Sambutan Presiden pada Peresmian Operasionalisasi 1.061 Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih di Wilayah Jawa Timur dan Jawa Tengah

 
bagikan berita ke :

Sabtu, 16 Mei 2026
Di baca 27 kali

di Koperasi Desa Merah Putih Desa Nglawak, Kecamatan Kertosono, Kabupaten Nganjuk, Provinsi Jawa Timur

Bismillahirrahmanirrahim.

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Selamat siang,
Salam sejahtera bagi kita sekalian,
Syalom,
Salve,
Om swastiastu,
Namo Buddhaya,
Salam kebajikan.

Para pimpinan lembaga negara Ketua Majelis Permusyawaratan Indonesia Saudara Ahmad Muzani, Ketua Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia Saudara Sultan Bachtiar Najamudin beserta anggotanya yang hadir, Ketua Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia Saudara Siti Hediati Hariyadi beserta Wakil Komisi IV dan anggota DPR RI lainnya yang hadir, Menko Pangan selaku penyelenggara beserta seluruh tim yang terlibat Saudara Zulkifli Hasan, Wakil Panglima TNI Jenderal TNI; 
Oh ini timnya ya, nomor urut saja ya: para Menko, Menteri, Panglima TNI, Kepala Badan, Wakil Menteri, Utusan Khusus, dan seluruh anggota Kabinet Merah Putih yang hadir. Hampir semua menteri hadir terkecuali yang izin khusus karena ada kegiatan lain;
Menko yang hadir selain Menko Pangan, Menko Politik dan Keamanan Jenderal TNI (Purn.) Djamari Chaniago, Menko Hukum, Hak Asasi Manusia, Imigrasi dan Pemasyarakatan Profesor Yusril Ihza Mahendra, Menko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Profesor Pratikno, Menko Pemberdayaan Masyarakat Saudara Abdul Muhaimin Iskandar, Menko Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Saudara Agus Harimurti Yudhoyono, Panglima TNI Jenderal TNI Agus Subiyanto, Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo, Gubernur Jawa Timur Saudari Khofifah Indar Parawansa beserta jajarannya dan Forkopimda Jawa Timur, Pangdam, Kapolda dan pimpinan lainnya;
Yang saya hormati para Bupati, Wakil Bupati yang hadir, para pimpinan perusahaan BUMN, Ketua Umum Kadin, pimpinan perusahaan swasta yang hadir, dan Saudara-saudara sekalian, para Kepala Desa, Lurah, dan para perangkat desa dan kelurahan yang berkenan hadir. Terima kasih; 
Seluruh hadirin undangan dan rekan-rekan pers media yang hadir.

Saudara-saudara sekalian,
Ini daftar pejabat yang hadir, panjang sekali ini, ini jumlahnya cukup banyak, 56, 67, 67 nama. Tanpa mengurangi rasa hormat saya, menteri-menteri enggak usah saya sebut, ya? Kalian sudah hafal, ya? Kepala badan, iya, tapi kalau anggota DPR RI saya enggak berani, enggak.
Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Saudara Abdul Kharis, Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Saudara Alex Indra Lukman, Wakil Ketua Komisi VI DPR RI Saudara Eko Hendro Purnomo; anggota Komisi VII DPR RI Saudara Muhammad Hatta, anggota Komisi VII DPR RI Saudara Sigit Purnomo Syamsuddin Said, anggota Komisi X DPR RI Saudara Verrel Bramastya. 
Pangdam V Brawijaya Mayor Jenderal TNI Rudy Saladin, Kapolda Jawa Timur Irjen. Pol. Nanang Avianto, Kepala Kejaksaan Tinggi Jawa Timur Saudara Abdul Qohar;

