Sambutan Presiden pada Penyerahan Denda Administratif Rp10,27 Triliun dan Lahan Kawasan Hutan 2,73 Juta Hektare

 
bagikan berita ke :

Rabu, 13 Mei 2026
Di baca 33 kali

Di Kompleks Kejaksaan Agung RI, Kota Administrasi Jakarta Selatan, Provinsi DKI Jakarta


Bismillahirrahmanirrahim.

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Selamat siang,

Salam sejahtera bagi kita sekalian,

Syalom,

Salve,

Om swastiastu,

Namo Buddhaya,

Salam kebajikan.

Yang saya hormati Jaksa Agung Republik Indonesia sebagai penyelenggara Profesor ST. Burhanuddin beserta seluruh jajaran Kejaksaan Agung yang hadir, Plt. Wakil Jaksa Agung Republik Indonesia Profesor Asep Nana Mulyana, Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus Saudara Febrie Adriansyah, Jaksa Agung Muda Intelijen Profesor Reda Manthovani, Jaksa Agung Muda Pembinaan Saudara Hendro Dewanto, Jaksa Agung Muda Pengawasan Saudara Rudi Margono, Jaksa Agung Muda Perdata dan Tata Usaha Negara Profesor Narendra Jatna, Jaksa Agung Muda Pidana Militer Mayor Jenderal TNI Saudara Mokhamad Ali Ridho;

Yang saya hormati Ketua Komisi I Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI mewakili pimpinan DPR RI Saudara Utut Adianto Wahyuwidayat, para Menteri/Kepala Badan, Panglima TNI, Kapolri, para Utusan Khusus Presiden, serta seluruh anggota Kabinet Merah Putih yang hadir: Menteri Pertahanan Jenderal TNI (Purn.) Sjafrie Sjamsoeddin, Menteri Sekretaris Negara Saudara Prasetyo Hadi, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Saudara Bahlil Lahadalia, Menteri Keuangan Saudara Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Lingkungan Hidup Saudara Jumhur Hidayat; Menteri Agraria dan Tata Ruang Saudara Nusron Wahid, Menteri Ketenagakerjaan Profesor Yassierli, Menteri Transmigrasi Saudara Muhammad Iftitah Suryanegara, Panglima TNI Jenderal TNI Agus Subiyanto, Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo, Kepala Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan Saudara Muhammad Yusuf Ateh, Sekretaris Kabinet RI Saudara Teddy Indra Wijaya, Kepala Badan Pengaturan BUMN/COO Danantara Saudara Dony Oskaria; Wakil Menteri Kehutanan Saudara Rohmat Marzuki Taufik, Utusan Khusus Presiden Bidang Pembinaan Generasi Muda dan Pekerja Seni Saudara Raffi Ahmad, Plt. Kepala Badan Informasi Geospasial Saudara Mohamad Arief Syafi’i;

Yang saya hormati seluruh anggota Satuan Tugas Penertiban Kawasan Hutan (PKH) h adir di sini Kepala Staf Umum TNI sebagai pelaksana Satuan Tugas PKH Letnan Jenderal TNI Richard Tampubolon, Kabareskrim Polri Wakil Ketua II Pelaksana Tugas PKH Komisaris Jenderal Syahardiantono, para pimpinan perusahaan BUMN yang hadir, para undangan, serta rekan-rekan pers yang saya hormati dan saya banggakan.

Wah, ini banyak sekali ini nama-namanya. Saya kira tanpa mengurangi rasa hormat, saya langsung saja kepada inti sambutan saya.

Sekali lagi, sebagai insan yang bertakwa, marilah kita tidak henti-hentinya memanjatkan puji syukur ke hadirat Allah Swt., Tuhan Mahakuasa, Tuhan Mahabesar, yang memiliki sekalian alam, hanya kepada-Nya lah kita berdoa dan hanya kepada-Nya lah kita meminta pertolongan. Kita bersyukur atas segala karunia, atas kesehatan, kedamaian, dan segala kebaikan yang masih diberikan kepada kita, sehingga pada siang hari ini kita dapat berkumpul di Kejaksaan Agung Republik Indonesia untuk melaksanakan acara Penyerahan Dana Administratif Sebesar Rp10,2 Triliun dan Diserahkannya Lahan Kawasan Hutan Sebesar 2.373.000 Hektare.

