Sambutan Presiden pada Peluncuran Motor Listrik Nasional beserta Ekosistem Pendukung

 
bagikan berita ke :

Kamis, 13 Agustus 2026
Di baca 399 kali

di Fasilitas Produksi ALVA, Cikarang, Kabupaten Bekasi, Provinsi Jawa Barat

Bismillahirrahmanirrahim.

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Selamat siang,
Salam sejahtera bagi kita sekalian,
Syalom,
Salve,
Om swastiastu,
Namo Buddhaya,
Salam kebajikan.

Yang saya hormati Chief Executive Officer (CEO) Danantara yang juga adalah Menteri Investasi dan Hilirisasi selaku penyelenggara, Saudara Rosan Perkasa Roeslani, beserta seluruh jajaran Danantara Indonesia yang hadir; 
Menteri Koordinator Perekonomian Saudara Airlangga Hartarto, beserta para Menteri, Panglima TNI, Kapolri, Wakil Panglima TNI, para Kepala Staf Angkatan, para Kepala Badan yang hadir, serta seluruh anggota Kabinet Merah Putih yang hadir, yang tidak saya sebut namanya satu per satu tanpa mengurangi rasa hormat. Kan, tadi sudah disebut oleh penyelenggara, untuk efisiensi menghemat waktu;
Komisaris PT Indika Energy Saudara Arsjad Rasjid; Gubernur Jawa Barat Saudara Dedi Mulyadi beserta jajaran Forkopimda Jawa Barat yang hadir di sini semuanya; Plt. Bupati Bekasi Saudara Asep Surya Atmaja;
Yang saya hormati para pimpinan perusahaan BUMN yang hadir, juga para pimpinan perusahaan swasta yang hadir, tokoh-tokoh dari Kadin dan dari pihak swasta semua, terima kasih; 
Hadir Saudara Anindya Bakrie, Saudara James Riady, Saudara Wisnu Wardhana, Saudara Hapsoro; terima kasih pejuang-pejuang ekonomi, terima kasih hadirmu;
Para Rektor Universitas yang hadir, di sini disebut hadir Rektor ITB, ITS, UI. UI hadir juga; 
Seluruh hadirin undangan yang saya hormati;
Rekan-rekan pers media yang hadir;
Juga di sini hadir Komisaris Utama PT Indika Energy Saudara Agus Lasmono. Ada? Oh, ya. Dari CEO PT Electra Mobilitas Indonesia Saudara Purbaja Pantja, terima kasih. Tadi sudah saya sebut PT Indika Energy Saudara Hapsoro Sukmonohadi, nama lengkapnya tadi belum saya sebut.

Saudara-saudara sekalian,
Tentunya selalu kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah subhanahu wa ta’ala. Kita masih diberi kesehatan, masih diberi karunia, masih diberi napas, sehingga kita bisa hadir di sini untuk acara Peluncuran Motor Listrik Nasional dan Ekosistem Pendukung.

Saudara-saudara sekalian,
Hari ini adalah hari yang sangat penting. Di sini saya ingin ucapkan terima kasih saya, penghargaan saya kepada semua unsur, dari perusahaan-perusahaan swasta, para entrepreneur, para wiraswasta, dari BUMN-BUMN, dari dunia akademis yang menghasilkan para pakar yang merupakan inti daripada research and development, dari litbang, ya. Hari ini adalah, menurut pendapat saya, salah satu contoh yang baik dari apa yang saya sebutIndonesia Incorporated. Keberhasilan suatu bangsa di era modern adalah kemampuan bangsa itu menguasai sains dan teknologi, dan menggunakan teknologi untuk melangsungkan kehidupan bangsa tersebut. Baru bisa dikatakan bangsa itu berhasil, negara itu berhasil.

Saudara-saudara sekalian,
Negara kita sangat besar, kadang-kadang saking besarnya kita tidak sadar berapa besar negara kita. Dan negara kita sangat kaya, saking banyak kekayaan kita kadang-kadang kita tidak sadar betapa kaya kita. Sumber-sumber alam yang diberikan kepada kita oleh Yang Mahakuasa sungguh sangat luar biasa. Dengan teknologi juga, kita bisa cepat mengetahui cadangan-cadangan kekayaan alam kita. Sekarang, kita sudah lebih matang sebagai negara. Sekarang, kita sudah lebih matang sebagai bangsa. 