Bupati-bupati yang hadir banyak sekali ini;
Bupati Pamekasan Kyai Haji Kholilurrahman, terima kasih; 
Bupati Banyuwangi Saudari Ipuk Fiestandani, terima kasih; 
Bupati Bondowoso Saudara Abdul Hamid Wahid, terima kasih. Ini sekalian, sekalian apa, absen; 
Bupati Situbondo Saudara Yusuf Rio Wahyu Prayogo, Bupati Jember Saudara Muhammad Fawait, Bupati Gresik Saudara Fandi Akhmad Yani, Bupati Malang Saudara M. Sanusi; Bupati Nganjuk Saudara Marhaen Djumadi, Bupati Pacitan Saudara Indrata Nur Bayuaji, Plt. Bupati Ponorogo Saudari Lisdyarita, Bupati Probolinggo Saudara Mohammad Haris, Bupati Sidoarjo Saudara Subandi, Bupati Trenggalek Saudara Mochamad Nur Arifin, Plt. Bupati Tulungagung Saudara Ahmad Baharudin, Bupati Madiun Saudara Hari Wuryanto, Wali Kota Surabaya Saudara Eri Cahyadi, Wali Kota Mojokerto Saudari Ika Puspitasari, Wali Kota Kediri Saudari Vinanda Prameswati, Wali Kota Malang Saudara Wahyu Hidayat, Plt. Wali Kota Batu Saudara Heli Suyanti, Wali Kota Blitar Saudara Syauqul Muhibbin, Plt. Wali Kota Madiun Saudara Bagus Panuntun; Wakil Bupati Magetan Saudara Suyatni Priasmoro, Wakil Bupati Sumenep Kyai Haji Imam Hasyim, Wakil Bupati Sampang Saudara Ahmad Mahfudz, Wakil Bupati Lumajang Saudara Yudha Adji Kusuma, Wakil Wali Kota Probolinggo, Wakil Wali Kota Pasuruan Saudara Mokhamad Nawawi, Sekda Kabupaten Bangkala Saudara Ismet Efendi, Sekda Kabupaten Ngawi Saudara Mokhamad Sodiq Triwidiyanto.

Baik, Saudara-saudara, dicatat tadi, ya, yang pejabat-pejabat enggak hadir itu. Tapi kita berfikir positif, pasti ada kegiatan yang lebih penting dari kegiatan ini tadi, atau berada di luar, di luar negeri. Kalau di luar negeri dicek juga itu, biayanya dari mana itu. Ada izin enggak? Sekarang pejabat dari daerah harus izin presiden juga, ya, ke luar negeri, ya. Harus izin, ya. Izin Mendagri? Coba dicek, ya, nanti.

Saudara-saudara sekalian,
Selalu kita sebagai insan yang bertakwa, tidak henti-hentinya kita bersyukur ke hadirat Yang Mahakuasa bagi umat Islam, Allah Swt., atas segala kebaikan, atas kesehatan yang diberikan kepada kita, nafas masih diberikan, atas segala karunia, kedamaian yang diberikan kepada bangsa kita, di tengah dunia yang penuh perang, perpecahan, konflik, negara kita masih cukup damai dan aman. Kita bisa hadir dalam acara yang penting ini. Tadi pagi saya hadir juga di Nganjuk, peresmian Museum Marsinah, pahlawan buruh, pahlawan nasional, dan hari ini sekarang juga di Nganjuk ini kita hadir untuk Peresmian Operasionalisasi 1.061 Koperasi Desa dan Kelurahan Merah Putih.

Saudara-saudara sekalian,
Memang saya memandang persoalan ini, peristiwa ini, hari ini adalah hari yang penting, adalah tonggak bersejarah. Saya kira kalau dicari di negara-negara lain pun, apalagi di sejarah bangsa kita, kalau kita cari ada suatu negara, suatu pemerintahan yang meresmikan operasionalisasi seribu lebih koperasi, ya. Secara fisik, gedungnya ada, ya, gudangnya ada, sistemnya ada, barangnya ada, petugasnya ada, unsur-unsur logistiknya ada. Ada truk, ada pikap, ada kendaraan tiga roda. Saya kira hari ini cukup, cukup penting.

