Sambutan Presiden pada Akad Massal 50.030 Unit KPR Sejahtera Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) dan Serah Terima Kunci Tahun 2025
Bismillahirrahmanirrahim.
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Selamat siang,
Salam sejahtera bagi kita sekalian,
Syalom,
Salve,
Om swastiastu,
Namo Buddhaya,
Salam kebajikan.
Yang saya hormati, Menteri Perumahan dan Kawasan Pemukiman Saudara Maruarar Sirait sebagai tuan rumah penyelenggara beserta seluruh jajarannya yang hadir, para Menteri, Kepala Badan, Jaksa Agung, Kapolri, Panglima TNI, serta seluruh anggota Kabinet Merah Putih yang saya hormati dan saya banggakan.
Hadir bersama kita hari ini, Menko Infrastruktur Saudara Agus Harimurti Yudhoyono, Menteri Sekretaris Negara Saudara Prasetyo Hadi, Menteri Luar Negeri Saudara Sugiono, Menteri Perhubungan Saudara Dudy Purwagandhi, Menteri Transmigrasi Saudara Iftitah Sulaiman Suryanagara, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Profesor Rachmat Pambudy. Oh, Menteri Pemuda dan Olahraga sudah kembali, Saudara Erick Thohir, selamat dengan 91 (medali) emas, terima kasih. Di satu pihak saya senyum, 91 (medali) emas, di lain pihak agak pusing juga ini, bonusnya besar juga itu sekarang itu. Tapi itu apa namanya, sabda pandita ratu, ucapan seorang pemimpin harus dipegang. Gembira tapi pusing, enggak apa-apa, yang penting pejuang-pejuang kita, kita hormati dan kita hargai.
Saudara Jaksa Agung, Saudara Sanitiar Burhanuddin, kok tepuk tangannya enggak terlalu keras kalau Pak Jaksa? Takut ya, sama Jaksa Agung? Panglima TNI Jenderal TNI Agus Subiyanto, Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo, Sekretaris Kabinet Republik Indonesia Letnan Kolonel Teddy Indra Widjaya. Kenapa kalau Teddy selalu paling ribut, ya, yang presiden saya? Ini emak-emak itu. Kepala Staf Kepresidenan Saudara Muhammad Qodari, Kepala Badan Pusat Statistik Saudara Amalia Adininggar Widyasanti.
Kepala Daerah yang hadir di sini, Gubernur Banten Saudara Andra Soni, Gubernur Maluku Utara Saudari Sherly Tjoanda Laos, saya kira bintang film tadi ini. Para wakil gubernur, hadir Wakil Gubernur DKI Jakarta, anak jalanan ini dulu, si Doel, aduh, aku kenalnya Doel. Wakil Gubernur Banten Saudara Dimyati, ya, Tubagus, kawan lama. Para bupati dan wali kota yang hadir, coba berdiri, para bupati/wali kota semuanya, terima kasih kehadirannya.
Para Dirut Himbara (Himpunan Bank Milik Negara) tadi sudah berdiri, sudah dikenalin, ya;
Para pimpinan bank daerah Tapera (Tabungan Perumahan Rakyat) juga tadi sudah dikenalin;
Asosiasi Pengembang Perumahan, Ketua Umum REI (Real Estate Indonesia). Ketua Umum APERSI, Asosiasi Pengembang Perumahan dan Permukiman Seluruh Indonesia). Ketum Himpera (Himpunan Pengembang Pemukiman dan Perumahan Rakyat) Ketum Asprumnas (Asosiasi Pengembang Rumah Nasional), Ketum Appernas (Jaya), Aliansi Pengembang Perumahan Nasional Jaya. Ketum Asosiasi Pengembang Indonesia;
Para pengembang perumahan perusahaan swasta, PT Kawah Anugerah Property, PT Pesona Kahuripan, PT Ristia Bintang Mahkotasejati, PT Arsol Group, PT Riscon Group, PT Bungsuland. Juga hadir, Pak James Riady, kawan lama saya;
Para peserta akad massal dan penerima kunci yang hadir melalui video conference;
Saudara-saudara sekalian, Ibu-ibu Mekar yang saya cintai,
Tentunya kita sebagai insan yang bertakwa, marilah kita tidak henti-hentinya memanjatkan puji syukur ke hadirat Tuhan Mahabesar, Tuhan Mahakuasa, bagi umat Islam, Allah Swt., yang memiliki sekalian alam, hanya kepada-Nya lah kita berdoa dan hanya kepada-Nya lah kita meminta pertolongan. Kita bersyukur atas segala karunia yang diberikan kepada kita, selagi kita juga selalu mengingat saudara-saudara kita yang sedang menghadapi musibah di beberapa daerah Republik Indonesia, di Aceh, Sumatra Barat, Sumatra Utara, tapi juga di daerah-daerah lain yang juga mengalami tidak dalam skala yang sebesar Sumatra tapi juga mengalami kesulitan di Jawa Timur, di Jawa Tengah, di NTT, dan di beberapa daerah lainnya. Kita selalu berdoa mereka akan diberi lindungan dari Yang Mahakuasa, diringankan penderitaan mereka, selagi kita juga bekerja keras untuk mengatasi kesulitan-kesulitan yang dihadapi.
