Rapat Kerja Pemerintah Anggota Kabinet Merah Putih beserta seluruh Pejabat Eselon I Kementerian/Lembaga dan Direktur Utama BUMN

 
bagikan berita ke :

Rabu, 08 April 2026
Di baca 31 kali

Di Halaman Tengah Istana Merdeka, Jakarta


Bismillahirrahmanirrahim.

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. 
Selamat siang,
Salam sejahtera bagi kita sekalian, 
Syalom, 
Salve
Om swastiastu, 
Namo Buddhaya, 
Salam kebajikan,
Rahayu rahayu. 

Yang saya hormati, Wakil Presiden Republik Indonesia, Saudara Gibran Rakabuming Raka; para Menteri Koordinator, para Menteri, para Kepala Badan, Ketua Dewan Ekonomi Nasional, Gubernur Bank Indonesia, para Penasihat dan Staf Khusus Presiden, Jaksa Agung, Kepala Badan Intelijen Negara, Panglima TNI, Kepala Kepolisian Republik Indonesia, para Kepala Staf Angkatan (TNI), para Wakil Menteri dan seluruh anggota Kabinet Merah Putih yang hadir, seluruh pejabat Eselon I kementerian, lembaga, dan badan-badan pemerintah, serta para direktur utama perusahaan-perusahaan BUMN. 

Sebagai insan yang bertakwa, marilah kita tidak henti-hentinya memanjatkan puji syukur ke hadirat Tuhan Mahakuasa, Tuhan Mahabesar, yang memiliki sekalian alam, atas segala karunia, kesehatan, dan kedamaian yang masih diberikan kepada kita, sehingga kita dapat hadir pada siang hari ini dalam keadaan sehat walafiat. Masih dalam bulan Syawal, saya mengucapkan selamat Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah, mohon maaf lahir dan batin. Semoga kita semua selalu dalam keadaan kesehatan dan berkah dari Allah Swt., Tuhan Yang Mahabesar. 

Hari ini adalah tanggal 8 April 2026. Saya, sengaja saya kumpulkan para menteri,para kepala badan, dan pejabat-pejabat dari cabang eksekutif, termasuk di sini,seluruh Eselon I kementerian/lembaga, dan juga dirut-dirut BUMN. Maksud dan tujuan rapat kerja ini, ini adalah kesempatan saya, menyampaikan arahan-arahan di…bisa dikatakan tahap satu tahun lebih, kita menjalankan mandat kita sebagai mandataris rakyat kita sejak Oktober 2024, kita sudah lewati Oktober ‘25 satu tahun, dan sekarang kita berada di bulan April, bisa dikatakan satu tahun enam bulan pelaksanaan tugas kita.

Di tahun pertama kita, tidak dapat dipungkiri, kita telah mencapai tonggak-tonggak prestasi yang nyata, prestasi yang nyata. Di tengah prestasi yang nyata ini, kita menghadapi keadaan dunia yang penuh dengan ketidakpastian, dengan penuh konflik, peperangan di mana-mana, yang telah mengakibatkan guncangan-guncangan stabilitas dunia. Alhamdulillah, pemerintah kita, di mana Saudara-saudara adalah bagian dari pemerintah yang saya pimpin, sudah satu setengah tahun, alhamdulillah kita dapat mengendalikan arah perkembangan, arah bernegara bangsa kita. Kita dapat navigasi melalui hal-hal yang berbahaya, tapi satu setengah tahun ini, alhamdulillah, kita telah membuktikan bahwa pemerintah kita efektif, pemerintah kita andal, dan pemerintah kita dapat melaksanakan tugas bernegara dengan benar dan baik. Hal-hal ini ditandai oleh prestasi-prestasi nyata, prestasi-prestasi yang dapat diukur secara matematis dan secara fisik di lapangan.

