Sambutan Presiden pada Pelepasan Kontingen Indonesia Menuju Asian Games XX Aichi Nagoya Tahun 2026

 
bagikan berita ke :

Rabu, 09 September 2026
Di baca 454 kali

di Istana Negara, Jakarta

Bismillahirrahmanirrahim.

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Selamat sore,
Salam sejahtera bagi kita semua,
Syalom,
Salve, 
Om swastiastu, 
Namo Buddhaya, 
Salam kebajikan, 
Rahayu rahayu. 

Yang saya hormati, para Menteri Koordinator, para Menteri, para Wakil Menteri, dan seluruh anggota Kabinet Merah Putih yang hadir. Yang hadir, Menteri Pemuda Olahraga, Saudara Erick Thohir. Sebagai penanggung jawab, Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Profesor Pratikno. Menteri Koordinator Perekonomian, ya, Saudara Airlangga Hartarto. Menteri Sekretaris Negara, Sekretaris Kabinet RI Letkol Teddy Indra Wijaya, ya. Tadi, maaf, Mensesneg, saya tidak sebut namanya, Saudara Prasetyo Hadi, harus lengkap. Presiden saja kadang-kadang keselip, ya. Wakil Menteri Pemuda dan Olahraga, Saudara Taufik Hidayat;
Utusan Khusus Presiden Bidang Pembinaan Generasi Muda dan Pekerja Seni, Saudara Raffi Ahmad. 

Kemudian, ketua umum, para ketua umum cabang olahraga yang turut hadir. Ketua PB Wushu Indonesia, Saudara Airlangga Hartarto;
Ketua Umum Persatuan Atletik, Jenderal TNI (Purn.) Luhut Pandjaitan;
Ketua Umum Ikatan Pencak Silat Indonesia, Saudara Sugiono;
Ketua Umum Perkumpulan Angkat Besi, Saudara Roslan Perkasa Roeslani;
Ketua Umum Indonesia Cycling Federation, Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo;
Ketua Umum Persatuan Judo Seluruh Indonesia (PJSI), Jenderal TNI Maruli Simanjuntak. Maruli, Dan (Shodan) berapa kau? Dan enam? Aku Dan tujuh, tapi kehormatan. Kau yang benar kau, Dan. Beliau sempat juara Asia Tenggara, ya, antarangkatan bersenjata;
Ketua Umum E-Sport Indonesia, Jenderal TNI (Purn.) M. Herindra;
Ketua Umum Federasi Panjat Tebing, Saudari Yenny Wahid;
Ketua Umum Akuatik Indonesia, Saudara Anindya Bakrie;
Ketua Umum Persatuan Olahraga Sepatu Roda seluruh Indonesia, Saudara Velix Vernando Wanggai;
Ketua Umum Federasi Gimnastik Indonesia, Saudari Ita Yuliati Irawan; 
Ketua Umum Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia, Komjen Polisi Mohammad Fadil Imran;
Ketua Umum Taekwondo Indonesia, Letnan Jenderal TNI Richard Tampubolon;
Ketua Umum Persatuan Bola Voli seluruh Indonesia, Komjen Polisi (Purn.) Imam Sudjarwo;
Ketua Umum Modern Pentathlon Indonesia, Marsma TNI Purwoko Aji Prabowo, ini banyak yang namanya Prabowo;
Ketua Umum Persatuan Tenis seluruh Indonesia, Profesor Nurdin Halid; 
Ketua Umum Persatuan Sepak Takraw Indonesia, Profesor Surianto;
Ketua Umum Persatuan Tarung Campuran Indonesia, Saudara Tommy Paulus Hermawan;
Ketua Umum Persatuan Soft Tennis Indonesia, Irjen Polisi M. Awal Chairuddin;
Ketua Umum Persatuan Tinju Indonesia, Saudara Ray Zulham Farras Nugraha;
Ketua Umum Pingpong League, Indonesia Pingpong League, Komjen Polisi (Purn.) Petrus Reinhard;
Ketua Harian Persatuan Menembak Sasaran dan Berburu Indonesia (Perbakin), Saudara Siswanto; 
Ketua Harian Persatuan Selancar Ombak Indonesia, Saudara Egy Adhitya Hilman. Saudara-saudara sekalian, ini masih ada wakil-wakil ketua umum yang saya kira tidak saya sebut satu per satu, tanpa mengurangi rasa hormat. 

