Bismillahirrahmanirrahim.
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Selamat pagi,
Salam sejahtera bagi kita sekalian,
Syalom,
Salve,
Om swastiastu,
Namo Buddhaya,
Salam kebajikan.
Yang saya hormati, Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia, Saudara Ahmad Muzani;
Para Menteri, Panglima TNI, Kapolri, Kepala Badan, Wakil Menteri, dan seluruh anggota Kabinet Merah Putih yang hadir hari ini, Menko Politik dan Keamanan Jenderal TNI (Purn.) Djamari Chaniago, Menteri Sekretaris Negara Saudara Prasetyo Hadi, Menteri Luar Negeri Saudara Sugiono, Menteri Lingkungan Hidup yang sekaligus adalah Ketua Umum Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI), Menteri Ketenagakerjaan Profesor Yassierli, Menteri Perlindungan Pekerja Migran Indonesia Saudara Mukhtarudin, Menteri Pertanian Saudara Andi Amran Sulaiman, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Saudari Arifah Fauzi, Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo, Panglima TNI Jenderal TNI Agus Subiyanto, Kepala Staf Kepresidenan Jenderal TNI (Purn.) Dudung Abdurachman, Kepala Badan Komunikasi Pemerintah Saudara Muhammad Qodari; Wakil Menteri Ketenagakerjaan Saudara Afriansyah Noor.
Gubernur Jawa Timur Saudari Khofifah Indar Parawansa, Bupati Kabupaten Nganjuk Saudara Marhaen Djumadi;
Para pimpinan konfederasi serikat pekerja, Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI) Saudara Andi Gani Nena Wea, Presiden Konfederasi Serikat Buruh Seluruh Indonesia (KSBSI) Saudari Elly Rosita Silaban, Ketua Umum Konfederasi Persatuan Buruh Indonesia Saudara Ilhamsyah.
Yang saya hormati, Dirut BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan;
Yang saya hormati, perwakilan organisasi-organisasi perserikatan buruh yang hadir; Yang saya hormati, perwakilan dari International Labour Organization (ILO), thank you very much for attending;
Yang saya banggakan, para buruh pabrik, para pekerja bangunan, para pengemudi becak, para buruh tani, buruh perikanan, dan para pekerja buruh dari seluruh Indonesia yang hadir dan di manapun Anda berada;
Oh, iya, ini dibisikin, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI). Hadir, Bapak K.H. Anwar Iskandar, saya terima kasih;
General Secretary ITUC-AP (International Trade Union Confederation – Asia Pacific), Mr. Shoya, terima kasih. Ini banyak sekali ada, ada 38 ketua-ketua afiliasi. Perlu saya sebut satu-satu? Tidak perlu. Nanti tersinggung, enggak, ya? Awas, ya, kalau tersinggung, enggak. Tanpa mengurangi rasa hormat saya, semuanya.
Saudara-saudara sekalian,
Sebagai insan yang bertakwa, marilah kita tidak henti-hentinya memanjatkan puji syukur ke hadirat Allah Swt. Tuhan Mahabesar, Tuhan Mahakuasa, yang memiliki sekalian alam. Hanya kepada-Nya lah, kita berdoa dan hanya kepada-Nya lah, kita meminta pertolongan. Kita bersyukur atas segala karunia, kebaikan, kesehatan, dan kedamaian yang masih diberikan kepada kita sebagai bangsa dan sebagai manusia.
Kita dapat berkumpul pada pagi hari ini di Kabupaten Nganjuk untuk melaksanakan peresmian sebuah museum yang didedikasikan untuk mengingat perjuangan buruh. Ini adalah saya kira mungkin peristiwa yang langka. Mungkin di seluruh, ya, belum pernah ada? Museum buruh, belum ada? Luar biasa. Jadi, rupanya mungkin di seluruh dunia baru sekarang ada museum buruh. Tapi, tolong dicek, mungkin pasti ada, lah. Tapi kita, ini peristiwa langka.
Saudara-saudara yang saya hormati dan saya banggakan, khususnya seluruh kaum buruh di seluruh tanah air,
Saya kira museum ini didirikan sebagai lambang, sebagai simbol, dan sebagai tonggak peringatan untuk memperingati keberanian seorang pejuang. Seorang pejuang muda, seorang pejuang perempuan yang berjuang untuk hak-hak kaum buruh. Perjuangan tersebut adalah lambang dari perjuangan semua mereka-mereka yang berada di pihak yang lemah. Orang-orang miskin, orang-orang yang tidak punya kekuasaan, orang-orang yang tidak punya kekuatan.