Saudara-saudara, 
Dari sejak awal kita membentuk pemerintahan, bahkan sebelumnya, selama bertahun-tahun saya berkiprah sebagai pemimpin politik dan pemimpin, dan pelaku ekonomi bertahun-tahun. Saya telah memimpin partai politik cukup lama dari 2008. Sebelumnya pun, saya terlibat dalam politik, dari sejak 2004. Saya juga pelaku ekonomi, sebagai seorang pengusaha, dan saya juga sebagai mantan prajurit, saya juga sebagai mantan Panglima (TNI), saya juga sebagai mantan jenderal Tentara Nasional Indonesia (TNI). Dalam sekian tahun, saya telah meyakini dan saya telah menyebarluaskan hal-hal pokok, yang saya yakini adalah dasar keselamatan bangsa, Saudara-saudara sekalian, dan ini dibenarkan oleh PBB, oleh PBB, United Nations (UN) membenarkan ini dalam SDGs yang mereka umumkan, Sustainable Development Goals (SDGs) di mana berapa tahun yang lalu, PBB sudah meramalkan bahwa krisis dunia, krisis yang akan melanda seluruh dunia adalah tiga hal yaitu krisis pangan, krisis energi, dan krisis air.

Food, energy, and water, ini sudah dicanangkan oleh PBB dan ini sudah saya perjuangkan di mana-mana, bertahun-tahun, belasan tahun. Dan, saya buktikan bahwa saya, kalau tidak salah, apa sudah dibagikan atau belum kepada semua pejabat yang hadir di sini, buku-buku saya selama berapa dasawarsa ini. Ini sebagai bukti bahwa sekian puluh tahun pun, saya sudah cantumkan hitam di atas putih, bahwa masalah dasar bagi negara adalah tiga hal itu, pangan, energi, air. Alhamdulillah, negara kita, masalah air, tidak…sebenarnya menjadi masalah. Masalahnya, kadang-kadang kita kelebihan air. Kita ketawa kelebihan air, ini karunia. Satu hari air turun di Bogor, satu hari air turun di Bogor, sama dengan satu tahun air turun di Australia Barat.

Satu hari air turun di Bogor, sama dengan satu tahun air turun di Australia Barat. Demikian berkah yang kita terima dari Yang Mahakuasa. Ya, di bagian-bagian tertentu negara kita, Indonesia Timur, pulau-pulau tertentu, masih ada kesulitan air. Tapi kita dapat mengatasi karena airnya ada, tinggal mampu atau tidak kita mendapatkannya dan menjaganya. Karena kadang-kadang, kita sendiri yang tidak dapat menjaga alam kita. Hutan kita babat, hutan, pohon-pohon di gunung kita babat. Akhirnya, air tidak dapat ditahan, terjadi kekeringan, tapi hal-hal ini dapat kita atasi. Ada negara-negara yang kaya dengan minyak dan gas, tidak punya air. Apa yang saya ingin sampaikan, Saudara-saudara? Hal-hal ini begitu penting, hal-hal ini begitu mendasar, dan hal-hal ini telah digarisbawahi oleh pendiri bangsa kita, ya. Dalam Undang-Undang Dasar 1945 (UUD 1945), jelas-jelas disampaikan, ya, bahwa bumi dan air dan semua kekayaan yang terkandung itu harus dikuasai negara karena begitu menentukan kehidupan bangsa.

Jadi, Saudara-saudara, apa yang kita alami sekarang, krisis yang terjadi di Timur Tengah, yang membuat harga energi menjulang, sebenarnya kita harus yakini dan kita harus syukuri bahwa kondisi bangsa kita berada dalam kondisi yang jauh lebih baik dari bangsa-bangsa lain. Saya telah mempelajari data-data dan angka-angka, dan dalam kesempatan hari ini, saya kira adalah kesempatan yang baik di mana saya, setelah saya mempelajari angka-angka, dapat laporan dari menteri-menteri saya, ternyata kondisi kita cukup aman, ya. Ada tantangan, ada kesulitan, tapi kita mampu menghadapi dan mampu mengatasinya. Memang Saudara-saudara, ya, ya boleh. Tepuk tangan untuk berita baik, boleh.

