Gaya Tapi Kaya Ala Aakar Abyasa

 
bagikan berita ke :

Kamis, 07 November 2019
Di baca 4342 kali

Masyarakat Indonesia saat ini harus melek finansial, karena mempunyai finansial yang sehat merupakan sebuah keharusan bagi setiap orang. Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kementerian Sekretariat Negara (Pusdiklat Kemensetneg) menyelenggarakan Serial Lecture#17 yang bertemakan ‘Financial Planning : Gaya Tapi Kaya”dengan menghadirkan Aakar Abyasa Fidzuno, seorang Chief Executive Officer dan Founder sebuah financial consultant ternama di Indonesia yaitu Jouska Indonesia.
 
Bertempat di Gedung III Kemensetneg, serial lecture yang dimoderatori oleh Gilman Pradana ini berjalan sangat interaktif. Aakar Abyasa Fidzuno yang biasa dipanggil Aakar ini memulai diskusi dengan pembahasan tentang pentingnya financial planning. “Kenapa financial planning itu penting, karena saat kita lahir, kita sedang dalam masalah krisis, makanya kita sebut milenial itu, anak krisis moneter, kita hidup dimana semua serba mahal, property naik kita tidak ada privilege seperti orangtua kita bisa beli rumah dengan harga murah, jadi enggak ada pilihan lain untuk sehat dan melek finansial, jadi saya selalu bilang bahwasanya financial planning terutama untuk milenial this is not an option, this is the only way to survive untuk menuju impian,” ujar Aakar.




Aakar juga menjelaskan ada 4 pondasi mempunyai financial planning yang sehat. Pertama ialah dana darurat. “Karena yang namanya darurat tidak melulu tentang pribadi tapi juga global, ini step awal banget setiap orang harus punya dana darurat, nilainya berapa? sangat gampang tergantung tingkat daruratnya, idealnya satu nyawa itu 25% dari income 1 tahun, tapi ini musti punya emergency fund, taruhnya di sesuatu yang likuid seperti tabungan, deposito, ori atau pasar sekunder, intinya emergency fund harus likuid, jangan ditawar karena emergency fund penting,” jelas Aakar.

Pondasi kedua adalah keuangan yang sehat, yaitu memiliki asuransi, baik itu asuransi jiwa dan asuransi kesehatan. “Kalau ASN kan sudah punya BPJS Kesehatan ya, kalau mau nambah asuransi kesehatan lebih bagus sekarang banyak marketplace yang kasih asuransi kesehatan murah, asuransi jiwa hanya untuk yang punya tanggungan jadi kalau kita tidak punya tanggungan, tidak ada orang yang ketergantungan secara finansial sama kita, kita tidak perlu pakai asuransi jiwa, kalau asuransi kesehatan disesuaikan dengan kebiasaan masing-masing tapi sudah banyak produk asuransi kesehatan lokal yang murah, tapi dengan syarat sehat dulu poin dana darurat baru beli asuransi,” ungkap Aakar.

Di pondasi ketiga Aakar menerangkan tentang utang. “Jadi yang punya utang kartu kredit, utang yang lain-lain, silahkan dibereskan dulu, yang punya Kredit Pemilikan Rumah (KPR) di review dulu apakah KPR nya perlu di top up, lunas percepat, diperpanjang cicilannya atau gimana silahkan dibongkar-bongkar dulu karena sekali lagi utang itu penyebab nomor satu orang itu gagal pensiun, bahwa banyak dari kita yang belum sadar cicilan KPR itu pakai teknik anuitas, anuitas itu teknik di lima atau tujuh tahun pertama 80% cicilan KPR ialah bunga, tidak ada masalah dengan KPR tapi ngambilnya musti tepat, jadi debt ini termasuk yang harus diurus dengan tepat, karena jika orang sudah komitmen mempunyai utang dengan jangka panjang, pikir dengan serius, cashflow saya cukup tidak, siap tidak” pungkas Aakar.




Pondasi keempat yang berarti pondasi terakhir ialah Investasi. “Yang terakhir, jadi tiga tadi itu dasar, jangan mau ke investasi dulu kalau tiga tadi belum kelar, dana darurat kelar, asuransi beres, utang sehat, ayo investasi, karena banyak orang, tidak bikin dana darurat, semuanya diinvestkan, keberhasilan investasi itu 80% mental, 20% knowledge,” ucap Aakar.

Terakhir, Aakar mengungkapkan hemat dan investasi harus dijalankan secara simultan. “Saya selalu menyampaikan bahwa hemat dan investasi itu harus simultan, jalan bareng, fokusnya itu mau gaya  seperti apa yang penting setiap tahun asset naik, tiap tahun kita fokus dengan kenaikan asset karena kalau kita semua berhemat, mati negara kita, yang namanya konsumsi itu wajib dijalankan dan Indonesia 40% itu market ASEAN, artinya apapun yang terjadi di Indonesia, ekonomi bergerak, itu juga alasan kenapa kita harus melek finansial agar selamanya kita tidak dijadikan market” kata Aakar.

Tidak hanya menjelaskan, di serial lecture ini Aakar kerap kali juga memberikan contoh sebuah kasus yang dialami oleh klien-kliennya di Jouska Indonesia. Terlihat antusiasme yang tinggi dari para peserta yang hadir dengan banyaknya pertanyaan yang diajukan kepada Aakar lewat aplikasi slido.com.



Serial lecture ini ditutup dengan pemberian hadiah bagi tiga peserta dengan pertanyaan terbaik yang dilanjut dengan sesi foto bersama. (ART, Humas Kemensetneg)

Bagaimana pendapat anda mengenai artikel ini?
23           0           0           0           0