Saudara-saudara sekalian,

Sekali lagi adalah suatu kehormatan bagi saya dan juga suatu kebahagiaan untuk hadir dalam acara ini. Saya kira ini adalah acara yang kesekian kali, sudah keberapa kali ini, ya? Keempat kali, ya? Keempat kali dengan total penyerahan, berapa? Rp40 triliun, kurang lebih, ya. Saya senang kalau diundang terus acara begini, tiap undangan lihat secara fisik Rp10 triliun.

Saya juga dapat bisikan bulan depan akan ada penyerahan Rp11 triliun katanya, ya. Dan, saya juga dapat laporan bahwa juga ada kurang lebih Rp39 triliun, uang-uang yang tidak jelas para koruptor atau para kriminal itu mungkin entah sudah lari dari Indonesia atau sudah meninggal, uangnya ketinggalan, di rekening-rekening enggak jelas, ya, kan. Mungkin dia banyak istri muda atau peliharaan-peliharaan, jadi istri-istrinya, ahli warisnya enggak tahu bahwa dia punya uang di bank-bank tersebut. Sudah sekian tahun tidak diurus, ya, saya katakan kalau sudah sekian tahun tidak diurus dan sudah satu tahun kita umumkan-umumkan-umumkan, enggak ada yang datang, ya, sudah pindahin untuk rakyat, ya. Jadi tahun depan kurang, bulan depan ini bukan tahun depan, bulan depan kurang lebih akan ada Rp49 triliun.

Dan, saya harus katakan bahwa sekali lagi, saya atas nama negara dan bangsa, atas nama pemerintah, atas nama seluruh rakyat Indonesia, saya menyampaikan terima kasih kepada seluruh anggota Satuan Tugas Penertiban Kawasan Hutan (Satgas PKH).

Saya kira, Saudara-saudara, acara-acara seperti ini, jangan kita anggap hanya ceremony atau show, tapi pandangan saya, keyakinan saya, bangsa Indonesia, rakyat Indonesia, sudah pada tahap bahwa rakyat kita ingin melihat bukti. Sudah terlalu lama saya merasakan, ya, sudah terlalu lama, karena saya sendiri juga sudah cukup lama jadi orang Indonesia, saya merasakan rakyat kita ini agak bosan kalau dengar sambutan-sambutan, wejangan-wejangan, itu yang pengalaman saya. Jadi rakyat kita harus lihat, ini, lo, uang hari ini Rp10 triliun.

Saya baru keliling beberapa daerah terpencil, dapat laporan dari Menteri Kesehatan, “Pak, kita punya 10 ribu puskesmas, sejak zamannya Pak Harto, 30 tahun, puskesmas tersebut belum pernah diperbaiki.” Sepuluh ribu. Saya bilang, “Kau butuh uang berapa untuk perbaiki 10 ribu [puskemas]?” “Kira-kira satu puskesmas Rp2 miliar, jadi kita butuh kurang lebih Rp20 triliun.” Saudara-saudara, hari ini artinya kita bisa selesaikan lima ribu puskesmas, Rp10 triliun. 

Kalau bulan depan benar yang masuk Rp10 triliun lagi dari Satgas, plus Rp39 triliun dari PPATK, berarti Rp49 triliun, berarti semua puskesmas dengan mudah kita perbaiki. Sekolah-sekolah yang belum diperbaiki, bisa segera kita perbaiki. Di APBN tahun lalu kita sudah perbaiki 17 ribu sekolah, tahun ini sedang kita perbaiki 70 ribu sekolah, tahun depan kita akan perbaiki 100 ribu, tahun depan lagi 100 ribu, dan tahun depannya lagi kita juga selesaikan nanti semua, madrasah dan sebagainya akan kita perbaiki. Semuanya kita perbaiki dengan uang-uang yang kalau tidak kita selamatkan uang-uang tersebut akan hilang dimakan para koruptor, dan para maling-maling, dan perampok-perampok tersebut.

