Mencari Ilmu Tak Hanya Sampai China, Tetapi Hingga ke Istana

 
bagikan berita ke :

Senin, 04 Agustus 2008
Di baca 836 kali


Kemudian mereka menuju Istana Merdeka. Selain para menteri, beberapa tokoh pers terlihat menuju tempat yang sama.

Pagi itu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tak hendak mengadakan sidang kabinet atau rapat terbatas, mereka semua diundang hadir di Istana peninggalan kolonial Belanda itu untuk mengikuti kuliah umum dalam program "Presidential Lecture" yang beberapa kali diselenggarakan oleh Presiden.

Saat memulai kuliah umum itu, Presiden Yudhoyono dalam sambutannya mengatakan salah satu tujuan diselenggarakannya "Presidential Lecture" adalah untuk menambah wawasan sekaligus mendengarkan pemikiran progresif dari tokoh-tokoh di berbagai bidang.

Hari itu, giliran Profesor Kishore Mahbubani dari Singapura yang diundang untuk menyampaikan pandangan, khususnya terkait buku terbarunya yang berjudul "The New Asian Hemisphere: The Irresistible Shift of Global Power to the East" yang diterbitkan di Februari 2008 lalu.

Kishore Mahbubani adalah profesor bidang kajian publik di Lee Kuan Yew School of Public Policy, Universitas Nasional Singapura.

Mahbubani pernah bertugas di Departemen Luar Negeri Singapura sejak 1971 hingga 2004 dan juga menulis sejumlah buku, saat mahasiswa ia mengambil jurusan filsafat dan sejarah.

Selama bertugas di Departemen Luar Negeri Singapura, ia ditugaskan di Kamboja, Malaysia, Washington DC dan New York sebagai perwakilan tetap Singapura untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa dan juga terpilih sebagai Presiden Dewan Keamanan PBB 2001 hingga 2004.

Saat ini Mahbubani menjabat sebagai Dekan dan pengajar di Lee Kuan Yew School of Public Policy di Universitas Nasional Singapura.

Mahbubani telah menulis sejumlah artikel dan menjadi pembicara di sejumlah negara. Tulisannya dimuat di sejumlah jurnal dan surat kabar antara lain "Foreign Affair", "Foreign Policy", "The Washington Quarterly", "Time" dan "Newsweek" serta "New York Times".

Ia menulis buku "Can Asians Think?" (yang diterbitkan di Singapura, Kanada, Amerika Serikat, Meksiko, India, China and Malaysia).

Tulisan lainnya adalah "Beyond The Age Of Innocence: Rebuilding Trust between America and the World". Buku terbarunya berjudul "The New Asian Hemisphere: the irresistible shift of global power to the East" diterbitkan pada Februari 2008 lalu.

Ia adalah lulusan jurusan filsafat Universitas Nasional Singapura pada 1971 dan kemudian mengambil gelas master di bidang filsafat dari Dalhousie University, Kanada, pada 1976 serta gelar doktornya pada 1995.


Tiga hal

Dalam paparannya di hadapan para menteri, antara lain Plt Menko Perekonomian Sri Mulyani, Mensesneg Hatta Radjasa, Meneg BUMN Sofyan Djalil serta sejumlah tokoh pers termasuk Jacob Oetama dan praktisi hukum Todung Mulya Lubis, Mahbubani menyampaikan tiga hal yang harus dilakukan Indonesia dan negara-negara anggota ASEAN agar dapat menjalankan pembangunan nasional dengan baik.

"Yang pertama adalah mengembangkan kontrak sosial yang baik antara elit politik dengan masyarakat, dan itu yang dilakukan oleh Jepang, China dan India, sehingga mereka berhasil. Dengan ini maka dapat terbentuk meritokrasi," paparnya.

Hal yang kedua adalah membangun kepercayaan bahwa bangsa ini akan sukses. Mahbubani mengatakan pengalaman pribadinya yang besar di Singapura dan menerima kenyataan bahwa negaranya bekas jajahan Inggris, maka tertanam bahwa bangsa Eropa lebih superior.

"Selalu harus ada harapan untuk lebih baik," katanya.

Dan hal ketiga adalah kaum muda. Mahbubani mengatakan kaum muda merupakan aset sebuah bangsa, pendidikan yang baik akan membuat sebuah negara memiliki sumber daya manusia yang unggul sehingga bisa membantu negara itu meningkatkan taraf hidupnya termasuk menjadi kekuatan ekonomi global.

