Pengantar Presiden pada Rapat Terbatas terkait Penanganan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla)
Sekretaris Kabinet (Teddy Indra Wijaya)
Yang terhormat Bapak Presiden,
Pada hari ini, Senin 12 Oktober 2026, telah hadir mendampingi Bapak Presiden, Bapak Menko Polkam, Bapak Menko PMK, Menteri Pertahanan, Panglima TNI, dan Kapolri, dan turut hadir melalui video conference Kepala BNPB, BMKG, Kepala Staf (TNI) Angkatan, Menteri Dalam Negeri, kemudian Gubernur, Pangdam, dan Kapolda dari Provinsi Sumatra Selatan dan Kalimantan Tengah, dan nantinya kita akan fokus di dua provinsi tersebut, dan nanti akan dijelaskan secara umum oleh Kepala BNPB. Selanjutnya, dimohon Bapak Presiden memberikan pengantar awal. Terima kasih.
Presiden RI (Prabowo Subianto)
Terima kasih, Saudara-saudara. Saya kira langsung saja, kalau bisa, saya dapat, saya dapat update, saya dapat perkembangan situasi terakhir, ya. Mungkin dari Kepala BNPB, kalau, ya, ya. Silakan.
Kepala BNPB (Suharyanto)
Siap, Bapak Presiden. Kami izin melaporkan, update kondisi per hari ini, Senin 12 Oktober 2026, sebagai berikut.
Untuk provinsi prioritas lahan gambut, ada di enam provinsi, Bapak Presiden, Kalimantan Tengah, Sumatra Selatan, Kalimantan Selatan, Jambi, Kalimantan Barat, dan Riau, untuk hari ini, yang terbakar, yang masih ditangani oleh satgas di lapangan, jumlahnya adalah 639,23 hektare. Yang terbesar memang terjadi di Kalimantan Tengah. Kenapa paling besar? Karena baru saja ditemukan kebakaran baru di Taman Nasional Tanjung Puting, Kabupaten Kotawaringin Barat dan Seruyan, per hari ini ada 513,89 hektare yang terbakar di sana. Meskipun bukan lahan gambut, lahan mineral, tetapi ini menjadi pekerjaan yang segera harus kami lakukan. Pangdam Kalimantan Tengah juga sudah memimpin langsung di lapangan, per hari ini, kemudian ada penambahan pasukan dan peralatan Satgas Darat.
Sementara untuk Satgas Udara, kami sudah coba bergerak, baik dari Palangka Raya, (Bandar Udara) Tjilik Riwut, maupun dari (Bandar Udara) Syamsudin Noor, Banjarmasin, sementara belum tembus, karena visibility yang sangat tebal, dan di Kalimantan Tengah ini, operasi-operasi udara, baik helikopter water bombing, operasi modifikasi cuaca, maupun pesawat komersial, sementara tidak dapat terbang karena visibility yang rendah.
Sehingga kesimpulannya, Pak Presiden, yang pertama, sampai dengan tanggal 12 Oktober 2026, masih ada dua provinsi yang cukup berat ini, Bapak Presiden, yaitu Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan. Kemudian untuk yang di tempat-tempat lain, ini juga masih ada kebakaran, tapi lebih mudah dipadamkan. Kami juga tetap mengerahkan helikopter water bombing untuk tempat-tempat yang susah dijangkau, sebagai contoh Taman Nasional Way Kambas, Tanjung Puting di Pangkalan Bun, dan Halmahera Timur di Maluku Utara.
Kemudian juga, untuk di Kalimantan Tengah dan Sumatra Selatan, ini tetap kami masih menitikberatkan pada operasi darat, karena Kalimantan Tengah khususnya, tadi kami laporkan bahwa untuk helikopter water bombing ini sudah hampir seminggu lebih tidak bisa terbang, karena tidak, visibility rendah. Untuk Sumatra Selatan, baru hari ini bisa terbang, dan nanti kami akan padukan dengan operasi modifikasi cuaca, kami tambah armadanya. Kalimantan Tengah menggunakan empat pesawat, dan Sumatra Selatan menggunakan dua pesawat dari Pangkalpinang.
Kami tetap akan bekerja keras, sekuat tenaga, mengarahkan segala kemampuan, paling tidak di bulan Oktober ini, mudah-mudahan nanti begitu prediksi BMKG sudah mulai turun hujan alami, di pertengahan Oktober sampai dengan November, dan selanjutnya, setelah musim hujan turun, tentu saja kondisi karhutla akan lebih baik. Tapi sebelum itu, kami siap untuk bekerja keras, mengerahkan segala kemampuan yang kami miliki.
Mungkin itu, Bapak Presiden, yang bisa kami laporkan. Selanjutnya, mohon petunjuk.