Jadi, Saudara-saudara, sekali lagi pekerjaan yang Saudara-saudara laksanakan, dilaksanakan oleh Satgas PKH, Kejaksaan, Kepolisian, TNI, BPKP, PPATK, semuanya ini sekarang kita buktikan kepada rakyat bahwa kita bertekad untuk mengamankan dan menyelamatkan kekayaan negara, di manapun itu berada. Bumi dan air, dan semua kekayaan alam yang terkandung di dalamnya itu, itu perintah Undang-Undang Dasar 1945 harus dikuasai negara. Ini bukan gagasannya Prabowo Subianto, ini bukan sesuatu yang kita karang, ini adalah perintah pendiri-pendiri bangsa Indonesia. 

Dan, marilah kita sebagai generasi penerus, marilah kita, hai anak-anak muda, marilah kita jujur kepada orang tua-orang tua kita. Marilah kita paham dan mengerti dari mana kita berasal. Bapak-bapak kita, kakek-kakek kita dijajah ratusan tahun, dihina, ditindas, diperbudak, diperlakukan lebih rendah dari anjing, hidup dalam kesulitan, kemelaratan, kemiskinan.

Kita tidak mau rakyat kita terus-menerus hidup dalam kemiskinan. Kita tidak mau terus-menerus menderita. Kita harus memperjuangkan supaya mereka hidup dalam keadilan, dalam kesejahteraan. Bagaimana kita mau hidup sejahtera kalau kekayaan kita diambil tiap hari? Mengalir keluar, tidak tinggal di Republik Indonesia.

Saudara-saudara sekalian,

Perjuangan ini adalah perjuangan yang mulia, yang suci, kita berada di jalan yang benar. Kita menyelamatkan masa depan Indonesia. Kita menyelamatkan anak-anak dan cucu-cucu kita. Kita tidak memandang kita berasal dari suku mana, agama mana, golongan mana, partai mana. Kita semua adalah anak-anak Indonesia. Dan, Indonesia sekarang, sebagaimana setiap kelompok manusia, rakyat Indonesia, dalam hatinya akan menentukan sikap, akan memilih berada di pihak yang benar atau berada di pihak yang merampok kekayaan, yang mencuri kekayaan, yang merampas hak-hak rakyat, rakyat Indonesia akan menentukan sikap. Dan, kita mengerti bahwa mereka paham, bahwa mereka menyaksikan tiap hari kekayaan Indonesia dicuri, diambil. Ini harus berhenti dan kita akan berjuang keras untuk hentikan itu dengan segala risiko.

Saya paham Satgas PKH bukan satgas yang sekarang disukai. Banyak yang tidak suka sama kalian, yaitu bandit-bandit perampok itu enggak suka sama kalian. Ya, tinggal kamu, kamu takut sama mereka atau kamu bela rakyat, tergantung kamu. Tapi, saya lihat prestasi kalian. Empat kali saya diundang atas nama rakyat, Saudara menyetor. Padahal ini baru sekelumit kekayaan yang berhasil kita selamatkan, perjuangan masih susah, masih ratusan triliun, masih ribuan triliun yang harus kita selamatkan.

Pertanyaan nanti banyak pihak, apakah bisa? Jawabannya adalah bukan apakah bisa, jawabannya adalah harus bisa. Ini bukan masalah mau tidak mau, ini bukan masalah kita cari popularitas, bukan. Ini bukan, oh, pemerintah Prabowo sok populer, tidak. Ini adalah masalah survival. [Sebanyak] 287 juta rakyat Indonesia tidak mungkin hidup baik, hidup sejahtera kalau kekayaannya diambil tiap hari, tiap minggu, tiap bulan. Kelapa sawit kita di ekspor, hasil ekspornya tidak ditaruh di Indonesia. Batu bara kita dijual, diekspor, hasil ekspornya tidak taruh, tidak ditaruh di Indonesia. Penjualan timah, penjualan emas, penjualan semua itu datanya ada, faktanya ada. Perjuangannya berat tapi kita melaksanakan dengan berani, dan dengan optimis, dan dengan kemajuan, ya, dengan kemajuan.

