Sambutan Presiden pada Panen Raya Jagung Serentak dan Groundbreaking 10 Gudang Ketahanan Pangan Polri

 
bagikan berita ke :

Sabtu, 16 Mei 2026
Di baca 25 kali

di Kabupaten Tuban, Provinsi Jawa Timur

Bismillahirrahmanirrahim.

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Selamat siang,
Salam sejahtera bagi kita sekalian,
Syalom,
Salve,

Om swastiastu,
Namo Buddhaya, 
Salam kebajikan. 

Yang saya hormati dan saya banggakan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia sebagai tuan rumah dan penyelenggara Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo beserta seluruh jajaran Kepolisian Republik Indonesia yang hadir;
Menteri Koordinator Pangan Saudara Zulkifli Hasan yang saya hormati; 
Ketua Komisi IV DPR RI Saudari Siti Hediati Soeharto yang saya hormati; 
Para menteri, Panglima TNI, Kepala Badan, para wakil menteri serta anggota Kabinet Merah Putih yang hadir, yang saya tidak akan sebut namanya satu persatu tanpa mengurangi rasa hormat karena sudah sering saya sebut hari ini.

Tanpa mengurangi rasa hormat karena mereka-mereka adalah kunci, adalah tim, tim kita, tim saya yang bersama-sama kita sedang bekerja keras untuk memimpin negeri ini, mengendalikan negeri ini, menjaga negeri ini, menjaga rakyat kita, menjaga semua kekayaan rakyat kita. Dan, karena itulah saya bersyukur mendapat bantuan dari menteri-menteri, wakil menteri, kepala badan, dari panglima-panglima saya, dari Kapolri, Wakapolri, jenderal-jenderal polisi. Tentara dan polisi itu kalau lancar dan aman dianggap biasa saja, kalau tidak beres dicaci maki, itulah nasibnya aparat, nasibnya abdi masyarakat. Tidak apa-apa, itulah tugas kita. Karena itu, kita harus bekerja keras supaya semuanya aman, tertib, dan lancar. Aman dan tertib lancar suatu negara sangat ditentukan oleh pangan. 

Saya tidak punya gelar banyak-banyak, saya tidak punya gelar tinggi-tinggi, hanya saya orang yang suka belajar. Saya belajar sejarah, saya belajar bernegara, dan hal yang saya dapatkan adalah bahwa tidak mungkin suatu negara bertahan survive tanpa produksi pangan yang lancar, yang aman, yang berkesinambungan. Bukan sekali panen bagus, besok-besoknya tidak bagus. 

Jadi, Saudara-saudara, hari ini saya berterima kasih. Oh, belum selesai tadi ya yang terhormat-terhormat ini. Minta maaf, saya terlalu semangat. 

Gubernur Jawa Timur yang saya hormati, aduh ini salah aku ini, ya maklumlah ya. Jadi, Saudara Khofifah Indar Parawansa beserta jajaran Forkopimda Jawa Timur seluruhnya;
Bupati Tuban Saudara Aditya Halindra Faridzky. Aditya Halindra, bukan Partai Gerindra. Halindra, Gerindra, nama agak mirip. Semua partai itu baik. Kalau kita bernegara, semua partai ada yang baik, ada yang tidak baik. Kita berjuang supaya yang baik itu lebih banyak, yang tidak baik sedikit. 

Para tokoh masyarakat, tokoh agama yang saya hormati, terutama para kelompok tani, para petani yang saya hormati, yang saya banggakan. Para penyuluh pertanian, para ibu-ibu tani, saya merasa dekat dengan para petani karena saya cukup lama menjadi Ketua Umum HKTI. Yang sekarang saya diganti oleh ketua umum yang sekarang adalah Wakil Menteri Pertanian ya. Pak Sudaryono. 