Saudara-saudara,
Memang negara kita adalah negara yang sangat besar, kadang-kadang kita tidak sadar betapa besar bangsa kita. Kita menempati wilayah yang ujung barat sampai ujung timur, itu lebih panjang dari Amerika Serikat. lebih panjang. Kita menempati tiga zona waktu, kita menempati wilayah seluas London sampai Moskow. Di Eropa, mereka memiliki organisasi yang namanya Uni Eropa, anggotanya 27 negara, kalau tidak salah, 26 atau 27 negara, karena Inggris sudah keluar, ya, jadi 26 mungkin, ya. Bayangkan jumlah penduduk kita juga hampir sama dengan Eropa Barat. Mereka punya 27 negara, 27 menteri keuangan, 27 jaksa agung, 27 panglima tentara, 27 kapolri, 27 bappenas, 27 bank sentral, kita hanya punya satu.
Kita juga negara yang sangat majemuk, negara yang terdiri dari ratusan kelompok etnis, ratusan bahasa daerah, kalau tidak salah hitungan terakhir, 718 bahasa daerah dan di daerah tertentu masih ada ratusan lagi bahasa suku, bahasa dialek. Di Papua ada satu kawasan yang terdiri dari 17 lembah, tiap lembah punya bahasa yang lain. Kita bersyukur kita bisa bersatu selama 80 tahun, kita selalu menghadapi kesulitan, bukan kita tidak menghadapi kesulitan, lahir kita melalui perjuangan yang besar, yang panjang, perjuangan ratusan tahun.
Begitu kita proklamasikan kemerdekaan, kita hadapi perang, perang yang di kita, perang kemerdekaan di kita itu khas, karena yang berperang itu tidak dua pihak. Waktu kita menyatakan proklamasi, ada pihak. Jepang masih di sini, kemudian Inggris datang, habis itu Belanda kembali. Ada juga yang berideologi komunis bikin laskar, ada yang berideologi negara agama bikin laskar, baru Republik Indonesia. Ada enam, enam pihak yang berperang, enam tentara, ada kampung dikuasai oleh Laskar Merah, ada yang dikuasai oleh DI/TII, ada yang dikuasai oleh Jepang, ada yang dikuasai oleh Belanda, ada yang dikuasai oleh Inggris, ada yang dikuasai oleh Tentara Republik Indonesia. Betapa tantangan yang kita hadapi. Bersyukur akibat pemimpin-pemimpin kita yang andal waktu itu, masih muda, dari berbagai kelompok, kita bisa bersatu, kita atasi. Kita baru selesai merebut kedaulatan, diganggu terus, diintervensi, ini bukan saya karang, ini sejarah. Begitu kita rebut kedaulatan, langsung Belanda berusaha membatalkan penyerahan kedaulatan dengan membentuk Angkatan Perang Ratu Adil (APRA) yang dipimpin oleh Westerling, berusaha membunuh pemimpin Republik (Indonesia), mengambil alih. Ini sejarah, terus, separatis, separatis, separatis.
Jadi, Saudara-saudara sekalian,
Negara yang begini besar, negara yang begini kaya, kita sendiri tidak sadar. Kita tidak berminat apa-apa terhadap orang lain, hanya orang lain saya tidak tahu. Entah, entah iri, entah tidak suka, ada suatu negara besar seperti ini, kita diganggu terus. Saya bicara seperti ini, karena tujuan kita bernegara, tujuan kita menjadikan Republik Indonesia adalah agar rakyat yang tinggal di bumi Indonesia, yang hadir di Nusantara ini, agar hidupnya sejahtera. Tujuan kita merdeka adalah rakyat sejahtera. Setelah 80 tahun, kita harus bertanya, apa rakyat kita sudah sejahtera? Masih banyak rakyat kita yang hidup dalam keadaan yang belum bisa kita katakan sejahtera.
