Sambutan Presiden pada Peresmian Pembukaan Rapat Pimpinan Nasional Kamar Dagang Indonesia (Kadin) Tahun 2021

 
bagikan berita ke :

Jumat, 03 Desember 2021
Di baca 1929 kali

BNDCC, Kabupaten Badung, Provinsi Bali
 

Bismillahirrahmanirrahim.

 

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
Selamat siang,
Salam sejahtera bagi kita semuanya,
Om Swastiastu,
Namo Buddhaya,
Salam kebajikan.

 

Yang saya hormati, Ketua MPR Republik Indonesia;


Yang saya hormati, para Menteri Kabinet Indonesia Maju. Tadi saya hitung, ini Menteri yang hadir di Rapimnas Kadin ini berapa orang? (Ada) sepuluh Menteri yang hadir. Betapa sangat pentingnya Kadin bagi negara kita, sehingga Menteri-menteri semuanya hadir. Ini saya baca sekalian (yang) tadi saya hitung dan saya tulis: Pak Menko Perekonomian; Pak Menko Marinves; Pak Menteri Sekretaris Negara; Ibu Menteri Keuangan; Pak Menteri Perdagangan; Ibu Menaker; Pak Menteri Investasi yang dari tadi pagi mengawal saya agar saya bisa hadir di sini, sampe di dalam mobil pun Pak Menteri satu mobil dan betul-betul enggak tahu, takutnya saya belok ke mana enggak ngerti juga saya, tapi dikawal betul; Pak Menteri Perindustrian; Pak Menkominfo; Pak Menteri KKP; Pak Menteri Koperasi dan UKM; Pak Wamen BUMN. (Ada) sepuluh Menteri hadir semuanya;


Yang saya hormati, Gubernur Provinsi Bali;


Yang saya hormati, Ketua Dewan Komisioner OJK;


Yang saya hormati, Ketua Umum Kadin, Bapak Arsjad Rasjid, beserta Ketua Dewan Pertimbangan Kadin, Pak Anindya Bakrie, beserta seluruh Ketua Dewan Penasehat, Ketua Dewan Pakar, Ketua Dewan Kehormatan, serta Wakil Ketua Umum dan seluruh Ketua dan jajaran Pengurus Provinsi, Kabupaten, dan Kota, seluruh Anggota Kadin masa bakti 2021-2026;
Bapak/Ibu, Hadirin, dan Undangan yang berbahagia.

 

Tantangan demi tantangan terus menghadang kita. Jangan ada yang berpikiran bahwa pandemi ini telah selesai. Memang pada hari ini, kalau kita lihat kasus yang dulu di pertengahan bulan Juli kasus harian kita di angka 56.000, kemarin kita berada di angka 311 kasus harian. Ini patut kita syukuri, patut kita syukuri. Berkat kerja keras kita, kerja gotong royong kita, kita berada di Level 1 menurut WHO, dan hanya ada lima negara yang levelnya di Level 1: RRT, India, Taiwan, Jepang, dan negara kita, Indonesia. Tetapi sekali lagi, hati-hati, tantangan ini belum selesai.

 

Ada 29 negara yang sudah kemasukan yang namanya varian Omicron. Tadi pagi, informasi lagi, Singapura sudah masuk (varian Omicron), negara paling dekat kita. Yang ini, meskipun masih dalam penelitian yang cepat, penularannya bisa lima kali lipat lebih menular dibanding yang varian Delta yang kecepatannya juga sangat cepat sekali. Ini pun juga bisa menembus imunitas yang telah kita miliki. Oleh sebab itu, sekali lagi kita semua tetap harus waspada dan hati-hati, hati-hati.

 

Tetapi juga jangan kita ini terlalu ketakutan dan kekhawatiran yang amat sangat. Tetap harus optimis, apalagi di tahun 2022 kita harus optimis bahwa ekonomi kita bisa bangkit di atas 5 persen.

 

Tapi yang banyak yang tidak kita hitung, yang tidak kita duga, ternyata bahwa pandemi ini berimbas ke mana-mana, berdampak ke mana-mana. Kita tahu, karena pandemi, beberapa negara langka energi. Karena pandemi, beberapa negara langka kontainer, baik itu kontainer antarnegara maupun antarprovinsi dan antarpulau. Karena pandemi juga yang tidak kita perkirakan, inflasi beberapa negara sudah naik demikian tinggi. Dan karena inflasi juga, beberapa hari terakhir ini sudah mulai kedengaran beberapa negara ada kenaikan harga produsen, yang akhirnya nanti akan berimbas pada kenaikan harga konsumen. Kompleksitas masalah semakin melebar ke mana-mana, sehingga memang kita harus menyiapkan rencana antisipasi, dan geraknya kita harus lebih cepat dari biasanya karena ketidakpastian ekonomi global semakin melebar ke mana-mana, kompleksitas masalahnya juga melebar ke mana-mana.

 

Memang kunci, kunci dari pertumbuhan ekonomi global, (pertumbuhan) ekonomi negara kita, kuncinya hanya ada satu: bagaimana kita bisa mengendalikan pademi seperti sekarang ini. Hanya itu. Yang lain-lain nanti pasti mengikuti.

 

Dan investasi merupakan motor penggerak ekonomi kita, baik itu investasi usaha mikro, usaha kecil, usaha menengah, usaha besar, semuanya sangat penting saat ini. Target investasi tahun 2021 (sebesar) Rp900 triliun kelihatannya tercapai. Tahun 2022, karena saya lihat Menterinya muda dan sangat lincah, naikkan menjadi Rp1.200 triliun. Dan sekarang ini posisi investasi di Jawa dan luar Jawa, ini sekarang menjadi sudah lebih banyak di luar Jawa. Ini sangat baik sekali. Di Jawa 48 persen, di luar Jawa sudah 52 persen. Ini sangat baik sekali. Artinya tidak Jawa-sentris, tetapi sudah mulai ke Indonesia-sentris. Ini yang terus akan kita dorong.