Memang Saudara-saudara, ada suatu fenomena yang kita rasakan bersama, ya, kan, bahwa ada kelompok-kelompok di masyarakat, saudara-saudara kita juga, warga negara kita juga, keluarga besar NKRI juga, yang mempunyai suatu sikap yang bisa dikatakan sangat tidak mau kerja sama. Kita hormati, kita tidak ada masalah. Saya katakan, kalau di suatu tempat, ya, kan, di suatu desa, rakyat desa melihat ada kebutuhan bangun jembatan, kemudian ada sebagian besar desa itu memutuskan untuk bangun jembatan dan gotong royong, bekerja untuk bangun jembatan. Tapi ada mungkin sekelompok yang tidak mau ikut bangun jembatan, ya, enggak ada masalah. Yang mau bangun jembatan, ayo, kita bangun jembatan. Yang enggak mau ikut bangun jembatan, ya enggak ada masalah, silakan Saudara duduk, nonton, atau apa, boleh, apa itu, kritik boleh, ya, kan. Hanya saya juga enggak mengerti, kalau orang lagi bangun jembatan, ada yang duduk, dia tidak mau ikut bangun jembatan tapi dia kritik, “Kamu goblok kamu. Kayunya salah, jangan di situ. Pakunya salah, harus di sini. Rantainya salah.” Salah saja. Tapi enggak jadi-jadi itu jembatan, bener enggak? Nah, kita yang bangun jembatan, apa sikap kita? Apa kita grogi lihat? “Goblok kamu, kamu mau bikin jembatan, goblok.” Ya, saya goblok, tapi rakyat ini desa minta jembatan, saya bangun jembatan untuk rakyat kita

Jadi, Saudara-saudara, ini fenomena, tapi ini ada di banyak negara. Tapi ini nanti akan saya jelaskan, fenomena ini memang bukan satu-dua tahun. Sudah ratusan tahun bahwa waktu kita diganggu, dijajah bangsa asing, selalu ada saudara-saudara kita dari bangsa kita sendiri yang juga mempermudah bangsa asing itu menjajah kita, merampok kekayaan kita, membuat kita budak, itu saudara kita juga. Jadi ini bukan fenomena baru, ini biasa. Bibit-bibit dengki, iri, syirik itu bagian dari manusia. Kebencian, dendam, sakit hati, ini bagian dan memang ada, ada itu ada. Kita tidak boleh, tidak boleh istilahnya kaget, ya, kan.

Yang sekarang jadi masalah sedikit adalah teknologi. Bahwa dengan sekarang teknologi, dengan teknologi AI, kecerdasan buatan, dengan teknologi informatika digital, satu orang dia bisa punya seribu akun. Dia bisa beli alat-alat tidak terlalu mahal, yang dari seribu ini bisa diperbanyak lagi, seolah-olah… Jadi Saudara-saudara, yang agak repot mungkin seratus orang, dua ratus orang, mungkin seribu orang, mungkin lima ribu orang, bisa bikin heboh. Ini namanya the echo chamber, ada, dalam pelajaran-pelajaran intelijen itu ada, bagaimana mau merusak sebuah negara lain. Dulu kirim pasukan, kirim bom, sekarang tidak perlu. Mungkin dengan permainan socmed, dengan fitnah, hoaks. AI bisa membuat seseorang bicara yang dia tidak bicara, gitu, lho. Saya sering itu, saya ini suara saya jelek, saya tidak bisa nyanyi. Ada di YouTube Prabowo bernyanyi suaranya bagus banget. Saya ada kaget, saya lihat boleh juga ini. Kalau menguntungkan boleh, tapi kalau tidak menguntungkan bagaimana. Ada lagi, saya pidato dalam Bahasa Mandarin, ya, kan. Ada lagi, saya pidato dalam Bahasa Arab, luar biasa. Karena waktu itu kampanye, saya kira kalau di daerah-daerah Tapal Kuda ini mungkin menguntungkan ini. Jadi, saya diam juga akhirnya. Kalau menguntungkan kita diam, ya, kan. 

