Sambutan Presiden RI - Silaturahmi Nasional Pendukung Jokowi 2016, Jakarta, 24 Juli 2016
SAMBUTAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
SILATURAHMI NASIONAL PENDUKUNG JOKOWI 2016
WISMA SENAYAN, JAKARTA
24 JULI 2016
Yang saya hormati Ketua DPR Republik Indonesia,
Para Menteri,
Para Ketua Partai,
Yang saya hormati para Pimpinan Relawan dan seluruh Eksponen Relawan yang pada malam hari ini hadir,
Para Undangan yang berbahagia,
Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh,
Selamat malam,
Salam sejahtera bagi kita semuanya,
Tadi di layar kita lihat perjalanan mulai dari, yang diperlihatkan mulai dari gubernur. Saya ingat, saat itu jadi gubernur baru 2,5 bulan, tanggul di Latuharhari bobol sehingga di Thamrin semuanya terkena luapan air. Itu awal yang saya ingat.
Tadi juga di gambar—saya kira kita lihat—saya kurus sekali. Sekarang juga masih kurus. Kalau kelihatan agak gede, itu sebenarnya bajunya yang saya gedekan. Orangnya masih kurus. Kalau pakai kaus, masih kurus.
Bapak-Ibu dan Saudara-saudara sekalian yang saya hormati,
Hampir dua tahun saya menjadi Presiden. Pada saat yang sama juga, kalau kita lihat—kita ratakan sekarang ini—hampir semua negara mengalami tekanan ekonomi global, tekanan ekonomi dunia. Ada yang bisa bertahan. Ada yang tidak bisa bertahan. Ada kepala negara yang jatuh. Ada juga negara yang menjadi gagal karena ekonominya sudah minus. Ada yang minus 3. Ada yang minus hampir 7. Ada yang jatuh 1,5%, 1%, 2%. Hampir semua negara mengalami.
Inilah tekanan-tekanan ekonomi kita alami, dan dialami hampir semua negara. Tidak ada yang bisa lolos dari tekanan-tekanan ekonomi itu.
Tetapi, alhamdulillah kita masih bisa bertahan pada angka-angka 5, dan 5 kurang sedikit. Insya Allah pada tahun ini, pada semester ini, semoga—kita berdoa bersama—ekonomi kita titik baliknya sekarang, titik baliknya untuk naik kembali sedikit demi sedikit. Pada saat kesempatan itu ada, artinya ekonomi dunia juga membaik, kesempatan itu kita ambil. Dengan cara apa?
Yang pertama, kita telah mulai untuk menderegulasi ekonomi kita, menyelesaikan kerumitan-kerumitan peraturan, menyelesaikan kerumitan-kerumitan regulasi-regulasi yang sangat menyulitkan kita memutuskan dengan cepat, yang sangat menyulitkan kita memutuskan kalau ada perubahan ekonomi dunia yang begitu sangat cepat, dan itu akan terus kita lanjutkan. Deregulasi 1, 2, 3, 4, 5 juga sampai ke-12, terus akan kita lanjutkan karena dengan cara-cara seperti itu kita akan semakin efisien, negara ini akan semakin efisien, negara ini akan bisa cepat memutuskan jika ada perubahan-perubahan dunia.
Kita tidak tahu perubahan-perubahan itu. Misalnya, dulu kita antisipasi krisis di Yunani. Yang keluar adalah penurunan ekonomi dunia yang ada di Tiongkok.
Begitu kita akan mengantisipasi lagi, keluar lagi the Fed akan menaikkan suku bunga.
Begitu ini juga akan antisipasi kita lagi, ada lagi yang namanya Brexit di Inggris, yang itu juga di luar perkiraan semua orang. Harusnya yang menang itu yang “Tetap di Uni Eropaâ€, yang “Remainâ€. Tetapi ternyata prediksi itu salah. Yang menang adalah yang “Leaveâ€.
Inilah dunia yang sekarang ini sangat sulit sekali ditebak. Oleh sebab itu, percepatan deregulasi yang menyederhanakan hal-hal yang rumit menjadi penting sekali. Jangan sampai, ada perubahan, kita sulit untuk mengantisipasi. Korbannya adalah masyarakat kalau percepatan itu tidak bisa kita lakukan.
Yang kedua, fondasi yang kedua—menurut saya ini sangat penting—adalah percepatan pembangunan infrastruktur. Kalau kita lihat sekarang ini, kita mulai di mana-mana. Saya sudah perintahkan agar dimulai, dimulai dulu.
Kita ini, kalau sudah memulai, pasti sulit menghentikan. Tapi, kalau belum dimulai, ndak akan dimulai-mulai. Ini tipikal orang kita.