Hari ini merupakan upaya kita, usaha kita, untuk membantu rakyat kita yang paling lemah, yang masih belum kuat, yang ingin hidup terhormat, ingin hidup layak dengan kualitas hidup yang pantas, dan ini tekad kita, ini perjuangan kita bersama. Karena itu, saya ucapkan terima kasih ke semua pihak yang hari ini bersatu, sehingga kita bisa memberi suatu kualitas hidup kepada rakyat kita. Mereka harus punya rumah yang layak, ini usaha yang sangat membanggakan, tapi masih jauh daripada yang harus kita capai.
Saya terima kasih kepada Saudara Maruarar Sirait, Menteri Perumahan, dan semua menteri-menteri lain. Tidak ada satu menteri yang berhasil, kita satu tim, kita satu tim. Tidak bisa keberhasilan itu tertumpu kepada satu-dua orang. Jadi Saudara-saudara, saya mohonlah, jangan terlalu terima kasih kepada Prabowo Subianto. Saya, ini kewajiban saya. Saya dipilih untuk bekerja untuk rakyat. Saya dibantu oleh tim yang hebat. Saya terima kasih. Ini adalah putra-putri terbaik Republik Indonesia.
Saudara-saudara,
Seorang pemimpin yang ingin berhasil, kuncinya adalah harus memilih tim yang hebat. Sama dengan sepak bola, sama. Tim sepak bola mau berhasil, harus dipilih tim yang hebat. Siapa kiper, siapa striker, siapa (pemain) tengah, siapa main pertahanan, siapa, yang terbaik harus kita pilih. Jangan lihat, Ini saudaranya siapa, ya, kan? Kanca-nya siapa, kroninya siapa, kroni, kanca, tapi enggak bisa strike, enggak bisa dapat gol, enggak bakal menang-menang kita, Saudara-saudara, kira-kira, ya. Enggak ditanya, orang tuanya siapa, sukunya apa, agamanya apa, enggak ditanya, enggak boleh kita tanya. Republik Indonesia dari Sabang sampai Merauke, ratusan suku bangsa, ratusan bahasa daerah, berbagai agama besar, berbagai ras yang besar, kita Indonesia harus bersatu, harus kompak. Dan ini, yang saya lihat, saya merasakan. Saya boleh bicara begini karena saya sudah satu tahun memimpin. Dalam satu tahun, saya kira kita sudah buktikan kepada rakyat. Banyak yang kita hasilkan untuk rakyat sebagai, sebagai satu tim yang kompak.
Jadi, Saudara-saudara,
Kuncinya adalah kekompakan, kerja sama, unity, persatuan. Dan, persatuan artinya harus setia. Setia kepada siapa? Jangan setia kepada orang. Kita harus setia kepada nilai-nilai, setia kepada tanah air, setia kepada bangsa, setia kepada rakyat, baru kita dapat hasil yang baik.
Saya percaya Saudara Maruarar Sirait memimpin dengan nilai, karena beliau juga datang dari keluarga pejuang, sama dengan Mas AHY, keluarga pejuang, Saudara-saudara. Kalau dari keluarga pejuang, masa mau khianati orang tua atau khianati kakeknya, khianati leluhurnya. Sama ini, mereka-mereka ini semua. Mereka semua adalah darah pejuang. Walaupun anak petani, petani itu pejuang. Petani memberi makan kepada tentara, tentara tidak dapat makan, tentara enggak bisa perang, Saudara-saudara. Jadi kemerdekaan Republik Indonesia dihasilkan oleh wong cilik, oleh petani-petani, oleh nelayan-nelayan, oleh kiai-kiai di pesantren, oleh guru-guru, itu cara kita mendapat kemerdekaan.
Jadi sekarang, hari ini, saya…yah, merasa gembira walaupun saya sadar, perjalanan masih jauh. Cita-cita kita masih jauh, 29 juta rakyat kita masih belum punya rumah. Jadi, Pak Ara (Maruarar Sirait) kerja keras, ya. Semua menteri, kita kompak. Kita cari jalannya, kalau ada kehendak, pasti ada jalan, Saudara-saudara.