Enggak, ini saya mau sampaikan, ini masalah bagi kita, ya. Kita waspada, nanti kita terima koreksi-koreksi itu. Kalau kita difitnah, kalau kita dihujat, anggaplah itu sebagai, apa, sebagai peringatan supaya kita waspada, ya, kan. Prabowo bodoh, wah, saya harus waspada. Kalau saya bodoh, artinya saya harus kumpulin orang-orang pintar untuk bantu saya, kan, begitu. Prabowo, yang terakhir itu, apa, Prabowo keras kepala. Kalau saya dibilang keras kepala, ya. Saya harus terima itu sebagai, ya, kan, oh, saya coba-coba pegang kepala saya ini, keras juga. Atau apa begitu, ya, oh, saya harus. Kadang-kadang keras kepala dalam suatu pekerjaan dibutuhkan. Sekarang orang mengatakan, ya, rakyat Iran keras kepala. Pejuang-pejuang Iran keras kepala. Bolak-balik diancam, bolak-balik mau dihabisin, ya, terakhir apa itu. Tapi dia tidak, saya tidak ikut politik dalam negeri orang lain. Tapi bagi sebuah bangsa, kadang-kadang keras kepala butuh. Dulu Bapak-bapak pendiri bangsa kita keras kepala. Lebih baik mati daripada dijajah kembali. Keras kepala. Tidak mau kita dijajah kembali. Keras kepala. Pemimpin-pemimpin kita keras kepala, ya. Merah putih harga mati, enggak ada itu urusan.

Jadi, Saudara-saudara, kita sikapi dengan ketenangan, kita sikapi dengan kearifan. Tetapi prinsip-prinsip kita pegang teguh, yaitu prinsip-prinsip bernegara, harus kita pegang teguh. Tidak ada negara tanpa hukum, tidak ada negara tanpa Undang-Undang Dasar. Tanpa konstitusi, tanpa Undang-Undang Dasar, tidak ada negara. Yang ada adalah kekuatan, kekuatan rimba, hukum rimba, hukum senjata. Dan, rakyat kita tidak menghendaki itu.

Semua unsur yang bertanggung jawab, yang arif, harus bekerja keras, harus berjuang untuk menegakkan hukum konstitusi, hukum berdasarkan kesepakatan, hukum berdasarkan konsensus. Konsensus itu adalah kesepakatan. Kesepakatan kita yang besar, kesepakatan kita yang cemerlang adalah dua kali dalam sejarah.

[Tahun] 1928, ya, Sumpah Pemuda, satu nusa, satu bangsa, satu bahasa. Konsensus besar. Kita tidak mau dipecah-pecah di kotak-kotak. Jong Java, Jong Ambon, kita satu, satu bangsa, bangsa Indonesia. Satu nusa, satu, satu bahasa, bahasa Indonesia. Konsensus besar. Kita tidak memilih bahasa mayoritas. Kalau prinsip demokrasi di mana-mana, dikatakan rule of the majority. Bisa saja dulu, Bangsa Jawa atau Suku Jawa yang paling banyak, oh, saya mayoritas. Kami ngotot, kami mau Bahasa Jawa jadi bahasa kebangsaan. Pemimpin-pemimpin kita begitu arif. Bung Karno, orang Jawa, tidak. Profesor Soepomo, orang Jawa, tidak. Tokoh-tokoh kita dulu begitu besar pemikirannya.

Kita pilih bahasa sebuah suku yang sangat kecil di Sumatra. Dari Riau, daerah situ lah, Bahasa Melayu jadi bahasa kebangsaan dan rakyat mayoritas menerima kita sekarang punya bahasa persatuan. Dari Sabang sampai Merauke, di mana-mana berbahasa Indonesia. Dan Bahasa Indonesia pun sekarang sudah diterima di PBB. Kalau tidak salah tahun lalu, bahasa kita sudah resmi menjadi bahasa yang diakui PBB sebagai bahasa UNESCO.