Saudara-saudara sekalian,
Hari ini kita resmikan operasionalisasi 1.061 koperasi. Angka 1.061 saya akan jelaskan sedikit. Jadi tadinya mau diresmikan 1.300, ya? 1.300 sekian. Tetapi sepertinya ada yang buru-buru, ada yang cari dan akhirnya saya bilang cukup seribu saja, ya. Kemudian Ketua Dirut Agrinas Palma ingat bahwa saya ini suka angka delapan, “Jadi kalau begitu, Pak, enggak usah 1.300, 1.061 saja, Pak. Jadi kalau satu sama enam tujuh, tujuh sama satu delapan.” Jadi ini orang Indonesia suka apa, gatuk-gatuk, ya, cari-cari. Tapi itu hanya semacam untuk kita semangat saja. Intinya adalah bahwa kita mendirikan mulai dari konsep sampai terwujud kurang dari satu tahun. Pembangunan fisik saja dimulainya kurang lebih November 2025. Sampai sekarang berarti kurang dari enam bulan. November, Desember, Januari, Februari, Maret, April, Mei. Tujuh bulan, ya. Kalau dari November tujuh bulan. Dalam tujuh bulan kita bisa operasionalkan 1.061 koperasi. Tetapi tadi dilaporkan oleh Menko Pangan secara fisik yang sudah siap adalah lebih dari 9.000, 9.000 gedung, 9.000 gudang, 9.000 sistem. 

Saudara-saudara sekalian,
Saya kira ini prestasi bagi bangsa Indonesia. Memang bangsa Indonesia sudah terlalu lama bangsa kita dianggap remeh oleh bangsa-bangsa lain. Kita dianggap bangsa yang lemah, the soft state. Kita lemah. Kita terlalu lama. Pemimpin-pemimpin kita, pejabat-pejabat kita, tokoh-tokoh kita, bahkan pakar-pakar kita, profesor-profesor kita, orang-orang penting kita, intelektual-intelektual kita, pengusaha-pengusaha kita, terlalu lama mengidap semacam rasa rendah diri. Kalau lihat semua yang berbau atau berasal dari luar, asing, dan sebagainya, kita condong, kita kagum. Condong kita lebih segan. Semua yang dari bangsa sendiri, kita condong untuk tidak percaya.

Kita berprestasi, kita dihina, kita swasembada pangan, perjuangan yang tidak ringan. Kita negara ratusan juta, 287 juta bangsa, rakyat kita. menjamin pangan 287 juta orang, bukan pekerjaan ringan, bukan pekerjaan ringan. Kita berhasil. Target yang kita beri, kita berikan, saya sebagai presiden yang bertanggung jawab mandataris kedaulatan rakyat, saya yang disumpah, saya yang bertanggung jawab. Kalau bangsa ini lapar, saya yang tanggung jawab. Tidak akan ada orang lain yang akan dihujat, tidak akan ada orang lain yang diminta pertanggungjawaban, saya yang bertanggung jawab. Saya beri tugas ke Menteri Pertanian dan semua timnya. Saya minta swasembada pangan dalam empat tahun. Mereka bisa hasilkan dalam satu tahun, Saudara-saudara sekalian.

Saya terima kasih. Saya tidak tahu bagaimana saya bisa ketemu seorang kayak Andi Amran Sulaiman. Saya, saya tidak pernah kenal beliau. Kebetulan saya ketemu. Saya tanya dua, tiga pertanyaan, kebetulan, ah, ini, ini orang oke, nih, pemikirannya. Kemudian saya usulkan ke Pak Jokowi, beliau ditarik kembali jadi Menteri Pertanian. Dan, seterusnya orang asing bilang, orang Inggris bilang apa? The rest is history. Beliau akhirnya berjuang karena beliau menguasai masalah. Beliau pernah jadi Menteri Pertanian dan sebelumnya beliau adalah pelaku. Dan beliau keluar, datang dari keluarga petani. Beliau anaknya petani. Beliau sendiri, jadi beliau mengerti masalah.

Saudara-saudara,
Kenapa saya juga agak mengerti masalah? Karena saya dulu mantan tentara, saya mantan komandan, saya mantan panglima. Seorang komandan pasukan tempur yang dipikirkan tidak hanya peluru. Sebelum kita berangkat operasi, kita cek berapa beras yang kita punya. Kalau pasukan tidak ada beras, kalau pasukan tidak makan, tidak bisa perang, Saudara-saudara sekalian. Dan, negara ini waktu kita perang kemerdekaan, tentara kita, tentara kita didukung oleh rakyat. Rakyat yang memberi makan kepada tentara kita, petani-petani yang memberi makan kepada TNI, dan TNI dan Polri anggotanya, ya, anak-anak petani.

