Sambutan Presiden pada Peresmian Bendungan Meninting, Bendungan Rukoh, Bendungan Keureuto, Bendungan Jlantah, dan Bendungan Sidan

 
bagikan berita ke :

Jumat, 10 Juli 2026
Di baca 433 kali

di Bendungan Meninting, Kabupaten Lombok Barat, Provinsi Nusa Tenggara Barat

Bismillahirrahmanirrahim.

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Selamat siang,
Salam sejahtera bagi kita sekalian,
Syalom,
Salve,
Om swastiastu,
Namo Buddhaya,
Salam kebajikan.

Yang saya hormati, Menteri Pekerjaan Umum sebagai penyelenggara acara, Saudara Dody Hanggodo, beserta seluruh jajaran Kementerian Pekerjaan Umum;
Menteri Koordinator Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Saudara Agus Harimurti Yudhoyono, Menteri Koordinator Pangan Saudara Zulkifli Hasan, Menteri Sekretaris Negara Saudara Prasetyo Hadi, Menteri Pertanian Saudara Andi Amran Sulaiman, Panglima Tentara Nasional Indonesia (TNI) Jenderal TNI Agus Subianto, Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo, Sekretaris Kabinet Republik Indonesia Letkol. Teddy Indra Wijaya; 
Gubernur Nusa Tenggara Barat Saudara Muhammad Iqbal, beserta Forkopimda Provinsi NTB yang hadir; 
Gubernur Bali melalui video conference (vicon) Saudara I Wayan Koster, Bupati Lombok Barat Saudara Lalu Ahmad Zaini, Bupati Bima saya ulangi, Wali Kota Mataram Saudara Mohan Rolieskana, Bupati Bima Saudara Andi Mahyudi Bupati Dompu Saudara Bambang Firdaus, Bupati Sumbawa Saudara Syarafudin Jarot, Bupati Lombok Timur Saudara Khairul Warisin, Bupati Lombok Tengah Saudara Lalu Fathul Bahri, Bupati Lombok Utara Saudara Najmul Akhyar, ini mereka hadir vicon semua? Oh, ada semua tadi;
Yang saya hormati para pimpinan perusahaan BUMN dan swasta yang hadir, para anggota Dewan Perwakilan Rakyat RI yang hadir; 
Para pimpinan daerah dan forkopimda pada empat bendungan yang hadir melalui video conference: Bendungan Jlantah di Kabupaten Karanganyar Provinsi Jawa Tengah, Bendungan Sidan di Kabupaten Gianyar Provinsi Bali, Bendungan Keureuto di Kabupaten Aceh Utara Provinsi Aceh, Bendungan Rukoh di Kabupaten Pidie, Provinsi Aceh;
Para tokoh agama, para tokoh masyarakat, para kelompok tani yang saya hormati yang hadir, seluruh warga masyarakat di sekitar bendungan; 
Para hadirin tamu undangan Saudara-saudara sebangsa dan setanah air di mana pun engkau berada yang mengikuti acara ini. 

Tentunya, sebagai insan yang bertakwa, kita selalu tidak henti-hentinya memanjatkan puji syukur ke hadirat Allah subhanahu wa ta’ala Tuhan Mahabesar, Tuhan Mahakuasa yang memiliki sekalian alam, hanya kepada-Nya lah kita berdoa dan hanya kepada-Nya lah kita meminta pertolongan. Kita bersyukur atas segala karunia, berkah, kebaikan, kedamaian yang masih diberikan kepada kita, atas kesehatan, atas napas yang masih diberikan kepada kita, sehingga hari ini kita dapat berkumpul bersama di tempat yang berbahagia ini. 

Saya merasa sangat bangga, saya merasa dihormati untuk diundang hari ini, bertemu langsung dengan masyarakat NTB yang kebetulan dari dulu selalu mendukung saya. Walaupun berkali-kali kalah, tapi NTB terus setia kepada saya. Rasanya saya masih utang banyak sama rakyat NTB. Tenang saja, masih ada berapa tahun kita. Terima kasih atas kesempatan ini. Terima kasih, Menko Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan. Terima kasih,  keluarga besar PU atas pekerjaan yang Saudara laksanakan bertahun-tahun.