Para atlet cabang olahraga, pelatih ofisial, dan seluruh kontingen kebanggaan Indonesia pada Asian Games ke-20 di Jepang tahun 2026;
Seluruh hadirin undangan yang saya hormati; 
Rekan-rekan pers dan media; 
Saudara-saudara sebangsa dan setanah air, di manapun engkau berada. 

Tentunya sebagai insan yang bertakwa, marilah kita tidak henti-hentinya memanjatkan puji syukur ke hadirat Tuhan Mahabesar, Tuhan Mahakuasa, Allah Swt. bagi umat Islam yang memiliki sekalian alam. Hanya kepada-Nya lah kita berdoa dan hanya kepada-Nya lah kita meminta pertolongan. Kita bersyukur atas segala karunia berkah, atas kedamaian yang masih diberikan kepada kita, terutama kesehatan dan napas sehingga kita dapat berkumpul di sore hari ini, di Istana Negara Republik Indonesia, di acara pelepasan kontingen Indonesia yang akan bertanding di Asian Games 2026 di Jepang. 

Saudara-saudara, 
Saya merasa bangga, hari ini, bisa berjumpa dengan Saudara-saudara sekalian, ya, saya ingin menyampaikan bahwa olahraga adalah sangat penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Karena bangsa yang berhasil, bangsa yang kuat, adalah bangsa di mana rakyatnya kuat. Kalau rakyatnya kuat, berarti bangsanya kuat. Kalau rakyatnya kuat fisik, kuat keterampilan, kuat semangat, bangsanya itu berarti semangat, kuat, bangsa itu terampil, dan bangsa itu berhasil. 

Saudara-saudara, 
Pemberian Yang Maha Kuasa itu adalah sesuatu yang harus kita syukuri. Tidak semua rakyat Indonesia diberi kemampuan yang kalian miliki. Dari ratusan juta rakyat Indonesia, hanya 432 orang yang atlet, ya, yang, yang dikirim, yang memenuhi syarat, yang lolos kualifikasi, yang mewakili 287 juta [penduduk Indonesia], 432 [orang]. Ini kehormatan yang sangat besar. Saya sekarang Presiden Republik Indonesia, saya di tentara dapat pangkat yang tertinggi. Tapi saya, sebetulnya dalam hati saya, saya belum bisa seperti kalian ini mewakili bangsa. Benar, ini sungguh-sungguh. Karena itu, atas nama negara, bangsa, dan rakyat Indonesia, saya ucapkan terima kasih atas jerih payah Saudara-saudara. Saudara mau mengorbankan harimu berjam-jam, saya tahu untuk jadi juara itu pengorbanan yang besar. 

Saya pernah dengar seorang pelatih Olimpiade dari suatu bangsa, waktu ditanya, “Apa rumus menjadi Olympic champion?” dia jawab, hanya tiga. Rumus untuk jadi champion itu hanya tiga. Latihan, latihan, latihan. Itu saya pegang terus. Berarti Saudara untuk mencapai puncak ini, Saudara-saudara telah berjuang dengan keras. Jadi, saya ucapkan selamat. Selamat berangkat, selamat mewakili negara dan bangsa, selamat berjuang. Buatlah yang terbaik untuk bangsamu, Saudara. Berikan yang terbaik, Saudara-saudara. Wakili bangsa kita. Tunjukkan bahwa anak-anak Indonesia itu tangguh, semangat, tidak menyerah.

Saudara-saudara, 
Dalam SEA Games yang lalu, mungkin ada di sini, di sini ada atlet equestrian, ada enggak, di sini? Atau sudah latihan di luar negeri semua, ya? Ya. Ada satu atlet, ya, atlet eventing, eventing itu cross country. Rupanya berapa hari sebelum itu, dia, dalam latihan dia jatuh dan tulang, tulang rusuk ya, salah satu tulang rusuknya itu fraktur. Padahal dia atlet kunci. Dan, dipersilakan untuk diganti cadangan, dia tidak mau. Waktu dia naik itu, sambil memegang apa, apa itu, ya, badannya, naik kuda. Kalau atlet yang lain, dia bisa pegang dua [tangan], dia hanya satu tangan, satu tangan. Sampai finish, dan sampai timnya berhasil mendapat medali. Kalau tidak salah, medali emas ya, dapat, yang belum pernah dapat, dia dapat medali emas. Jadi ini, saya memberi contoh, sampai semua wasit, semua judge, semua penonton itu salut. Orang ini tidak mau memilih jalan yang aman atau jalan yang enak. Dia mikir kehormatan bangsa dan negaranya. Ini salah satu contoh yang membanggakan. Kalau tidak salah, dia seorang prajurit, ya, Angkatan Darat, ya. Saya perintahkan Panglima TNI, KSAD, untuk naikkan pangkatnya, ya, kan. Kalau tidak salah, dia seorang sersan waktu itu. Habis itu kau naikkan, ya? Sekarang perwira, ya. 