Saudara-saudara,
Mungkin bangsa, generasi sekarang dari bangsa kita mungkin perlu ingat bahwa mendirikan sebuah negara, mendirikan suatu bangsa adalah suatu usaha yang panjang, usaha yang penuh kesulitan, penuh tantangan. Dan, kita juga harus mengerti bahwa dalam bernegara, terjadi berbagai falsafah bernegara. Sesungguhnya, peristiwa Marsinah yang dibunuh secara keji karena memperjuangkan kaum buruh pabrik suatu perusahaan, sesungguhnya sama sekali tidak perlu terjadi. Karena negara kita, kita dirikan dengan falsafah dasar Pancasila. Itu adalah kecemerlangan pendiri bangsa kita, dan itu tertera dalam Undang-Undang Dasar kita, dalam pembukaannya, dan itu adalah konsensus, kesepakatan.
Kita bisa bersatu antara lain karena Pancasila. Ratusan suku bangsa yang berbeda-beda, bahasanya daerah berbeda-beda, agama berbeda-beda, ras berbeda-beda, kita bisa bersatu. Kita hadapi penjajah, luar biasa. Pemenang Perang Dunia II, Inggris kembali untuk membuka jalan Belanda untuk berkuasa kembali. Kita hadapi, kita hadapi Jepang, kita hadapi berbagai usaha dari negara-negara besar untuk memecah Indonesia. Sejarah sekarang membuka bahwa pemberontakan-pemberontakan itu disponsori oleh kekuatan-kekuatan besar di dunia. Dalam Pancasila, itu tertera jelas-jelas, selain memang, ya, sila-sila 1, 2, 3, 4, sila kelima keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Jadi, sebetulnya, kalau ini dipahami bahwa kita ini negara kekeluargaan.
Dalam Pasal 33 (UUD 1945) juga disebut bahwa perekonomian kita disusun atas dasar, atas asas kekeluargaan, yang kaya harus narik yang miskin, yang kuat bantu yang lemah, ini kekeluargaan.
Buruh adalah anak-anak bangsa. Tani, petani adalah anak bangsa, nelayan anak bangsa, semuanya. Para pemimpin, para politisi, para birokrat, hanya petugas, hanya penerima mandat, hanya mereka yang diberi kepercayaan untuk mimpin semuanya. Apalagi aparat, apalagi tentara dan polisi. Aparat, tentara, polisi, anak bangsa diseleksi, dibiayai, digaji oleh rakyat, diberi makan oleh rakyat, diberi sepatu oleh rakyat, diberi topi oleh rakyat, diberi pangkat oleh rakyat. Karena itu, sebenarnya, kalau dasar bernegara ini dipikirkan dan diresapi, tidak perlu. Dan, alhamdulillah ini terjadi di masa lalu, kita perbaiki.
Saya bersyukur, saya mendapat kehormatan pada saat saya jadi presiden, kawan-kawan buruh datang ke saya, minta, kenapa tidak ada pahlawan nasional dari buruh. Dan, saya kembalikan, mana calon saudara-saudara.
Kalau kaum buruh, kalau sepakat mengajukan calon, saya akan angkat jadi pahlawan nasional. Dan, mereka kembali ke saya, mereka satu suara, semua organisasi buruh sepakat, Ibu Marsinah sebagai pahlawan nasional. Dan, saya mendapat kehormatan untuk jadikan beliau sebagai pahlawan nasional. Dan, waktu itu mereka lagi minta, ini buruh mintanya banyak sekali, ya, kan. “Pak, Bapak harus resmikan Museum Marsinah di Nganjuk”, “Baik, saya datang”. Tentukan tanggalnya lagi, Mei 1 kan, Hari Buruh internasional, May Day, di Monas, mintanya tanggal 2 (Mei), harus tanggal 2. Waduh, saya tanya Mensesneg, “gimana acara?”, akhirnya dapat hari ini, tanggal 16 Mei 2026.
