PENGARAHAN
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
PADA
PEMBAGIAN KARTU INDONESIA SEHAT, KARTU INDONESIA PINTAR,
DAN KARTU KELUARGA SEJAHTERA
DI KANTOR POS KAMPUNG MELAYU, JAKARTA TIMUR
TANGGAL 13 MEI 2015
Â
Â
Assamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Yang saya hormati seluruh Menteri yang hadir, Pak Walikota, Pak Camat, Pak Lurah, serta Ibu dan Bapak sekalian yang hadir pada sore hari ini,
Akan saya bagikan ini ada 264, nanti ada kartunya, coba, ya ini. Ini untuk simbolisnya kepada, ini akan dibagi di Jakarta Timur itu 264. Tetapi, simbolisnya akan saya berikan kepada Ida Anggraeni. Mana? Ayo, biar di situ aja. Kemudian Suprihatin, Fatimah. Jadi, itu ada Kartu Indonesia Sehat-nya, juga ada Kartu untuk ODKB-nya. Jadi diberikan bantuan Rp 300.000 per bulan untuk anak-anaknya selama 4 bulan diambil, 4 bulan diambil, bisa. Jadi, setahun diambil tiga kali. Jadi sebulannya diambil Rp 300.000 agar anak-anaknya semuanya bisa dirawat dengan baik. Dan juga diberikan Kartu Indonesia Sehat dan ya, biar kesehatannya menjadi lebih baik lagi.
Kemudian Kartu Keluarga Sejahtera, coba. Ini diberikan Rp 200.000 per bulan, tapi hanya untuk tiga bulan. Diambil di Kantor Pos. Tadi sudah disampaikan oleh Bu Menko. Saya panggil, Bu Namih, Namih, Bu Tarwiyah, Bu Hafsah, Bu Yurnalis, Bu Mariam, Bu Salmah, Bu Nining, Bu Saimah, Bu Mini, Bu Manik. Ini yang nerima kok ibu-ibu semua ya? Jadi di kartu itu, ada Rp 600.000. Bisa diambil Rp 100.000 dulu bisa, Rp 200.000 dulu bisa. Baru nanti belakangan diambil lagi bisa. Tapi Rp 600.000 di situ. Moga-moga kalau nanti pemerintah memiliki anggaran lagi, kita beritahu, diisi lagi. Doain Bu, nggih. Supaya isi terus, gitu lho.
Sebentar, ini ibu-ibu sebelum kembali ke tempat, saya ingin memberikan pertanyaan. Yang bisa tunjuk jari, yang bisa. Yang nggak bisa nggak usah. Sebutkan lima nama. Kalau ibu-ibu itu pertanyaannya apa ya lima nama? Bunga, bisa ndak? Gampang. Tunjuk jari yang bisa. Nggak ada yang berani. Tunjuk jari dulu. Lima nama bunga, tunjuk jari. Silakan Bu. Ini, sebentar Bu, kalau bisa jawab lima nama tadi saya beri sepeda. Sepedanya ibu-ibu kayak gini ya? Ya udah, udah, adanya itu. Sebentar Bu, bunga apa dulu, Bu?
Ibu Namih:
Bunga rose.
Presiden:
Oh bunga rose, satu.
Ibu Namih:
Bunga Melati
Presiden:
Bunga Melati, dua.
Ibu Namih:
Cempaka
Presiden:
Bunga cempaka, tiga. Pinter banget Ibu ini.
Ibu Namih:
Bunga... Lupa.
Presiden:
Sudah keempat mulai sulit ini. Empat.
Ibu Namih:
Bunga Matahari.
Presiden:
Bunga Matahari, betul. Kurang satu Bu, dapat sepeda, Bu.
Ibu Namih:
Bunga Sedap Malam.
Presiden:
Bunga Sedap Malam. Bu Namih pinter banget ini. Mana sepedanya, Pak? Sini, Pak. Sudah yang lain kembali. Silakan, Bu. Silakan, Bu Namih, diambil sepedanya. Gimana naiknya nanti ini? Sudah pokoknya dibawa dulu, Bu, sudah. Mau dibawa ke mana itu? Mau dibawa ke mana? Ke rumahnya siapa?
Sekarang penerima Kartu Indonesia Pintar. Ini ada 258. Jadi penerima kartu ini adalah sudah disisir supaya tidak benturan dengan Kartu Jakarta Pintar. Karena di sini kan ada, di Pak Gubernur kan ada Kartu Jakarta Pintar. Ini Kartu Indonesia Pintar. Ini yang nggak mungkin dobel.