Saudara-saudara, 
Pembangunan suatu bangsa itu adalah pekerjaan yang besar, perjuangan yang panjang. Pembangunan bangsa itu tidak satu tahun, tidak dua tahun,  belasan tahun, puluhan tahun. Bendungan ini tadi disebut dimulai pada tahun, tahun berapa? [Tahun] 2015, 2014. Kalau semua teriak, saya tidak bisa dengar. Menteri PU, tahun berapa ini dimulai? [Tahun] 2019, baik. Apa pun pembangunan seperti ini memerlukan waktu, memerlukan biaya, memerlukan sumber daya. Saya bersyukur bendungan ini bisa saya yang resmikan, tetapi pendahulu-pendahulu saya semua berjasa. Saya selalu ingatkan seluruh bangsa, berpikirlah untuk bangsa, berpikirlah untuk rakyat berfikirlah untuk kebaikan semua, berpikirlah untuk seluruh keluarga besar, seluruh rakyat Indonesia dari mana rakyat berasal apa pun sukunya, apa pun agamanya, apa pun latar belakangnya. Ini yang saya selalu mengajak.

Saya kebetulan, saya ini suka belajar sejarah, itu hobi saya. Saya belajar sejarah terus, tidak pernah berhenti sampai hari ini, sampai hari ini. Ada hal-hal yang saya dapat dari belajar sejarah peradaban manusia. Ada hal-hal yang saya dapat, yang saya yakini. Bangsa yang berhasil, bangsa yang besar, bangsa yang bisa meraih kemakmuran untuk rakyatnya adalah bangsa yang bersatu. Bangsa yang punya jiwa besar, bukan jiwa kecil, bukan bangsa yang punya dendam. Bukan bangsa yang terpecah-pecah, terkotak-kotak, yang saling iri. Bukan bangsa yang penuh dengki, penuh curiga. Bukan bangsa yang hanya mikir diri sendiri, kelompoknya. Cinta kita adalah cinta tanah air, cinta merah putih, cinta negara dan bangsa. Hanya dengan cinta tanah air, berarti kita cinta bangsa Indonesia. Kita harus hormati dan cintai bangsa kita sendiri. Tidak ada bangsa lain yang akan menghormati kita. Tidak ada bangsa lain yang akan kasihan sama kita, bahkan dari dulu mereka ingin pecah belah kita, pecah belah kita, pecah belah kita, diveda et impera. 

Jadi, Saudara saudara, saya bersyukur, ini simbol kerja keras, ini simbol persatuan Pemerintah yang investasi pertama, pemerintah yang groundbreaking, pemerintah yang mulai bangun mungkin bukan pemerintah yang meresmikan. Inilah namanya pembangunan bangsa, ini namanya kebangkitan bangsa. Pembangunan bangsa, kebangkitan bangsa bukan jatuh dari langit. Kemakmuran tidak ada di pohon, jatuh dari langit, tidak. Kemakmuran kerja besar, kerja keras, kerja bersatu. 

Saudara-saudara, 
Dari yang saya belajar dari sejarah tadi, bangsa yang berhasil bangsa yang bersatu, terutama elitenya, pemimpin-pemimpinnya harus bersatu, harus legowo. Legowo itu bahasa Jawa, ya. Pak Lalu, bahasa Lombok apa? Lapang dada, lapang dada. Jadi, kita sebagai bangsa yang pernah ratusan tahun dijajah, dihina, dianggap lebih rendah dari anjing, kekayaan kita diperas, sampai hari ini, sampai hari ini kita masih dianggap rendah. Ada kelompok-kelompok tertentu, ada bangsa-bangsa tertentu, ada negara-negara tertentu yang iri sama kita, yang iri karena kita kaya, yang memikirkan bagaimana bisa mencuri kekayaan kita dan kalau bisa Indonesia pecah. 