Saudara-saudara, 
Kenapa saya dekat dengan petani? Karena saya dulu komandan pasukan, komandan pasukan tempur. Kita kalau mau berangkat operasi tempur, yang kita cek bukan peluru. Kita cek peluru, tapi kita cek dulu ada beras enggak? Kalau ada beras kita hitung, berasnya kuat untuk berapa hari. Kalau berasnya untuk lima hari, ya lima hari kita operasi. Kalau berasnya 14 hari, 14 hari kita operasi. Bayangkan, Saudara-saudara, kalau enggak ada beras. Kalau enggak ada beras, tentara itu juga susah dia beroperasi. Makanya di tentara kita diajarkan survival. Kalau enggak ada makanan, kita cari makanan sendiri. Dan, sejarah bangsa mengajarkan kepada kita bahwa waktu kita perang kemerdekaan, dulu tuh enggak ada APBN. Enggak ada APBN, tentara enggak ada gajinya. Polisi enggak ada gajinya. Enggak ada surat keputusan. Jadi, ada enaknya juga dulu ya. Kita kalau lagi semangat, kumpulin anak buah, kasih pangkat ke diri kita sendiri. Aku pantasnya jadi kolonel, tahu-tahu diturunin besok harinya. 

Saudara-saudara, 
Waktu itu, para petani yang dukung tentara dan polisi. Sewaktu saya masih muda, sekarang sih jiwanya masih muda. Tapi, dulu waktu saya masih usia muda sebagai letnan, bahkan sebagai taruna, kalau saya latihan di kampung-kampung, rakyat desa, rakyat kampung keluar memberi makan kepada kita, memberi minum kepada kita, padahal mereka hidupnya sangat susah. Mereka punya pisang, pisang dikasih. Mereka punya ubi, ubi dikasih. Mereka punya tiwul, ya tiwul dikasih. Tiwul itu makanan Jawa Tengah, Banyumas. Di sini ada tiwul Jawa Timur? Ada? Namanya tiwul juga, ya? Dari Singkong. Jadi, itulah sejarah bagaimana saya semakin sadar waktu itu pentingnya para petani, para nelayan. Para petani dan para nelayan adalah produsen makan untuk seluruh bangsa dan negara.

Karena itu, setiap mereka yang ingin untuk melihat negara dan bangsa kita langgeng harus, harus, harus fokus dan memperhatikan masalah pangan ini. Karena itu, saya terima kasih tim pertanian, tim pangan saya sangat baik, sangat kuat, dipimpin Menteri Pertanian, Wakil Menteri Pertanian, Kepala Badan, Bulog, Adrinas, semuanya. Dan, didukung oleh Panglima TNI, didukung oleh Kapolri jajarannya. Dan, saya katakan bahwa TNI kita, tentara kita adalah tentara rakyat, dan polisi kita adalah polisi rakyat. Kita bukan hanya tentara profesional. Ya, profesional penting dari segi kemampuannya. Kita tidak semata-mata polisi profesional. Saudara-saudara para bhayangkara, Saudara harus jadi polisinya rakyat, harus sangat dekat dengan rakyat. Tentara juga demikian. Karena itu, masalah swasembada pangan ini tidak mungkin kita capai tanpa dukungan dari semua pihak, dari para gubernur, para bupati, para camat, para kepala desa, para gapoktan, dari perum-perum, BUMN-BUMN yang mendukung pupuk Indonesia, yang menghasilkan benih, juga semua BUMN yang mendukung dan akhirnya TNI dan Polri di tingkat lapangan. 