Kita termasuk bangsa yang relatif muda. Tahun ‘45 kita proklamasikan kemerdekaan kita, tapi dilanjutkan peran, perang lima tahun. Perang lima tahun, berhasil kita rebut kemerdekaan kita. Tapi, penjajah juga tidak begitu rela ninggalin kita. Sehingga begitu merdeka, dalam minggu-minggu pertama kita merdeka,  mereka luncurkan kudeta terhadap pemerintah yang baru. Dua minggu sesudah penyerahan kedaulatan.  Saudara-saudara, terutama anak-anak muda, belajarlah sejarah. Bangsa yang tidak mengerti sejarah akan dihukum oleh sejarah. Kalau kita tidak mengerti bagaimana perilaku bangsa-bangsa lain terhadap kita, kita mungkin selalu akan jadi korban.

Saudara-saudara,
Tidak pernah saya mengajak kita untuk membenci bangsa lain. Tidak. Sifat bangsa kita adalah justru sangat ramah. Kita terkenal dengan keramahan kita, kebaikan kita, itu adalah DNA kita, itu adalah memang sifat kita. Sifat yang seperti ini dianggap oleh bangsa-bangsa lain sifat yang lemah. We are considered the soft state. Kita kadang-kadang lambat untuk menyadari apa yang terjadi di sekitar kita dan di kita. Begitu lama sumber alam kita diambil, diselundupkan, dilakukan tambang ilegal. Harta kita, kekayaan kita diambil di depan mata kita, kadang-kadang lambat kita reaksi. Begitu banyak persoalan-persoalan yang kita mengalami kerugian.

Tapi ternyata, walaupun kita, begitu kita merdeka, begitu kita menerima kedaulatan, begitu Merah Putih diangkat. Tahun 1950, seterusnya tiap tahun kita mengalami gangguan intervensi: APRA, RMS, DI/TII, PRRI/Permesta, PGRS, Paraku, G30S/PKI, dan sebagainya, dan sebagainya. Bukalah sejarah kita. Kerusuhan-kerusuhan. Tiap kali kita diambang take off muncul ini, muncul itu.

Devide et impera, kita bangsa majemuk. Bukan kehendak kita, takdir Ilahi. Kita tidak menentukan di mana kita lahir, dari rahim siapa kita lahir, kita tidak menentukan. Itu adalah takdir. Kita ditakdirkan lahir sebagai bangsa majemuk. Banyak suku yang berbeda-beda, banyak agama yang berbeda-beda, banyak bahasa daerah, banyak adat daerah. Tapi ternyata kita bisa rukun. Itu yang banyak bangsa merasa heran dengan kita. Banyak tantangan, banyak kesulitan. Rakyat kita masih banyak yang miskin. Yang luar biasa, rakyat kita yang paling miskin pun masih bisa tersenyum. Mungkin bajunya hanya satu, satu setel, rumahnya hanya gedek, makannya saya tidak mengerti. Masih bisa tersenyum.

Jadi, hari ini adalah, menurut saya, hari yang sangat penting karena ini merupakan suatu tonggak atas inisiatif masing-masing para pengusaha swasta yang mulai proyek ini, mungkin Indika, ya, kelompok Indika, ya. Kelompok Indika, kelompok yang sudah lama bekerja. Waktu saya masih muda, saya sudah dengar Indika. Waktu itu saya masih muda, sekarang agak muda. Jadi ada muda, ada agak muda, ada rodo muda, dan ada mimpi untuk muda.

Saudara-saudara,
Indika sudah bekerja. Dia bergerak di, kalau seingat saya, mulainya bergerak di bidang tambang. Tapi, saya tidak tahu, ya, inisiatif siapa. Kok, punya niat membikin motor listrik sekian tahun yang lalu, ya. Jadi hari ini, tadi production line itu bukan, bukan urusan dua hari yang lalu atau tiga hari yang lalu, ya, kan. Waktu saya dikasih lihat motor-motor mereka beberapa bulan yang lalu, saya bilang, “Saya ingin lihat kau punya pabrik. Benar enggak pabrikmu?” Iya, kan? Saya tanya siapa itu, waktu itu? Yang datang ke Hambalang siapa? Anak buahmu, ya? Dari ALVA, sama dari Gesits, aku ingat, sama dari Len. Saya [bilang], “Saya mau lihat Anda punyaproduction line.”