Presiden RI (Prabowo Subianto)
Kepala BNPB, saya mau rekonfirmasi, ya. Jadi kondisi sekarang, total, di enam provinsi, yang masih harus dipadamkan, berarti masih, masih terbakar, ya, adalah 639,23 hektare. Apa benar itu?
Kepala BNPB (Suharyanto)
Betul, Bapak Presiden.
Presiden RI (Prabowo Subianto)
Tadinya, saya mengira masih ratusan ribu, masih puluhan ribu [hektare], ternyata sudah, sudah jauh, ya. Karena itu, tolong sampaikan ke MenPAN RB, ya, kalau memang saya minta 70 ribu polisi hutan, itu karena ada maksud untuk menjaga hutan-hutan kita, ya. Ya, ya, oke. Oh, dari Kemenhut yang hanya 20 ribu [polisi hutan], ya kalau enggak, ya, minta dilatih, lah, oleh polisi atau oleh tentara. Namanya saja polisi hutan. Ya, kan? Kapolri, nanti bisa bantu, ya, didik polisi hutan, ya? Ya. Alam kita berat. Tapi dari ratusan ribu [hektare], berapa minggu lalu, kita sekarang di bawah seribu [hektare], ya, saya kira ini kalau enggak, kita turun tangan secara besar-besaran, enggak, enggak bisa. Apalagi nanti kita mau adakan mitigasi, ya, ke depan, ya.
Tanjung, Taman Nasional Tanjung Puting menjadi perhatian karena itu taman nasional. Saya ucapkan terima kasih atas jerih payah Saudara-saudara, para panglima, para kapolda, ya, para pejabat di daerah-daerah. Ya, masalah asap nanti kita minta masukan para profesor kita, bagaimana, tapi saya kira memang benar, ujungnya ya, hanya, hanya hujan air, ya. Tapi kita, dengan strategi yang kita telah bahas, waktu saya kumpulkan para pakar dari semua kampus, ya, para pakar, profesor-profesor itu, dan mereka ahli-ahli dari daerah-daerah sendiri, bahwa langkah nanti yang paling utama adalah pencegahan presisi, mitigasi di tingkat paling bawah, di tingkat desa.
Saya kira itu dari saya. Terima kasih. Selamat sore.
Ya, ada pangdam yang mau laporan?
Pangdam XXII/Tambun Bungai (Zainul Arifin)
Siap! Izin, Bapak, dari Pangdam Tambun Bungai, Bapak. Izin menyampaikan, Bapak, seperti tadi Bapak sampaikan, untuk Tanjung Puting ini memang menjadi perhatian dunia, Bapak. Karena sampai saat ini, hari ini saja, ada 247 wisatawan mancanegara, Bapak, yang ada di wilayah Tanjung Puting. Sampai dengan saat ini, setahun ini, sudah 66 ribu, Bapak, wisatawan mancanegara. Oleh karena itu, memang kita harus fokus untuk memberantas karhutla ini.
Memang tidak semudah yang kita bayangkan, Bapak. Saya sudah menunjuk beberapa anggota untuk meninjau lokasinya, itu lokasinya memang sangat terpencar, Bapak, sangat terpencar wilayahnya, dan wilayahnya rawa. Kemudian bukan hanya orang utan saja, Bapak, yang ada di dalam, itu masih banyak binatang-binatang buas, Bapak, termasuk buaya, itu juga masih ada, ular, dan sebagainya. Oleh karena itu, memang, ini menjadi perhatian sendiri, Bapak, untuk masuk ke sana, itu mesti hati-hati. Saya nanti memang sudah membuat tim, dari pagi sampai siang tadi kita rapat dengan BPBD, dengan pemda, Polri, kita membentuk tim betul-betul, sehingga nanti, pada saat masuk ke sana itu betul-betul aman bagi anggota juga, Bapak. Karena memang api yang ada di wilayah itu sangat terpencar dan jauh, Bapak.
Kemudian, izin melaporkan juga, Bapak, kami hanya ada kekurangan satu, Bapak. Karena memang, mobil itu tidak bisa masuk, kita hanya kekurangan pompa-pompa kecil, Bapak. Karena yang sudah dibantu Bapak yang waktu yang lalu, itu sudah dipakai dan masih dipakai untuk pendinginan di beberapa tempat. Nah, untuk yang saat ini, kita masih kekurangan alkon saja, Bapak. Untuk selang dan sebagainya itu masih cukup, hanya beberapa [pompa] alkon saja, tapi tadi juga saya sudah koordinasi dengan Gubernur Kalteng, itu sudah lagi menyiapkan juga, Bapak, mudah-mudahan ini bisa cepat datang. Karena memang kadang-kadang, [pompa] alkon ini, alat pompa ini sangat terbatas di Kalimantan, Bapak. Sehingga, memang mesti didatangkan dari Jawa.
Presiden RI (Prabowo Subianto)
Berapa kau butuh?