Jadi, Saudara-saudara, konsensus kedua yang terhebat adalah 1945, di mana pendiri-pendiri bangsa kita merumuskan sebuah konstitusi, sebuah Undang-Undang Dasar, juga dibutuhkan jiwa besar mayoritas. Jadi waktu itu kita rumuskan sebuah negara dengan ideologi Pancasila. Kita membentuk negara republik yang tidak mengangkat agama resmi, agama mayoritas, mengakui semua agama sebagai agama yang dihormati. Di situ kehebatan Pancasila.

Jadi, Saudara-saudara, kondisi seperti ini kita selalu berpegang teguh kepada konsensus-konsensus besar. Kita telah memilih bernegara secara demokrasi. Demokrasi, kedaulatan di tangan rakyat. Tidak ada masalah. Kalau ada pemerintah yang dinilai tidak baik, ya, gantilah pemerintah itu. Ada mekanismenya. Dengan baik, dengan damai, bisa melalui pemilihan umum, tidak ada masalah. Bisa juga melalui impeachment, tidak ada masalah. Tapi impeachment, ya, melalui saluran, ada salurannya; DPR, MK, MPR, dilakukan tidak masalah. Dalam, dalam sejarah kita telah terjadi beberapa pergantian. Bung Karno turun dengan damai. Pak Harto turun dengan damai. Gus Dur turun dengan damai. Melalui proses, tidak melalui kekerasan.

Jadi, Saudara-saudara, percayalah kepada sistem yang telah dibangun oleh pendiri-pendiri bangsa kita. Percayalah pada kekuatan kita sendiri. Percayalah kepada Indonesia. Itu yang ingin saya buka. Sambil saya nanti akan menggarisbawahi sekali lagi, bahwa tanpa, kadang-kadang kita tidak sadar, kita-kita tidak sadar, kita ini sebagai pemimpin pilihan, kita sendiri tidak sadar betapa besarnya bangsa Indonesia. Betapa kayanya bangsa Indonesia. Betapa kuatnya bangsa Indonesia. Kita tidak sadar, kita terbawa oleh pemikiran kita yang jangka pendek. Kita terbawa oleh ambisi dan ego kita masing-masing. Saya ingin ini, saya ingin itu, saya ingin ini. Saya, kami, kita, aku, aku harus, aku harus. Kita tidak sadar. Justru ratusan tahun, ego, ambisi ini digunakan oleh kekuatan asing. Itu namanya devide et impera. Ini bukan hal baru. Ini ada di buku-buku sejarah ribuan tahun, Saudara-saudara, ribuan tahun. Sejarah Tiongkok, perang antara kerajaan-kerajaan ratusan tahun. Eropa, perang ratusan tahun. Timur Tengah, belajarlah sejarah.

Saudara-saudara sekalian,
Kalau kita belajar sejarah, kita paham. Kita tidak mengerti, Saudara-saudara, sekarang perang di Timur Tengah itu membuktikan satu selat, satu Selat Hormuz itu menentukan hidupnya banyak bangsa, menentukan harga minyak. Satu selat, 33 mile, berapa itu? Enam puluh kilo[meter]. Yang sekarang, di, kuncinya Hormuz itu dipegang oleh satu negara. Tapi, sadarkah kita? Sadarkah kita bahwa 70 persen kebutuhan energinya Asia Timur, 70 persen energi dan 70 persen perdagangan lewat laut-laut Indonesia? Sadarkah kita bahwa Selat Malaka, Selat Sunda, Selat Makassar dan sebagainya itu laut Indonesia? Sadarkah kita? Sadarkah kita betapa pentingnya Indonesia? Sadarkah kita betapa kuncinya Indonesia? 70 persen energi. Korea, Jepang, Taiwan, Tiongkok, Filipina. Jadi, Saudara-saudara, kita harus mengerti bahwa kita selalu jadi perhatian dunia. Baik. Maksud dan tujuan saya pengarahan ini adalah karena pentingnya peran kita, makanya kita juga harus memimpin bangsa ini, mengendalikan bangsa ini dengan baik, dengan tepat, dan dengan andal.

