

Bupati Nagekeo Simplisius Donatus:
Dia (lahan 8.000 hektare) sebetulnya terpusat di Mbay sini, Bapak, tapi sebagian. Sebetulnya terpusat di Mbay. Bapak kalau jalan dari sini kayak buat Lapangan Berdikari, nanti Bapak itu sepanjang mata memandang itu masih sawah.

Presiden RI Prabowo Subianto:
Itu, itu, itu dekat dengan pantai atau tidak? 

Bupati Nagekeo Simplisius Donatus:
Ada yang dekat, ada yang tidak, Bapak, he-eh. Kalau bagian selatan….

Presiden RI Prabowo Subianto:
Dari 8.000 hektare, berapa ribu yang dekat dengan pantai? 

Bupati Nagekeo Simplisius Donatus:
Saya kira enggak lebih dari 10.000 [hektare], Bapak. 

Presiden RI Prabowo Subianto:
Dari 8.000 [hektare] 

Bupati Nagekeo Simplisius Donatus:
Oh, dari 8.000 [hektare], enggak lebih dari 100 hektare. Kalau bagian pantai sedikit sekali, ini bagian utara Bapak, dengan Bukit Awe. 

Presiden RI Prabowo Subianto:
Oke. 

Bupati Nagekeo Simplisius Donatus:
Itu jauh dari pantai. 

Presiden RI Prabowo Subianto:
Menurut Anda, Pak Bupati, sumber air dari mana? 

Bupati Nagekeo Simplisius Donatus:
Kami punya proyek PSN (Proyek Strategis Nasional) di Nagekeo, Bapak. Ini proyek Waduk Lambo. Ini kalau….

Presiden RI Prabowo Subianto:
Ya, itu bendungan? Bendungan?

Bupati Nagekeo Simplisius Donatus:
Iya, iya, Bapak. 

Presiden RI Prabowo Subianto:
Jadi ada sungai besar? 

Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena: 
Ada di sini, Pak. Di sini ada Bendungan Lambo, sudah hampir 100 persen dikerjakan sama yang bertugas, itu sampai 45 juta kubik di atas kalau sudah ada yang…. 

Presiden RI Prabowo Subianto:
Itu ada, ada, ada bendungannya, ya? 

Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena:
Ada, ada bendungannya. 

Presiden RI Prabowo Subianto:
Sudah 90 persen? 

Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena:
Sudah 90 persen.  

Presiden RI Prabowo Subianto:
Hampir jadi? 

Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena:
Hampir jadi, Pak. 

Presiden RI Prabowo Subianto:
Berapa bulan lagi jadinya? 

Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo:
Estimasi saya, dua-tiga bulan ini selesai. 

Presiden RI Prabowo Subianto:
Setelah tiga bulan, berarti sumber air cukup, ya? Tinggal irigasi. Irigasi sekunder dan tertier sampai ke. Baik, kalau asal, asal irigasinya sudah siap, ya, kita…kita dukung proyek ini, 8.000 hektare, ya? 8.000 hektare, mungkin yang 100 hektare dekat pantai kita bikin budidaya ikan. Dan, yang pantai kita juga bikin budidaya ikan juga. Ada yang langsung di pantai, ada yang masuk sedikit ke pantai. Ndak apa-apa, 100 hektare itu cukup besar untuk budidaya ikan, ya. Untuk 8.000 hektare, untuk pertanian. 

Kemudian yang nanti, Pak Bupati, Pak Gubernur, ya, dan, nanti kita di pusat, ini saya cukup mengertilah daerah-daerah sini, ya. Masalah di sini adalah masalah bahwa pohon-pohon banyak berkurang, ya. Kalau tidak salah juga dari dulu, ya, rakyat di sini juga banyak bakar hutan, ya. Benar, kan? Benar, saya hafal, saya tahu. Saya, saya waktu muda juga lama di daerah-daerah sini, ya. Masalahnya itu, jadi rakyat kita harus dikasih pendidikan, ya. Buka lahan, tidak boleh dengan bakar-bakar. Tapi, oke lah, itu memang masalah. Jadi di sini dulu daerahnya ini lebat. Kalau kita pikir 100 tahun yang lalu, 200 tahun yang lalu, ya. Portugis, Spanyol, datang ke sini mencari kayu untuk Angkatan Laut mereka. Makanya mereka menjajah Timor Timur, mereka masuk ke, masuk ke Timor barat, masuk ke, nyari kayu kita untuk Angkatan Laut mereka. Jadi superpower itu, dulu, superpower, kekuatan militernya di Angkatan Laut. Angkatan lautnya dari kayu. Jadi ini kita ingatkan, oke, itu sudah sejarah. 

