Sambutan Presiden pada Peresmian Pembukaan Musyawarah Nasional (Munas) XVI Masa Bakti 2026-2030 Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI)
Di Jakarta Convention Center, Jakarta
Bismillahirrahmanirrahim.
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Selamat siang,
Salam sejahtera bagi kita sekalian,
Syalom,
Salve,
Om Swastiastu,
Namo Buddhaya,
Salam kebajikan.
Yang saya hormati Ketua Panitia Pelaksana Munas XVI IPSI sekaligus sebagai Ketua Harian IPSI, Saudara Benny Sumarsono;
Para Menteri Kabinet Merah Putih yang hadir:
Menteri Luar Negeri, Saudara Sugiono yang juga Wakil Ketua Umum IPSI,
Menteri Pemuda dan Olahraga, Saudara Erick Thohir,
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Prof. Brian Yuliarto,
Menteri Sekretaris Negara, Saudara Prasetyo Hadi;
Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia, Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo;
Panglima TNI, Jenderal TNI Agus Subiyanto;
Kepala Staf TNI Angkatan Darat, Jenderal TNI Maruli Simanjuntak;
Tokoh nasional juga sebagai Penasihat Khusus Presiden Republik Indonesia, Jenderal TNI Purnawirawan Agum Gumelar;
Ketua Komite Olimpiade Indonesia, Saudara Raja Sapta Oktohari;
Presiden Pencak Silat Federation of Asia, Prof. Zainudin Amali;
Yang saya hormati dan saya banggakan, para Anggota Dewan Pembina, Dewan Pertimbangan, Sekretaris Jenderal, serta seluruh Anggota Pengurus Besar Ikatan Pencak Silat Indonesia (PB IPSI);
Para Ketua Umum Perguruan Pencak Silat Indonesia, Perguruan-Perguruan Historis, para Pengurus IPSI daerah yang hadir;
Hadirin Undangan serta Rekan Pers dan Media yang saya hormati;
Juga Pimpinan Perusahaan BUMN dan Swasta yang berkenan hadir.
Dewan Pembina IPSI Jawa Barat, Irjen Polisi Rudi Darwoko;
Dewan Pertimbangan PB IPSI, Saudara Moerdjoko;
Ketua Bidang Perencanaan Anggaran Dana dan Usaha, Saudara Dalyatno Partoharjono; Ketua Bidang Majelis Pakar, Saudara Bambang Rus Effendy;
Ketua Umum Persaudaraan Setia Hati, Saudara Pudji Handoko;
Ketua Umum Persaudaraan Setia Hati Terate, Saudara Muhammad Taufiq;
Ketua Umum Perisai Diri, Saudara Dwi Soetjipto;
Ketua Umum Perguruan Silat Nasional Perisai Putih, Saudara Suprapto;
Ketua Umum Tapak Suci Putera Muhammadiyah, Saudara Afnan Hadikusumo;
Ketua Umum Perguruan Pencak Silat Phashadja Mataram, Saudara Raden Andri Darmawanto;
Ketua Umum Persatuan Pencak Silat Indonesia, Saudara Galih Santika;
Ketua Umum Persatuan Pencak Silat Putra Betawi, Mayor Jenderal TNI Purnawirawan Nachrowi Ramli. Teman sebelah tempat tidur saya di Akademi Militer. Kalau dia yang disiplin, saya yang agak nakal waktu itu, tapi saya presiden sekarang. Tapi benar, saya saksi beliau ini disiplin, semuanya disiplin, lima waktu tidak pernah absen beliau ini;
Ketua Umum Pencak Silat Bela Diri Tangan Kosong Merpati Putih, Letnan Jenderal TNI Mohamad Hasan;
Ketua Umum Pencak Silat Satria Muda Indonesia, Saudara Edhy Prabowo;
Ketua Umum Persinas ASAD, Marsekal Pertama TNI Purnawirawan Sukur;
Ketua Umum Tetada Kalimasada Indonesia, Bapak Eddy Surohadi;
Ketua Umum Pagar Nusa, Bapak Muchamad Nabil Haroen;
Ketua Umum Perguruan Pencak Silat Bakti Negara;
Ketua Umum Perguruan Pencak Silat PAMUR;
Ketua Umum Perguruan Pencak Silat Panglipur;
Ketua Umum Perguruan Pencak Silat Putra Siliwangi;
Ketua Umum Perguruan Pencak Silat Tadjimalela;
Ketua Umum Persatuan Pencak Silat Militer;
Ketua Umum Kera Sakti;
Tokoh-tokoh Pembina Pencak Silat yang sudah lama berjuang di pencak silat, Saudara Aulia Bonanza, Saudara Jatnika Nanggamiharja, Saudara M. Nazaruddin.