Saudara-saudara sekalian,
Beberapa hari yang lalu, melalui rapat-rapat menghadapi kondisi global yang penuh krisis yang mengakibatkan suplai energi menjadi masalah, ternyata kita setelah mengkaji, kita punya kekuatan ekonomi yang cukup kuat. Nanti saya minta beberapa menteri untuk memaparkan singkat, untuk kita mengerti posisi kita dari semua K/L, semua. Dan, setelah pemaparan itu tentang kondisi kita, sebagian langkah-langkah sudah kita umumkan, ya, sebagian langkah-langkah untuk kita kendalikan konsumsi daripada bahan bakar untuk jangka pendek ini. Jangka pendek yang saya anggap jangka pendek yang saya anggap kritis adalah satu tahun ke depan ini, 12 bulan ke depan. Sesudah 12 bulan, kita akan menjadi sangat kuat, nanti langkah-langkahnya kita jelaskan. Tapi, intinya sekarang kita siap, kita kuat menghadapi satu tahun ini setelah kita pelajari kondisi. Karena apa? Karena sumber-sumber minyak dan gas kita tidak terlalu banyak yang lewat Selat Hormuz, kita bisa mencari alternatif lain, selain kita punya kekuatan dalam negeri yang sangat kuat. 

Ada periode yang kita harus atasi bersama, tapi saya terima kasih, tim saya, menteri-menteri ekonomi saya andal, terima kasih. Mereka laporkan, “Pak, tenang. Untuk BBM yang bersubsidi, kita akan pertahankan untuk rakyat kecil dan rakyat. Kita akan pertahankan untuk 80 persen rakyat kita.” Tapi, pada saatnya yang orang-orang kuat, orang-orang kaya, ya kalau mau pakai bensin yang mahal ya dia harus bayar harga pasar. Lo udah kaya, minta subsidi lagi. Ya enggak lah, yang kita bela rakyat miskin. Saya terima kasih. Dan, ini hanya periode tertentu. 

Dan, ini juga benar, ini juga baik. Kita tidak boleh jadi bangsa yang terlalu santai. Mari kita koreksi diri kita. Bangsa kita terlalu banyak diberikan oleh yang Maha Kuasa, sehingga kita ini ya kan kumaha engke, bukan engke kumaha. Kumaha engke. Tenang saja. Pak Bahlil bilang aman, jadi tenang. Aman tidak berarti kita tenang-tenang, santai-santai, tidak. Kita bekerja, kita waspada. 

Saudara-saudara, 
Krisis ini bagi saya adalah sebuah peluang. Krisis, kesulitan tantangan, hambatan, rintangan adalah peluang membuat kita harus bekerja lebih baik, harus bekerja lebih efisien. Tidak boleh boros. Tidak boleh ada kebocoran. Tidak boleh ada korupsi. Sekarang, kita harus menghimpun semua kekuatan kita.

Saya telah minta Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, saya telah minta profesor-profesor. Kampus-kampus sekarang harus bekerja, dan mereka sudah bekerja. Kita punya teknologi sekarang, teknologi untuk membersihkan sampah buatan kita sendiri, tidak terlalu mahal. Tidak usah kita beli teknologi yang terlalu mahal dari luar. Dalam waktu 2-3 tahun, sampah seluruh Indonesia akan kita selesaikan. Tidak akan ada kota, tidak akan ada jalan, tidak akan ada bagian Indonesia yang bau oleh sampah. Kita akan selesaikan masalah sampah dari Sabang sampai Merauke, Saudara-saudara sekalian. 

Ini, Saudara-saudara, kita sudah punya rencana, kita punya strategi hitam di atas putih, tapi krisis dunia ini bagi saya adalah peluang. Ini mempercepat kita, ini bikin kita fokus. Oh, berarti strategi kita sudah benar, tapi kita harus mempercepat. Kita harus mempercepat bahwa energi kita harus terbarukan, energi kita harus dari Indonesia sendiri. Dan, sekali lagi kita bersyukur ke hadirat Allah Swt.