Tadi jam berapa saya sampai di sini? Oh, sekarang jam sembilan, ya? Oh, sekarang setengah sepuluh, 9.30, kita hitung-hitung dulu jamnya. Jadi, 16 Mei itu kebetulan ulang tahun kakek saya, Pak Margono Djojohadikoesoemo. Dan, dari dulu, beliau selalu memperjuangkan koperasi. Jadi habis ini, saya akan ke peresmian Koperasi Desa dan Kelurahan Merah Putih seluruh Indonesia. Kita akan resmikan seribu lebih koperasi hari ini.
Kembali ke 16 Mei. Jadi 16, 1 sama 6, 7. Mei bulan 5, 7 tambah 5, 12. 1 sama 2, 3. Nah, 2026 itu [angkanya ditambahkan], 10, iya, kan? Jadi, 3 tambah 10, jadi 13 jadinya. Memang kebetulan 13 itu salah satu angka kebaikan untuk saya, 13. Tapi tadi rencananya, sebenarnya, saya ke sini harusnya, jam berapa? Pokoknya, kalau bisa jumlahnya 8 begitu, lo. Atau 13? Tidak. Yang penting, saya datang memenuhi janji saya.
Saya tadi melihat, saya melihat kamarnya beliau tidak diubah. Saya lihat perjuangan beliau, ya, dan saya prihatin dengan peristiwanya. Bahwa ada seorang atau seorang pimpinan, ada seorang pimpinan pengusaha yang punya pemikiran-pemikiran yang jahat demi, demi keuntungan yang besar, ini tidak sesuai dengan dasar berdirinya republik kita. Karena itu, sekarang pun saya mimpin, saya ingin tegakkan Undang-Undang Dasar kita. Saya ingin tegakkan Pancasila, bahwa Indonesia ini negara kekeluargaan.
Kepada para pengusaha, saya mengajak, ayo bersama-sama menjadi Indonesia incorporated. Indonesia incorporated sebetulnya artinya adalah negara kekeluargaan. Jadi, semua bangsa ini satu korporasi. Semua bangsa ini. Artinya, seluruh rakyat Indonesia adalah pemegang saham dalam seluruh kekayaan bangsa Indonesia. Semua rakyat Indonesia berhak atas kekayaan tersebut. Dan, semua pemimpin bertanggung jawab di setiap lapisan untuk memperjuangkan ini dengan semua kekuatan dan keberanian yang ada pada dirinya. Bukan sebaliknya. Bukan pemimpin, bukan pejabat, bukan mereka yang dipilih, malah berkolusi untuk menghilangkan hak rakyat atas kekayaan seluruh Indonesia, Saudara-saudara sekalian, ini perjuangan kita bersama.
Sekali lagi, tidak benar bahwa saya antimekanisme pasar bebas. Saya tidak antimekanisme pasar bebas. Hanya saya mengerti bahwa pasar bebas bisa diselewengkan. Orang, orang miskin suruh bersaing sama mereka pemodal yang sangat besar. Suruh bersaing, ya enggak bisa, tidak mungkin itu. Di sini, negara kekeluargaan. Di sini, negara Pancasila. Pemerintah harus bersikap. Pemerintah harus intervensi. Pemerintah harus membela rakyat yang paling miskin. Kalau bahasa asingnya, bahasa kerennya, itu namanya affirmative action. Kalau mereka bisa affirmative action, kenapa kita tidak affirmative action untuk membela rakyat kita. Ya, jadi kita, kita terbuka. Ayo, sama-sama, ya.
Ini perjuangan kita bersama dan ini lambangnya adalah Ibu Marsinah, ya. Dan, akhirnya, kita dapat sedikit, sedikit langkah kecil untuk menegakkan keadilan, ya. Menegakkan keadilan. Kita harus memperbaiki semua kondisi bangsa dan kita tidak boleh, kita tidak boleh tidak jujur kepada diri kita sendiri. Kita harus sadar kekurangan kita. Kita harus menjaga marwah lembaga-lembaga hukum. Hakim-hakim kita harus, harus hakim yang adil dan baik dan bersih.