Karena itu, saya mengerti pentingnya pangan, dan selalu saya katakan pangan adalah masalah hidup dan mati suatu bangsa. Saya tidak memandang pangan sebagai sekedar komoditas. Pangan adalah masalah survival suatu bangsa. Jadi, saya tidak ikut-ikut paham-paham yang mengatakan bahwa beras, jagung lebih efisien kalau kita impor. Survival bangsa bukan sekedar lebih murah di mana, lebih murah, tapi ada atau tidak? Dan akhirnya sejarah, takdir, dan kenyataan membuktikan bahwa karena kita sudah lebih dulu aman soal pangan, krisis apapun di luar negara kita, kita relatif, relatif lebih aman, lebih siap menghadapi cobaan. 

Sekarang, banyak negara minta beli beras dari kita, minta beli beras dari kita. Tetangga-tetangga kita, mereka-mereka yang lebih hebat dari kita, yang menganggap dirinya lebih hebat dari kita, kan, begitu. Tapi sekarang harus datang ke Indonesia minta, boleh enggak kita beli beras? Ada yang apa, ada yang masih harga diri, ya, kan, agak lamban mintanya, mungkin dia berusaha beli lagi dari mana. Ternyata berapa hari yang lalu, India mengumumkan tutup, tidak ekspor beras, jagung, gandum. India tutup. Disusul oleh Bangladesh, tutup. Akhirnya ada juga negara-negara yang akhirnya datang juga ke kita, ya. Dan, saya bilang, saya bilang beri. Kalau mereka butuh, kita harus bantu. Kita jual kepada mereka. Tapi harganya, ya, harganya, ya, yang oke, lah. Iya, kan? Jangan petani kita korban, iya, kan? Harga harus, harus minimal, minimal untung dikit, lah. Pak Amran, ya, ya. Dirut Bulog mana? Jangan jual terlalu murah, ya. Jangan ngetok, tapi jangan jual terlalu murah. Ingat, krisis bisa lama ini, ya. Yang utama kita amankan rakyat kita dulu. Jadi, ada juga mau beli beras, habis itu minta korting, korting, korting banyak banget kortingnya, benar enggak? Ini yang krisis dunia ini.

Jadi, Saudara-saudara, itu apa yang sudah kita capai. Tadi benar Menko Pangan, kita berbuat begitu banyak prestasi. Tapi memang kadang-kadang kita juga harus berani untuk mengiklankan diri kita sendiri, bukan mengiklankan kebohongan, tapi kebenaran. Kita swasembada pangan, sudah. Kita amankan harga-harga, kita menciptakan lapangan kerja. Sudah jutaan. Tiga, kita punya sekarang dana kedaulatan, sovereign wealth fund. Dana kedaulatan kita mungkin sekarang adalah keenam terbesar di dunia. Aset yang kita kelola sekarang, seribu miliar dolar. Aset yang kita kelola.

Saudara-saudara,
Kita sekarang, ya, satu, dua, tiga, empat, kita kelima. Kalau di sini kita kelima terbesar di dunia. Baru dibentuk tahun ‘25, 2025. Abu Dhabi bentuk tahun 1976. Tiongkok 1997. CIC (China Investment Corporation) dari Tiongkok juga 2007. Norway 1990. Norway yang paling besar. Negara sangat kecil, tabungannya sangat besar. Kita bahkan di atas Qatar, di atas Saudi Arabia, juga di atas Singapura. Jadi, boleh juga ini negara kita, ya. Kita sudah punya Danantara. Dan, nanti 10 tahun lagi, 20 tahun lagi, ya, masih banyak yang muda-muda, ya, ingat, lihat, lihat tanggal, lihat tahun, Saudara akan lihat, Saudara akan pada saat itu Saudara akan lihat apa yang kita buat tahun ‘25, tahun ‘26 ini. Jangan sekarang, jangan ‘29, nanti 20 tahun lagi Saudara nilai apa yang kita buat hari ini. Yang kita buat adalah hal-hal yang mendasar. Kita bikin MBG, mendasar. Artinya adalah bahwa tiap hari di desa beredar uang 3.000 kali Rp15.000, Rp45.000 kali 3.000. Saya ulangi, Rp15.000 kali 3.000. Ada yang lebih, ada yang sedikit, berkurang, dan sebagainya. 3.000 kali Rp15.000, 45 juta tiap hari, tiap hari. Dan, di situ adalah lima hari seminggu kali empat, 20. Dua puluh hari kali 4,5 juta, eh, 45 juta, ya? 45 juta kali 20, berarti 900 juta tiap bulan kali 12, 12 kali 900 juta, 10 miliar, ya? Rp10,8 miliar. Rp10,8 miliar beredar di desa itu. Yang tadinya sebelum ada MBG, kita kirim Rp1 miliar dana desa. Dengan MBG kita tambah 10 miliar. Kita pakai dulu uang dana desa, kita pakai dulu 500 juta, ya, tapi enam tahun akan kembali.