Jadi, saya hari ini sangat gembira diundang di tempat ini. Hari ini saya melihat peran Polri luar biasa dan di sini saya kira adalah karena leadership, kepemimpinan. Kalau bagus, ya kita harus akui bagus. Kalau baik, kita akui baik. Dan, dalam organisasi, kalau organisasi baik, berarti pemimpinnya baik. Ya, kan? Kalau tim kesebelasan sepak bola, kalau menang, ya manajernya baik, ya kan? Pelatihnya baik, kapten kesebelasannya baik, bener enggak? Kontrak diperpanjang. Bener, kan? Kalau enggak beres, copot. Sederhana, bener enggak? Ini namanya hidup, Saudara-saudara. Jadi, jangan kau pengin jadi kapten kesebelasan sepak bola, kalah, kalah, kalah, pengin diperpanjang terus. Ya, enggak. Menteri Pertanian umpamanya, ya kan? Kalau enggak bisa swasembada pangan, ya. Ternyata, saya kasih target empat tahun, satu tahun bisa. Waduh. Bingung saya. Akhirnya, terpaksa saya kasih bintang. Bintang jasa utama, ya. Kasih bintang. Bukan hari pahlawan, bukan 17 Agustus, kasih bintang. Kalau dia berhasil tahun ini lagi, gimana kasih bintang lagi. Bintang kelas apa lagi? Ternyata saya lihat Polri ini berprestasi, berprestasi. Kapolri belum pernah menerima Bintang Mahaputra, belum ya? Nanti, Presiden Prabowo yang kasih bintang. Panglima TNI, belum terima juga kau? Presiden Prabowo memberi. Jadi, ini takdir. Yang belum-belum, aku yang berikan. Ya, kan? Tapi capainya juga yang enggak beres-beres, gue yang harus meresin juga nih, Saudara-saudara.

Jadi, ya itu namanya hukum bernegara, hukum organisasi. Berhasil, komandannya bagus. Waktu di pertempuran ya, di sejarah, banyak sejarah termasuk sejarah Indonesia. Waktu perang dulu, batalyon-batalyon tuh ya ada nomornya ada. Tapi dulu terkenalnya tuh komandannya, Batalyon Sarwo Edi, Kompi Sarwo Edi, Batalyon Ahmad Yani, Batalyon Kemal Idris, dulu begitu kalau berhasil. Kalau enggak berhasil, copot. 

Ini saya lihat. Pak Listyo ini berhasil ya, gimana. Aku mau ngomong apa, ya kan? MBG aku lihat hebat, paling bersih. Tertib. Ini bukan saya sok muji-muji lho. Aku pelit juga tuh kalau kasih penghargaan, tapi saya ingin objektif. Habis itu, jagung. Dua kali ya kau undang saya panen raya? Tiga kali. Sudah tiga kali, ketiga ini. Habis itu, ada ini, ada pameran stand-stand gitu, ya kan? Dan, ada selalu bukti inovasi, inovasi, inovasi. Ya, bagaimana? Aku, saya gembira, bukan saya pura-pura. Saya lega. Kenapa? Karena dunia krisis energi, negara-negara panik. Tapi, sekarang saya dikasih tahu, “Pak, tenang. Kita bisa bikin briket arang dari tongkol jagung.” Waduh, luar biasa! Tadinya tongkol itu dibuang, ya, sekarang bisa jadi sumber energi. Luar biasa, ya. Terima kasih, Kapolri. Terima kasih, Polisi. Polisi RI, kalian sering dicaci maki. Sedikit-sedikit Polri begini, Polri begitu. Benar, enggak? Minta reformasi. Tapi, kalian sekarang buktikan.

Ini saya bukan memuji-muji sekali lagi, tapi benar. Di tengah krisis, Indonesia punya program-program yang inovatif. Yang tidak kenal menyerah, yang berani mencari ilmu, karena kalian dekat sama rakyat. Kalian dekat. Kalian dekat sama kampus. Kalian dekat sama insinyur, sarjana-sarjana itu, makanya kalian tahu. Ini luar biasa. Maaf. Briket arang dari tongkol ini nanti, ya saya setuju miracle. Miracle ini. Orang lain boleh tegang. Wah, ini banyak ada warga negara asing disini juga ya, mereka tahu juga nanti kita punya rahasia-rahasia ini. Tapi dia tidak bisa bahasa Indonesia, tidak apa-apa. Jangan diterjemahkan, ya. Biar dia meraba-raba saja itu, dia berharap dia mengerti. Nanti dia catat-catat itu, briket, arang. Arang. Apa itu arang? Nanti dia buka Chat GPT. Aku keliru juga undang-undang mereka. Dia tahu nanti temuan-temuan kita, ya. Wis, tidak apa-apa. Demi kemanusiaan, kau boleh nyontek di Indonesia.