Oleh sebab itu, “Ada apa?†“Pak, jalan tol ini putus.†“Jalan.†“Pak, ini jalan tolnya masih putus.†“Jalan.†“Pak, ini jalur kereta api situasi masih rumit, putus.†“Jalan.†Kalau tidak seperti itu, kecepatan yang kita lakukan, ditinggal kita. Percaya saya. Ditinggal kita.
Persaingan antarnegara akan sangat ketat. Semuanya berebut investasi. Semuanya berebut arus uang masuk ke negara-negara itu. Fondasi-fondasi ini yang sekarang kita bangun secepat-cepatnya.
Saya ingin agar pembangunan yang ada di Papua, yang ada di Maluku, yang ada di Sulawesi, yang ada di Kalimantan, yang ada di Sumatera, maupun yang ada di Jawa, yang ada di NTT, yang ada di NTB. Kalau ada hal-hal yang di lapangan kelihatan ada masalah, ada hambatan, saya diberi tahu. Informasikan kepada saya, “Pak, ini ada yang main-main,†masalah pembebasan tanah misalnya. “Kepala dinasnya, Pak, main-main. Pak, bupatinya ini main-main.†Beri tahu saja. Detik itu juga pasti akan saya tindak lanjuti. Saya pastikan itu.
Kita tidak mau lagi ada jalan tol yang sudah 20 tahun berhenti gara-gara pembebasan lahan, tidak. Pasti di situ ada masalah, dan masalahnya biasanya di birokrasi kita di lapangan. Ada yang main-main.
Kalau enggak ada yang main-main, rakyat itu gampang kok, gampang. Rakyat itu diajak bicara, pasti mudah. Tetapi masalahnya, rakyat tahu bahwa ini dimain-mainkan sehingga mereka enggak mau. Iya ndak?
Itu tugas kita bersama untuk memberi informasi kalau ada masalah-masalah seperti itu. Yang saya dengar juga seperti itu.
Kita memang baru menyelesaikan hal-hal yang ada di pusat. Itu pun juga mungkin baru yang berkaitan dengan deregulasi. Mungkin belum ada 25%. Belum menginjak ke daerah. Kalau sudah di sini agak bisa kita tata, kita akan menginjak masuk ke daerah.
Tanpa perombakan-perombakan, tanpa keberanian-keberanian kita memangkas hal-hal yang seperti itu, jangan berharap kita bisa berkompetisi dengan negara yang lain, jangan berharap kita bisa bersaing dengan negara yang lain. Enggak ada. Kuncinya hanya di situ: kuncinya di efisiensi pemerintahan, kuncinya di percepatan pemerintahan melayani rakyatnya, melayani semuanya. Kalau tradisi-tradisi lama itu masih kita terus-teruskan, jangan berharap kita menang, memenangkan kompetisi, memenangkan persaingan. Enggak ada.
Itu yang ingin saya mendengar dari Bapak-Ibu dan Saudara-saudara sekalian. Kalau saya ke daerah, kan pasti ada yang mendekati saya, bisik-bisik ke saya, “Pak, Pak, Pak, Pak, Pak, Pak, Pak, ini informasinya.†Itu yang saya senang. “Pak, sebelah kanan, Pak. Itu main-main, Pak. Pak, sebelah kiri, Pak. Itu ndak benar, Pak.â€
Informasi seperti itu, pasti akan langsung saya suruh orang untuk meng-cross-check apakah betul, apakah benar. Kalau benar, ya gebuk saat itu juga. Tanpa keberanian seperti itu, sulit kita bersaing, sulit kita berkompetisi.
Momentum ini, Bapak-Ibu dan Saudara-saudara sekalian, kita hanya diberi momentum kira-kira 15 tahun ke depan. Bangsa kita diberi momentum 15 tahun. Kalau dalam transisi ini kita berhasil, bisa kita tinggal landas. Kalau tidak, kalau tidak, ya kita ditinggal di landasan. Negara yang lain mau take off. Kita tinggal di landasan.
Kita semuanya tidak mau seperti itu, bener ndak? Ndak mau. Dengan segala cara, baik dengan terobosan-terobosan atau dengan cara-cara yang lain, kita harus lakukan itu agar bisa kita betul-betul tinggal landas.
Kita diberi kesempatan sampai 2030. Begitu 2030 kita tidak bisa tinggal landas, ya sudah. Kita semuanya mau kita bisa tinggal landas.
Saya berikan contoh, misalnya tax amnesty. Ini sebuah langkah terobosan yang berpuluh-puluh tahun tidak dilakukan. Saya mengukur saat itu, apakah ini bisa disetujui oleh DPR atau tidak. Tapi alhamdulillah. Pak Ketua ada di sini. Ya kita harus mengucapkan terima kasih karena, dengan kecepatan yang sangat cepat, Undang-Undang Tax Amnesty sudah disetujui.