Saudara-saudara,
Ini saya di setiap kesempatan, saya memberi peringatan. Ada, ada yang tidak percaya sama Prabowo. Ada, enggak apa-apa. Yang penting, kita mengerti. Saya terima kasih, saya mengerti, saya paham, saya diberi kepercayaan oleh rakyat Indonesia, saya dipilih oleh rakyat Indonesia, dan saya akan setia kepada rakyat Indonesia dengan segala apa yang saya miliki, dengan segala tenaga, dengan segala pikiran, dengan segala energi yang saya miliki. Hanya satu, saya akan mengabdi kepada bangsa dan rakyat saya. Dan, saya tidak akan gentar, saya tidak akan pernah menyerah,  apalagi kalau rakyat saya terancam. Saya tidak rela rakyat Indonesia miskin, saya tidak rela. Saya tidak rela ada anak-anak Indonesia yang lapar, saya tidak rela. Apa pun segelintir elite di Jakarta berpendapat bahwa perut lapar itu tidak penting, saya berbeda. Ada rakyat Indonesia yang lapar, itu penting bagi saya. Tidak ada negara yang berhasil kalau tidak bisa menghasilkan pangan bagi rakyatnya sendiri, dan alhamdulillah Indonesia sekarang yang mampu memberi pangan untuk rakyatnya sendiri. Masalah bagi bangsa Indonesia, juga masalah bagi kita semua. Saya minta kita introspeksi, terutama para birokrat. Ini banyak birokrat di sini saya lihat, ya. Birokrat, introspeksi. Kita semua introspeksi. Pejabat-pejabat militer dan polisi, introspeksi. Saudara adalah milik rakyat. Bintangmu dari rakyat, sepatumu dari rakyat, topimu dari rakyat, jangan pernah lupa itu. Kejaksaan, demikian juga. Anda Kejaksaan, ya. Pakai bintang juga kau, kau juga milik rakyat.

Saudara-saudara, 
Kita bersyukur, prestasi-prestasi yang sudah kita hasilkan dalam waktu yang singkat dengan perlawanan-perlawanan banyak dari kelompok-kelompok, terutama koruptor-koruptor itu. Ini ada wartawan, jadi saya enggak boleh bicara, saya harus bicara hati-hati. Saya harus bicara sopan. Saya enggak boleh bilang koruptor itu bajingan, enggak boleh itu. Nanti ini yang nanti di-blow up yang ini. Presiden ngomongnya harus sopan, halus. Benar? Benar? Anda mau saya bicara sopan atau mau saya bicara jujur? Saya kadang-kadang, saya kadang-kadang bersyukur saya ini sudah pensiun. Kadang-kadang saya itu hadapi maling-maling koruptor itu rasanya itu, tapi harus sesuai prosedur hukum. Ya kita laksanakan, kita akan tegakkan hukum, Saudara-saudara. Dan, hukum itu untuk semua, bukan untuk hanya orang kuat saja, bukan hanya hukum untuk orang kaya saja.

Saudara-saudara, 
Lima bendungan yang kita resmikan hari ini adalah investasi negara sekitar 9,79 triliun, 9,79 triliun. Kemarin adalah hari yang sangat bersejarah. saya meresmikan launching Indonesia negara pertama di dunia yang bisa membuat solar dari tanaman nabati, dari kelapa sawit. Solar kita sekarang,  solar kita sekarang 50 persen dari kelapa sawit. Dan, mulai hari-hari ini kita sudah mulai menghentikan impor solar dari luar negeri. Dengan demikian, dengan demikian kita akan menghemat 170 triliun Bayangkan, hari ini kita resmikan lima bendungan yang Menteri Pertanian melaporkan kepada saya,  lima bendungan ini nanti dengan teknologi, dengan benih yang terbaik bisa menghasilkan satu juta ton beras. Lima bendungan ini, lima bendungan ini 9,79 triliun. Dari B50, kita akan menghemat 170 triliun. Bayangkan berapa puluh bendungan yang kita bisa bangun tiap tahun. Berarti 17 kali 5, kira-kira ya. Berapa Mensesneg, 17 kali 5? 85. Ini Mensesneg pintar, makanya dia jadi Mensesneg ini. 

