Kemensetneg, BKKBN, dan UNFPA Kembali Gelar Webinar Internasional tentang Kependudukan dan Keluarga Berencana untuk Pemuda Muslim Filipina

 
bagikan berita ke :

Selasa, 27 Oktober 2020
Di baca 532 kali

Bogor, 26 Oktober 2020, Pemerintah Indonesia (c.q. Kementerian Sekretariat Negara/Kemensetneg dan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional/BKKBN) kembali bekerja sama dengan United Nations Population Fund (UNFPA) untuk melaksanakan program Kerja Sama Teknik Selatan-Selatan dan Triangular (KSST) bertajuk South-South and Triangular Cooperation Online Training on Reproductive Health, Family Planning, Adolescent Reproductive Health and Prevention of Gender-based Violence and Child Marriage for Bangsamoro Autonomous Region of Muslim Mindanao Youth Muslim Leaders (BARMM). Program ini dilaksanakan pada tanggal 26 s.d. 28 Oktober 2020 dan diikuti oleh 58 peserta dari Filipina. Program ini merupakan implementasi dari perpanjangan Memorandum of Understanding yang ditandatangani oleh BKKBN dan Commission on Population and Development (PopCom) Filipina pada tahun 2019.

 

Program KSST ini dibuka oleh Nanik Purwanti selaku Kepala Biro Kerja Sama Teknik Luar Negeri, Kemensetneg. Prof. drh. Rizal Martua Damanik (Deputi Bidang Pelatihan, Penelitian dan Pengembangan, BKKBN), Melania Hidayat (Assistant Representative UNFPA Indonesia), Juan Antonio Perez III (Direktur Eksekutif PopCom), dan Rena Dona (perwakilan UNFPA Filipina) turut hadir pada acara ini.

 

Dalam sambutannya, Nanik Purwanti menyebutkan bahwa program kependudukan dan keluarga berencana merupakan salah satu program prioritas KSST yang dilaksanakan oleh Pemerintah Indonesia. Hal ini didasari pada keberhasilan Pemerintah Indonesia dalam menggandeng para pemuka agama di program keluarga berencana di Indonesia. Di sisi lain, isu pernikahan anak juga merupakan isu krusial yang menjadi perhatian semua elemen, terutama dalam mencapai Sustainable Development Goals (SDGs). “PopCom selama ini juga telah menggandeng remaja dan pemimpin agama dalam programnya. Saya harap kita dapat belajar dari satu sama lain mengenai peran pemuda dan pemimpin agama dalam keluarga berencana,” kata Nanik.

Prof. drh. Muhammad Rizal Martua Damanik menyampaikan bahwa semakin banyak negara yang berminat belajar dari Pemerintah Indonesia mengenai konsep keluarga berencana terutama dengan menggandeng pemuka agama. Lebih lanjut, beliau menyampaikan bahwa kemitraan dengan pemuka agama telah menghasilkan berbagai fatwa yang berkontribusi besar pada diterimanya program kependudukan dan keluarga berencana di komunitas-komunitas agama.

 

Melania Hidayat mengatakan bahwa walaupun dunia sedang dilanda pandemi COVID-19, pelaksanaan program secara daring patut diapresiasi. “Pelaksanaan program secara daring dapat menjangkau jumlah peserta yang lebih banyak, sehingga Indonesia dapat berbagi pengetahuannya dalam program keluarga berencana ke khalayak yang lebih luas,” tambah Melania.

 

Selain itu, Rena Dona dalam sambutannya menyatakan dukungannya terhadap pelaksanaan program. Beliau mengapresiasi Pemerintah Indonesia atas dukungannya terhadap Filipina di bidang keluarga berencana dan kesehatan reproduksi. Beliau pun berharap kerja sama tersebut dapat terus ditingkatkan di masa mendatang. Lebih lanjut, Juan Antonio Perez III mengatakan bahwa pandemi COVID-19 jangan dijadikan penghalang bagi masyarakat untuk hidup lebih sehat dan lebih baik. Beliau menambahkan bahwa kerja sama Pemerintah Filipina dengan Pemerintah Indonesia telah memberikan dampak positif terhadap implementasi program kependudukan dan keluarga berencana di Filipina.

 

Kemensetneg berupaya untuk terus meningkatkan kemitraan strategis dalam kerangka KSST dengan negara-negara sahabat guna mempercepat pembangunan yang dapat menjadi solusi untuk mengatasi masalah-masalah global. Hal ini sejalan dengan salah satu prioritas nasional Pemerintah Indonesia untuk memperkuat KSST dan meningkatkan jumlah program yang diimplementasikan dalam kerangka KSST.

 

Acara kemudian dilanjutkan dengan sesi pemaparan terkait keluarga berencana, kesehatan reproduksi, dan pencegahan dan respons terhadap kekerasan berbasis gender dan pernikahan anak dari berbagai narasumber, di antaranya Irma Ardiana, Furqan la Faried, Nur Rofiah, Alissa Wahid, dan Muhammad Candao dari PopCom. Pada hari terakhir program, para peserta menyusun action plan untuk diimplementasikan di negaranya. (Humas Kemensetneg).

 

Informasi lebih lanjut dapat menghubungi

Biro Kerja Sama Teknik Luar Negeri

Kementerian Sekretariat Negara

T: +6221 38901135

E: biro_ktln@setneg.go.id

Web: http://ktln.setneg.go.id; https://isstc.setneg.go.id/  

 

 

 

 

 

 

Bagaimana pendapat anda mengenai artikel ini?
49           2           0           0           0