Saya senang, saya lihat pemipil. Saya lihat pengering, pengering mobil. Luar biasa. Terima kasih, Saudara-saudara. Ini, ini pekerjaan prestasi pengabdian yang strategis. Saya tidak main-main. Pangan adalah strategis. Apapun yang kau buat untuk mengamankan dan meningkatkan produksi pangan kita itu berarti anda mengamankan masa depan kita, kedaulatan kita, Saudara-saudara. Tadi juga pupuk dari batu bara, ini juga luar biasa. Ini mukjizat juga, menurut saya. Pupuk, kalori rendah. Kita bisa bikin batu bara, kalori rendah, kita bisa bikin pupuk. Luar biasa. Nanti ini campur dengan yang NPK, yang kita biasa. Kalau bisa dengan yang yang inovatif juga dari nabati, iya kan? Pupuk dari nabati, apa namanya, organik. Begitu kita lepas dari ketergantungan pupuk dari luar negeri, kita menjadi sangat-sangat kuat, Saudara-saudara. Dan, saya minta ini ya diimplementasi. Konsep temuan bagus kalau tidak bisa kita wujudkan, nah itu kuncinya di situ.

Tadi kita baru resmikan Koperasi Merah Putih, nanti ini bisa dimanfaatkan. Koperasi Merah Putih bisa menyalurkan tadi arang briket dari tongkol, bisa juga nanti menyalurkan pupuk dari batu bara dan sebagainya. Kuncinya kita harus beri bahan yang penting untuk rakyat dengan harga semurah-murahnya, semurah-murahnya, supaya rakyat kita daya belinya meningkat kehidupannya lebih baik. Kualitas hidupnya lebih baik. Kita bertekad untuk memperbaiki seluruh sekolah Indonesia untuk anak-anak rakyat kita. Kita bertekad semua anaknya orang yang paling lemah bisa sekolah dengan baik, kita bangun sekolah rakyat. Kalau tidak salah di Tuban sudah ada sekolah rakyat, akan kita tingkatkan jumlahnya dan kemampuannya. Kita akan bikin sekolah-sekolah unggulan dan sekolah-sekolah terintegrasi, dan semua sekolah akan kita perbaiki, dan semua ruang kelas akan kita memberi layar-layar digital yang paling muktahir supaya ilmu nanti seluruh desa, seluruh rakyat Indonesia kemampuannya sama. Akses terhadap ilmunya sama di ujung paling terluar atau di kota yang paling besar.

MBG akan kita teruskan, tapi kita harus tertibkan ke dalam. Tidak boleh ada penyelewengan. Karena MBG begitu penting, begitu strategis untuk rakyat. Dengan Koperasi Merah Putih, MBG, Desa Nelayan ditopang oleh kemampuan pertanian kita, ditopang oleh perikanan kita. Produksi pangan kita aman, aman karbohidrat, aman protein, aman ternak, jagung strategis untuk pakan ternak. Jadi, kedaulatan kita terjaga dan diamankan.

Saya kira itu dari saya. Saya tiga kali hari ini, saya kira cukup pesan-pesan saya tersampaikan. Terima kasih, Kepolisian Indonesia. Terima kasih prestasimu, groundbreaking 10 Gudang Ketahanan Pangan, ditambah yang 18 sudah kau bangun. Luar biasa. Launching Operational 166 SPPG baru, juga terima kasih. Sehingga, Saudara nanti akan berperan penting, totalnya nanti 1.500 SPPG. Saya kira demikian dari saya.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Yang ditunggu-tunggu kan ini ya, kalau belum ada wassalam belum selesai itu. Jadi, kalau sudah wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, wah ini sudah selesai. Tapi, belum selesai total, kan. Mau lanjut?

Salam sejahtera bagi kita sekalian,
Syalom,
Salve,
Om santi santi santi om,
Namo Buddhaya,
Salam kebajikan,
Rahayu rahayu. 

Selesai.