Saudara-saudara,
Satu desa 10,8 miliar beredar di situ. Artinya yang tanam ikan lele bisa dijual, yang tanam bawang merah bisa terjual, yang bikin tempe bisa terbeli, yang jual telur bisa. Semua produsen di desa itu hidup, dan kita bisa patahkan biaya logistik. Enggak usah jauh-jauh ke pasar, pasarnya ada di desa dia sendiri, Saudara-saudara sekalian. Ini adalah dampak dari MBG. Sekian ratus triliun akan beredar di desa-desa, kelurahan-kelurahan, kabupaten-kabupaten. Ratusan triliun. Kalau kita pakai yang mereka katakan harus pasar bebas, neoliberal, pasar bebas, di mana modal besar yang akan berkuasa, uangnya rakyat akan tersedot, berangkat-berangkat-berangkat ujungnya ke luar negeri, uangnya kelebihannya tidak masuk ke kita.

Saudara-saudara,
MBG ditambah dengan koperasi desa Merah Putih, ini akan membangkitkan ekonomi kita. Sekarang saya kira, secara jujur, para kepala desa, para bupati sudah mulai merasakan. Ke depan akan lebih merasakan, bahwa banyak masalah, iya, bahwa banyak tantangan, benar. MBG banyak masalah, kita harus tertibkan. Manusia Indonesia, ya, kita mengertilah, ya. Penyakit kita harus kita berani hadapi, harus kita berani bicarakan, bahwa banyak di antara unsur-unsur pimpinan kita, hatinya tidak kuat, integritasnya tidak kuat, imannya tidak kuat, berurusan dengan uang, dia lupa. Tapi saya sudah katakan, pemerintah saya tidak ragu-ragu, siapa pun yang melanggar, yang menyimpang, yang menyalahkan kewenangan, akan kita tertibkan, kita bersihkan, kita copot dari jabatan.

MBG begitu penting untuk bangsa kita. Ke mana-mana saya ketemu rakyat kecil, petani, “Pak, tolong, Pak, MBG jangan di, jangan diberhentikan. Ini sangat membantu cucu-cucu saya bisa makan, sangat membantu saya, sangat membantu keluarga saya.” Jadi MBG sangat penting, tapi sekarang kita topang dengan koperasi desa dan kelurahan Merah Putih. Kita topang lagi nanti sebentar lagi dengan desa-desa nelayan dan di ujung itu semua hilirisasi, industrialisasi. Jadi, ini semua akan mendukung industrialisasi. Melalui koperasi Merah Putih, juga kita salurkan nanti kredit-kredit murah untuk rakyat, kredit murah untuk rakyat, ya. Kemarin saya perintahkan untuk program Mekaar (Membina Ekonomi Keluarga Sejahtera), super, super mikro yang dari apa itu, PNM, ya, Permodalan Nasional Madani. Tadinya bunganya itu 24 persen, 22 saya perintahkan harus turun di bawah 10 persen. Akhirnya Menteri Keuangan dan Danantara, “Sudah, Pak, delapan persen.” Delapan lagi. Mana itu Danantara itu. Ya, pokoknya di bawah. Masa pengusaha besar dapat sembilan persen. Emak-emak di kampung-kampung dapat 24 persen yang enggak benar itu, kita rubah. Dan nanti untuk semua rakyat juga kita akan beri kredit yang relatif murahlah. Jadi nanti akan ada gerai, lembaga keuangan di koperasi ini. 