Negara kita kaya tapi kita kadang-kadang harus koreksi diri, kadang-kadang kita kurang pandai mengelola kekayaan kita. Sekarang harus kita kelola dengan baik. Kita harus tegakkan hukum, tegakkan peraturan. Negara harus hadir, tapi negara juga harus bersih. Pemerintah harus bersih, pemerintah tidak bisa mengizinkan institusi-institusinya korup. Saya bertekad, berusaha, untuk membersihkan aparat, karena aparat adalah yang akan meneruskan, yang akan memberi pelayanan kepada rakyat. Kalau yang memberi pelayanan tidak baik, tidak jujur, saya kira kekayaan terus akan tidak sampai ke rakyat. Jadi, ini pelajaran dari semua negara, semua dunia. Ribuan tahun, pemerintah yang bersih, kunci kebangkitan suatu bangsa, kesejahteraan akan datang manakala pemerintah kita bersih, Saudara-saudara sekalian. Boleh kita anggarkan ratusan triliun, kalau itu tidak sampai ke rakyat, sangat sedih kita, sangat sedih kita, ya.
Tapi, saya terima kasih sekali lagi, saya didukung menteri-menteri yang setia kepada bangsa dan rakyat. Saya minta ke mereka, jangan setia kepada Prabowo. Prabowo datang, Prabowo bisa pergi, Prabowo manusia. Setia kepada Republik (Indonesia), setia kepada rakyat. Saya selalu cerita, beberapa bulan sebelum almarhum ayah saya meninggal, Profesor Soemitro (Djojohadikoesoemo), enggak tau apa, saya dipanggil. Dia hanya kasih satu pesan kepada saya, dia sudah di kursi roda, mungkin dia merasa akan dipanggil Tuhan, dia mengatakan, “Prabowo, kalau suatu saat, kamu berada dalam keadaan bingung dan ragu-ragu, ingat, selalu berpihak kepada rakyatmu.” Itu pesan beliau dan itu saya pegang. Tanya menteri-menteri, kalau dihadapkan dengan keputusan, keputusan cara bertindak A atau B atau C, saya selalu tanya, mana yang menguntungkan rakyat kecil. Kalau yang A ya A, jalankan, kalau B ya B, kalau C ya C. Karena, pendapat saya kira-kira sama dengan Ayah saya. Kalau orang yang kuat, ya dia sudah kuat, sudah, dia tahan banting, silakan. Tapi yang paling lemah, ini yang harus kita bela, ini yang harus kita berdayakan. Tapi yang disampaikan oleh Pak Ara, benar, kalau yang paling lemah ini berdaya, ya, dia akan hidupkan seluruh ekonomi, ya.
Saudara-saudara,
Makanya saya bertekad, kita, kita mampu menghilangkan kemiskinan, kita mampu. Saya sangat yakin, tapi kita harus berhenti, hentikan penyelundupan, hentikan penyelewengan, hentikan korupsi, hentikan segala bentuk tipu-menipu. Sudah lama kita jadi orang Indonesia, ya, kan, jangan markup-markup gila-gilaan, markup gila-gilaan sama dengan mencuri, Saudara-saudara sekalian, sama dengan mencuri. Jangan karena pakaian bagus, pintar ngarang-ngarang di kertas, mau ngakalin pemerintah, ngakalin rakyat.
Jadi, Saudara-saudara,
Sekali lagi, terima kasih semua pihak yang berhasil hari ini, prestasi luar biasa, 50.030 akad massal rumah subsidi. Dan ini, program ini dimulai dari Presiden SBY, diteruskan oleh Pak Jokowi, saya teruskan, saya tingkatkan. Tidak ada pembangunan bangsa yang tidak dilakukan pada periode yang panjang. Kita di sini karena Bung Karno, kita di sini karena Pak Harto, kita di sini karena semua pemimpin.
