Sambutan Presiden pada Peresmian Pembukaan Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Nasional Rencana Kerja Pemerintah (RKP) Tahun 2022

 
bagikan berita ke :

Kamis, 28 April 2022
Di baca 289 kali

Istana Negara, Jakarta
 
 

Bismillahirrahmanirrahim.

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,

 

Selamat pagi,
Salam sejahtera bagi kita semua,
Om Swastiastu
,

Namo Buddhaya,
Salam kebajikan.

 

Yang saya hormati, Bapak Wakil Presiden;
Yang saya hormati, para pimpinan lembaga-lembaga negara;
Yang saya hormati, para Menteri Kabinet Indonesia Maju beserta para gubernur, bupati, dan wali kota dari seluruh Tanah Air;
Yang saya hormati, para Kepala Bappeda Provinsi;
Para peserta Musrenbangnas yang saya hormati;
Hadirin, Undangan yang berbahagia.

 

Tahun ini dan tahun depan, kita akan menghadapi situasi yang tidak mudah, situasi yang tidak gampang. Situasi ekonomi dan situasi politik global yang mengalami gejolak, yang penuh dengan ketidakpastian. Pandemi belum sepenuhnya berakhir, beberapa negara masih bergulat menekan penyebaran Covid-19 bahkan masih melakukan lockdown. Kemudian terjadi gangguan supply chain yang dampaknya ke mana-mana. Belum lagi, dunia yang dihantam perang antara Rusia dan Ukraina yang memunculkan krisis energi dan krisis pangan. Dan akhirnya, inflasi global meningkat tajam dan pertumbuhan ekonomi global juga akan mengalami perlambatan. Inflasi saat ini kalau kita lihat, misalnya yang paling tinggi di Turki sudah melompat ke angka 61,1 persen, Amerika yang biasanya di bawah 1 persen sekarang sudah 8,5 persen. Negara kita alhamdulillah masih berada, terakhir masih berada di angka 2,6 persen. Ini yang harus bersama-sama kita perbaiki, kita pertahankan.

 

Saya memberikan gambaran seperti ini agar kita semua betul-betul waspada, betul-betul mengalkulasi/menghitung secara detail sehingga langkah antisipasinya tepat, langkah antisipasinya betul, benar. Dan kita harus betul-betul siap jika krisis ini berlanjut hingga tahun depan. Hati-hati semuanya. Semua, kita harus memiliki sense of crisis. Jangan seperti biasanya, jangan business as usual. Hati-hati, sense of crisis harus ada di kita semuanya sehingga kita harus ada perencanaan yang baik, harus ada skenario yang pas dalam menghadapi situasi yang tidak pasti ini.

 

Dan di tengah situasi yang penuh gejolak ini kita patut bersyukur, perkembangan ekonomi negara kita menunjukkan tren yang positif, surplus perdagangan juga positif, (bulan) Februari di angka (USD) 3,82 miliar dan kemarin di (bulan) Maret di angka (USD) 4,5 miliar surplusnya, ini sangat baik. Pertumbuhan kredit di (bulan) Februari juga 6,33 (persen) naik dari (bulan) Januari 5,79 (persen), ini juga menunjukkan tren yang baik. Kemudian, PMI (Purchasing Manager Index) manufaktur di bulan Maret juga membaik di angka 51,3 dari bulan Februari di 51,2. Indeks penjualan riil, ini juga sudah di atas normal, (bulan) Maret kemarin di angka 14,5 persen dan Indeks Keyakinan Konsumen juga sudah berada di atas normal. Saya kira, angka-angka seperti ini harus kita jaga. Momentum tren positif pertumbuhan ekonomi juga harus kita jaga. Dan sebagaimana tema RKP (Rencana Kerja Pemerintah) 2023, kita harus bekerja keras untuk meningkatkan produktivitas menuju pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.

 

Bapak, Ibu, dan Hadirin yang saya hormati,
Dalam menghadapi gejolak ekonomi global, saya menekankan beberapa hal yang kita bisa jadikan pegangan bersama-sama. Pertama, ini sudah dua kali saya sampaikan, bekerja fokus untuk peningkatan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN), artinya belanja barang dan jasa; belanja barang modal dan jasa harus diarahkan kepada pembelian produk-produk dalam negeri.