Saudara-saudara,
Dengan koperasi ini, saya kira pertumbuhan kita akan nyata dan akan maju. Tiap desa tidak akan tergantung dari mana-mana lagi. Dia akan punya kekuatan dia sendiri. Masalah petani dari dulu masalahnya sama. Pupuk, modal, dan juga habis panen susah ke pasar. Banyak panen yang rusak, panen yang puso. Banyak petani dulu ngeluh ke saya, “Pak, saya punya mangga yang terhebat di dunia, tapi tidak ada yang beli.” Tidak ada yang masuk kampung dia, bahkan kampung dia itu lima, enam kilo ke dalam. Sekarang koperasi punya truk sendiri, punya [mobil] pikap sendiri. Dia tidak akan tergantung mana pun. Dia akan mengantar hasilnya panen dia ke tempat yang dia kehendaki, ke pasar yang dia kehendaki. Ini adalah kegiatan-kegiatan koperasi Merah Putih. Ada sembako yang dijual, sembako macam-macam termasuk subsidi. Juga penyalur-penyalur gas, botol apa itu, tabung-tabung gas, penyalur pupuk subsidi, sembako subsidi, kredit murah, layanan logistik bekerja sama dengan Pos Indonesia, penyalur bantuan pemerintah, menyerap gabah petani, dan juga akan ada apotek obat murah. Obat yang kita tekan sehingga semurah-murahnya bisa dicapai oleh rakyat di seluruh Indonesia.

Saudara-saudara sekalian,
Dari seribu ini, dilaporkan kepada saya, bahwa pada bulan Agustus kita akan lompat meresmikan 30 ribu koperasi. Kalau umpamanya tidak sampai 30 ribu, kalau hanya sampai 20 ribu, saya katakan 20 ribu ini juga adalah prestasi yang saya kira jarang bisa diketemukan di negara lain. Silakan diadakan suatu research, negara mana yang membangun, meresmikan 20 ribu koperasi dalam waktu satu tahun. Saya kira jarang.

Ini juga menandakan dan menggambarkan, dan membuktikan, dan menunjukkan, bahwa pemerintah Indonesia, dengan lembaga-lembaganya, dengan institusi-institusinya, kalau punya kehendak, kalau punya strategi, kalau punya tekad, kalau punya kerja sama, kita mampu berbuat yang luar biasa. Kita harus hilangkan sikap mental, bahwa kita bangsa yang lemah, bahwa kita bangsa yang kalah. No! Kita tidak boleh jadi bangsa yang kalah. Kita harus jadi bangsa yang menang. Dan, kita akan menang, kita akan kuat, kita akan bangkit, Saudara-saudara. Kita buktikan hari ini dan kita buktikan nanti bulan Agustus, 20 ribu minimal koperasi berdiri, dan kita lihat Desember, seribu desa nelayan, dan kita lihat tahun ‘27, berapa ratus sekolah baru kita bangun, berapa sekolah rakyat kita bangun.

Saudara-saudara,
Bangsa Indonesia, kalau memang mau, kalau memang bekerja sama, bangsa Indonesia, bukan bangsa yang lembek, bukan bangsa yang kalah, bangsa yang kuat. Itu keyakinan saya. Dan, hari ini, saya hadir di sini bersama Saudara-saudara, pertanggungjawaban kita kepada bangsa dan rakyat kita. Kita tidak mau lagi kekayaan Indonesia dicuri terus. Kita tidak mau lagi kekayaan Indonesia dicuri terus. Yang mau membela rakyat bersama saya, silakan. Yang mau membela maling-maling itu, silakan di situ. Kau akan hadapan dengan seluruh rakyat Indonesia. Saya yakin itu.

