Menyambut Hari Raya Saraswarti, Kemensetneg Selenggarakan Dharma Wacana

 
bagikan berita ke :

Jumat, 21 Oktober 2022
Di baca 339 kali

Biro Sumber Daya Manusia Kementerian Sekretariat Negara (Biro SDM Kemensetneg), Jumat (21/10),  mengadakakan kegiatan Dharma Wacana (Ceramah Keagamaan Hindu) dengan tema “Makna Hari Raya Saraswati” yang diperingati oleh umat Hindu pada tanggal 22 Oktober 2022.

Dilaksanakan secara hybrid, acara ini dibuka oleh Kepala Biro Sumber Daya Manusia, Agussalim yang menyampaikan bahwa adanya kegiatan ini ditujukan untuk menjalin silaturahmi antar pejabat pegawai di lingkungan Istana Tampaksiring, Bali.

“Kegiatan Dharma Wacana menjadi media penyegaran kembali, karena kami yakin semua umat beragama pasti mempraktikkan ajaran mulia agama kita masing-masing. Dalam konteks ini, kami mengingatkan kembali nilai-nilai keagamaan sehingga dalam bekerja sehari-hari kita bisa mengejawantahkan nilai-nilai mulia masing-masing agama,” Ujar Agussalim.



Kegiatan yang dilaksanakan di Istana Tampaksiring, Bali, dihadiri oleh penceramah Ida Pandita Mpu Jaya Acharya Nanda. Ida Pandita menyampaikan bahwa makna Hari Raya Saraswati adalah puncak dari kegiatan, karena makna menyangkut nilai.

“Manusia hadir untuk membangun nilai. Makna Saraswati memberikan nilai maksimal bagi kehidupan manusia. Nilai semakin bagus, berarti kita mengikuti norma-norma yang telah digariskan,” tutur Ida Pandita.

Saraswati adalah hari suci yang berarti ada upaya didalamnya agar hari tersebut dapat memberi imbas kepada diri manusia agar mampu menyucikan diri. Kehadiran ilmu pengetahuan dalam Saraswati memiliki dua fungsi, salah satunya yaitu persembahan ilmu pengetahuan yang jauh lebih mulia dari persembahan materi.

Menurut Ida Pandita, Saraswati hadir untuk mengembangkan potensi diri manusia, meningkatkan kapasitas dengan menjadi agen perubahan. Tanpa ilmu, manusia tidak bisa melakukan sesuatu. Penting memiliki daya nalar dan analisa yang kuat, karena masalah biasanya timbul dari pikiran manusia itu sendiri.




 “Ketika kita punya ilmu yang tinggi pasti disertai dengan proses berpikir, dan sang Buddha mengajarkan kita bahwa manusia adalah pikirannya. Maka, untuk  meningkatkan diri kita, mulailah dengan berpikir dengan benar,” kata Ida Pandita Mpu Jaya Acharya Nanda. (ABS, ART/Humas Kemensetneg)

Bagaimana pendapat anda mengenai artikel ini?
1           1           0           0           0