Saudara-saudara,

Saya kira saya tidak akan panjang lebar, tapi ini semua adalah bukti kepada rakyat. Dan, saya kira di hari-hari yang akan datang kita juga akan terus memberi bukti ke rakyat dan akan melaporkan ke rakyat langkah-langkah yang kita ambil. Kita akan ambil langkah-langkah yang tegas. Tadi kita disampaikan bahwa tidak ada pilihan lain, ya. Kita harus tegakkan hukum, kita harus meyakinkan bahwa negara hadir. Dan, negara hadir dan negara akan hadir terus. Dan, NKRI akan kuat, NKRI akan bangkit lebih hebat lagi. Itu keyakinan saya, keyakinan saya, fakta [dan] data ada di kita.

Saudara-saudara sekalian,

Yang Mahakuasa telah memberi karunia yang luar biasa kepada kita. Bulan-bulan akan datang, kita akan buktikan ke rakyat sampai tahun depan. Saudara-saudara, saya kira dunia akan kaget bangkitnya bangsa Indonesia. Kita jangan euforia, kita tidak boleh sombong. Ilmu nenek moyang kita semakin berisi, semakin menunduk, ya. Jangan takut diancam, jangan takut dihina, jangan takut difitnah. Kita difitnah, kita dihina, kita diejek karena kita ditakuti. Kita ditakuti, karena kita menegakkan kebenaran dan keadilan, Saudara-saudara sekalian.

Mereka yang membela kebenaran dan keadilan, mereka mulia. Kalaupun kita gugur, janganlah pernah takut gugur karena itu satu-satunya kepastian di dunia ini. Kita pasti akan dipanggil oleh Maha Kuasa, tinggal kapan dipanggil. Dan Saudara-saudara, panggilannya itu tidak nomor urut, tidak dengan asas senioritas, tidak, ya. Yang di belakang-belakang jangan senyum-senyum. Enggak apa-apa, ya, kan? Biasanya orang yang sangat baik itu yang dipanggil duluan, iya? Benar, enggak? Benar?

Tapi selama kita masih dikasih nafas, kita akan, kita akan berjuang di atas kebaikan dan kebenaran. Ini memang tidak gampang. Ini saya paham, ini mudah diucapkan, saya paham, saya paham. Saya mengerti jenderal-jenderal, pejabat-pejabat, menteri-menteri, saya tahu, saya tahu gaji kalian kecil, relatif. Tapi dibandingkan rakyat yang paling miskin, Saudara-saudara, ya. Jadi jangan lihat ke atas, lihat mereka yang lebih susah dari kalian.

Saya harus cerita begini, karena saya ada suatu kepuasan minggu lalu, Ketua Mahkamah Agung ketemu saya dan beliau sampaikan ke saya, beliau habis rapat ketua-ketua Mahkamah Agung se-ASEAN. Kemudian, Ketua Mahkamah Agung Malaysia sampaikan ke Ketua Mahkamah Agung Indonesia. Dia sampaikan, “Yang Mulia, saya salut sama Indonesia.” Dia bilang, “Pertama kali gaji hakim Indonesia di atas gaji hakim Malaysia.” Dan, gaji hakim paling junior Indonesia, ceritanya, ya, yang paling junior sudah hampir dua kali gaji hakim paling junior Malaysia. Karena pemerintah yang saya pimpin salah satu, salah satu langkah kita pertama adalah menaikkan gaji-gaji hakim kita hampir 300 persen. Saya maunya 300 persen, tapi Menteri Keuangan hanya setuju 280 persen. Oke, lah. Tapi, kita sudah lompat.