Karena itu, saya punya kehormatan, tahun lalu saya naikin gaji hakim. Hakim yang paling junior saya naikin hampir 300 persen, 280 persen. Dan, sekarang di seluruh ASEAN, kita diakui, hakim-hakim kita gajinya sudah lompat, sudah menyalip Malaysia. Hakim-hakim paling junior kita, gajinya sudah dua kali hakim-hakimnya Malaysia. Ketua Mahkamah Agung kita sudah menyalip take home pay dari Ketua Mahkamah Agung Singapura. Lumayan. Tapi kita terus harus memperbaiki, ya. Kita terus harus memperbaiki. Para hakim kita, pengadilan kita adalah lembaga terakhir. Lembaga terakhir, rakyat bisa menuntut keadilan, terutama rakyat yang paling lemah.
Karena itu, mari kita bersama-sama memperbaiki. Tetapi, seluruh aparat lainnya juga harus memperbaiki diri. Kejaksaan, kepolisian, tentara harus koreksi diri. Harus menghilangkan penyelewengan dan korupsi dari tubuh masing-masing. Saya ulangi. Seluruh aparat harus memperbaiki diri. Harus membersihkan diri. Harus berani koreksi. Jangan justru aparat yang di belakang penyelewengan, aparat yang backing penyelewengan. Aparat yang backing penyelundupan, backing narkoba, backing judi, backing illegal ini, illegal itu, illegal ini. Jangan sampai begitu, Saudara-saudara sekalian. Saya mengimbau, saya mengimbau atas nama rakyat. Jadilah tentara rakyat, jadilah polisi rakyat, yang dicintai rakyat.
Dan, ini sudah dirintis oleh pimpinan TNI dan pimpinan kepolisian. Saya lihat, saya ditanya, saya diejek di negara-negara lain. Jadi, saya memang kenyang diejek, enggak apa-apalah, biar aja. Paling diejek, iya, kan? Rakyat yang susah, lebih menderita tiap hari. Kalau aku diejek, ah, ya, enggak. Saudara-saudara, mereka, gimana kok, polisi ngurus jagung? Kok, tentara ngurus sawah? Ya inilah, saya katakan TNI adalah tentara rakyat, polisi kita harus jadi polisi rakyat. Dan ini yang sedang dirintis oleh pimpinan-pimpinan kepolisian sekarang.
Saudara-saudara sekalian,
Tapi harus terus kita koreksi diri. Saya geleng-geleng kepala, sedih saya, bahwa tiap hari saya dapat laporan pejabat-pejabat yang nyeleweng. Saya sedih. Orang yang saya angkat, orang yang saya bina, orang yang saya kasih kehormatan, diberi jabatannya penting. Begitu dia menjabat, nyeleweng, nyuri uang rakyat. Bagaimana? Apa yang harus saya buat?
Kepala BPKP (Badan Pemeriksaan Keuangan Pemerintah), datang ke saya, agak gemetar. Heran saya, kenapa stres dia dulu. Karena yang dia laporkan, diketahui lah, bahwa itu beberapa orang itu, dekat sama saya. Jadi dia minta petunjuk, apa boleh diteruskan, enggak, pemeriksaan. Karena dia tahu, ini dekat sama presiden. Dia lihat saya, hati-hati, “coba lihat, masalahnya apa?”, “Bagaimana Pak, petunjuk?” Teruskan pemeriksaan. Tidak ada, enggak ada, mau orang Prabowo, bukan orang Prabowo, dekat sama saya, ya enggak ada urusan. Kalau ada indikasi, terus periksa. Justru kalau diberi kehormatan, harus lebih hati-hati dan lebih jaga, ya. Bukan diberi wewenang kepercayaan, malah merasa adigang, adigung, adiguna, merasa di atas, dan merasa negara ini bodoh.
Saudara-saudara,
Saya heran kalau hari gini, masih ada yang nyoba-nyoba, ya. Apa itu, di, di aparat, ya. Saya heran. Sekarang ada digital, ya. Ada macam-macam, sekarang. Pasti ketahuan, deh. Saya sedih. Di ujung puncak karir, yang paling saya sedih adalah nanti anak dan istrinya. Tapi saya katakan, jawaban saya kepada BPKP, Anda boleh chat, tanya beliau, Pak Ateh, tanya beliau. “Jadi, bagaimana, Pak?”, “Teruskan, tidak ada.” Siapapun, begitu menjabat jabatan negara, jabatan berarti tanggung jawabnya kepada negara dan rakyat. Sudah enggak ada lagi. Enggak ada. Saya sendiri katakan, mau partai saya sendiri, Gerindra, cek, sudah berapa yang diproses dan ditahan? Tidak. Justru harus memberi contoh, ya. Apakah dia jenderal atau mantan jenderal? Harus memberi contoh. Dulu kamu jago perang, ya sekarang buktikan ke rakyat, bahwa kamu selesaikan karir kamu dengan tetap kehormatan. Bukan. Enggak, ini saya sampaikan karena saya, ya, kalau saya dapat laporan, ya, kan, apa yang harus saya buat? Nanti geremeng-geremeng, sakit hati, ya, kan. Suruh kembaliin yang dia dapat secara tidak halal, enggak mau, ya sudah. Kamu urusan sama kejaksaan sana, saya serahkan.