Saudara-saudara sekalian para pendukung IPSI. Hadir di sini Direktur Utama PT. Pertamina, Saudara Simon Aloysius Mantiri;
Direktur Utama PT. PLN, Saudara Darmawan Prasodjo;
Kepala SKK Migas, Saudara Djoko Siswanto;
Dirut PT. Wahyu Samudera Indah, Saudara Daniel Wiharjo;
Direktur PT. Sintra Sinarindo Elektrik, Saudara Yohanes Purnawan Wijaya;
Presiden Direktur PT. Prima Indah Lestari, Saudara Andree Lordianto;
Direktur PT. Jasa Marga, Saudara Yoga Tri Anggoro.
Ini saya harus baca satu-satu karena mereka sangat besar peran dalam pembinaan pencak silat.
Saudara-saudara sekalian,
sebagai insan yang bertakwa, marilah kita tidak henti-hentinya memanjatkan puji syukur ke hadirat Allah subhanahu wa ta'ala, Tuhan Mahakuasa, Tuhan Maha Besar yang memiliki sekalian alam. Hanya kepada-Nya lah kita berdoa dan hanya kepada-Nya lah kita memohon pertolongan.
Kita bersyukur atas segala kebaikan dan kesehatan yang masih diberikan kepada kita sehingga kita dapat berkumpul di aula yang baik ini di siang hari ini, pada acara Musyawarah Nasional XVI Masa Bakti 2026-2030 Ikatan Pencak Silat Indonesia dengan tema "Pencak Silat mendunia menuju Olimpiade".
Hari ini adalah bagi saya hari penuh kebanggaan dan kebahagiaan juga penuh kehormatan karena kalau dihitung hari ini bisa dikatakan saya sudah mengabdi di pencak silat selama 34 tahun, kalau tidak salah sebagai wakil ketua umum empat periode, kemudian sebagai ketua umum lima periode. Alhamdulillah, hari ini saya menyatakan bahwa saya mohon izin untuk tidak melanjutkan sebagai Ketua Umum PB IPSI karena saya sudah mengemban tugas kebangsaan yang menyita waktu saya sehingga tidak mungkin saya efektif sebagai Ketua Umum PB IPSI. Saya pun minta maaf berapa saat ini, bisa dikatakan sudah hampir tiga tahun, saya tidak terlalu aktif di depan tapi saya mendukung selalu dari belakang, Saudara-saudara. Apalagi sekarang [saya sebagai] presiden, saya kira pembinaan IPSI akan lebih dasyat lagi.
Saudara-saudara,
sebenarnya Ketua Umum IPSI itu adalah Pak Edi Nalapraya, saya hanya penggantinya. Saya tidak tahu pengganti saya siapa yang saudara akan putuskan. Tapi Saudara-saudara, saya ingin sedikit nostalgia karena kakek saya salah satu juga penggemar dan pendiri perguruan pencak silat di Madiun, Setia Hati, itu tahun sebelum kemerdekaan, dan beliau latihan sampai lanjut usia di ruangan beliau, pernafasan dan sebagainya. Kemudian orang tua saya juga salah satu Pembina Pengurus Besar IPSI cukup lama juga. Sehingga, bagi saya pencak silat adalah suatu panggilan sebagai anak bangsa.
Saudara-saudara sekalian,
waktu saya masuk tentara di Akademi Militer memang kita sudah diwajibkan belajar berbagai bela diri. Kita diwajibkan belajar judo itu wajib, tinju wajib, dan pencak silat sudah mulai diajarkan, hampir semua, anggar pun kita wajib. Jadi Saudara-saudara, saya kira ini alamiah, begitu saya masuk ke dinas saya pertama di pasukan khusus, di Baret Merah waktu itu, itu juga diwajibkan kita belajar pencak silat. Karena dulu salah satu Pembina Angkatan Darat yaitu Jenderal Mung Parhadimulyo, bekas Komandan RPKAD, beliau juga Pembina Merpati Putih. Jadi, kita semua harus belajar Merpati Putih. Kemudian, matah-matah itu juga dulu bisa juga aku, matah-matah. Dulu, masih ada bekas-bekas luka sedikit. Jadi bisa dikatakan bahwa memang pencak silat itu bagian dari panggilan.
Saudara-saudara,
kenapa pencak silat harus kita jaga, pencak silat harus kita lestarikan, pencak silat harus kita bina? Karena pencak silat adalah bagian dari budaya. Pencak silat itu bagian dari budaya kita, dan pencak silat itu adalah bagian daripada ilmu kesatria, ilmu bela diri.
