Bicara Di Depan Publik, Siapa Takut

 
bagikan berita ke :

Kamis, 02 Mei 2019
Di baca 4216 kali

Bagi sebagian orang, berbicara adalah hal biasa yang setiap hari dilakukan. Bahkan kerap muncul gagasan “Untuk apa belajar bicara? Kan setiap hari kita bicara”. Akan terdengar aneh ketika kita meluangkan waktu khusus untuk belajar berbicara. Namun, berbeda rasanya jika tiba-tiba kita mendapat kesempatan untuk memberikan sambutan atau berpendapat di muka umum. Tak dipungkiri, ada kalanya juga kita merasa sangat gugup. Rasanya seperti lidah menjadi kelu, tidak bisa berkata-kata karena segala macam kalimat yang ada di kepala tidak bisa keluar dengan baik.

 

Untuk inilah kita perlu untuk mempelajari public speaking atau berbicara di depan umum. Untuk meningkatkan performa para pegawai dalam hal berbicara di depan umum, Istana Kepresidenan Yogyakarta mengadakan diklat public speaking. Diklat ini diadakan di Ruang Rapat Lantai II Istana Kepresidenan Yogyakarta pada Kamis 2 Mei 2019.

 

Diklat Public Speaking yang bertema “Berbicara dengan Penuh Pesona” ini dipandu oleh pakar komunikasi Lusy Laksita. Selain sebagai pakar komunikasi, Lusy Laksita sering menjadi MC, penyiar radio, dan pemateri seminar komunikasi. Lusy Laksita juga memiliki sekolah yang bergelut di bidang komunikasi bernama Lusy Laksita Broadcasting School and Partner in Comm.

 

“Istana Kepresidenan Yogyakarta memiliki tugas pokok dan fungsi untuk melayani VVIP khususnya ketika Presiden dan Wakil Presiden sedang berkunjung di Yogyakarta. Dengan tugas tersebut, kita dituntut untuk selalu berhubungan dengan banyak orang dan bernegosiasi untuk kelancaran kegiatan. Kita perlu untuk meningkatkan kemampuan berkomunikasi,” jelas Eli Handayani selaku Kasubbag Tata usaha dalam sambutannya.

 

Lusy Laksita menjelaskan bahwa public speaking adalah seni dalam berbicara di depan umum. Lusy atau lebih sering disapa Mama Lusy menerangkan bahwa dalam berkomunikasi, aspek verbal memiliki persentase sebesar 7% dan aspek vokal atau bagaimana pesan dibunyikan sebesar 38%. Vokal atau suara yang bagus memiliki ciri-ciri jernih, natural, ekspresif, dinamis, dan nyaman. Sedangkan untuk memiliki suara yang bagus, dapat dilakukan dengan olah suara yang meliputi volume, tone suara, kejernihan suara, dan kelancaran melafalkan kata. Aspek terakhir yang memiliki pengaruh paling besar, mencapai 55% adalah aspek visual. Aspek visual berkaitan dengan penampilan pembicara.

 

Di akhir pemaparan, Mama Lusy juga memberikan tips bagaimana cara menguasai khalayak. Pertama, kita perlu mengenai siapa audiens. Kedua, kenali tempat di mana kita akan menjadi pembawa acara. Ketiga, berikan pandangan ke arah menyeluruh di berbagai sudut. Keempat, tenangkan diri dan terakhir, berbicara ketika sudah benar-benar siap. (Karisma Widya–Istana Kepresidenan Yogyakarta).

Bagaimana pendapat anda mengenai artikel ini?
35           7           4           0           0