Jadi, Saudara-saudara, hari ini terima kasih saya diundang ke sini. Saya waktu itu masih muda, ya, waktu itu. Saya dengar-dengar peristiwa di Jawa Timur tapi saya tidak mendalami. Akhirnya hari ini saya baru sadar, baru paham, ya, kolusi aparat dipakai oleh kapitalis-kapitalis tertentu. Dan ini, budaya ini tidak boleh kita teruskan. Semua aparat dari yang tertinggi sampai yang terendah, harus mati untuk rakyat, bukan malah menindas rakyat. Saya tidak mau dengar lagi, Panglima TNI, Kapolri, saya tidak mau dengar lagi ada aparat ya, yang tidak menegakkan hukum keadilan dan kebenaran. Tidak boleh backing-backing macam-macam.
Negara kita kaya, harus kita amankan kekayaan tersebut untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Saya bertekad, saya percaya, dan saya yakin dalam waktu yang tidak terlalu lama, kita akan bangkit. Sekarang saja sudah terbukti. Sekarang sudah terbukti, banyak negara yang kesulitan, yang panik karena perang di Timur Tengah, Selat Hormuz ditutup. Dua puluh persen BBM dunia lewat Selat Hormuz. Berarti pupuk terpengaruh karena banyak pupuk berasal dari minyak dan gas, gas. Pupuk dari urea, ya, urea sangat dibutuhkan.
Sekarang saya dapat laporan dari Menteri Pertanian, banyak negara minta pupuk dari Indonesia. Kita tidak euforia, kita tidak sombong, tapi kita berada sekarang di pihak yang bisa memberi bantuan. Australia minta tolong kita, kita jual ke Australia, 500 ribu ton urea ke Australia. Filipina juga minta ke kita, kemudian India minta ke kita, Bangladesh minta ke kita, ya, Brazil minta ke kita. Perintah saya, bantu semua. Juga banyak negara sekarang mau beli beras dari kita, Saudara-saudara sekalian. Bayangkan, kalau kita tidak swasembada, kalau kita tidak buru-buru beresin masalah pertanian. Terima kasih semua pihak, untung kita punya Menteri Pertanian yang hebat, ya. Karena dia memang anaknya petani. Memang dia mukanya aja hitam kayak gitu, ya. Kalau enggak hitam, saya curiga, dia di sawah terus. Tiap saya telepon, ada di sini, ada di situ, enggak apa-apa. Ini Menteri yang hebat, terima kasih. Timnya juga hebat, wakilnya juga hitam kayak dia, gitu. Anak petani juga ngerti, jadi enggak bisa dibohongi.
Saya terima kasih, Panglima TNI, juga TNI turun membantu. Polri, saya terima kasih. Polisi juga luar biasa mendukung proses ini. Jagung, kemudian gudang-gudang, kemudian ratusan dapur MBG. Mungkin yang terbaik itu, polisi sekarang yang terbersih, ya. Memang ilmu pemimpin itu kalau ada dua anak buah, kita harus bikin bersaing, gitu. Jadi, kalau ada Panglima TNI, saya puji-puji polisi, gitu. Nanti kalau ada Kapolri, saya puji-puji TNI. Jadi mereka keluar dari ruangan saya, kan, wah. Itu, itu ilmu komandan itu, ya, kan, jadi membuat…menteri-menteri kan, juga.
Saudara-saudara,
Ini kenapa saya diminta sambutan? Kalau saya dikasih sambutan, podium, bisa enggak berhenti-berhenti ini, wah. Tapi pintar panitia, enggak ada kopi, enggak dikasih kopi, gitu, lo.