Kemudian Ketua Mahkamah Agung Indonesia, Profesor Sunarto, ya, laporkan lagi ke saya, “Pak, Ketua Mahkamah Agung Singapura juga sampaikan ke saya. Selamat, Yang Mulia, penghasilan Anda sekarang, penghasilannya Ketua Mahkamah Agung Indonesia sudah di atas penghasilannya Ketua Mahkamah Agung Singapura.” Disampaikan. Dalam hati, oke juga kita ini, ya. Kenapa? Karena saya percaya dan yakin masalah korupsi, masalah ketidakadilan itu harus, harus diselesaikan di yudikatif. Karena itu hakim-hakim kita harus kita hormati, harus dipilih dengan baik, dan harus dikasih penghasilan yang cukup supaya hakim-hakim kita tidak bisa disogok.

Saya juga sudah instruksikan Menteri Perumahan Rakyat untuk membuat rumah jabatan untuk semua hakim. Karena, ternyata walaupun penghasilannya sudah naik signifikan, uang saku untuk rumah satu bulan untuk gaji, untuk rumah kalau tidak salah satu setengah juta rupiah. Padahal hakim itu juga penugasan, kadang-kadang harus di kabupaten ini, kadang-kadang harus pindah ke provinsi ini.

Jadi kita sekarang dan hakim itu kurang lebih hanya ada sekitar 8.900, jadi saya kira mampu kita untuk memberi rumah jabatan yang layak, ya. Akhirnya, Ketua Mahkamah Agung menyampaikan ke saya, “Pak terima kasih perhatian Bapak kepada hakim-hakim, tapi ternyata, Pak, di pengadilan-pengadilan kami masih punya petugas-petugas lain, panitera belum naik, Pak, gaji mereka. Habis itu ada staf, ada tata usaha.” Ya, ya, ya, oke, saya mengerti, saya paham. Menteri Keuangan cari uang untuk semua petugas-petugas pengadilan harus juga naik gajinya, ya.

Dan, cabang-cabang lain dari pemerintahan jangan, jangan iri sama yudikatif. Kita harus bikin yudikatif kita tempat rakyat mendapat keadilan. Dan, itu saya pesankan kepada Ketua Mahkamah Agung, saya pesankan kepada semua hakim, hakim-hakim, ingat putusan-putusanmu akan dinilai oleh rakyat, putusan-putusanmu akan dipelajari. Dan, masyarakat kita dan rakyat kita sudah tidak bodoh, mereka akan lihat, mereka akan merasakan ketidakadilan. Jadi, yudikatif kita, kita perbaiki. Kemudian, eksekutif yang lain kita juga akan perbaiki semuanya. 

Kalau kekayaan negara bisa kita kendalikan, akan cukup banyak uang untuk kita perbaiki semua sendi-sendi NKRI, Saudara-saudara sekalian. Nyatanya sekian puluh tahun puskesmas tidak diperbaiki, kita perbaiki dalam dua tahun ini, semua puskesmas kita perbaiki. Berapa puluh tahun sekolah-sekolah tidak diperbaiki, kita perbaiki semua sekolah Indonesia dalam tiga tahun ini, kita perbaiki semuanya. Berarti apa? Uangnya ada. Tinggal alokasi, tinggal jeli, tinggal rajin, tinggal awasi supaya tidak terjadi penipuan, kebohongan, fraud. Sudah terlalu pintar upaya-upaya bohong dan menipu.

Saya sedih kadang-kadang, saya monitor Menteri Pertanian keliling, uang yang kita sudah alokasikan, kita sudah gelontorkan untuk benih-benih yang bagus, mungkin si petugas mengira tidak akan diperiksa, dicari benih yang tidak bagus. Ini, ini dosa, dosa kemanusiaan. Kalau benih tidak bagus, hasil tanaman tidak bagus, bagaimana kita mau sejahtera? Jadi memang kondisi seperti itu, kalau kita mau menegakkan kebenaran, kadang-kadang kita harus keras, keras dalam menegakkan disiplin, Saudara-saudara sekalian.