Begitu lewat bulan Juni, sudah lewat kita. Momentumnya sudah habis, hilang. Padahal kita tahu berapa ribu triliun uang kita—mulai dari dulu booming minyak, booming kayu, booming minerba—yang uangnya tidak disimpan di negara kita, tapi disimpan di luar negeri. Enggak apa-apa, sebetulnya enggak apa-apa kalau itu dalam rangka untuk kepentingan nasional.
Tetapi, saat ini negara sangat membutuhkan, negara sangat membutuhkan. Oleh sebab itu, saya sampaikan bahwa diperlukan partisipasi dari warga negara, dalam kondisi ekonomi dunia yang sangat sulit seperti sekarang ini, untuk membawa lagi uang-uang itu ke dalam negeri, untuk digunakan sebesar-besarnya bagi pertumbuhan ekonomi, bagi kemakmuran rakyat.
Enak saja. Makan di sini, bertempat tinggal di sini, mencari rejeki di sini—iya ndak?—berusaha di sini, kemudian uangnya yang menikmati negara yang lain. Negara lain makmur karena uang-uang kita. Ndak.
Saya mengajak, kemarin saya sudah berputar ke semuanya: di Surabaya, di Medan, di Jakarta. Nanti di Bandung, saya ingin memberikan gambaran-gambaran apa adanya, bahwa uang-uang itu sangat diperlukan oleh negara kita.
Saya yakin uang itu akan berduyun-duyun masuk ke negara kita kembali. Ya kita harus optimis, harus optimis uang itu kembali. Karena sudah dibuatkan payung hukum, kalau uangnya enggak kembali, awas.
Yang ketiga, yang ini juga akan kita lakukan—ini masih dalam perumusan untuk secepat-cepatnya, apabila itu selesai, langsung akan kita laksanakan—yaitu reformasi di bidang hukum. Reformasi di bidang hukum yang ini juga kita perlukan, baik di bidang legislasi nasional dan daerah, kemudian di bidang kelembagaan dan aparat hukumnya, dan yang ketiga di bidang pendidikan hukum dan budaya hukum kita. Semuanya memang harus kita perbaiki secara total sehingga rakyat melihat, rakyat merasakan bahwa hukum itu untuk mereka, bukan untuk orang-orang yang mempunyai duit saja.
Tapi ini juga perlu waktu, perlu waktu. Saya ini jadi Presiden belum ada dua tahun lo. Jadi jangan semuanya dikejar-kejar, minta selesainya cepat-cepatan. Semuanya perlu waktu.
Tapi bahwa rel yang kita lalui, itu harus sudah benar dulu. Itu yang harus kita betulkan. Kalau relnya sudah benar, relnya sudah betul, percepatan itu yang akan kita dorong.
Memang—di depan tadi saya sampaikan—situasi dan kondisi ekonomi global memang tidak memberikan dukungan pada kecepatan itu. Tetapi saya meyakini, begitu nanti ekonomi dunia mulai membaik, fondasi kita akan bertambah baik. Pada saat itulah kita akan betul-betul kerja dengan speed yang tinggi, dengan kecepatan yang tinggi.
Saya kira itu yang bisa saya sampaikan pada kesempatan yang baik ini. Saya mengajak Bapak-Ibu dan Saudara-saudara sekalian, tim relawan, untuk bergerak bersama-sama mengawal perubahan-perubahan yang akan kita lakukan. Kalau ada yang belum betul, bisikkan kepada saya. Kalau ada di instansi, di kementerian-kementerian yang perlu diperbaiki, yang perlu dibenahi, di sebelah mana, di direktorat jenderal yang mana, bisikkan kepada saya. Kalau ada di daerah-daerah yang kira-kira memerlukan bantuan, memerlukan perbaikan, juga tolong diinformasikan kepada saya.
Mengawal perubahan-perubahan ini merupakan pekerjaan kita semuanya. Saya yakin, dengan kerja sama, dengan kerja keras, dengan kerja-kerja nyata yang kita lakukan, saya meyakini bahwa bangsa ini akan bergerak maju, menjadi bangsa pemenang.
Saya kira itu yang bisa saya sampaikan pada kesempatan yang baik ini. Terakhir, saya ingin mengucapkan selamat Hari Raya Idul Fitri, mohon maaf lahir dan batin kepada kita semuanya.
Wassalamualaikum warahmatullah wabarakatuh.
*****
Biro Pers, Media dan Informasi
Sekretariat Presiden