Coba Ahmad Reynaldi, mana, Ahmad Reynaldi? He, ha ini ada ini? Kok lemes ngono to? Della, Della, Donni, Donni Filipus. Ntar, Don. Dani Santiago, Dhea, Hendri, Apriyanto, Siska, Hanifah Maudina. Namanya bagus ini, Hanifah Maudina. Muhammad Yaser, Kurtubi. Kelas berapa kamu, Kur? Kelas satu? Ini satu, ya? Sudah, bentar. Ini juga ditanya lagi. Siapa yang pengen jawab? Tunjuk jari. Tunjuk jari dulu, baru nanti pertanyaannya saya buat. Sulit, pertanyaannya sulit ini nanti, biar pada takut. Ayo tunjuk jari siapa yang berani? Tunjuk jari dulu yang berani. Paling saya suruh nyanyi. Siapa, tunjuk jari? Mana?
Presiden:
Doni namanya. Kamu sekolah di mana, Don?
Doni:
Rawa Bunga.
Presiden:
He?
Doni:
Rawa Bunga.
Presiden:
Rawa Bunga? Di SD? SD Rawa Bunga?
Doni:
Iya.
Presiden:
Kelas berapa?
Doni:
Lima
Presiden:
Kelas lima?
Doni:
Iya.
Â
Presiden:
Pengen diberi pertanyaan sulit atau gampang?
Doni:
Gampang.
Presiden:
Hadiahnya sepeda. Tapi kalau kamu nggak bisa jawab gimana?
Doni:
Nggak apa-apa.
Presiden:
Nggak apa-apa?
Sebutkan lima nama binatang. Sudah, gampang.
Doni:
Anjing.
Presiden:
He? He? Yang keras.
Doni:
Anjing.
Presiden:
Terus, nomer dua?
Doni:
Kodok.
Presiden:
Kodok? Kodok itu binatang to? Terus.
Doni:
Jerapah.
Presiden:
Jerapah, tiga. Wah, pinter.
Doni:
Sapi.
Presiden:
He, apa? Serabi?
Doni:
Sapi.
Presiden:
Oh, sapi. Kurang satu, kamu dapat sepeda
Doni:
Macan.
Presiden:
Ini pinter, kelihatan. Yang pinter gini lho, ininya gede. Udah, kamu ambil sepeda itu, Don. Kamu dapat sepeda nggak salaman dengan saya. Sudah, semuanya kembali. Udah, diambil aja, sepedamu diambil orang nanti. Kamu beri tanda sepedanya, jangan sampai ketuker nanti.
Ini Kartu Indonesia Sehat saya berikan kepada Bu Marullah, ada? Bu Marullah, Muhammad Sani, Bu Namah Binti Saleh, Bu Nasiah, Bu Syariah, Bu Nunung, Bu Nur Hasanah, ya. Ini belum punya Kartu Jakarta Sehat? Belum. Ya berarti betul, dapet. Ya, nggih. Ini ada. Kok foto, gimana sih kamu? Bentar. Ini ada yang mau sepeda nggak? Harus bisa menjawab pertanyaan. Coba tunjuk jari yang mau ditanya, tapi sulit, pertanyaannya sulit. Siapa, yang tunjuk jari. Ini foto ini, Pak.
Ibu:
Saya dari Kebon Pala ya, Pak.
Presiden:
Kebon Pala mana?
Ibu:
Kebon Pala Dua, Pak.
Presiden:
Kebon Pala Dua?
Ibu:
Iya, Pak.
Warga:
Terima kasih ya, Pak.
Â
Presiden:
Iya, sama-sama.
Presiden:
Sudah yang lain kembali, silakan.
Warga:
Terima kasih ya, Pak.
Presiden:
Iya, sama-sama.
Ini ditanya yang gampang apa yang sulit?
Ibu:
Gampang Pak, jangan yang sulit.
Presiden:
Gimana Bu, ditanya yang sulit aja ya? Kelihatannya pinter kok, tanya yang sulit.
Coba sebutkan nama ibukota negara Indonesia.
Ibu:
Ibukota? Jakarta.
Presiden:
Bener? Yakin? Yakin? Pertanyaannya sulit, tapi bisa. Pinter lho. Sudah, diambil Bu. Ya, ayo. Ini tadi saya lupa. Jadi yang Kartu Indonesia Sehat, itu kalau sakit, kita kalau ada yang sakit, kalau batuk-batuk atau flu, perginya ke Puskesmas, ya. Kalau diperiksa di Puskesmas, batuk-batuknya berat, diperiksa ternyata paru-paru, diberi rujukan dari Puskesmas ke rumah sakit bawa kartu itu, ya. Semuanya tidak dipungut biaya. Dapat semuanya? Ada yang ingin bertanya? Nggak ada. Ya.