Saudara-saudara,
saya punya data sumber-sumber baru dua-tiga hari saya terima terus, cadangan-cadangan kita sangat besar, Saudara-saudara sekalian. Bahkan, batu bara kita pun banyak sekali. Dan, kita bisa dari batu bara, kita bisa menghasilkan solar, kita bisa menghasilkan bensin dari batu bara, dari singkong, dari jagung. 

Saudara-saudara,
Jadi dua tahun lagi, Saudara-saudara, tiga tahun lagi ya, you catat ya, catat. Ini kan ada rekaman. Apa Prabowo Subianto omdo? Ada rekaman. Semua yang saya sampaikan itu ada tolak ukur matematika. Saya katakan, bahwa saya merencanakan akan membangun 1.000 desa nelayan. Tahun 2026 ini, Desember 2026, kita akan cek. Saudara nanti bisa menagih ke Prabowo, berapa desa nelayan yang sudah selesai. 

Jadi, berdiri di sini, Saudara-saudara, jangan anggap ini pekerjaan yang enak. Yang mau jadi presiden, selamat. Benar-benar. Aku sudah terlanjur. Jadi, aku harus kerja keras sekarang ini. Enggak ada libur saya.

Dibilang Prabowo jalan-jalan ke luar negeri, senang jalan-jalan ke luar negeri. Saudara-saudara, untuk amankan minyak, ya gue harus kemana-mana. Kita ke Jepang kemarin, ya. Kita ke Jepang, kita dapat. Ini saya berangkat lagi nih, aku mau berangkat lagi nih ke sebuah negara. Nanti begitu aku berangkat kau tahu ke mana, amankan juga. Tapi, alhamdulillah sebelum saya berangkat advanced team, tenang.

Jadi, saya ini confident. Enggak ada itu bagi saya Indonesia gelap, enggak ada. Indonesia cerah. Di saat banyak negara susah, tidak… Kalau ini enggak usah tepuk tangan. Karena, Saudara-saudara, Anda tahu sekarang keluar gitu, kalau terjadi perang dunia ketiga, negara mana yang aman, eh Indonesia termasuk papan atas loh. Sekarang kau ke Bali, kau lihat tuh berapa orang Rusia di situ, berapa orang Ukraine di situ.

Rencana kita, kita mau bikin special financial center, kita lagi cari tempat. Kalau Pak Luhut sarankannya di Bali, enggak tahu Pak Luhut senang banget Bali itu, tapi kita semua senang Bali. Tapi, Saudara-saudara, gagasan ini yang dibicarakan Pak Luhut ke saya bertahun-tahun ini, ternyata sekarang uang-uang yang di Timur tengah dia mau ke mana, Saudara-saudara. Negara mana yang tidak perang sekarang? Kasih tahu. Indonesia salah satu yang paling diminati 

Jadi, Saudara-saudara, intinya adalah kita sangat banyak potensi, tapi ini juga yang saya katakan membuat kita sekarang harus lebih keras bekerja, lebih teliti, karena itulah saya kumpulkan rapat kerja ini, supaya nanti kita satu. Satu bahasa, satu rencana kerja. Tidak boleh ada pemikiran sektoral. Tidak ada yang boleh satu departemen, satu kementerian, satu institusi memikirkan institusinya sendiri. Kita harus kerja sama.

Makanya, kita semua mengarah kepada seamless, suatu pemerintahan yang bekerja dengan cepat, dengan integralistik, dengan lancar, tidak dengan saling mempertahankan pemikiran-pemikiran sektoral. Jadi, ini antara lain adalah tujuan rapat ini, hal-hal yang ingin sekarang saya sampaikan sebelum kita lebih rinci ya, bahwa kita, tadi saya katakan, kita juga harus menyesuaikan pada saatnya dengan kondisi harga-harga BBM di dunia. Tapi yang jelas, kepentingan rakyat paling bawah akan kita jaga. Kemudian, langkah-langkah kita untuk amankan BBM. 

