Kuliah Umum Presiden Joko Widodo di Stanford University, San Francisco, Amerika Serikat

 
bagikan berita ke :

Rabu, 15 November 2023
Di baca 135 kali

Dr. Arun Majumdar;
Keluarga besar Stanford University;
Hadirin sekalian.

 

Hello, good afternoon everyone.
Go Cardinal!

 

Jadi sebelum ke sini saya tadi bertanya-tanya terlebih dahulu, “Di Stanford ini jargonnya apa?” Dijawab, go cardinal, Pak.” Oke, oke. Lalu saya tanya lagi, “What are Stanford identical colors?” Dijawab, red, SirThat’s why I decided to wear a red tie todayRed. Do I look like a member of Stanford family now?

 

Then you must be curious, is that important? Yes, of course. Because I want to be connected to all of you who are smart, young, diligent generations. Applause for Stanford University.

 

Nah, itulah pentingnya terkoneksi sesama manusia. Begitu juga dengan terkoneksi dengan alam. Dan kita tahu, dunia kini tengah sakit. Perubahan iklim, transisi energi adalah isu yang sangat-sangat mendesak. Namun yang menjadi pertanyaan, apakah negara-negara di dunia memiliki komitmen untuk bertanggung jawab dan mengambil peran. Untuk Indonesia, tidak perlu ragu dan tidak perlu dipertanyakan komitmen kami. Indonesia walk the talk, not talk the talk.

 

Indonesia telah menurunkan emisi 91,5 juta ton. Dan, di tahun 2022, supaya Bapak-Ibu tahu, laju deforestasi bisa ditekan sampai 104 ribu hektare, kemudian kawasan hutan juga direhabilitasi seluas 77 ribu hektare, hutan bakau direstorasi seluas 34 ribu hektare hanya dalam waktu satu tahun. Namun, ini saya sampaikan di mana-mana setiap ketemu yang namanya investor, baik Indonesia maupun negara berkembang lainnya, mengenai pendanaan dan transfer teknologi, ini selalu menjadi tantangan besar. Karena memang kita butuh investasi yang sangat besar serta transfer teknologi dan kolaborasi. Inilah yang menjadi tantangan dan sering menyulitkan negara-negara berkembang. Karena itu, Indonesia ingin memastikan bahwa transisi energi juga menghasilkan energi yang bisa terjangkau oleh rakyat, bisa terjangkau oleh masyarakat.

 

Namun kita tahu semuanya, sampai saat ini, sampai saat ini yang namanya pendanaan iklim masih business as usual, masih seperti commercial banks, padahal seharusnya lebih konstruktif, bukan dalam bentuk hutang yang hanya akan menambah beban negara-negara miskin maupun negara-negara berkembang. Padahal, sebagai contoh Indonesia. Tadi saya mungkin belum menyampaikan yang belum tahu Indonesia. Indonesia itu memiliki 17 ribu pulau, memiliki penduduk hampir 300 juta, memiliki 714 suku yang berbeda-beda tradisi dan budayanya, dan memiliki lebih dari 1.300 bahasa daerah. Indonesia memiliki potensi energi hijau yang sangat besar, yang bisa dimanfaatkan untuk kelestarian bumi. Potensinya mencapai 3.600 gigawatt dari energi matahari, air dari sungai karena kita memiliki 4.400 sungai, kemudian angin, kemudian geotermal, ombak, dan energi bio.

 

Minggu lalu sebelum terbang ke Amerika Serikat, saya terbang ke provinsi di Indonesia yang namanya Jawa Barat. Ini salah satu provinsi yang terpadat di Indonesia yang memiliki penduduk kurang lebih 48 juta jiwa. Untuk meresmikan pembangkit listrik tenaga surya terapung di waduk yang namanya Cirata. Ini terbesar di Asia Tenggara pembangkit listrik tenaga surya yang kita miliki, baru saja kita buka, dengan kapasitas 192 MWp. Dan, tidak berhenti di situ saja, kita juga akan membangun seperti ini di kota-kota yang lain, termasuk di ibu kota baru Nusantara.

 

Tadi sudah disampaikan oleh Bapak Dekan Dr. Arun Majumdar mengenai, disinggung mengenai sedikit mengenai Nusantara. Ya, Nusantara ini adalah ibu kota kami yang baru. Sebuah kota pintar berbasis hutan, 70 persen areanya hijau, area hutan, dan kita nanti akan menggunakan juga energi hijau dari matahari dan dari hidro. Dan supaya Saudara-saudara tahu, bahwa yang pertama kali kita bangun saat akan membangun ibu kota Nusantara ini adalah membangun nursery center, membangun botanical center yang berkapasitas 15 juta bibit pohon per tahunnya, 15 juta bibit pohon per tahunnya. Yang itu nanti akan kita tanam setiap tahunnya di ibu kota Nusantara dan di Pulau Kalimantan. Inilah showcase transformasi Indonesia. Tahun depan, Indonesia berencana akan merayakan hari kemerdekaannya di Nusantara untuk menunjukkan bahwa kita telah memiliki ibu kota baru, meskipun mungkin selesainya ibu kota ini baru 15 atau 20 tahun yang akan datang.

 

Saya kira mungkin akan menjadi sebuah ide yang baik, ide yang seru jika mahasiswa Stanford University melakukan study tour ke Nusantara untuk melihat lebih dekat proses dan progresnya. Nanti, mungkin di sana bisa melakukan riset secara kilat dan belajar tentang sisi keberlanjutan dalam membangun sebuah green city.

 

Saya ini lulusan [Fakultas] Kehutanan. Saya ini lulusan Kehutanan. Jadi jika nanti dibutuhkan, saya bisa menjadi guide-nya. Kalau ada yang tertarik, silakan tunjuk jari.

 

Karena saya memang sudah mendengar bahwa Stanford University akan membangun kemitraan dengan Otoritas Ibu Kota Nusantara di bidang pengembangan penelitian dan inovasi yang berkelanjutan. Dalam menghadapi dampak perubahan iklim yang semakin mengancam saat ini, kolaborasi ini sangat penting, kolaborasi sangat penting, dan langkah strategis konkret sangat dibutuhkan. Tanpa itu, tidak mungkin bagi kita untuk menjamin keberlanjutan satu-satunya bumi yang kita cintai ini.

 

We can no longer take an easier walk, we can no longer take a slow walk, we must run fast, we must fear the tree.

 

Thank you.




Sumber: https://setkab.go.id/kuliah-umum-presiden-ri-di-stanford-university-san-francisco-amerika-serikat-15-november-2023/