Nah sekarang, ya, provinsi, kemudian kabupaten, nanti dibantu pusat, dibantu dengan perguruan-perguruan tinggi, koordinir oleh Dikti sama BRIN, ya, harus punya tim, ya. Nanti diambil dari kabupaten dan provinsi, perguruan-perguruan tinggi, mungkin ada politiknya, ambil beberapa personel, termasuk juga mungkin dari pemda, ini saya minta ditatar oleh Dikti, oleh Unhan, dan BRIN. Saya pernah membentuk waktu itu, Unhan, Dikti, sama BRIN untuk keliling ke beberapa negara, belajar bagaimana mempercepat penghijauan, mempercepat penghijauan. Jadi nanti dibantu oleh pusat, kita bangun nursery perbenihan, ya, di provinsi dan di tiap kabupaten, perbenihan untuk disemaikan benih-benih pohon yang produktif, ya. Pohon dan tanaman produktif. 

Semua lahan yang terbuka, kita tanam pohon yang produktif dan pohon-pohon untuk mengamankan air. Kemudian gunung-gunung, kita lakukan apa yang disebut permaculture. Permaculture ini memang tidak bisa langsung satu-dua tahun hasilnya, tapi kalau dilakukan dengan teliti, dalam empat-lima-enam tahun itu bisa menampung dan menambah air di dalam bumi. Ini sangat penting, ya, jadi ini, saya yakin dengan permaculture, daerah-daerah gundul ini dalam 10 tahun bisa hijau kembali, ya.

Jadi nanti, provinsi dan kabupaten selain pertanian, tapi juga penghijauan kembali. Menanam pohon dalam jumlah yang sangat banyak, ya. Dengan pendidikan, mulai dari anak-anak muda lah, anak-anak sekolah, ya, bahwa tidak lagi boleh bakar atau tebang pohon seenaknya. Pohon adalah sumber kehidupan, ya. Pohon adalah sumber kehidupan. No tree, no forest. No forest, no water. No water, no life. Ingat, ya. No tree, no forest. No forest, no water. No water, no life. Ya, masalah air ini jadi sangat penting, ya, kita pakai teknologi desalinasi, ya. 

Desalinasi yang kita kembangkan oleh lembaga pendidikan kita sendiri sudah ada tapi teknologi dari luar negeri juga harganya sudah menurun, ini nanti kita integrasikan, ya. Kita bantu ke semua kabupaten, kecamatan, desa yang membutuhkan air bersih. Tapi, kita harus edukasi rakyat kita, ya. Jadi saya, saya dukung, ya, 8.000 hektare. Kalau tiga bulan lagi, menurut Menteri PU, irigasi jalan. Kita mulai setelah itu, 8.000 hektare itu menjadi lumbung pangan. Ya, nanti kita lihat kabupaten-kabupaten lain juga, ya. NTT kita ubah. Untuk menjadi hijau semua, ya, Gubernur? 

Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena: 
Terima kasih, Pak. 

Presiden RI Prabowo Subianto:
Bisa? Jangan terima kasih. Bisa, enggak, kau? 

Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena: 
Bisa, Pak. 

Presiden RI Prabowo Subianto: 
Benar? 

Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena: 
Bisa. Kami tiap tujuh tahun menjadi 5 besar nasional, Pak, untuk pertanian, bisa.

Presiden RI Prabowo Subianto: 
Bagus, ya. Peternakan kalian juga sebetulnya potensi sekali, ya memang, ya. 

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia:
Bagus, jangan kau kuningkan, hijaukan. 

Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena: 
Siap, siap, siap. 

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia:
Kalau dia terjemahkan lain, bahaya itu nanti. 

Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena: 
Siap, siap, siap. 

Presiden RI Prabowo Subianto: 
Warna kita hanya merah-putih. 