Sepedanya masih ada dua. Coba ada yang tunjuk jari, pengen sepeda ndak? Ya itu, ibu-ibu yang tinggi, gini-gini tadi. Ya, sini. Yang sana, mana? Itu yang hijau, Bapak itu yang hijau, ya. Siapa nama?
Lukman Hakim:
Lukman Pak, Lukman Hakim.
Presiden:
Lukman Hakim. Ibu?
Ibu Mameh:
Mameh.
Presiden:
Bu Mameh. Mau pertanyaan gampang atau sulit?
Ibu Mameh:
Yang gampang-gampang aja.
Presiden:
Apa itu, pertanyaan yang gampang apa? Misalnya apa?
Ibu Mameh:
Apa aja, eh apa aja. Yang gampang aja, terserah Bapak.
Presiden:
Oh kalau terserah saya, saya beri yang sulit.
Ibu Mameh:
Jangan, eh jangan.
Presiden:
Apa, mau ditanya apa? Enak to? Saya udah enak lho. Apa Bu, Bu Mameh?
Ibu Mameh:
Ya sudah, yang gampang-gampang aja, bunga, apa binatang.
Presiden:
Itu untuk anak-anak, itu.
Ibu Mameh:
Terus apa dong? Eh, apa dong?
Presiden:
Apa ya? Yang sulit itu apa?
Ibu Mameh:
Jangan yang sulit, Pak. Eh, jangan yang sulit.
Presiden:
Coba sebutkan tiga saja, tiga, nama tarian Indonesia.
Ibu Mameh:
Topeng Betawi, Topeng Betawi.
Â
Presiden:
Topeng Betawi, ya bener satu. Pinter banget ini.
Ibu Mameh:
Emang. Eh, emang.
Presiden:
Kok, hanya satu aja?
Ibu Mameh:
Kedua,
Presiden:
Tiga lho.
Ibu Mameh:
Iya. Satu lagi, eh satu lagi.
Presiden:
Masih dua lagi. Ya nomer dua apa? Tari apa?
Ibu Mameh:
Tari Yapong, Tari Yapong.
Presiden:
Yapong, ya bener. Yang ketiga?
Ibu Mameh:
Jali-Jali. Jali-Jali tari juga.
Presiden:
Bener nggak Tari Jali-Jali?
Ibu Mameh:
Iya, kan Betawi. Eh, iya lagi.
Presiden:
Ya sudah, ambil sepedanya satu. Kok, bawa dua? Ya, dapat sepeda merah.
Ini yang anak muda diberi pertanyaan sulit ya? Atau suruh nyanyi saja?
Coba sebutkan tiga, lima, bukan tiga, provinsi di Indonesia.
Â
Lukman Hakim:
DKI Jakarta
Presiden:
Satu
Lukman Hakim:
Sumatera Barat
Presiden:
Dua
Lukman Hakim:
Sumatera Utara
Presiden:
Tiga
Lukman Hakim:
Sumatera Selatan
Presiden:
Empat
Lukman Hakim:
Dan Jawa Tengah. Rumah Bapak, Solo.
Presiden:
Pinter banget, pinter banget ini. Cepet, memang pinter-pinter. Padahal kalau di daerah yang lain saya tanya pasti ada yang keliru, ada yang salah. Memang Jakarta pinter-pinter.
Baiklah, Ibu dan Bapak sekalian,
Tadi, penyerahan Kartu Indonesia Pintar, Kartu Indonesia Sehat, Kartu Keluarga Sejahtera, dan juga Kartu tadi untuk ODKB-nya sudah diberikan semuanya, segera dimanfaatkan. Yang anak-anak tadi yang dapat Kartu Indonesia Pintar bisa dipakai untuk beli buku, beli sepatu, karena yang SD itu mendapatkan bantuan Rp 400.000, yang SMP mendapat bantuan Rp 750.000, yang SMA/SMK dapat Rp 1.000.000 bantuannya. Cukup ndak? Cukup. Kok ndak cukup? Itu, he? Sudah dapat kartu belum? Yang sudah bisa langsung diambil. Yang KKS, Kartu Keluarga Sejahtera, Kartu Indonesia Pintar, bisa di.. he? Yang belum nanti daftar di kelurahan. Tadi sudah disampaikan Bu Menko. Nanti yang itu teknis nanti tanyakan, ya. Itu yang bisa saya sampaikan. Semoga kartu-kartu itu tadi bermanfaat untuk Ibu dan Bapak sekalian. Saya tutup.
Terima kasih.
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Asisten Deputi Naskah dan Penerjemahan,
Deputi Bidang Dukungan Kebijakan,
Kementerian Sekretariat Negara RI