Benar enggak? Iya, kan? Atau jangan-jangan perusahaan dari mana, you tempel aja merekmu. Nah, ini, ini banyak budaya semacam ini, ya. Kita introspeksi diri kita sendiri, kadang-kadang kita tergiur dan tergoda. Tapi enggak apa-apa, sebagai awal boleh. Awal kita boleh, lama-lama kita harus pandai, ya. Jadi, kita waspada. Tapi, hari ini kita lihat ada tekad, ada niat. Saya kira ini yang kita hargai, ya.

Jadi, saya, saya ucapkan selamat kepada Saudara-saudara sekalian yang telah ambil suatu keberanian. Inisiatif itu keberanian, karena inisiatif mengandung risiko. Segala yang kau keluarkan berapa tahun yang lalu bisa gagal. Ini pun hari ini ada risiko. Hari ini saya mengajak kalian Indonesia Incorporated. Kita harus jadi satu. Yang kuat, yang menengah. Yang kuat, yang menengah, yang agak menengah, dan yang lemah harus bersatu. Sampai hari ini saya mengatakan sesungguhnya, ya, Saudara Arsjad, Saudara Wisnu, Indika. Saudara masih risiko. Saudara menghadapi saingan luar biasa dari negara-negara hebat: Jepang, Korea, Tiongkok. And yet, kalian masih berani, Saudara-saudara sekalian.

Makanya saya itu, ya, saya itu pernah jadi tentara. Habis itu saya pensiun. Pensiunnya, ya, pensiun tentara agak kurang, lah, ya. Tapi pengabdian. Rame ing gawe, sepi ing pamrih. Benar? Mudah-mudahan. Saya sempat mengalami menjadi pengusaha. Makanya, saya benar-benar memahami bahwa menjadi pengusaha, menjadi wiraswasta itu, sifatnya itu sama, hampir dengan tentara. Makanya, seorang entrepreneur dia pakai kata-kata wiraswasta. Karena dia bertempur dan dia pakai ilmu perang juga. Ada intelnya, ya, kan? Litbang itu intel. Habis itu dia ada logistiknya, hitungan, dan semuanya dihitung. Jadi, mereka ini masih risiko, ya, kan? Masih risiko, tapi ada keberanian.

Karena itu, saya begitu lihat, dan saya melihat bahwa ini kepentingan nasional. Kita butuh untuk tidak tergantung kepada energi di luar negara kita. Kita terlalu besar untuk menggantungkan diri kepada pihak luar. Terlalu besar. Ada perang di tempat yang jauh, rakyat kita bisa korban. Kita enggak ada kepentingan. Ada pertikaian di mana, ada perang dagang di mana, kita kena, ya. Kita selalu dihantui. Tidak bisa. Ternyata kalau kita belajar dengan benar, tidak usah terlalu lama kita mengerti. Indonesia memiliki kekuatan luar biasa, Indonesia memiliki sumber alam luar biasa. Tinggal kita bisa atau tidak menjaga dan mengelolanya. Dan, Saudara-saudara, salah satu cara mengelolanya adalah seperti hari ini, ya.

Jadi, Saudara-saudara, dengan motor dan mobil listrik, dengan bus listrik, dengan traktor listrik, dengan sebanyak mungkin alat-alat kita menggunakan listrik sebagai energi utama, kita akan lebih aman, kita akan lebih sejahtera. Kita mengirim uang USD untuk BBM kita, melebihi kadang-kadang USD30 miliar. Antara 28 sampai 30 miliar Dolar. Benar, Menteri ESDM? Tiap tahun 30 miliar Dolar. Kita bertekad, ini kita kurangi.

Dengan solar sekarang B50, kita sudah mengurangi, bahkan harusnya kita tidak impor lagi diesel dari luar. Tapi, masih tergantung beberapa energi dari luar. Kita akan segera ganti LPG menjadi CNG. Dan, kita juga akan membangun listrik dari tenaga surya sebesar 100 gigawatt, dan ini harus kita laksanakan dalam empat tahun. Tapi, tahun ini saja target kita adalah 30 gigawatt, tahun ini saja. PLN harus tinggalkan pembangkit listrik dari diesel. Kurang lebih 13 gigawatt harus segera kita tinggalkan. Dan, sumber-sumber energi lainnya ternyata sungguh sangat banyak, sungguh sangat banyak. Dari minggu ke minggu, para ilmuwan kita, para peneliti kita, menemukan hasil-hasil luar biasa. Cadangan hidrogen, hidrogen alam sangat besar, cadangan-cadangan lain.