Para Peserta Rapat:
Siap, siap. 

Presiden RI Prabowo Subianto: 
Desalinasi, mereka minta menambah tenda. Untuk sekolah, ya. 

Kepala BNPB Suharyanto:
Ya, Bapak. 

Presiden RI Prabowo Subianto: 
Ya, coba diperhitungkan, ya. Dan, pikirkan tenda macam apa. Ini tenda militer. Untuk ruang kelas mungkin ini…. 

Kepala BNPB Suharyanto:
Izin lapor, Bapak. 

Presiden RI Prabowo Subianto: 
Ya. 

Kepala BNPB Suharyanto:
Jadi Kementerian Dikdasmen juga sudah menyiapkan tenda-tenda sekolah. 

Presiden RI Prabowo Subianto: 
Oke. 

Kepala BNPB Suharyanto:
Sekarang dalam proses pengiriman, Bapak. 

Presiden RI Prabowo Subianto: 
Oke. 

Kepala BNPB Suharyanto:
Untuk sementara pakai tenda-tenda pengungsi yang [berwarna] orange juga kami dukung, Bapak, ya. 

Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya:
Lebih tinggi, ya. 

Kepala BNPB Suharyanto:
Siap, untuk sekolah sementara.

Presiden RI Prabowo Subianto:
Ya, lebih luas ya.

Kepala BNPB Suharyanto:
Siap, luas. 

Presiden RI Prabowo Subianto:
Lebih luas.

Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya:
Lebih tinggi. 

Kepala BNPB Suharyanto:
Siap. 

Presiden RI Prabowo Subianto:
Kalau terpaksa, ini, ini, ini sampingnya dibuka kali, ya. Ya. 

Kepala BNPB Suharyanto:
Ada tenda kami nanti ke Pak Bupati.

Presiden RI Prabowo Subianto:
Ini bisa berapa orang, ya? Bisa berapa anak ini? 

Pangdam IX/Udayana Piek Budyakto:
Siap, satu peleton, 30 orang. 

Kepala BNPB Suharyanto:
Kalau tenda BNPB bisa 40-50 orang. 

Presiden RI Prabowo Subianto:
Empat puluh orang, oke, oke. Ya sudahlah, sementara sekolah enggak boleh berhenti, ya. 

Kepala BNPB Suharyanto:
Siap, siap. 

Presiden RI Prabowo Subianto:
Jadi tambah tenda, mau tambah [tenda] oranye, mau hijau, mau putih, ya. Oke. Air, air sangat penting, saya sudah sebut, ya. Air sangat penting. Jadi, selain jangka pendek, kita harus berpikir melakukan upaya-upaya jangka menengah dan jangka panjang. Permaculture membutuhkan lima tahun. Itu kesabaran, ketekunan, ya, ketabahan, gotong royong. Jadi semua rakyat harus mengerti. Makanya kita nanti edukasi, ya. Jadi, BRIN, Dikti, mengedukasi tidak hanya NTT, semua kabupaten seluruh Indonesia harus diedukasi masalah menjaga, menjaga hutan yang sudah gundul, kita hijaukan kembali, ya. 

Nanti Panglima TNI, Kapolri, semua kesatuan juga ambil peranan yang penting. Saya terima kasih Bupati, ya, saya besar hati. Ya, ada kelompok kecil tapi mereka mungkin pakai teknik propaganda, pakai sosmed (sosial media), dan sebagainya, ya, kan. Mungkin enggak pernah, enggak pernah lihat anak-anak lapar, begitu mungkin, ya. Atau saya tidak tahu. Banyak yang, sudahlah, itu kita hormati, kritik, tapi kita kerja keras untuk rakyat kita, ya. 

Kemudian, tadi ya masalah itu, sama saya kira. Saya mengajak selalu, kalau saya memimpin, saya itu punya moto untuk diri saya dan untuk yang saya pimpin. Siapa berani menang? Berani itu harus berani, berani berpikir, berani bertanya, berani mendengar, berani mencari tahu yang benar-benar dirasakan orang yang paling jauh, paling susah, paling miskin, paling tidak berdaya. Dan untuk itu, ya, pemimpin-pemimpin rakyat. Saya selalu katakan, gubernur, bupati, camat, kepala desa itu pemimpin rakyat yang paling dekat. Jadi, terima kasih masukan Saudara, ya, sebaliknya, saya juga menyampaikan. Karena yang tadi saya bilang juga, saya juga tahu, ya, kan, budaya-budaya daerah sini, ya, kan. Buka lahan bakar, kadang-kadang berburu. Bakar, benar, kah? 