Saudara-saudara, 
Jadi, ini prestasi, kita negara pertama di dunia. Satu, yang berani bikin B50 Dua, berhasil bikin B50. Dulu waktu kita mulai, waduh, banyak yang menentang. Tidak bisa, nanti mesin rusak, nanti pabrik tidak mau kasih kita mesin, nanti ini, nanti itu. Pokoknya mereka tidak mau kita B50, karena dia mau supaya apa itu import. Dia mau impor-impor, di situ dia ambil komisi. Bayangkan 170 triliun, kalau komisinya 20 persen, berapa itu? [Sebesar] 30 triliun, 34 triliun, dimakan hanya berapa belas orang. 

Yang kita perjuangkan, yang saya perjuangkan bersama pemerintah yang mendukung saya, bersama koalisi yang mendukung saya, dengan mandat yang diberikan oleh rakyat, yang kita perjuangkan adalah meraih kemakmuran untuk rakyat Indonesia dengan mengurangi, kalau bisa menghabisi korupsi, melakukan penghematan, melakukan efisiensi. Ini perjuangan kita untuk Indonesia makmur. Indonesia tidak mungkin makmur, kalau korupsi masih merajalela. Indonesia tidak mungkin makmur, kalau banyak kebocoran. 

Saudara-saudara sekalian, 
Saya selalu berpesan kepada aparat negara, kepada petugas-petugas negara yang ada di pemerintahan, yang ada di birokrasi, di setiap kementerian, di setiap lembaga, marilah kita bersama-sama benahi diri, perbaiki diri. Saya tidak mau lihat ke belakang, tapi saya mohon perbaiki diri, mawas diri. Jangan melawan kehendak rakyat. Rakyat tidak Ingin korupsi dibiarkan, rakyat tidak ingin penipuan-penipuan dilanjutkan. 

Saudara-saudara, 
Saya juga merasa besar hati, bangga, beberapa hari ini saya dapat laporan-laporan hasil, hasil-hasil yang kita dapatkan. BUMN-BUMN Yang merupakan sarang korupsi puluhan tahun sedikit demi sedikit mulai kita benahi. Saya waktu dilantik, boleh ya saya bicara agak panjang, boleh? Pak Gubernur, boleh, Pak Gubernur? Nanti masa saya datang resmikan, selesai, pulang. Kalian mau, datang [memperagakan peresmian]? Kalau birokrat-birokrat saya tidak mengerti. Rakyat mau saya terus atau tidak? Karena, ini penting, penting. 

Jadi, Saudara-saudara, karena ada suatu penyakit, bukan hanya di negara kita tapi di dunia ini, sosmed Ini bisa diperalat. Orang punya duit, dia bisa main di sosmed. Jadi, cerita di sosmed belum tentu cerita yang sebenarnya. Rakyat jangan tertipu. Rakyat jangan tertipu. Percayalah kepada pemimpin yang telah kau pilih. 

Saudara-saudara, 
Jadi, saya dapat laporan bahwa beberapa BUMN yang sekian puluh tahun rugi-rugi, tahun ini mulai untung, Saudara sekailan. Mulai untung. Dulu saya juga waktu dilantik jadi presiden, minggu-minggu pertama saya kaget, kaget. Saya tidak pernah tahu bahwa BUMN kita begitu banyak, perkiraan saya dari dulu BUMN kita ya 300, maksimal 400. Begitu saya dilantik jadi presiden, baru saya diberi tahu BUMN kita seribu, 1.077. Itu pun jangan-jangan ada lagi anak perusahaan, ada lagi cucu perusahaan, ada lagi cicit perusahaan, dan itu adalah cara mereka untuk sembunyi, sembunyiin uang negara, sembunyiin uang rakyat, ini kita tertibkan. Sampai hari ini, kita sudah tutup 240 BUMN yang tidak beres, sudah kita tutup. Nanti akhir Juli ini, akan 250 BUMN kita tutup. Desember 31, 2026,  akan tutup jumlahnya 800 BUMN yang tidak efisien, yang tidak pernah untung, yang merugi terus kita tutup. Dari gaji direksi saja sampai sekarang, overhead dan gaji kita sudah bisa menghemat mendekati 70 triliun, 70 triliun sudah kita hemat. 

