Pengantar Presiden RI pada Sidang Kabinet Terbatas Bidang Pertanian, Jakarta, 6 Agustus 2012

 
bagikan berita ke :

Senin, 06 Agustus 2012
Di baca 1405 kali

PENGANTAR

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

PADA ACARA

SIDANG KABINET TERBATAS BIDANG PERTANIAN

DI KEMENTERIAN PERTANIAN, JAKARTA

TANGGAL 6 AGUSTUS 2012

 

 

 

Bismillahirrahmanirrahiim,

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Salam sejahtera untuk kita semua,

Saudara Wakil Presiden dan para Peserta Rapat Koordinasi yang saya hormati,

 

Alhamdulillah, kita dapat melanjutkan rangkaian kunjungan kerja kita ke berbagai kementerian dan lembaga, dan hari ini kita dapat berkunjung sekaligus melaksanakan rapat koordinasi di Kementerian Pertanian ini untuk membahas kemajuan atau progress dari upaya kita untuk meningkatkan sektor pertanian. Sebelum saya memberi kesempatan kepada Menteri Pertanian untuk menyampaikan laporan dan presentasinya, utamanya berkaitan dengan prioritas, agenda, dan kebijakan pembangunan sektor pertanian, saya ingin menyampaikan beberapa hal. Pertama, ada berita baik, bonus, BPS baru saja mengumumkan hasil survei dan ekonomi kita kuartal kedua ini tumbuh 6,4 persen. Di kala dunia menghadapi kesulitan ekonomi, tumbuh 6,4 persen tergolong yang tinggi. Alhamdulillah, saya berterima kasih kepada semua pihak dengan segala upaya dan kerja kerasnya, kerja keras kita bersama, akhirnya kita masih bisa menjaga pertumbuhan  pada tingkat seperti itu.

 

Saudara tahu, untuk ukuran Indonesia dengan ekonomi US$ 850 milyar atau dengan purchasing power parity menjadi US$ 1 trilyun GDP kita, tumbuh lebih dari enam persen tergolong tinggi. Kalau kita bedah, meskipun saya belum membaca lengkap, tetapi laporan yang saya terima tadi pagi, ulangi, tadi siang, benar ekspor ada penurunan tetapi investasi meningkat baik. Signifikan. Justru saya berpikir, andaikata hambatan terhadap investasi di negeri ini kita atasi bersama-sama dan kita telah membahasnya berkali-kali, tentu peluang pertumbuhan ekonomi yang disumbang dari sektor investasi akan lebih tinggi lagi. Oleh karena itu, juga akan saya pidatokan nanti pada tanggal 16 Agustus, ada peluang di hadapan kita, di negeri ini, untuk meningkatkan investasi dan syaratnya iklim investasi harus baik di seluruh tanah air, dan untuk membikin baik itu tugas kita semua.

 

Saudara-saudara,

 

Itu good news-nya. Satunya lagi, saya tidak mengatakan bad news, tetapi berita yang memberikan tantangan kepada kita. Saya kira Saudara tahu, bahwa karena perubahan iklim, karena ada kemarau yang panjang, di banyak negara penghasil komoditas pertanian sudah mulai ada peringatan dini dari lembaga-lembaga internasional bahwa harga pangan secara global bisa mengalami kenaikan. Ada fluktuasi dan kenaikan. Oleh karena itu, kalau sudah ada warning seperti itu, marilah benar-benar kita melakukan segala sesuatunya untuk meningkatkan ketahanan pangan kita. Hambatan-hambatan yang mengganggu peningkatan ketahanan pangan harus kita atasi. Di berbagai kesempatan, kita sudah bertekad Indonesia harus semakin mandiri dari segi pangan, bukan hanya beras, tetapi juga jagung, gula, daging sapi, bahkan kedelai nantinya. Kalau yang lain sudah relatif mandiri bahkan kita juga bisa menjual ke luar negeri. Itulah langkah antisipatif yang cerdas, tahu ada masalah-masalah pangan di tingkat global. Kita harus melakukan kerja keras dan upaya percepatan dan perluasan pembangunan pertanian kita.

 

Nah, kalau goal-nya itu, sebagai contoh kita ingin 2014 misalnya, surplus beras kita diharapkan sekitar 10 juta ton. Kalau itu menjadi goal atau target, marilah segala sesuatunya kita arahkan ke situ, kebijakannya, programnya, anggarannya, implementasi di lapangannya, dan sebagainya. Itulah pengantar saya dan yang kedua tadi, tantangan di bidang pangan dunia, saya kira relevan dengan apa yang hendak kita bahas pada hari ini. Dengan pengantar itu, saya persilakan Menteri Pertanian untuk menyampaikan laporan dan presentasinya.

 

 

 

Asisten Deputi Naskah dan Penerjemahan,

Deputi Bidang Dukungan Kebijakan,

Kementerian Sekretariat Negara RI