Yang kita sudah putuskan adalah, yang boleh saya umumkan sekarang adalah bahwa pelaksanaan haji tahun 2026 ini, kecuali Pemerintah Arab Saudi menentukan lain, kalau kita laksanakan kita pastikan bahwa biaya haji tahun 2026, kita turunkan harganya sekitar Rp2 juta. Walaupun harga avtur naik, tapi kita berani menurunkan biaya haji untuk tahun ini. Demikian, komitmen pemerintah ini untuk melindungi rakyat paling bawah.

Kita sekarang berjuang dan alhamdulillah saya dapat laporan antrean haji sekarang tidak lagi 48 tahun, mulai 2026 antrean haji paling lama 26 tahun. Dan, saya akan berjuang untuk lebih ringkas lagi.

Untuk pertama kali dalam sejarah, Indonesia diberi kehormatan, kita sekarang sudah punya lahan di kota suci Makkah. Lahannya adalah sekitar... Menteri Agama berapa hektare sekarang? Empat puluh lima hektare, yang lama dan yang baru, total 45. Di 45 hektare itu kita akan bikin perkampungan haji Indonesia ya, sekian belas menara, sekian puluh menara yang bisa menampung. Dan, bahkan saya sudah mengajukan. Dan, di prinsip sudah disetujui, kami, saya minta izin dari Kerajaan Arab Saudi untuk Indonesia bisa punya terminal khusus haji. Jadi, nanti terminal itu khusus untuk haji kita supaya bisa lebih cepat masuk dan keluar.

Di sini ada Dirut Garuda? Kemudian, Danantara, ya. Saya telah instruksikan untuk mendekati Saudi Air, supaya Garuda dan Saudi Air bikin joint venture. Jadi, selama ini pesawat Garuda berangkat bawa haji ke Tanah Suci, pulangnya kosong. Ini kan tidak ekonomis, tidak masuk akal. Arab Saudi juga demikian, dia mengembalikan haji kita ke Indonesia, kembalinya kosong. Saya mengatakan, kenapa tidak kerja sama. Bikin satu anak perusahaan 50 persen Arab Saudi, 50 persen Indonesia. Kita, pesawat terbang ini ke Arab Saudi penuh, ke Indonesia penuh. Harga bisa turun lagi, waktu bisa lebih singkat lagi.

Ya, ini supaya dikerjakan. Sudah dikerjakan, belum? Saya sudah perintahkan kurang lebih dua bulan yang lalu. Ini harus kerja cepat, pemerintah ini kerja cepat. Nanti Dirut Garuda menghadap saya.

Saudara-saudara, 
Saya juga telah memerintahkan Menteri ESDM. Saya dapat laporan ada ratusan tambang tidak jelas atau IUP-IUP tidak jelas di hutan lindung dan di hutan-hutan. Saya cek. Menteri Kehutanan saya cek, alhamdulillah Menteri Kehutanan ini oke juga dia. Dia belum kasih, dia belum kasih izin potong kayu apa? Mana Menteri Kehutanan, ada? Jadi, ini ada sekian ratus, Menteri ESDM, segera evaluasi. Kalau tidak jelas, cabut semua itu IUP, cabut semua itu. Kita sudah tidak ada waktu untuk terlalu kasihan. Tidak ada kasihan sekarang.

Kita hanya membela kepentingan nasional dan kepentingan rakyat. Kepentingan kawan, kepentingan konco, kepentingan keluarga,  kepentingan kelompok, itu nomor berapa. Evaluasi segera, berapa hari laporan kembali ke saya? Dua minggu? Enak saja dua minggu, enggak. Satu minggu, ya. Kita cabut semua IUP, ya. Prinsip-prinsip yang tidak beres kita cabut, harus di tangan negara dan kita bisa nanti memperkuat institusi-institusi kita, lembaga-lembaga kita.

Saudara-saudara,
Saya kira itu sementara ya tahap pertama dan dengan demikian saya ucapkan terima kasih. Media yang terhormat sekarang saya kira waktu minum teh. Saudara bisa keluar dengan baik.