Peserta Rapat:
Ya, ya, betul. 

Presiden RI Prabowo Subianto: 
Betul, kah?

Peserta Rapat:
Betul. 

Presiden RI Prabowo Subianto: 
Nah, benar berarti. Daerah sini tadinya, penuh dengan rusa. Benar? Rusa semua, Indonesia timur dulu. Mungkin nenek moyang mereka itu, karena dulu lebat hutan, ya. Dan dulu perlu kukasih tahu, oke lah, enggak apa-apa, ini kita ubah, ya, kita harus berani meluruskan. Ini daerah yang paling terkenal. Cendana dari daerah sini? Benar, ya. Seluruh dunia nyari cendana. Makanya mereka cari sampai ke sini. Ada apa Portugal ke sini? Zaman sekian ratus tahun, 500 tahun yang lalu mereka ke sini untuk apa? Kalau bukan mencari sesuatu yang sangat berharga, ya. Ini daerah sangat potensial, daerah-daerah Indonesia sangat potensial. 

Kita harus bertekad. Jadi, kita berani berpikir. Dan, berpikir itu harus berpikir besar. Berani berpikir besar. Berani punya target yang tinggi. Itu, itu baru berhasil. Apakah pribadi yang berhasil? Apakah kelompok yang berhasil? Apakah desa yang berhasil? Apakah kabupaten yang berhasil? Apakah provinsi yang berhasil? Apakah negara yang berhasil? Mereka yang berani. Berani berpikir, berani mencari tahu, berani belajar, berani mencari ilmu, berani berbuat.

Saya senang dengar bupati seperti kau. Saya punya lahan 8.000 (hektare). Kalau punya lahan 20.000 (hektare), nah, itu lebih bagus lagi. Tapi 8.000 (hektare) dan Anda bertekad untuk jadikan lumbung pangan ini. Anda pemimpin yang benar. Saya terima kasih punya pemimpin seperti kalian, ya. Rakyatmu saya kira bersyukur ada gubernur, bupati, seperti kalian. 

Satu lagi pelajaran yang saya dapat dari guru-guru saya. Kalau dalam keadaan susah, selalu berpihak kepada rakyatmu. Kalau kau berbuat untuk rakyatmu, tidak akan salah. Rakyatmu sedang susah, sedang lapar. Bagaimana caranya kau bisa bikin dia tidak lapar? Jadi nanti kita ubah lahan yang belum berproduktif, jadi produktif, ya. Kabupatenmu jadi kabupaten yang hijau. Provinsimu jadi provinsi yang hijau. Indonesia bangkit dan Indonesia kuat, ya.

Sekali lagi, berani. Dunia ini milik orang yang berani. Berani, berani bermimpi. Bermimpi pun berani. Jangan menyerah, jangan pernah menyerah. Jangan apalagi, apa tuh, istilahnya? Layu sebelum berkembang. Menyerah sebelum bertarung, ya. Tapi saya juga, paham juga ini, rakyat Indonesia timur. Mereka itu sebetulnya ditantang, mereka berani-berani, ya. 

Good, terima kasih, Saudara-saudara, ya, saya sampaikan penghargaan kepada Saudara-saudara. Sekali lagi, Saudara-saudara, periksa, cek, anak buahmu yang kerja keras, catat. Rakyat kita, anak buahmu semua yang kerja keras, yang kerja benar, yang berkorban. Tadi ada yang menyampaikan, ya, bupati menyampaikan jam 12 malam, gubernurnya bekerja keras itu, ini dicatat. Siapa yang bekerja keras, siapa yang berkorban. Dan, itu dicatat dan itu kita harus memberi penghargaan. Dan, penghargaan itu kita berikan dalam bentuk yang bisa dirasakan. Kadang-kadang jangan cukup hanya dengan “Terima kasih, ya”, nah, itu tidak. Itu oke daripada enggak terima kasih. Tapi harus ada wujud nyata. Iya, kan? Pemimpin itu jangan hanya datang, terima kasih. Kunjungan-kunjungan, ya. Apa kau butuh? Nah, sekarang saya tanya. Gubernur, Bupati, Pangdam, Kapolda, BP…BPBD. Masih kau butuh apa dari pusat? 