Saudara-saudara, 
Banyak sekali perusahaan yang seolah-olah tadinya mau dijual, tadinya mau dijual ke asing, saya larang. Tadinya industri pertahanan mau dijual, PT PAL mau dijual, PT Pindad mau dijual, PT DI dibunuh mau dijual, kita bangkitkan. Sekarang, kita akan bangkitkan semua perusahaan-perusahaan itu. PT PAL sekarang sudah bisa bikin kapal-kapal perang yang hebat-hebat, PT PAL sekarang sudah bisa bikin kapal selam, PT PAL akan bikin kapal-kapal canggih, Saudara-saudara sekalian. Pindad sekarang, baru saja saya dapat laporan, dapat kontrak dari Arab Saudi. Semua senapan dan senapan mesin tentara Arab Saudi akan dibangun oleh PT Pindad, Saudara-saudara. Senjata kita teruji. Tentara kita Angkatan Darat 13 kali juara umum di pertandingan menembak Australia, 13 kali, ya? Tiga belas kali, pertandingan itu tiap tahun atau tiap dua tahun? Dua tahun sekali. Jadi, bayangkan sudah 26 tahun Tentara Indonesia juara menembak se-Asia Pasifik, yang ikut tentara Australia, tentara Amerika, tentara Jepang, Vietnam, tentara negara-negara hebat, tentara Malaysia, tentara Singapura. Tiap kali menang mereka curiga, jangan-jangan Indonesia curang. Mau curang apa? Pertandingan, pertandingan mereka. Panitianya, panitia mereka. Tempatnya, di tempat mereka. Sistem pertandingan, sistem pertandingan mereka susun. Prajurit kita juara. Artinya apa? Prajurit kita berarti anak-anak petani, enggak ada anak orang kaya mau jadi tentara. Ada, enggak? Artinya, prajurit Indonesia dikasih perlengkapan yang tepat, makan yang enggak dikorupsi, dikasih komandan yang baik, dikasih peluru yang cukup, latihan, dia juara. Juara antara tentara terbaik di dunia. Ini sekali lagi lambang, simbol, 

Saudara-saudara, 
Kita dalam 18 bulan ini, pemerintahan yang saya pimpin, kita telah mencapai tonggak-tonggak bersejarah Untuk pertama kali dalam sejarah Republik Indonesia, kita bisa turunkan harga pupuk, Saudara-saudara sekalian. Untuk pertama kali dalam beberapa puluh tahun, kita sekarang sudah surplus, surplus beras. Bagaimana? Kita sudah surplus jagung belum? Sudah? Jagung pakan, pakan sudah. Terima kasih TNI dan Polri atas sumbangan Saudara-saudara. TNI dan Polri kerja keras untuk bantu kita swasembada, Saudara-saudara sekalian. Untuk pertama kali dalam sejarah, kita banyak merintis pertama kali dalam sejarah, untuk pertama kali dalam sejarah Republik Indonesia juga, kita sekarang punya dana kedaulatan kita sendiri, sovereign wealth fund yang namanya Danantara. Danantara sekarang sudah mungkin kelima terbesar di dunia. Dana ini adalah dana kekuatan ekonomi rakyat Indonesia, kita jadikan satu. Dulu banyak yang menentang,  sekarang sudah terbukti pelan-pelan kita perbaiki. Garuda tadinya mau dijual, saya larang. Sekarang sudah mulai bangkit, bulan depan sudah mulai untung dari sekian puluh tahun rugi. Saudara-saudara, pelan-pelan kita perbaiki ini semua, kita perbaiki semua kekurangan.