Saudara-saudara,

Saya kira cukup. Terus-menerus saya koordinasi sama menteri-menteri, ya, dan sedikit demi sedikit kita akan perbaiki. Contoh yang sudah kita putuskan, bahwa buku bunga dalam program Permodalan Nasional Madani, ya, PNM Mekaar (Membina Ekonomi Keluarga Sejahtera), itu yang, apa itu, kredit super mikro. Kredit super mikro, Rp2 juta, Rp3 juta, Rp5 juta, Rp10 juta, mereka dikenakan bunga 24 persen. Padahal pengusaha-pengusaha besar kalau ke bank mungkin dapat sepuluh persen, sembilan persen. Iya, Pak Rosan? Hah? Berapa, sembilan persen? Hah? Sembilan? Bayangkan, orang kaya dikasih sembilan persen, orang miskin 24 persen. Ini negara Pancasila, saya ndak paham.

Saya kumpul Menteri Keuangan, kumpul menteri-menteri ekonomi, kumpul dengan Danantara, ya, saya instruksikan, ini keputusan politik saya sudah ambil, bahwa bunga untuk Permodalan Nasional Madani, untuk kredit keluarga prasejahtera, dari 24 persen kita turunkan harus di bawah 10 persen, harus di bawah sembilan persen. Harus di bawah sembilan persen. Danantara bisa? Bisa? Berapa persen? Berapa, delapan persen? Kamu sengaja pilih angka delapan, kau ini. Kenapa enggak tujuh persen? Ya sudah, pokoknya harus di bawah sembilan persen, ya. Masa orang miskin bayar bunganya lebih besar dari orang kaya?

Terus-menerus kita akan pelajari, di mana sistem kita lemah, di mana kekurangan kita perbaiki. Patokan kita adalah Pancasila dan Undang-Undang Dasar ‘45, dan tidak hanya slogan. Kita mau wujudkan situasi yang sebenarnya.

Sekali lagi, terima kasih, Satgas PKH. Terus berjuang, terus laksanakan tugas muliamu demi kemakmuran rakyat, ya. Semua pejabat dari semua K/L cari jalan untuk perbaiki sistem, kurangi ketidakefisiensi, permudah perizinan, jangan persulit. Pengusaha-pengusaha juga mengeluh, mereka mau bekerja dan mereka mau investasi, tapi kadang-kadang nunggu izin itu satu tahun, dua tahun. Sedangkan di negara lain dua minggu. Kita harus mengacu kepada negara tetangga, kalau mereka bisa keluarkan izin dalam dua minggu, kenapa kita dua tahun? Regulasi sederhanakan. Kecenderungan regulasi adalah inisiatif dari birokrat-birokrat untuk, terus terang saja saya sampaikan, untuk cari peluang. Ada yang nanti minta kickback, minta uang supaya izinnya dipercepat keluar. Sudah kita sederhanakan, ada K/L-K/L yang bikin lagi peraturan menteri, peraturan teknis, peraturan ini, ya, Saudara-saudara.

Mensesneg, saya minta nanti dikumpulkan pakar-pakar, bikin satgas khusus untuk mempercepat deregulasi. Sederhanakan, ya, jangan persulit, para pengusaha harus dibantu, harus didukung. Yang nakal kita tertibkan, tapi yang baik, yang benar-benar mau bekerja, ya, harus dibantu. Banyak investor juga dari luar negeri mengeluh, di Indonesia sering perizinannya lama sekali dan banyak sekali, Saudara-saudara sekalian, ya. Perizinan kadang-kadang ada yang enggak masuk akal. Saya monitor, ya, masalah impor, kalau tidak salah gas, ya, untuk rumah sakit. Dipersoalkan ini, itu, ini, itu, akhirnya, akhirnya supply gas kita sangat tipis untuk rumah sakit, hanya soal izin-izin.

Saya kira itu yang ingin saya sampaikan. Selamat berjuang, selamat bekerja, dan sampai jumpa bulan depan. Semua pihak sekarang kita benahi diri kita, kita perbaiki diri kita semuanya. Percaya, sebentar lagi uang kita cukup, ya. Nyatanya hanya dengan alokasi begini-begini kita sudah bisa berbuat banyak, dan kita akan berbuat lebih dari sini.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Salam sejahtera bagi kita sekalian,

Syalom,

Salve,

Om santi santi santi om,

Namo Buddhaya,

Salam kebajikan.

Merdeka! 

Terima kasih.