Pangdam XXII/Tambun Bungai (Zainul Arifin)
Mungkin kalau untuk mengatasi ini, sekitar 50 [alkon] cukup, Bapak. Karena memang yang penting itu, alatnya ada, itu bisa cepat kita pakai dan bisa kita cepat gunakan. Demikian juga dengan, karena memang daerahnya rawa, itu sulit, kita membutuhkan tim bor air, Bapak. Kita sudah ada tim bor air, tapi memang kita pakai juga di tempat-tempat lain, sehingga kami sudah bawa juga sekarang dua tim untuk bor air. Karena kalau daerah rawa seperti ini tidak terlalu sulit, hanya 10 sampai 15 meter untuk mengebor air, sehingga untuk bisa memadamkan segera api-api yang ada di berbagai wilayah tempat itu, Bapak.
Presiden RI (Prabowo Subianto)
Berapa kau butuh pompa air? Lima puluh [pompa alkon]?
Pangdam XXII/Tambun Bungai (Zainul Arifin)
Lima puluh [pompa alkon] cukup, Bapak.
Presiden RI (Prabowo Subianto)
Kirim 200, kirim 200 [pompa alkon].
Pangdam XXII/Tambun Bungai (Zainul Arifin)
Karena di Kalimantan ini, mungkin dari Jawa dikirim.
Presiden RI (Prabowo Subianto)
Saya kirim 200 [pompa alkon].
Pangdam XXII/Tambun Bungai (Zainul Arifin)
Siap, terima kasih, Bapak.
Presiden RI (Prabowo Subianto)
Apa lagi kau butuh? Tim bor?
Pangdam XXII/Tambun Bungai (Zainul Arifin)
Sementara itu, Bapak.
Presiden RI (Prabowo Subianto)
Tim bor, satu tim bor, bisa kau bikin di situ? Pompanya kan, dari kita.
Pangdam XXII/Tambun Bungai (Zainul Arifin)
Siap.
Presiden RI (Prabowo Subianto)
Timnya, timnya kan, bisa rakyat setempat kali, ya?
Pangdam XXII/Tambun Bungai (Zainul Arifin)
Nanti kita cari, Bapak, untuk timnya.
Presiden RI (Prabowo Subianto)
Satu, satu lubang bor, berapa biaya untuk, untuk bayar upahnya?
Pangdam XXII/Tambun Bungai (Zainul Arifin)
Kalau biaya itu, di lokasi, di daerah sini kurang lebih Rp10 juta, Bapak, per titik, Bapak.
Presiden RI (Prabowo Subianto)
Sepuluh juta [rupiah] per titik?
Pangdam XXII/Tambun Bungai (Zainul Arifin)
Siap.
Presiden RI (Prabowo Subianto)
Oke. Saya kirim Rp2 miliar, 200 titik.
Pangdam XXII/Tambun Bungai (Zainul Arifin)
Siap, Bapak. Terima kasih, Bapak. Nanti kita berdayakan juga masyarakat untuk bantu untuk membuat bor-bor itu, Bapak.
Presiden RI (Prabowo Subianto)
Ya, pencegahan.
Pangdam XXII/Tambun Bungai (Zainul Arifin)
Siap.
Presiden RI (Prabowo Subianto)
Saya minta segera diatasi. Bagaimana visibility di atas Taman Nasional Tanjung Puting?
Pangdam XXII/Tambun Bungai (Zainul Arifin)
Sampai saat ini, tadi, saya dengan Danlanud dilaporkan, kurang lebih 500 meter, Bapak, visibility. Sehingga memang, kalau memang bisa, Bapak, dengan TNI AU, kalau bisa dikerahkan untuk water bombing. Karena memang kalau dari swasta, Bapak, dia standarnya 5.000 meter untuk visibility. Kemarin di Kalsel itu 3.000 [meter] dari Angkatan Udara atau Penerbad itu berani untuk menerbangkan water bombing di atas 3.000 meter, Bapak.
Presiden RI (Prabowo Subianto)
Baik, oke. Nanti kita konsolidasi, ya. TNI, ya? Polri, ya? Konsolidasi penerbang-penerbang. Baik. Nanti Kapolri akan menjelaskan, tapi saya kira enggak usah, enggak usah terlalu terbuka, ya, nanti menjelaskan secara, secara terbatas kepada kami saja.
Baik, kalau begitu, terima kasih semuanya, Saudara-saudara sekalian. Ya, terima kasih. Selamat bekerja, selamat berjuang. Dan, kalau ada kebutuhan, kalau ada keperluan, apa yang kau butuh, sampaikan, ya. Ini prioritas sangat utama bagi kita. Kita harus segera atasi ini dan kita harus mencegah ke depan. Nanti kampanye kita, strategi kita, harus masif, komprehensif, menyeluruh, dan bersifat pencegahan.