Saudara-saudara, 
Saya titip kepada instansi yang terkait, jaga bendungan-bendungan ini dengan baik, kelola dengan profesional, rawat dengan baik. Pastikan bahwa air yang dibutuhkan petani sampai ke petani. Para petani adalah produsen pangan, tanpa pangan, tidak ada negara. 

Saudara-saudara sekalian, 
Setiap Rupiah uang rakyat harus dimanfaatkan dan dinikmati oleh rakyat Indonesia. Saya kira, demikian yang ingin saya sampaikan. Kita, saya yakin kita akan menjadi lumbung pangan dunia. Dari kita impor, impor, impor,  sekarang kita sudah mulai ekspor, ekspor pangan ke negara-negara lain. Kita sekarang diminta bantuan negara-negara, bahkan Australia minta bantuan, mohon kita bisa jual urea ke mereka, Brasil, Filipina, India. Jadi, Indonesia sekarang tanpa banyak gembar-gembor, kita menunjukkan bahwa Indonesia adalah negara yang sedang bangkit dan akan bangkit terus, Saudara-saudara sekalian.

Saya titip NTB, pimpinannya, para gubernur, bupati, para elite, pimpinlah dengan arif, pimpinlah dengan baik, pimpinlah dengan cinta kepada rakyat. Dasarnya adalah demikian, cintai rakyatmu, urus rakyatmu,  Gunakan kebijakan-kebijakan yang akal sehat, hindari niat jadi kaya di atas penderitaan rakyat kecil. Hindari, jauhi pikiran dan niat seperti itu. Jauhi, itu dosa yang paling, yang paling jahat. Jangan lupa, Saudara pemimpin adalah untuk melayani rakyat, bukan untuk buat rakyat lebih susah. Terima kasih. Saya mengajak semua unsur, mari kita bersatu, mari kita saling memaafkan kekurangan kita masing-masing. Kita punya kekurangan semuanya. Mari kita bersatu, mari kita maafkan. Kita bersatu. Kita berpikir baik, keluarkan kebaikan. Jangan berpikir jahat, jangan licik, jangan menipu, jangan bohong. Pemimpin yang suka bohong adalah bencana bagi rakyat, Saudara-saudara sekalian.

Saya kira cukup, ya. Sekian cukup, ya? Cukup, ya? Apa? Lanjut? Ada kopi? Minta izin ya, boleh, Pak? Kalau Ulama bilang boleh, ya saya minum lah. Itu baru kopi. Tapi, bahaya ini kalau saya minum kopi ini tiga jam pidato saya. Kuat dengar saya tiga jam? Kuat? Yang enggak kuat saya, berdiri. Yang senang itu media nungguin, Prabowo ngomong apa lagi nih? Dia senyum semua itu, benar? Iya, kan? Kalau aku, kalau aku baca pidato, kalian enggak senang. Kalau pidato ini sudah pasti bagus. Kalau tanpa teks, nunggu ini Prabowo salah ngomong. Enggak ada urusan ya, karena saya bicara dari hati saya. 

Saya ingin Indonesia hebat. Saya ingin Indonesia rakyatnya makmur. Saya ingin rakyat yang paling miskin senyum, karena dia ada harapan. Saya tidak ingin lihat rakyat miskin. Saya tidak ingin lihat anak-anak lapar. MBG kita teruskan. Tapi, kita mengerti dan kita sadar banyak juga yang menyusup ke tubuhnya MBG untuk jadi maling di situ. Maka, saya minta Gubernur, Bupati Camat, Kepala Desa boleh memeriksa, semua dapur MBG Saudara periksa, laporkan ke Kepala BGN. Kalau perlu, lapor langsung ke saya. Gampang,  ngomong di TikTok, langsung aku kirim tim untuk selesaikan. Benar? Enggak usah susah-susah nomor telepon ini. Dandim, Kapolres, Kapolsek, silakan periksa. Periksa, periksa yang artinya baik. Jangan manggil-manggil mau ngerjain, jangan. Saya sudah lama jadi orang Indonesia. Manggil-manggil minta setoran. Rakyat, awasi. Rakyat sekarang tidak bodoh, rakyat punya gadget. 