Saudara-saudara,
Terima kasih. Saya terima kasih. Dan, percayalah kaum buruh, ya, percayalah semuanya. Paham saya adalah paham pendiri bangsa kita, ya. Jadi, Saudara-saudara, sebetulnya saya yang banyak belajar dari ajaran-ajarannya Bung Karno. Jadi, maaf, Bung Karno bukan milik satu partai. Bung Karno adalah milik seluruh bangsa Indonesia. Bung Karno, Bung Hatta, milik seluruh rakyat Indonesia, semuanya. Sjahrir, semua. Dan, kita, di situ kehebatan kita, kalau kita mau hebat, kalau kita mau maju, ya. Jadi kita, ambil kekuatan dari semua pihak. Itu dahsyat, Indonesia itu.
Makanya, Saudara-saudara, banyak kawasan sedang perang. Indonesia bebas-aktif, seribu kawan terlalu sedikit, satu lawan terlalu banyak. Kita hormati semua. Suatu saat, saya terima Perdana Menteri Fiji di Istana Merdeka. Saya terima, kunjungan resmi. Dia masuk ke kantor saya, sesudah upacara [penyambutan], di depan wartawan, dia keluar air mata, dia bilang, “Yang Mulia, saya, selama saya jadi Perdana Menteri di Fiji”, dia, cukup lama dia jadi Perdana Menteri di Fiji, “Saya, belum pernah menerima penerimaan seperti ini, saya sangat terharu, kenapa? Karena negara saya sangat kecil”, negara dia hanya satu juta orang, tapi kita perlakukan sama dengan negara yang besar.
Itulah Indonesia, bahwa kita hormat. Ajaran kita, ajaran kiai-kiai kita, ajaran orang tua kita, adalah hormat kepada orang tua. Hormat kepada guru. Hormat kepada tamu. Itu, kan, yang diajarkan kepada kita, ya, itu. Itulah budaya Indonesia, kita hormat. Dan kita, tidak mau ada musuh, makanya saya canangkan begitu saya jadi Presiden, politik luar negeri Indonesia adalah politik bebas-aktif, nonblok, dan Indonesia ingin menjadi tetangga yang baik. We want to be the good neighbor, and our policy is “the good neighbor” policy.
Jadi, saya perbaiki hubungan sama Singapura. Perjanjian-perjanjian yang belasan tahun tidak diselesaikan, kita selesaikan. Dengan Vietnam, kita selesaikan. Pak Jokowi [dan] saya, kita selesaikan semua. Sama Tiongkok, kita perbaiki. Alhamdulillah, sekarang di Natuna tidak sering terjadi ribut. Sama Malaysia, saya berusaha, insyaallah kita selesaikan semua itu dengan baik. Sama PNG (Papua New Guinea), kita baik. Sama Australia, kita baik. Semua tetangga. Sama Thailand, kita baik. Saudara-saudara, karena saya jalankan apa yang diberikan oleh pendiri-pendiri bangsa kita,
Jadi, saya yakin sekarang ada yang selalu entah apa, saya enggak mengerti, ya. Sebentar-sebentar, Indonesia akan kolaps, akan keos, akan apa. Rupiah begini, dolar begini. Orang, rakyat di desa enggak pakai dolar, kok, iya, kan. Pangan aman, energi aman, ya. Banyak negara panik, Indonesia masih oke. Kita banyak, banyak yang diberikan oleh Yang Maha Kuasa. Tapi, nah, ini, para unsur pimpinan yang harus, harus setia kepada NKRI. Bukan rakyat, rakyat pasti setia, enggak ada pilihan. Ini banyak unsur pimpinan, teriak-teriak NKRI, tapi enggak jelas. Begitu punya kekuasaan, tidak berpihak kepada bangsa sendiri, tidak berpihak kepada rakyat Indonesia.
Saya kira itu dari saya, ya, masih ada dua lagi acara hari ini. Tapi, terima kasih. Sekarang apa? Tanda tangan, ya? Iya. Oh iya, saya tutup dulu, ya. Belum ditutup.
Dan, dengan mengucap bismillahirrahmanirrahim, pada pagi hari ini, Sabtu, 16 Mei 2026, saya, Prabowo Subianto, Presiden Republik Indonesia, dengan ini, meresmikan Museum Ibu Marsinah dan Rumah Singgah di Kabupaten Nganjuk, Provinsi Jawa Timur.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.