Jelang Nataru, Pemerintah Perkuat Pasokan dan Stabilitas Harga Pangan

 
bagikan berita ke :

Selasa, 27 Oktober 2026
Di baca 2 kali

Pemerintah memperkuat langkah antisipasi untuk menjaga ketersediaan dan stabilitas harga pangan menjelang Natal dan Tahun Baru (Nataru), sekaligus memitigasi dampak fenomena El Niño. Upaya dilakukan melalui penguatan cadangan pangan, operasi pasar, kelancaran distribusi antardaerah, serta pemantauan harga untuk memastikan kebutuhan masyarakat terpenuhi dengan harga terjangkau.

Langkah tersebut dibahas dalam Rapat Koordinasi Terbatas (Rakortas) Bidang Pangan yang dipimpin Menteri Koordinator Bidang Pangan (Menko Pangan) Zulkifli Hasan di Jakarta, Senin (26/10/2026).

Menko Pangan menegaskan bahwa stabilitas harga pangan menjadi perhatian pemerintah karena berpengaruh langsung terhadap daya beli masyarakat. Menjelang akhir tahun, pemerintah memperkuat koordinasi lintas kementerian/lembaga dan pemerintah daerah untuk memastikan ketersediaan stok, kelancaran distribusi, serta kesiapan menghadapi peningkatan permintaan.

“Menjelang Natal dan Tahun Baru, kita harus bersiap dari jauh-jauh hari agar punya cukup waktu untuk mengantisipasi berbagai kemungkinan. Kita perkuat cadangan pangan pemerintah, siapkan persediaan logistik dan distribusi sebaik-baiknya,” ujar Menko Pangan.

Dalam rapat tersebut, Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian menyampaikan bahwa harga sejumlah komoditas pangan masih mengalami tekanan di berbagai daerah.

Berdasarkan data Kemendagri per minggu ketiga Oktober 2026, kenaikan harga masih terjadi, terutama pada komoditas cabai merah dan cabai rawit yang disebabkan oleh gagal panen di beberapa wilayah sentra produksi cabai diakibatkan cuaca ekstrem, kemarau panjang. Selain itu,  beras, daging ayam ras, dan telur ayam ras juga menjadi komoditas yang terus dipantau pemerintah.

Untuk merespons kondisi tersebut, pemerintah memfasilitasi perdagangan antardaerah guna memperlancar distribusi pangan dari wilayah yang memiliki pasokan berlebih ke daerah yang membutuhkan.

Pemerintah daerah bersama Perum Bulog juga telah melaksanakan operasi pasar di 134 daerah yang mengalami kenaikan harga beras. Penyaluran Beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) menjadi instrumen penting untuk menyediakan beras yang terjangkau di masyarakat.

“Datanya clear di kabupaten mana saja itu lengkap kita memiliki data, saya sampaikan. Dan komoditasnya apa saja yang perlu dilakukan operasi pasar di tempat itu,” kata Tito.

Terkait stok beras, Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman yang juga hadir dalam rapat menyampaikan bahwa stok beras nasional saat ini berada pada tingkat tertinggi sepanjang sejarah. Pihaknya memastikan pasokan beras nasional aman menjelang Nataru, didukung cadangan beras pemerintah (CBP) di Bulog yang mencapai sekitar 4,5 juta ton serta keberlanjutan produksi dalam negeri.

Pemerintah juga menyiapkan langkah mitigasi dampak El Niño melalui optimalisasi lahan, perbaikan irigasi, pompanisasi, serta penggunaan benih tahan kekeringan. CBP juga akan dimanfaatkan untuk mendukung intervensi pasar dan menjaga ketersediaan beras bagi masyarakat.

“Jadi, El Niño tidak perlu mengkhawatirkan karena kita sudah mengantisipasi sebelumnya. Dengan pompanisasi, oplah, irigasi kita perbaiki, kemudian benih tahan kekeringan,” pungkas Mentan. (Humas Kemenko Pangan/DND – Humas Kemensetneg)

 

Bagaimana pendapat anda mengenai artikel ini?
0           0           0           0           0