Ia juga mengatakan peningkatan kualitas pendidikan dan pemberantasan korupsi menjadi salah satu syarat keberhasilan pembangunan di Indonesia sehingga bisa menyamai Korea Selatan, China dan Jepang sebagai kekuatan di kawasan Asia.

"Pendidikan adalah suatu hal yang sangat penting. Tanpa pendidikan di tingkat dasar, menengah dan lanjutan, tidak ada komunitas yang berhasil. Salah satu alasan mengapa India dan China merupakan salah satu negara yang sukses di Asia karena banyak siswa mereka yang belajar di Univeristas di Amerika," katanya dihadapan puluhan peserta kuliah umum termasuk Presiden Yudhoyono, para menteri Kabinet Indonesia Bersatu dan sejumlah pimpinan media massa.

Dekan pada Lee Kuan Yew School of Public Policy di Univeristas Nasional Singapura itu mengatakan sepanjang 2006 hingga 2007 di China 68.000 warganya belajar di sejumlah Universitas di Amerika Serikat, demikian juga dengan India yang mencapai 83.000 orang.

Menurutnya, Indonesia memiliki potensi kaum muda yang besar dan bisa didik menjadi sumber daya manusia yang baik sehingga bisa membawa bangsa ini menjadi bangsa yang unggul baik di kawasan Asia maupun Internasional.

"Kalau kita bisa mendidik kaum muda dan menyiapkan mereka menghadapi masa depan, kita akan mempunyai kesempatan untuk memiliki prospek yang baik, namun di lain pihak bila kita gagal mempersiapkan mereka, maka harapan kita untuk mencapai kehidupan yang lebih baik akan sirna," ujarnya.

Mahbubani membandingkan Indonesia dengan India, ketika hanya 76 persen anak-anak di India menamatkan sekolah dasar mereka, maka di Indonesia angka itu menjadi 91 persen meski India mengalokasikan 7,2 persen Pendapatan Domestik Brutonya untuk pendidikan dasar dan Indonesia baru 3,2 persen.

"Namun Indonesia sudah memiliki fundamental yang cukup baik," katanya. Sementara itu terkait pemberantasan korupsi, ia melihat perlunya penegakan hukum.

"Penegakan hukum diperlukan untuk dua hal mencegah dan memberantas korupsi. Presiden Yudhoyono sudah menunjukkan perannya yang besar dalam upaya itu," katanya.


Datangkan para tokoh

Sebelum menghadirkan Mahbubani, Presiden Yudhoyono juga pernah mengundang konsultan asal Amerika Serikat Prof. Dr. Robert Klitgaard dan asal Inggris, Bertrand de Speville untuk menyampaikan pandangan tentang kebijakan anti-korupsi pada 2006 lalu.

"Kita akan mendapatkan gambaran komprehensif yang akan memperkaya pengetahuan kita untuk memperkuat strategi dan sistem penegakan hukum dalam kerangka pemberantasan korupsi di negara ini," kata Presiden saat itu.

Tak hanya masalah korupsi dan politik, Presiden juga pernah menggagas kuliah umum yang diberikan oleh pakar informasi teknologi dan salah satu perintis Microsoft, Bill Gates.

Acara tersebut berlangsung di Balai Sidang Jakarta di sela-sela kunjungan Gates ke Indonesia Mei 2008 yang lalu.

Dalam kuliah umum yang dihadiri sekitar 2.500 pimpinan perusahaan berbagai jenis industri, pejabat pemerintah, rektor, dan mahasiswa dari 45 perguruan tinggi negeri dan swasta itu, Gates berceramah tentang perkembangan masa depan telematika global.

Selain nama-nama diatas, selama Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menjadi kepala negara, juga telah mengundang Geoffrey Sachs, Direktur Proyek Millenium Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tentang Millenium Development Goals (MGDs), Nicholas Stern begawan ekonom Inggris yang sekaligus Penasihat Perubahan Iklim dan Pembangunan untuk Pemerintah Inggris.

Kuliah umum juga pernah menghadirkan peraih hadiah nobel, Mohammad Yunus.



Sumber:

http://www.antara.co.id/arc/2008/8/4/mencari-ilmu-tak-hanya-sampai-china-tetapi-hingga-ke-istana/

Bagaimana pendapat anda mengenai artikel ini?
0           0           0           0           1