Pahami Mukjizat Syariat Alquran, Kemensetneg Gelar Ceramah Agama Islam

 
bagikan berita ke :

Selasa, 02 April 2024
Di baca 214 kali

Berlangsung daring dan luring di Aula Serbaguna, Kementerian Sekretariat Negara (Kemensetneg), Biro Sumber Daya Manusia (SDM) menggelar Ceramah Keagamaan Islam. Kajian pada Selasa (2/4) yang bertajuk “Kemukjizatan Syariat Alquran”,  dipaparkan oleh Ustaz Saiful Bahri sebagai penceramah.

Ceramah yang digelar pada Selasa (2/4), diikuti para pejabat/pegawai di lingkungan Kemensetneg. Kajian bertujuan meningkatkan keimanan dan memperluas wawasan keislaman serta menambah ketakwaankepada Allah SWT.

Mengawali pemaparan, Saiful Bahri menerangkan tentang lima dimensi mukjizat dalam Alquran. Lima dimensi tersebut terdiri atas Al-I’jaz Al-Bayaniy (Kemukjizatan Bahasa), Al-I’jaz At-Tasyri’iy (Kemukjizatan Syariat), Al-I’jaz Al-Ilmiy (Kemukjizatan Ilmiah), Al-I’jaz Al-Ghaibiy (Kemukjizatan Hal Gaib), dan Al-I’jaz Al-Fanniy At-Tashwiriy (Kemukjizatan Visualisasi).

Melengkapi arti dimensi mukjizat, Saiful Bahri memberikan contoh tentang Al-I’jaz Al-Bayaniy (Kemukjizatan Bahasa). Dalam Alquran, puasa diterangkan melalui dua lafaz yaitu shaum dan shiyam. Perbedaan makna dari lafaz shaum secara umum berarti "menahan diri", sementara shiyam artinya “berpuasa”. Namun, secara fikih berarti “menahan diri dari makan, minum, dan berhubungan suami istri”.


“Saya akan memberikan contoh tentang kemukjizatan Bahasa. Redaksi puasa dalam Alquran memiliki dua lafaz,  As-Shaum dan As-Shiyam. Namun, yang dipilih adalah As-Shiyam karena puasa maknanya sangat spesifik, sementara As-Shaum bermakna menahan dari sisi yang bersifat umum,” tutur Saiful  Bahri.

Selanjutnya, Saiful Bahri menjelaskan tentang lima hal pokok yang dilindungi agama yaitu Dien (agama/akidah), Nafs (jiwa), Aql (akal), Mal (harta), ‘Irdh/Nasl (kehormatan/nasab). “Jadi, ini struktur syariat dalam hidup kita yang menjaga dan mendukung. Ada lima hal yang pasti sifatnya wajib atau minimal dianjurkan dalam menjaga agama, menjaga jiwa, menjaga akal, dan menjaga harta serta kehormatan,” kata Saiful Bahri.

Ceramah hari ini diakhiri dengan penjelasan Saiful Bahri mengenai karakteristik syariat agama Islam. Ada enam syariatnya yaitu bersifat jelas dan tidak rumit (wadhih); memudahkan dan tidak memberatkan (taysir); bertahap sampai final (tadarruj); bisa/memungkinkan diaplikasikan siapa saja atau humanis; cocok untuk semua tempat dan waktu (shalih li kulli zaman wa makan); dan memiliki sumber jelas (rabbaniyah). (FFA-DEW/Humas Kemensetneg)

Bagaimana pendapat anda mengenai artikel ini?
1           0           0           0           0