Saudara-saudara,
kemerdekaan suatu bangsa, kebangkitan suatu bangsa, keberhasilan suatu bangsa ditentukan oleh semangat rakyatnya. Semangat rakyatnya ditentukan oleh kemampuan rakyatnya untuk menjaga dirinya, menjaga keluarganya, menjaga desanya, dan selanjutnya menjaga masyarakatnya. Sehingga filosofi ini adalah filosofi yang dianut oleh semua negara berhasil, semua bangsa yang berhasil, bahwa setiap anak bangsa harus kuat, kuat fisiknya, kuat jiwanya, kuat imannya, kuat akhlaknya. Kalau tidak ada kekuatan ini, bangsa itu tidak akan langgeng.
Kita lihat hari-hari ini, kita lihat hari-hari ini, bangsa-bangsa yang kaya, bangsa-bangsa yang punya segalanya, tapi jiwa rakyatnya kuat atau tidak kuat itu ditentukan kembali oleh jiwa dan raga. Karena itu, adalah suatu panggilan bagi setiap patriot untuk memahami ini dan mengkaji ini dan mempertahankan ini.
Saudara-saudara,
sempat kita alami suatu saat di mana golongan berpendidikan dari rakyat kita terkesima oleh semua yang bersumber dari luar negeri. Semua yang bersumber dari asing kita terkesima. Sehingga ini agak memengaruhi kekuatan jiwa dan kekuatan semangat bangsa kita. Terus terang saja, terjadi, menurut pandangan saya, suatu sifat rendah diri yang dikatakan dalam bahasa Belanda itu minderwaardigheidscomplex, minderwaardigheidscomplex, kompleks rendah diri, dalam bahasa Inggris inferiority complex, inferiority complex. Di bawah sadar sebagian besar orang-orang berpendidikan di Indonesia lebih bangga dengan yang berasal dari luar Indonesia.
Jadi Saudara-saudara,
IPSI salah satu tonggak yang sangat penting. Saya terima kasih, saya bangga sekian tahun Saudara tetap mendukung saya. Bersama-sama telah kita pertahankan kebanggaan budaya kita. Kita bangga pakai teluk belanga, kita bangga pakai kopiah, kita bangga pakai sarung, kita bangga pakai songket. Ini budaya kita. Kau lihat sudah berapa presiden sebelum saya, Presiden Jokowi ke saya, tiap hari kebangsaan kita pakai pakaian kita sendiri dari macam-macam daerah. Mungkin bulan ini atau tahun ini kita pakai dari daerah ini, kita gantian. Kita bangga dengan budaya kita sendiri. Kita hormat sama semua negara, hormat sama semua bangsa tapi kita tidak boleh lupa bangsa kita sendiri. Bangsa yang besar, bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati, bangsa yang menghormati budayanya sendiri, bangsa yang menghormati orang tuanya, leluhurnya.
Kita, IPSI, semua perguruan, hormat kita adalah hormat leluhur kita. Kita tidak malu-malu kalau ketemu guru, ketemu sesepuh, ketemu siapa pun, kita hormat. Ini pentingnya IPSI. Dan karena itu, pencak silat iya olahraga, pencak silat olahraga, pencak silat seni bela diri, iya benar. Pencak silat tapi lebih dari itu, pencak silat mencerminkan kepribadian bangsa Indonesia. Ilmu leluhur kita, kita pegang teguh. Seorang yang kuat, seorang guru, seorang yang sakti, seorang yang ilmunya sangat bagus, tapi ajaran guru-guru kita semakin berisi, semakin menunduk. Ilmu kita adalah demikian, kerendahan hati, bukan kerendahan diri.
Kita hormat, sopan, santun, itu adalah budaya kita. Kesatria, pendekar, selalu membela kebenaran, selalu membela yang lemah, selalu membela yang tertindas, selalu membela keadilan, selalu membela kebenaran, pendekar. Pendekar selalu berada di jalan yang baik, jalan yang lurus. Pendekar itu berani tapi pendekar tidak boleh sombong. Pendekar tidak boleh melakukan hal-hal yang tidak baik, dalam tutur kata, dalam sikap. Demikianlah, itu adalah yang diajarkan oleh guru-guru saya, guru-guru Saudara-saudara sekalian juga.
Hampir semua perguruan di pencak silat, dan saya kira di semua bela diri dunia yang saya ikuti, semua guru mengajarkan, ilmu ini adalah untuk membela diri, membela keluargamu, membela desamu, membela masyarakatmu, membela bangsamu, Saudara-saudara sekalian. Kalau tiap dukuh, kalau tiap desa, kalau tiap kecamatan, masyarakatnya kuat, masyarakatnya baik, masyarakatnya stabil, masyarakatnya tenang, bangsa ini kuat.