 

Dan dalam rapim ini juga perlu saya sampaikan, ini tadi saya baru saja meminta kepada Bu Menteri Keuangan, yang biasanya saya lihat ekonomi kita ini seperti apa sih? Pajak sampai hari ini sudah masuk 77,5 persen, PNBP sudah masuk 107 persen, sudah melebihi (target). Artinya apa? Penerimaan pajak tumbuh 15,3 persen, sangat bagus sekali, padahal tahun lalu kita terkontraksi minus 18,8 persen. Dari minus 18,8 persen, sekarang tumbuh 15,3 persen. Ini patut kita syukuri. PNBP juga tumbuh 25,2 persen tahun 2021. Tahun lalu minus 16 persen. Ini angka-angkanya baik, baik, baik.

 

Kita sudah seneng banget melihat angka-angka seperti ini. Tapi begitu mendengar Omicron, ya menahan napas sedikit meskipun sekali lagi tidak perlu khawatir yang amat sangat kalau Bapak/Ibu dan Saudara-saudara kekhawatirannya amat sangat.

 

Pada kesempatan yang baik ini, saya hanya ingin titip pada Kadin: Yang pertama, kita ini nanti, mulai hari kemarin kita kan sudah memegang sebuah kepercayaan dan kehormatan, menjadi Presidensi G20, Keketuaan G20. Dan akan ada 150 pertemuan (meetings) dalam rangka G20 ini dengan semua negara. Fokus kita adalah, nanti kita akan fokuskan di G20 ini adalah yang pertama mengenai urusan arsitektur kesehatan global; yang kedua mengenai transisi energi menuju energi yang hijau dan berkelanjutan, kemudian yang ketiga mengenai digitalisasi. Jadi, digitalisasi, transisi energi dan ekonomi hijau, kemudian arsitektur kesehatan.

 

Memang bandul ekonomi dunia ini sudah mulai bergerak ke arah ekonomi hijau. Kita pun harus cepat menyesuaikan. Kalau tidak, kalau misalnya nanti (pada) suatu titik, entah dua tahun lagi, entah tiga tahun lagi, atau lima tahun lagi Eropa misalnya hanya menerima produk-produk hijau yang dihasilkan dari renewable energy, dan kita belum siap, bagaimana kita mau mengekspor barang-barang kita? Begitu mereka mulai, negara lain pasti juga akan memulai. Oleh sebab itu, secepatnya kita harus menggeser arah ekonomi kita sesuai dengan yang nanti akan kita bicarakan di G20.

 

Transisi energi misalnya, keuntungan kita (adalah) kita memiliki sumber daya alam yang melimpah untuk ini, untuk renewable energy yang menghasilkan energi hijau, misalnya hydropower. Kita memiliki 4.400 sungai. Enggak ada negara di dunia yang memiliki kekayaan sungai sebanyak negara kita, Indonesia. Dua sungai saja, Sungai Mamberamo di Papua (dan) Sungai Kayan di Kalimantan Utara, di Mamberamo itu kira-kira bisa menghasilkan 24.000 MW, di Sungai Kayan di Kalimantan Utara bisa menghasilkan kira-kira 11.000 sampai 13.000 MW. (Itu) baru dua sungai. Kita memiliki sekali lagi 4.400 sungai.

 

Geotermal belum diapa-apain. Kekuatan kita 29.000. Sekarang ini baru kepakai kira-kira 2.000-an, 10 persen belum ada.

 

Inilah saya kira kesempatan-kesempatan yang kita miliki, sehingga dalam rangka kompetisi, bersaing dengan negara-negara lain, kita memiliki kekuatan-kekuatan itu yang lama tidak kita sadari.

 

Dalam rangka reformasi ekonomi, reformasi struktural, pendampingan UMKM, saya minta nanti di dalam rapim, Bapak Ketua, Kadin lebih mendetailkan lagi, sebetulnya apa sih kebutuhan lapangan, tantangan yang ada di lapangan, kemudian keinginan-keinginan pelaku seperti apa. Lebih detailkan lagi, sehingga kalau pemerintah membuat kebijakan besarnya, didetailkan oleh Kadin, sehingga nanti ketemu antara pelaku dan pembuat kebijakan.

 

Kemudian yang kedua, yang tadi saya sampaikan juga, mendetailkan lagi transformasi ekonomi kita menuju tadi green economy, green energy, green tourism, blue economy. Detailnya seperti apa menurut para pelaku? Yang dibutuhkan apa menurut pelaku? Dan keinginan-keinginannya seperti apa? (Detailkan lagi) sehingga akan ketemu nanti. Ini ada kebijakan, ini ada implementasi pelaksanaan. Kalau diketemukan, akan menjadi sebuah kekuatan yang besar.

 

Saya rasa itu yang bisa saya sampaikan pada kesempatan yang baik ini.

 

Dan saya ingin mengucapkan selamat kepada Bapak Arsjad Rasjid, Bapak Anindya Bakrie, dan seluruh jajaran Pengurus Kadin untuk masa bakti 2021-2026. Meskipun dihadapkan pada banyak tantangan, tapi saya yakin komposisi kepengurusan yang ada sekarang ini adalah komposisi yang sangat baik.

 

Dan dengan mengucap bismillahirrahmanirrahim, pada sore hari ini secara resmi saya buka Rapat Pimpinan Nasional Kamar Dagang dan Industri 2021.

 

Terima kasih.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,

Om Shanti, Shanti, Shanti Om.