Pangdam IX/Udayana Piek Budyakto:
Siap. 

Presiden RI Prabowo Subianto: 
Tenda kau minta, iya, kan? 

Bupati Nagekeo Simplisius Donatus:
Iya. 

Presiden RI Prabowo Subianto: 
Bupati, tambahan tenda untuk sekolah-sekolah. 

Bupati Nagekeo Simplisius Donatus:
Siap. 

Presiden RI Prabowo Subianto: 
Apa lagi? 

Pangdam IX/Udayana Piek Budyakto:
Siap. 

Presiden RI Prabowo Subianto: 
Iya. 

Pangdam IX/Udayana Piek Budyakto:
Izin Bapak, melaporkan untuk kondisi wilayah Bali, Nusa, Kodam Udayana ada keperluan. Untuk mencapai mobilitas supaya lancar dalam pendistribusian pasukan maupun logistik untuk bencana alam, kami mohon dukungan kapal angkut jenis untuk pengantaran pasukan penyeberangan, demikian. 

Presiden RI Prabowo Subianto: 
Ya, kapal angkut. Apa itu? LCM? 

Pangdam IX/Udayana Piek Budyakto:
Siap. 

Presiden RI Prabowo Subianto: 
Jenis apa? 

Pangdam IX/Udayana Piek Budyakto:
Sejenis….

Presiden RI Prabowo Subianto: 
LC fisik? Ya pokoknya, yang bisa langsung ke pantai, gitu, ya? 

Pangdam IX/Udayana Piek Budyakto:
Siap, betul, yang dikelola langsung Kodam melalui Bekang.  

Presiden RI Prabowo Subianto: 
Baik, kita catat. Berapa kau butuh? 

Pangdam IX/Udayana Piek Budyakto:

Siap, dua, Bapak.

Presiden RI Prabowo Subianto: 
Dua? 

Pangdam IX/Udayana Piek Budyakto:
Siap.  

Presiden RI Prabowo Subianto: 
Baik, bagus ini. Enggak minta banyak-banyak. 

Kapolda NTT Rudi Darmoko:
Izin, Pak. 

Presiden RI Prabowo Subianto: 
Ya, Kapolda apa?

Kapolda NTT Rudi Darmoko:
Siap, mohon izin, Pak Presiden. Jadi, untuk mendukung operasional anggota kami di lapangan, Pak. Bhabinkamtibmas ini banyak yang belum memiliki motor, Pak, kendaraan. Jadi, medan ini memang harus mereka menggunakan motor trail, Pak. 

Presiden RI Prabowo Subianto: 
Berapa motor trail kau butuh? 

Kapolda NTT Rudi Darmoko:
Siap, kalau bisa 100, Pak. 

Presiden RI Prabowo Subianto: 
Seratus? 

Kapolda NTT Rudi Darmoko:
Siap. 

Presiden RI Prabowo Subianto: 
Catat. 

Kapolda NTT Rudi Darmoko:
Serta [mobil] double-cabin, Pak. Karena belum semua polres juga memiliki mobil patroli, Pak. 

Presiden RI Prabowo Subianto: 
Berapa polres yang kau punya? 

Kapolda NTT Rudi Darmoko:
Polres ada 22, Pak. 

Presiden RI Prabowo Subianto: 
Dua puluh dua [polres], [mobil] double-cabin. 

Kapolda NTT Rudi Darmoko:
Siap. 

Presiden RI Prabowo Subianto: 
Oke. 

Kapolda NTT Rudi Darmoko:
Terima kasih, Pak. 

Presiden RI Prabowo Subianto: 
Gubernur. 

Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena: 
Siap, Pak, Presiden. Untuk kebutuhan pendidikan, kami punya SMA itu ada sekitar seribu se-NTT. 

Presiden RI Prabowo Subianto: 
Seribu? 

Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena: 
Seribu. Nah, untuk Flores itu, mungkin kami butuh yang khusus Flores, Pak Presiden, biar bisa digelar segera pendidikan di tenda, kami mungkin butuh kira-kira sekitar 500 tenda untuk biar bisa digelar pendidikan. Lima ratus tenda untuk yang tadi untuk satu peleton mungkin 30 orang sampai 50 orang untuk bisa mulai pendidikan. Karena kalau pendidikan sudah mulai jalan, biar mulai mengurangi traumatis anak-anak, Pak. 

Yang kedua, juga izin Pak Presiden, ini selalu kejadian dari 1992 ke sini itu, jalur utara kami ini jadi penentu pergerakan, apa, bantuan. Dan kalau tidak bisa digerakin, berarti udara atau pun laut. Kalau boleh izin, Pak Presiden, sejak zaman Pak Ben “Mboi” dulu, menjadi mimpinya kalau bisa utara kita buka, Pak Presiden. Kalau utara dibuka itu sektor produksi, pariwisata, ekonomi kita itu di utara terbuka, relatif Flores bisa lebih berkembang lagi. 

Presiden RI Prabowo Subianto: 
Maksudmu terbuka pakai apa? 

Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena: 
Di…jalan utaranya dibuka, Pak Presiden, izin. 

Presiden RI Prabowo Subianto: 
Jalan utara? 

Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena: 
Jalan lintas utara, Pak Presiden, izin.

Presiden RI Prabowo Subianto: 
Rencanakan, Menteri PU. 

Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo:
Sudah mulai, Pak, sudah mulai, siap.

Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena: 
Sama izin, Pak Presiden, tambahan untuk khusus yang untuk pendidikan anak-anak yang kuliah. Kalau boleh seperti di Jogja itu kan digratiskan oleh Pak Sultan. Kalau boleh kita dibantu untuk anak-anak yang memang korban dari bencana, SD, SMP, SMP, SMA, sampai kuliah itu kita mungkin beberapa bulan ini kita mudahkan pembiayaannya, Pak, untuk yang anak-anak kuliah. Nah, terakhir izin, untuk ekonomi ini, Pak Presiden, izin. Ini banyak sekali di NTT ini, orang-orang pinjamnya itu selain perbankan juga di koperasi-koperasi. Ini saya dapat kabar itu ada beberapa koperasi harian yang sudah ngejar para korban ini suruh bayar. Nah, ini kan banyak juga kan koperasi harian itu kan, memang rentenir. 

Presiden RI Prabowo Subianto: 
Nanti, nanti, dia suruh menghadap saya mintanya. Itu rentenir-rentenir itu suruh menghadap aku. Nanti biar aku yang…tapi sebelum menghadap saya, menghadap Kapolda dan Pangdam, ya. 

Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena: 
Siap. 

Presiden RI Prabowo Subianto: 
Jadi, itu ada ya, ada apa, ada, tapi ada, nanti saya tunggu media keluar dulu baru saya ini. Oke, good. Terima kasih. Kapolri masih ada? 

Kapolri Listyo Sigit Prabowo:
Enggak, Pak. Tadi menjelaskan saja, Pak, kapalnya yang tadi Bapak tanyakan, list-nya A3, B1, C1, dan C2. Nanti kalau Bapak menambahkan lagi juga, enggak apa-apa, disuntik. 

Presiden RI Prabowo Subianto: 
Ini sebetulnya kalau saya minta pengajuan, harusnya menghadap sendiri-sendiri, ya. Ini, ini, kalau, kalau Pangdam minta, waduh, Kapolda sudah nyatet semua ini. Baik, terima kasih. 

Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo:
Izin, Pak. 

Presiden RI Prabowo Subianto: 
Menteri PU.

Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo:
Iya, Pak. Saya cuma mau menjawab tadi yang dari Pak Gubernur. Kita yang jalur utara sudah mulai, Pak, per 10 kilometer, 20 kilometer. Jadi, target kita pertama itu dari dari Bajo sampai ke Pelabuhan Reo, Pak. 

Presiden RI Prabowo Subianto: 
Oke. 

Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo:
Itu dulu, Pak, nanti bertahap sampai dengan ke Sika, Pak. 