Saudara-saudara,
kita pernah diganggu ratusan tahun, ratusan tahun silih berganti karena Nusantara sangat-sangat kaya. Dari dulu sampai sekarang kita sangat kaya, dari dulu sampai sekarang kita diganggu. Bukan kita yang ke sana, mereka yang ke sini, silih berganti, Spanyol, Portugis, Prancis, Inggris, Mongolia, Jepang, dan sebagainya. Dan kita ini bangsa yang ramah, kita terima mereka dengan baik, ya kan? Karena itu sifat kita. Di desa-desa, di mana-mana, hampir semua suku kalau datang tamu, "monggo pinarak." Kita tidak punya beras, pinjam tetangga, supaya kita bisa kasih makan tamu. Tidak punya gula, pinjam tetangga. Kan begitu? Benar kan? Ini budaya kita. Yang repot, yang datang itu, lihat "kok bangsa ini baik banget ya," enggak mau pulang-pulang, terpaksa kita harus usir, harus lawan mereka.
Waktu itu pencak silat dilarang, tidak boleh belajar pencak silat, akhirnya pencak silat dilatih malam-malam oleh guru-guru kita. Malam-malam, di bukit-bukit, di gunung-gunung, di surau-surau, kan begitu. Iya kan?
Saudara-saudara,
Makanya, pencak silat itu sempat dianggap olahraga kampung karena penjajah di kota, dilarang. Jadi yang belajar pencak silat ya cari desa, cari kampung, cari gunung. Latihannya diam-diam, ilmunya diam-diam. Banyak ilmu yang enggak boleh dilihat. Benar kan? Macam-macam itu. Saya dulu dengar ada guru di sini, nyari, guru di situ, nyari, sama dengan Saudara-saudara sekalian, cari segala ilmu kanuragan. Apalagi tentara-tentara ini, iya kan?
Saudara-saudara,
ini boleh lah saya nostalgia, karena di sinilah saya mohon diri, saya pamit. Sebagai ketua umummu, sebagai sebelumnya wakil ketua umum, bisa dikatakan saya ini sudah 34 tahun di kalangan IPSI, dan saya siap terus, akan terus mendukung dengan jabatan ataupun tidak dengan jabatan. Seorang pendekar adalah sampai napas dia terakhir, dia pendekar, Saudara-saudara sekalian.
Banyak tugas PB IPSI ke depan. Saya minta maaf saya belum berhasil membawa pencak silat ke olimpiade. Kita terus berusaha. Saya kira, saya yakin pengganti saya nanti akan berhasil membawa ke olimpiade. Saya yakin. Saya tidak tahu apakah sudah ada bayangan siapa yang Saudara akan pilih sebagai pengganti saya, saya sarankan coba dicari calon yang terbaik.
Saya kira itu yang ingin saya sampaikan, Saudara-saudara. Terima kasih selama ini kalian telah mendukung saya. Kita telah mengharumkan nama bangsa di kancah internasional. Kita cukup membanggakan, di beberapa tempat kita menyumbang banyak sekali emas, perak, dan perunggu. Kita mendukung kehormatan bangsa di mata dunia. Perjalanan masih jauh, kita berharap pencak silat akan masuk olimpiade, kita yakin akan masuk. Tapi kita tidak perlu juga terlalu, apa ya, terlalu obsesi. Obsesi kita harus menjaga mutu, kemurnian, daripada pencak silat itu sendiri. Kalau ilmunya murni, ilmunya kuat, Saudara-saudara, dari mana-mana akan datang belajar dan itu sudah terbukti dari banyak negara datang ke kita belajar dan kadang-kadang mereka belajar dan mereka jadi hebat-hebat. Ini risiko daripada seorang guru, iya kan? Kita dulu yang melatih Vietnam, Thailand, akhirnya mereka jadi hebat dan mereka pernah kalahkan kita. Tidak apa-apa, karena itu adalah tugas seorang guru.
Ini apa dikeluarin? Waktu saya masih muda itu ya? Dulu masih lumayan ilmu kita itu, sekarang sudah enggak ada lagi itu.
Saudara-saudara,
terima kasih atas kesetiaanmu selama saya memimpin. Saya menyatakan di sini, mohon diri, minta maaf saya tidak bersedia untuk dicalonkan kembali. Saya yakin sudah ada generasi penerus yang pantas untuk meneruskan tongkat kepimpinan di IPSI, dan pasti saya akan dukung PB IPSI ke depan, Saudara-saudara sekalian.
Dengan demikian, tugas saya sekarang adalah membuka Munas IPSI. Dengan mengucap bismillahirrahmanirrahim pada siang hari ini, hari Sabtu, 11 April 2026, saya Prabowo Subianto, Presiden Republik Indonesia, dengan ini secara resmi membuka Musyawarah Nasional XVI Ikatan Pencak Silat Indonesia.
Terima kasih.
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.