Sambutan Presiden pada Penyerahan Uang Pengganti Kerugian Negara dalam Perkara Tindak Pidana Korupsi Pemberian Fasilitas Ekspor CPO dan Turunannya

 
bagikan berita ke :

Senin, 20 Oktober 2025
Di baca 712 kali

di Gedung Utama Kompleks Kejaksaan Agung RI, Jakarta


 

Bismillahirrahmanirrahim.

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Selamat siang,
Salam sejahtera bagi kita sekalian,
Syalom,
Salve,
Om swastiastu,
Namo buddhaya,
Salam kebajikan.

Yang saya hormati dan saya banggakan Jaksa Agung Republik Indonesia Prof. S.T. Burhanuddin, beserta seluruh jajaran Kejaksaan Agung yang saya banggakan;
Yang hadir Menteri Pertahanan Jenderal TNI (Purn.) Sjafrie Sjamsoeddin, Panglima TNI Jenderal TNI Agus Subiyanto, Menteri Keuangan Saudara Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Sekretaris Negara Saudara Prasetyo Hadi, Kepala Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Saudara Muhammad Yusuf Ateh;
Saudara-saudara sekalian, hadirin undangan serta rekan-rekan pres dan media yang saya hormati. 

Saudara-saudara,
Tentunya selalu tidak henti-hentinya kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah Swt., Tuhan Mahakuasa, Tuhan Mahabesar, atas segala kebaikan, karunia, kesehatan yang kita terima sehingga hari ini kita bisa hadir di Kejaksaan Agung untuk menghadiri suatu acara, walaupun simbolis tapi acara penting, yaitu Penyerahan Uang Pengganti Kerugian Negara Rp13.255.244.538.149.

Saudara-saudara,
Saya ucapkan terima kasih dan penghargaan kepada semua jajaran, terutama Kejaksaan Agung yang telah dengan gigih bekerja keras untuk bertindak melawan korupsi, manipulasi, penyelewengan.

Saudara-saudara,
[Dengan] Rp13 triliun ini kita bisa memperbaiki renovasi 8 ribu sekolah lebih, 8 ribu lebih sekolah. Kalau satu kampung nelayan, kita anggarkan Rp22 miliar, kampung untuk nelayan dengan fasilitas yang selama 80 tahun Republik Indonesia berdiri tidak pernah diperhatikan dan tidak pernah diurus oleh negara. Sekarang kita memperbaiki, kita membangun desa-desa nelayan dengan fasilitas modern. Rencananya sampai akhir 2026, kita akan dirikan 1.100 desa nelayan, tiap desa itu anggarannya Rp22 miliar. Jadi Rp13 triliun ini, berarti kita bisa membangun 600 kampung nelayan. Satu kampung nelayan itu kepala keluarganya 2.000, jadi kalau dengan istri dan anak tiga, itu 5.000 per desa. Kalau kali seribu itu 5 juta, 5 juta orang Indonesia bisa hidup layak. Itu kalau seribu, kalau 600 berarti 5 juta rakyat Indonesia.

Ini saya ibaratkan arti daripada uang yang nyaris hilang. Dan ini baru satu sektor, kelapa sawit, dan satu bentuk penyimpangan yaitu tidak diutamakan atau tidak dipatuhi kewajiban untuk menyediakan kebutuhan bangsa dan negara. Padahal ini adalah bumi dan air milik bangsa Indonesia, hasilnya diambil, dikeruk, dibawa ke luar negeri, rakyat dibiarkan kesulitan minyak goreng untuk berminggu-minggu. Ini sebetulnya menurut saya sangat kejam, sangat tidak manusiawi. Apakah ini benar-benar murni keserakahan atau ini bisa digolongkan subversi ekonomi sebenarnya. 

Jadi saya sampaikan penghargaan saya kepada Kejaksaan, terima kasih. Tapi saya ingatkan masih banyak tugas kita, masih banyak tambang yang ilegal, kerugian kita juga mungkin puluhan triliun kalau tidak ratusan triliun. Kegiatan-kegiatan ilegal sebagaimana dibuktikan oleh kita beberapa saat yang lalu dengan kita hentikan penyelundupan timah dan turunan-turunannya dari Bangka Belitung oleh Satgas Penertiban Kawasan Hutan dibantu oleh TNI secara masif dan lembaga-lembaga lain, Kejaksaan, polisi juga membantu, Bea Cukai semuanya. Itu kerugiannya juga cukup besar, diperkirakan kerugian itu 40 triliun setahun, dan ini sudah berjalan kurang lebih hampir 20 tahun. 

Jadi kita bisa bayangkan 30 triliun atau 40 triliun, katakanlah kita ambil angka rendahnya, katakanlah 20 triliun tiap tahun yang sebenarnya kurang lebih ya lembaga-lembaga internasional pun sudah mengkaji sekitar 3 miliar dolar setahun kerugiannya. Kalau dikali 20 tahun itu adalah 800 triliun. Apa yang bisa kita bangun, negara apa yang bisa kita bangun dengan hal-hal semacam itu. Ilegal tambang, ilegal komoditas-komoditas lainnya, dengan segala bentuk, cara dan modusnya. Ada under-invoicing, ada over-invoicing, intinya miss-invoicing, yaitu penipuan. Nipu kepada bangsa Indonesia yang sudah dengan begitu baik memberi fasilitas, memberi lahan, memberi HGU.