 

Saya ingatkan lagi, potensi belanja barang modal dan jasa di pusat ini ada Rp526 triliun, di daerah Rp535 triliun, artinya total sudah Rp1.062 triliun, plus BUMN Rp420 triliun. Ini angka yang besar sekali. Jangan sampai, sekali lagi, angka yang sangat besar sekali ini dibelanjakan untuk barang-barang impor sehingga produksi dalam negeri tidak berkembang, meningkat. Arahkan semuanya, pembelian ke produk-produk dalam negeri. Hilangkan/kurangi sebanyak-banyaknya pembelian produk impor. Dan di saat yang bersamaan siapkan kapasitas produksi nasional kita, buat kebijakan yang berpihak bagi industri substitusi impor yang memproduksi kebutuhan dalam negeri. Misalnya, jagung masih impor, tanam jagung. Kenapa? Menanam jagung di mana pun juga tumbuh, kenapa masih impor? Kedelai, kita juga masih impor padahal banyak daerah yang sesuai untuk penanaman kedelai, lakukan ini. Kemudian beri pendampingan UMKM sehingga bisa naik kelas untuk memenuhi standar-standar global, standar-standar internasional.

 

Yang kedua, percepat proses hilirisasi industri yang dilakukan di dalam negeri. Daerah-daerah yang memiliki pertambangan, dorong agar mereka segera membangun smelter. Daerah-daerah yang memproduksi cokelat, kopi misalnya, dorong agar mereka masuk ke industri di daerah kita masing-masing agar meningkatkan nilai tambah yang berlipat-lipat dan membuka lapangan pekerjaan yang sebesar-besarnya untuk rakyat. Sekali lagi, saya ingatkan, jangan kita hanya menjadi pengekspor bahan mentah, pengekspor raw material. Setop.

 

Ketiga, tingkatkan produktivitas dan kemandirian di sektor pangan dan energi. Kita harus ingat semuanya, ke depan problem global/problem dunia adalah dua, pangan dan energi. Ini yang sangat kritis di dua hal ini dan kita memiliki kekuatan di sini. Oleh sebab itu, sekali lagi, tingkatkan produktivitas dan kemandirian di sektor pangan dan energi. Lakukan secara fokus dengan skala yang masif, dikawal, dimonitor agar betul-betul berjalan.

 

Yang keempat, tingkatkan investasi yang akan menciptakan lapangan kerja yang sebanyak-banyaknya. Ini rebutan antarnegara. Kalau pelayanan perizinan kita belum cepat, di pusat maupun di daerah, segera sederhanakan dan percepat. Layani semua yang berkaitan dengan investasi karena kita tidak dapat lagi bergantung kepada APBN dan APBD. Hati-hati mengenai ini. Oleh sebab itu, kita harus kreatif mencari sumber-sumber pembiayaan baru yang inovatif dengan terus meningkatkan kemudahan berusaha dan daya tarik investasi.

 

Yang kelima, tahun depan kita akan memulai lagi ketentuan sesuai regulasi defisit di bawah tiga persen PDB (Produk Domestik Bruto). Karena itu, perencanaan harus betul-betul rinci, perencanaan harus betul-betul detail, harus betul-betul tepat. Lakukan penajaman belanja sehingga kualitas belanja makin baik, makin meningkat. Optimalkan penerimaan perpajakan.

 

Yang keenam, agenda-agenda strategis untuk peningkatan SDM/peningkatan sumber daya manusia harus terus berjalan. Percepatan kemiskinan ekstrem, angka stunting yang kedua harus diturunkan, peningkatan kualitas SDM melalui transformasi di bidang kesehatan, peningkatan akses dan kualitas pendidikan, dan juga upskillingreskilling tenaga kerja agar semakin produktif dan kompetitif.

 

Yang ketujuh, kita harus mempersiapkan pelaksanaan Pemilu yang tahapannya dimulai nanti di (bulan) Juni tahun 2022. Saya minta, seluruh kementerian/lembaga dan pemerintah daerah provinsi, kabupaten, dan kota mendukung pelaksanaan tugas KPU dan Bawaslu, termasuk tentu saja dukungan anggaran, baik dari APBN maupun APBD, agar pemilu terselenggara dengan baik, sukses, dan lancar.

 

Saya rasa itu saja yang ingin saya sampaikan dalam kesempatan yang baik ini. Dan dengan mengucap bismillahirrahmanirrahim, Musrenbang Nasional Rencana Kerja Pemerintah (RKP) Tahun 2022 saya nyatakan dibuka.

 

Terima kasih.

 

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.