Saudara-saudara,
Harus kita sadari, ya, kita harus sekarang menjadi bangsa yang matang, bangsa yang dewasa, ya, kan. Demokrasi Indonesia harus demokrasi yang lebih hebat dari demokrasi di tempat lain. Demokrasi kita adalah bersaing. Sesudah bersaing, kerja sama. Siapa nomor satu, siapa nomor dua, ndak ada masalah, ya, kan. Saya enggak ada masalah. Si Doel jadi wagub di Betawi, benar, enggak? Ya, kan? Asal loe kerja untuk rakyat, ya enggak apa-apa. Mau merah, mau kuning, mau apa, yang penting kita semua kerja untuk rakyat, Saudara-saudara sekalian, ya. Nanti datang pemilu, pilkada, ya kita bersaing lagi, benar, enggak? Enggak ada masalah, Saudara-saudara, ya, kan. Itu bangsa yang dewasa, itu yang harus kita menuju ke situ.
Saya kira itu, Saudara-saudara. Ini, apa, staf saya bikin pidato bagus banget ini. Tapi tadi laporannya Ara (Maruarar Sirait) sudah begitu lengkap, benar enggak? Untuk apa saya ulang-ulangi lagi. Mau Saudara diulangi lagi, saya baca ini? Ha? Ada 18 paragraf ini. Intinya, saya terima kasih sama semua pihak. Terima kasih saya, penghormatan saya ini, negara yang kita idam-idamkan, negara Pancasila. Ada asisten rumah tangga bisa punya rumah dari gajinya sendiri, ya, kan? Ada guru, ada pengemudi ojek, ada, ini yang kita inginkan, Saudara-saudara. Dan, Pak Ara pikirkan para pengembang, ya, perbaiki kualitas rumah-rumahnya, ya, Saudara-saudara.
Terima kasih semuanya sekali lagi. Kita menatap masa depan dengan gagah berani. Pasti ada masalah, pasti ada tantangan, semua kita hadapi dengan baik. Bencana kita hadapi dengan kompak, bersatu semua, TNI, Polri, BNPB, Basarnas, pemda, semua bekerja, relawan, rakyat. Ada kontraktor yang mengatakan, jembatan, Pak, jembatan ini kalau saya, saya bangun satu bulan, kita mampu bangun tujuh hari. Mereka kerja siang-malam, kerja siang malam, PLN, Pertamina, desa-desa terpencil, kita antar pakai helikopter. Penerbang helikopter mempertaruhkan nyawa. Daerah situ bukan daerah yang gampang, kabut cepat turun. Tapi, memang kita bersyukur, sebetulnya, ya kita atasi nanti bencana, tapi daerahnya itu daerah yang sangat indah, sangat baik. Nanti saya minta stakeholder juga bupati, gubernur, saya akan kumpulkan, sekarang, nanti bagaimana caranya, rumah, kita bantu rakyat tapi kita juga harus menjaga kebersihan: kebersihan desa, kebersihan kecamatan, kebersihan kabupaten, kebersihan provinsi. Kota-kotanya harus bersih, harus asri, harus indah. Caranya bagaimana, nanti kita diskusikan. Jadi, kota-kota itu harus indah.
Saudara-saudara,
Salah satu penghasil devisa uang yang paling bagus adalah pariwisata. Bagaimana kita berharap wisatawan asing datang ke Indonesia, kalau kota-kota kita kumuh, kalau desa-desa kita tidak bersih. Jadi, ini nanti habis tahun baru, saya akan kumpulkan semua bupati, wali kota, dan gubernur, kita brainstorming, kita rembuk, kita kumpulkan juga rektor sama dekan-dekan. Kita cari. Saya berharap tiap provinsi, ibu kota, tiap ibu kota kabupaten, ada tim arsitektur. Panggil dari semua fakultas, arsitektur-arsitektur, bantu bupati, bantu wali kota, bantu gubernur. Bikin suatu master plan ibu kota provinsi, ibu kota kabupaten/kota, dan sebagainya. Bikin masterplan kota yang bersih, yang indah, yang sangat asri. Nanti, luar biasa dampaknya. Kita ubah Indonesia menjadi beautiful, the beautiful Indonesia, itu yang kita inginkan, ya. Rakyat kita harus senyum.
Saya diberitahu oleh salah satu guru saya. Tugas pemimpin sebetulnya sangat sederhana. Tugas pemimpin adalah membuat “wong cilik iso gemuyu”, orang kecil bisa ketawa dan senyum. Itu artinya mereka hidup layak. Terima kasih.
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Sekali lagi, terima kasih semua pihak yang bekerja keras sampai kita bisa menghasilkan 50.030 (akad massal unit KPR). Tapi jangan terlalu mitos harus angka 8.
Terima kasih. Selesai.
Merdeka!