Tapi, memang ya orang kalau mau nyolong, ada aja, ada aja. Gue heran juga itu. Ayam, ayam tuh, ayam tuh biasanya itu bisa dipotong delapan. Kalau negara kaya kayak Amerika, satu orang, jadi ayam dipotong empat, satu orang makan seperempat ayam. Negara kaya itu. Kalau kita, ya satu ayam potong delapan atau 10 lah, paling, paling kecil 12 lah. Jangan pula dipotong 18 atau 22. Wah, ini ada wartawan. Kalau enggak, aku ingin ngomong. Enggak boleh-enggak boleh, nanti saya dimarahin. Disangka kita enggak ngerti ayam dipotong 12, 10, ayam dipotong 20 kelihatan. Jadi,  makannya kecil, sedikit, ayamnya kecil. Habis itu, Ibu Nanik kalau dengar pidato ini, Ibu Nanik ya, MBG jangan bikin telur dadar. Telur rebus atau ceplok. Kalau dadar biasanya itu dicampur macam-macam itu ya, itu bisa empat orang makan satu [telur] ayam itu. Apalagi apa itu namanya scramble apa itu orek, apalagi orek itu, nanti oreknya sedikit lagi, ya.

Jadi, kita ini, Saudara-saudara, MBG ini adalah sangat strategis, karena ini makan untuk anak-anak kita, generasi penerus. Dia harus, sel otak harus berkembang dengan baik, sel tulang harus baik, sel otot harus baik. Dia berkembang sehat, dia bisa jadi petani yang sehat, dia bisa jadi pekerja yang baik, dia bisa jadi ilmuwan, dia bisa jadi dokter. Kalau dari kecil makannya enggak bagus, dia nanti tidak maksimal. Kita mungkin satu-satunya negara yang memberi makan kepada Ibu-ibu hamil. Coba dicek ada, enggak? Kita… Apa? Apa? Oh, ada yang belum sampai. Iya, itu saya minta kesabaran, karena itu memang perjuangan kita. Mungkin baru sampai semua, saya berharap akhir tahun atau awal tahun depan. Negara kita besar sekali. Negara kita besar sekali, pasti ada desa-desa yang belum terima. Saya paham itu, iya. 

Baik, saya kira cukup sekian. Terima kasih perhatian Saudara. Bendungan-bendungan ini hanya simbol, kita perlu berjuang lebih keras lagi. Kita perlu bendungan-bendungan lebih banyak, kita perlu bendungan-bendungan lebih besar. Kita akan bangun nanti tenaga surya 100 Gigawatt. Kita akan melaksanakan pembangunan besar-besaran. Orang-orang nanti akan lihat Indonesia itu bagaimana, Indonesia yang bangkit itu bagaimana. Kita akan buktikan Indonesia akan bangkit menjadi negara yang hebat. Terima kasih.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, 
Salam sejahtera bagi kita sekalian, 
Syalom, 
Om santi santi santi om. 

Terima kasih. Selesai.
Merdeka! 
Terima kasih semua, Saudara-saudara sekalian.

Bismillahirrahmanirrahim. Pada siang hari ini, Jumat, 10 Juli 2026, dengan rahmat Tuhan Yang Mahabesar, saya Prabowo Subianto, Presiden Republik Indonesia, dengan ini saya resmikan Bendungan Meninting Provinsi Nusa Tenggara Barat, Bendungan Rukoh dan Keureuto Provinsi Aceh, Bendungan Jlantah Provinsi Jawa Tengah, Bendungan Sidan Provinsi Bali.