Saudara-saudara,
Kita butuh, saya kira, tidak terlalu lama. Tiga, empat, lima tahun kita akan bangkit benar-benar. Sekarang, kita sudah mulai bangkit. Hari ini launching, hari ini saya tanda tangani, karena hari ini kelompok Indika telah berhasil produksi 20 ribu motor. Saya bilang ke kelompok Indika, kalau kalian nanti mencapai 200 ribu, saya datang lagi. Dua juta, saya datang lagi.

Jadi, Saudara-saudara, selamat. Dan, untuk yang lain, Danantara dukung dengan apa yang kau bisa dukung, ya. Tadi kita bicarakan, Menteri Keuangan tidak akan terlalu suka. Tapi, ya, ini di ujungnya, you akan juga suka, di ujungnya. Kita akan turunkan, apa itu? Bunga. Bunga cicilan kita turunkan, untuk rakyat. Kemudian, kita usahakan tidak pakai DP. Jadi, nanti kalau ada yang masih pakai motor bensin, ya, rasakan sendiri.

Kita tadi hitung memakai motor listrik dibandingkan dengan motor bensin, penghematannya minimal 50 persen, pengeluaran kalian untuk sehari-hari bergerak itu minimal 50 persen, bahkan bisa sampai 70 persen di ujungnya. Ya, dan nanti mungkin, karena ini sudah kebutuhan dunia. Jadi ada namanya carbon tax. Di kota-kota besar, seperti di Beijing, enggak bisa motor bensin masuk. Jadi ini warning saja, yang, yang masih masih nekat gandrung dengan motor bensin, ya.

Tapi, tenang saja. Kita ada skema-skema nanti. Yang sudah terlanjur punya motor bensin nanti kita pikirkan bagaimana kita bisa, bisa tukar tambah. Kau setor motor yang lama dapat motor baru. Ya, tambah dikit, lah. Iya, kan? Kalau TNI Polri maunya enggak bayar saja terus.

Baik, Saudara-saudara. Saya kira intinya sudah saya sampaikan. Kita bangga hari ini, ya, dan kita akan melihat perkembangan dalam waktu yang akan datang akan lebih cepat lagi. Tadi saya dijelaskan ada ekosistem yang sedang dibangun untuk mobil listrik kita. Kalau tidak salah tidak jauh dari sini, perjalanan ke Purwakarta, ya. Subang, di kilometer 84, ya. Ada kompleks besar kita lagi bangun, ya, mobil listrik Indonesia yang kita berharap paling lambat tahun 2028 sudah produksi besar-besaran. Terima kasih sekali lagi, Saudara-saudara sekalian. Tadi juga saya lihat ada Pak Fuad Bawazier, ya, terima kasih hadir, ya. Pak Maroef dari MIND ID, ya, terutama. 

Baik, Saudara-saudara. Terima kasih atas kerja sama ini. Semangat terus, berinisiatif terus. Mereka yang berinisiatif itu adalah mereka-mereka yang berani. Berani menghadapi risiko. Tapi tidak ada kemenangan tanpa inisiatif, tidak ada keberhasilan tanpa keberanian, ya. Di tentara ada moto, “Siapa berani, menang.” Tidak mungkin menang, kita duduk nunggu kemenangan datang. Kemenangan tidak akan datang. Kemenangan harus kita perjuangkan, harus kita rebut Saudara-saudara sekalian, ya. 

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Salam sejahtera bagi kita sekalian,
Syalom,
Salve,
Om santi santi santi om,
Namo Buddhaya.

Terima kasih.

Bismillahirrahmanirrahim, pada siang hari ini, Kamis, 13 Agustus 2026, dengan rahmat Tuhan Yang Mahabesar, secara resmi, saya Prabowo Subianto, Presiden Republik Indonesia, luncurkan Motor Listrik Nasional beserta Ekosistem Pendukung.