Saya kira saya tidak mau panjang lebar lagi, ya. Tidak usah terlalu lama, ya, kan, pidato dan sambutan enggak usah terlalu lama. Benar, ya? Iya, kan? Kalau ini pejabat dan pemimpin politik, condong kalau di podium lama banget. 

Intinya, selamat berjuang, kita berdoa untuk kalian berbuat yang terbaik. Dan juga, kesempatan ini saya ingin ucapkan terima kasih kepada para pemimpin dan pembina olahraga masing-masing. Pemimpin dari cabang-cabang olahraga. Karena kalian memimpin, berkorban juga. Karena jadi pemimpin cabang olahraga di Indonesia tidak seperti di negara lain. Di kita ini berkorban. Berkorban waktu, berkorban tenaga, berkorban…kalian tahu, berkorban apa lagi? Iya, kan? Saya yakin, istri mereka sebetulnya, tiap kali mereka berangkat untuk memimpin olahraga, sebetulnya istrinya itu mukanya enggak suka. Suaminya juga enggak, enggak suka. Di Indonesia ini lain. Mereka senyum agak kecut, senyumnya itu. Iya, kan. Tapi ada sesuatu di dalam diri mereka. Ada sesuatu. Mereka itu juga cinta tanah air. Mereka ingin berbuat. Mereka sebetulnya sudah sampai puncak-puncak karir mereka. Ya, kan. Tapi di situ, dia masih ingin, saya ingin. Walaupun sebagian besar juga, dulu juga olahragawan-olahragawan hebat juga. 

Pak Luhut itu jago lari, ya, kan, jago tembak. Enggak pernah, saya enggak pernah menang lawan beliau waktu itu. Tapi waktu saya jadi komandan, habis itu benar, kalau tenis saya menang terus. Saya menang terus waktu tenis. Begitu saya pensiun, kaget saya. Saya kalah terus. Rupanya ini kalau, kalau di tentara itu, anak buah enggak berani ngalahin komandan. Saya, saya merasa diri hebat waktu itu. Tiap main sebagai waktu saya komandan itu kan, menang terus. Begitu pensiun, kalah terus. Habis itu teman-teman saya kan, yang, yang istilahnya pangkat ketinggalan, nah di situ, saya diundang terus reuni. Main tenis saya dihabisin. Main tenis saya dapet 6-1, 6-1, 6-0, 6-1. Ya, ini, ya, tapi intinya kita semangat. 

Saya kira itu dari saya, selamat berjuang. Semoga Tuhan Yang Mahabesar selalu memberi kekuatan dan yang terbaik kepada kalian semua. Dan, saya enggak lupa. Saya diberi laporan oleh Pak Erick, “Pak, untuk SEA Games, medali emas dapat Rp1 miliar”, ya. Tapi, ini Asian Games. Medali emas Rp3 miliar. Dan, tanya semua pemimpin olahraga ya, yang kemarin apa itu, medali perak, medali perunggu pun, karir-karirnya kita semua percepat, ya. Ada yang, “Pak, saya sudah sekian tahun belum naik pangkat”, termasuk pelatih-pelatih, iya, kan? Ada polisi yang AKBP, iya, kan? Dari polisi wanita, etcetera, etcetera. Itu, saya bisikin Kapolri, naikin pangkat lah. Kita jangan pelit. Ya, kan, kalau baik, kita memberi penghormatan. Kalau orang Indonesia kan, ada pepatah. Saya enggak tahu sekarang, tapi dulu di tentara, “Kalau kita berbuat baik, komandan suka lupa. Kalau kita berbuat kesalahan, komandan enggak lupa-lupa”. Jadi kalau kesalahan diingat, kalau kebaikan suka dilupakan. Ini kita ubah, ya, kan? Kita, ya, kebaikan, kita ubah, ya. 

Selamat, pimpinan rombongan. Selamat memimpin. Pak Erick, ya, terima kasih perjuanganmu, dan, negara dan bangsa menanti prestasimu dan ingin mendengar lagu kebangsaan kita dikumandangkan. 

Terima kasih. 

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Salam sejahtera bagi kita sekalian, 
Syalom,
Salve, 
Om swastiastu, 
Om santi santi santi om.
Namo Buddhaya, 
Salam kebajikan. 

Terima kasih.