Presiden RI Prabowo Subianto: 
Ke sampai Sika berapa kilometer semuanya? 

Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo:
Total mungkin sekitar 600-an ya, sekitar 600-an kilometer, Pak. Tapi nanti, nanti kami pikirkan Pak, caranya, Pak. 

Presiden RI Prabowo Subianto: 
Oke.

Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo:
Ini kita kerjakan ini. 

Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo:
Oke. Terima kasih, Pak. 

Presiden RI Prabowo Subianto: 
Baik. Iya, silakan. 

Tim BPBD Kabupaten Nagekeo:
Selamat siang Pak Presiden, saya dari tim BPBD Kabupaten Nagekeo. Kami minta tambah tangki lima unit yang 5.000 liter, Pak.

Presiden RI Prabowo Subianto: 
Truk tangki?

Kepala BNPB Suharyanto:
Itu kami saja, Pak, kalau tangki air. 

Presiden RI Prabowo Subianto: 
Oke, ya, itu. 

Kepala BNPB Suharyanto:
Itu BNPB saja, Pak. Siap, Pak. 

Presiden RI Prabowo Subianto: 
Terima kasih. Kalau bendungan, minta ke Presiden, ya. Ya, tangki itu urusan BNPB. 

Kepala BNPB Suharyanto:
BNPB, Pak, BNPB, Pak. Siap. 

Presiden RI Prabowo Subianto: 
Baik. Terima kasih, ya. Ini kadang-kadang, ya, perlu ada suatu tantangan. Perlu ada, ya, katakanlah, musibah, bencana itu memicu kita untuk berpikir lebih kreatif, ya. Dengan ini, kita sadar bahwa untuk daerah sini, penghijauan, ya. Penghijauan dan air. Ini, kita sekarang sudah ada teknologi. Sains dan teknologi sudah membuat banyak teknologi jadi makin murah. Desalinasi 30 tahun yang lalu, tidak terjangkau. Tidak terjangkau. Hanya bangsa yang kaya yang bisa desalinasi. Sekarang, kita bisa bikin desalinasi untuk tingkat desa, ya. Banyak sekarang teknologi yang bisa cocok untuk di sini. 

Dan, energi, ya. Nanti energi kita ini teknologi dari tenaga surya. Di sini juga, kalau perlu mungkin, ya, gunung-gunung yang belum produktif, kita bikin PLTS, PLTS, PLTS. Berapa gigawatt PLTS di sini untuk sumber energi, untuk proyek-proyek ekonomi yang bisa produktif. Saya optimis, daerah sini nanti bisa jadi sumber pangan bangsa dan dunia. Ya. Perikanan sangat potensial daerah sini. Kalau dari atas pesawat itu, lautnya itu biru dalam, belum tercemar, ya. Nanti perikanan, rumput laut, kalian kembangkan di sini. Makanya tadi saya tanya, pantainya dan sebagainya, ya. Indonesia punya panjang pantai mungkin ketiga terbesar di dunia. 

Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian:
Nomor dua, Pak, setelah Kanada. 

Presiden RI Prabowo Subianto: 
Sudah nomor dua kita? 

Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian:
Nomor dua karena pulau-pulaunya.  

Presiden RI Prabowo Subianto: 
Wah. Kanada, baru kita ya. 

Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian:
Betul. 

Presiden RI Prabowo Subianto: 
Kita lebih panjang dari?

Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian:
Rusia. 

Presiden RI Prabowo Subianto: 
Dari Rusia, lebih panjang, ya?

Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian:
Lebih panjang. 

Presiden RI Prabowo Subianto: 
Dan, Rusia kena es dia, enam bulan, ya, kan, kita satu tahun. Jadi ini semua potensi. Ikan, rumput laut, industri dari laut. Baik. Saya kira itu dari saya, ya. Selamat bekerja, terima kasih. Terima kasih, jerih payah Saudara-saudara, ya. Baik, saya tutup rapat koordinasi ini dengan mengucapkan puji syukur ke hadirat Tuhan Mahabesar dan dengan selalu memohon pertolongan Yang Maha Kuasa, kita selalu diberi perlindungan dan kebaikan.

Terima kasih. Selesai.

 

(Sumber: BPMI Setpres)