Saudara-saudara,
Saya sekarang, saya sekarang senang, terharu saya ke daerah-daerah. Tapi, terus saja saya kasih tahu Anda, ya, cukup melelahkan juga. Karena rakyat begitu banyak keluar jalan, masa presiden di dalam, di dalam kendaraan. Kan, enggak lucu, terpaksa aku berdiri, benar enggak? Benar? Aku berdiri, si rakyat kita itu, mau kasih tangan. Masa kita enggak kasih tangan? Jadi aku coba kasih tangan. Tapi, aduh, ini memang, rakyat Jawa Timur, ya, tangannya itu, keras-keras. Rupanya, rupanya Jawa Timur banyak petaninya, ya, Bu, ya? Ibu, emak-emaknya juga keras tangannya. Habis dua, tiga kali kunjungan, aduh, harus pakai minyak khusus aku. Tapi, itulah risiko. Saya bilang, mereka tunggu berjam-jam di matahari. Ya, kan? Ini saya lagi mikir, minta, Pindad mana itu, Profesor Sigit? Ada Sigit? Enggak ada? Coba didesain, mobil khusus, untuk presiden, pakai kaca gitu, yang ada kursi, tapi kelihatan aku berdiri gitu loh. Boleh, dong. Eh, gue ini udah 75 tahun, nih. Gila. Tapi aku kasihan, rakyat nunggu lama, ya. Ini sakit. Tapi, saya semangat.

Tapi, Saudara-saudara, terima kasih. Ya, koperasi nanti akan terbukti menjadi kebanggaan kita semua. Saya terima kasih kepada Menteri, Menko Pangan, semua menteri ini satu tim, ya. Semua menteri satu tim, karena kalian tidak bisa kalau tanpa tidak satu tim. Kalau Mendagri tidak dukung, enggak dapat. Bupati tidak dukung, enggak bisa. Kepala desa tidak dukung, tidak bisa. Mendagri, gubernur, semua sampai ke bawah. TNI tidak dukung, tidak bisa. Kapolri tidak dukung, tidak bisa. Ini adalah teamwork. Seluruh tim bekerja. Menteri-menteri, ada yang ngurus legalitas, masalah hukumnya. Ada yang ngurus, ada yang ngurus keuangan, ya. Purbaya sekarang populer banget, Purbaya itu. Selama Purbaya bisa senyum, tenang aja, enggak usah kalian khawatir itu. Mau dolar berapa ribu, kek, kan kalian di desa-desa enggak pakai dolar, benar enggak. Yang pusing yang itu, yang suka keluar negeri. 

Percaya, ekonomi kita kuat, fundamental kita kuat, orang mau ngomong apa, Indonesia kuat. Percaya kepada kekuatan kita. Percaya kepada rakyat kita. Semua pemimpin harus bekerja untuk rakyat. Dari partai mana pun, enggak ada urusan. Di semua partai, ada patriot, di semua partai, ada juga yang berengsek-berengsek. Aku juga sebagai ketua umum Gerindra kapok juga. Gerindra lagi, waduh ini. Baru menang sudah kayak begini. Aku pusing ini. Enggak ada urusan. Tindak, hukum. Iya, kan? Benar. Enggak ada, eks TNI berarti dia hebat. Belum tentu. Eks polisi, belum. Semua, koreksi diri, ya, koreksi diri. Jaga diri kita masing-masing. Saling menegur. Saling ingatkan, saling ingatkan.

Terima kasih, Saudara-saudara. Mari kita maju dengan rasa percaya diri. Koperasi ini akan jadi milik kita bersama, akan menjadi kekuatan kita bersama, akan membantu Indonesia incorporated. Ekonomi kita adalah ekonomi dibangun atas dasar kekeluargaan itu dalam Undang-Undang Dasar, ekonomi kekeluargaan. Artinya yang kuat, tarik yang lemah. Yang kaya, bantu yang miskin. Pengusaha, go! Korporasi, kuat. Koperasi, harus kuat. UMKM, harus kuat, go! Semua saling, jangan saling membunuh, jangan saling mematikan, jangan, jangan saling mencurangi. Ini yang ingin kita bangun.

Terima kasih atas jerih payah Saudara-saudara. Sekali lagi, semua unsur. Ini tidak mungkin terjadi tanpa kerja sama yang baik. Terima kasih, Panglima TNI, Kapolri, semua tim yang bekerja.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Salam sejahtera bagi kita sekalian,
Syalom,
Salve,
Om santi santi santi om,
Namo Buddhaya,
Salam kebajikan,
Rahayu rahayu. 

Merdeka! Merdeka! Kok, kurang semangat? 
Merdeka! Begitu, bangsa yang hebat!

Terima kasih.