Jadi saya kira intinya itu, Saudara-saudara. Selamat atas pekerjaan ini. Jangan surut, jangan malas, jangan menyerah. Berbuatlah yang terbaik untuk bangsa, negara, dan rakyatmu, Saudara-saudara. Harta, apalagi didapatkan dengan cara yang mengorbankan rakyat kita, itu adalah harta yang haram, rezeki yang tidak baik, dan ujungnya pasti akan membawa ketidakbaikan kepada siapapun dan keluarganya. Saya sudah melihat terlalu banyak pejabat yang lengah atau lemah iman, lemah akhlak, melakukan tindakan dan akhirnya termasuk keluarganya yang menderita. 

Pengusaha-pengusaha pun saya ingatkan, dunia semakin sempit, bumi semakin kecil oleh teknologi dan peradaban, sehingga kalau Saudara menganggap, kalau mereka, para pengusaha-pengusaha serakah itu menganggap bisa menipu terus-menerus bangsa sebesar Indonesia, saya kira itu kita akan buktikan bahwa kita masih eksis, masih kuat, dan kita bertekad untuk menegakkan kedaulatan kita demi rakyat kita. 

Kita tidak ingin mencari-cari masalah, saya ingatkan terus Kejaksaan, Kepolisian, jangan kriminalisasi sesuatu yang tidak ada untuk motivasi apapun. Ini saya ingatkan karena juga kejaksaan termasuk lembaga yang harus koreksi diri juga. Di antara jaksa-jaksa di daerah-daerah saya dapat laporan, kita semua merasakan, ada juga yang melakukan praktik-praktik yang mungkin tidak benar atau kurang benar. Jangan mencari-cari perkara, apalagi terhadap orang kecil. Orang kecil, orang lemah itu hidupnya sudah sangat susah. Jangan diperberat oleh mencari-cari hal yang tidak perlu dicari. 

Saya ingat beberapa saat yang lalu, saya ingat benar ada anak SD, anak di bawah umur ditangkap karena mencuri ayam. Saya ingat benar itu. Ini tidak masuk di akal. Hakim, jaksa, ada apa ngejar… Anda pasti ingat peristiwa itu. Ada lagi ibu-ibu ditangkap mencuri pohon, mungkin ingat juga peristiwa itu. Ada apa? Penegak hukum harus punya hati, hanya punya hati. Jangan istilahnya tumpul ke atas, tajam ke bawah. Itu zalim, itu angkara murka, jahat. Orang kecil, orang lemah harus dibela, harus dibantu. Kalau perlu si hakim, si jaksa, atau si polisi, pakai uangnya sendiri ganti ayamnya, anaknya dibantu. Anak itu saya ingat, saya panggil ke Hambalang, saya kasih beasiswa.

Hal-hal semacam ini saya percaya sudah tidak terjadi lagi, saya berharap. Tapi ingat rakyat kita ini sekarang pandai dan sekarang ada teknologi. Kalau ada apa-apa mereka punya gadget. Yang repot laporannya selalu langsung ke presiden, itu yang capek. “Pak Prabowo begini…,” waduh, saya harus bereaksi. Karena itu rakyat kita, rakyat saya, saya harus membela mereka.

Saudara-saudara harus bantu saya menegakkan kebenaran, membela, membela yang lemah. Yang kuat, dia akan kuat. Tapi yang kuat, kalau melanggar hukum, ya kita adu kekuatan. Kuat negara atau kuat mereka. Jangan mereka kira Indonesia lemah. 

Saya kira itu dari saya, selamat. Dan marilah kita bersama-sama berjuang untuk menyelamatkan semua kekayaan bangsa Indonesia. Bangsa Indonesia sangat kaya, sangat kaya. Kalau kita bisa kelola dengan baik, kalau kita punya keberanian untuk kelola dengan baik, Indonesia akan cepat bangkit. Saya percaya itu, saya yakin itu.

Kebetulan ini pas satu tahun saya dilantik sebagai presiden. Jadi saya merasa ini, istilahnya, tanda-tanda baik. Di hari satu tahun, saya menyaksikan pemerintah Indonesia, Kejaksaan sebagai bagian dari pemerintah Indonesia, memperlihatkan dan membuktikan kepada rakyat kerja keras, kerja yang gigih, yang berani, sehingga bisa membantu negara menyelamatkan kekayaan. Ingat, kalau kita lihat ini, ini sama dengan 8 ribu sekolah kita perbaiki, 5 juta nelayan bisa hidup, 5 juta dengan uang yang ada di sini. Saya ini gereget, saya ingin kalau bisa kita kejar lagi itu kekayaan yang diselewengkan.

Terima kasih, selamat bekerja di atas jalan yang mulia.

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Salam sejahtera,
Syalom,
Salve,
Om santi santi santi om,
Namo buddhaya,
Terima kasih.