Sambutan Presiden RI pada Peresmian Pembukaan Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia (Apkasi) Otonomi Expo Tahun 2025

 
bagikan berita ke :

Kamis, 28 Agustus 2025
Di baca 1550 kali

Di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City, Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten


 

 

Bismillahirrahmanirrahim.

Assalamualaikum warahmatulahi wabarakatuh,
Selamat siang, 
Salam sejahtera bagi kita sekalian, 
Syalom,
Salve,
Om swastiastu,
Namo Buddhaya, 
Salam kebajikan, 
Rahayu rahayu. 

Yang saya hormati, Ketua Umum Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia (Apkasi), Saudara Bursah Zarnubi beserta seluruh bupati yang hadir dan pengurus Apkasi yang saya hormati dan saya banggakan;
Menteri Dalam Negeri, Jenderal Polisi (Purn.) Tito Karnavian, sebagai Ketua Dewan Penasihat Apkasi;
Hadir Ketua Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia, Saudara Sultan Najamudin;
Para Menteri Koordinator, para Menteri, Kepala Badan, Panglima TNI, Kapolri, para Wakil Menteri serta seluruh Anggota Kabinet Merah Putih yang turut hadir pada siang hari ini;
Menko Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan, Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra;
Menko Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Dr. Agus Harimurti Yudhoyono yang saya hormati; 
Menteri Sekretaris Negara, Saudara Prasetyo Hadi;
Menteri Sosial, Saudara Saifullah Yusuf, yang panggilannya adalah Gus Ipul, dan hari ini ulang tahun ke-61;
Menteri Keuangan, Saudara Sri Mulyani, yang juga berulang tahun dua hari yang lalu, yang ke-36;
Menteri Koperasi, Saudara Budi Arie Setiadi;
Menteri Kehutanan, Saudara Raja Juli Antoni;
Panglima TNI Jenderal TNI Agus Subiyanto;
Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo, ya. Harusnya Kapolri dulu, baru Panglima TNI, ya. Karena Kapolri ada “Prabowo”-nya, Panglima TNI ada “Subiyanto”-nya. Jadi ini semua sudah direkayasa begitu, katanya.
Sekretaris Kabinet Republik Indonesia, Letkol. Infanteri Teddy Indra Wijaya;
Kepala Badan Gizi Nasional, Prof. Dadan Hindayana;
Kepala Staf Kepresidenan, Letnan Jenderal TNI (Purn.) AM Putranto, ya;
Duta besar negara sahabat yang hadir dan perwakilan dari kedutaan-kedutaan negara sahabat yang hadir siang hari ini. Terima kasih Your Excellencies, for attending this event;
Yang saya hormati Gubernur Banten, Saudara Andra Soni beserta jajaran Forkopimda Provinsi Banten. Sudah jadi gubernur, gagah beliau;
Yang saya hormati para wakil gubernur, para asosiasi bisnis yang hadir;
Rekan-rekan sekalian dari pers dan media yang hadir. 

Pertama-tama, tentunya kita tidak henti-hentinya memanjatkan puji syukur ke hadirat Tuhan Maha Besar Allah Swt., kita masih diberi kesehatan bisa berkumpul siang hari ini, kita bersyukur atas segala karunia yang diberikan oleh Yang Mahakuasa kepada negara dan bangsa kita, kita masih berada dalam keadaan damai dan aman di tengah dunia yang penuh konflik di mana-mana. 

Saudara-saudara, saya terima kasih atas undangan ini, menghadiri dan ikut membuka Apkasi Otonomi Expo 2025--Trade, Tourism, Investment, and Procurement, dengan tema “Produk Lokal Mengglobal”. Terima kasih atas undangan ini, ini kehormatan bagi saya, dan kesempatan bagi saya untuk tatap muka dengan Saudara sekalian. 

Saudara-saudara sekalian,
Bupati/wali kota pemimpin daerah yang dipilih oleh rakyat. Saudara-saudara adalah pemimpin yang dekat dengan rakyat. Bersama camat, bersama kepala desa, Saudara-saudara adalah yang paling dekat sama rakyat. Saudara-saudara adalah seharusnya yang paling tahu denyut nadi rakyat. Saudara-saudara seharusnya yang paling peka terhadap kesulitan rakyat. Kunci pembangunan bangsa kita, sebagaimana pembangunan semua bangsa di dunia, kuncinya adalah dalam pemerintahan yang baik, pemerintahan yang unggul. 

Pernah ada satu kajian, kurang lebih 27 tahun yang lalu dari Universitas Harvard di Amerika Serikat. Saya pernah baca buku itu. Saya menyesal buku itu hilang tapi itu buku yang sangat membuka pikiran saya pada saat itu, dan itu terus berada di benak saya. Kajian itu adalah kajian terhadap sebuah pemerintahan bangsa bahkan peradaban kekaisaran (empire) yang bertahan lebih dari 300 tahun, yang dipelajari hanya peradaban dan pemerintahan kekaisaran yang lebih dari 300 tahun, dan di sejarah manusia tidak banyak. Peradaban Tiongkok ribuan tahun, India ribuan tahun, Persia yang sekarang Iran ribuan tahun. Di Amerika, [suku] Maya dan Inca. Kemudian ada kekaisaran Romawi. Kemudian ada peradaban kekaisaran Islam, juga kalau tidak salah 900 tahun lebih. Peradaban Rusia juga mendekati 900 tahun. Kekaisaran Inggris kalau tidak salah 400 tahun. Amerika mungkin baru 100 tahun. Apa yang menjadi unsur yang ada di semua pemerintahan itu, yang bertahan ratusan tahun? Ada tiga, ada tiga. Ini hasil riset. Satu adalah tentara yang unggul. Dua adalah polisi dan keamanan yang unggul. Ketiga—dan ini tidak dalam urutan siapa yang lebih penting, tidak—yang ketiga adalah pemerintahan yang unggul, yaitu disebut dalam bahasa Inggrisnya adalah excellent civil service, saya gabungkan menjadi pemerintahan.

Dalam pelajaran-pelajaran itu ada, ya. Dalam pelajaran ada akademi gubernur di Imperium Otoman, Otsmani, ada akademi gubernur, dan di situ ada pelajarannya yang sangat sederhana. Ini untuk para bupati yang akan jadi gubernur, ini sekian ratus tahun yang lalu, ada slide-nya enggak, ya? Dipasang, pelajaran dari Otoman, yang intinya adalah bahwa suatu negara yang berhasil, sebetulnya sangat sederhana, ya, pelajarannya itu sangat sederhana. Tidak ada negara tanpa tentara yang kuat. Tolong ya, ini pelajaran ratusan tahun. Tidak ada tentara yang kuat tanpa uang. Tidak ada uang tanpa kemakmuran. Tidak ada kemakmuran tanpa rakyat yang bahagia dan sejahtera. Tidak ada rakyat yang bahagia dan sejahtera tanpa pemerintah yang bersih dan adil, ini pelajaran sejarah. Kalau Saudara mau menjadi bupati yang benar dan baik, kalau Saudara mau menjadi bupati yang dicintai rakyat, kalau Saudara mau jadi bupati yang setia kepada tanah air, yang setia kepada pendiri-pendiri bangsa, yang setia kepada Merah Putih, Saudara harus belajar ini, Saudara harus menjalankan pemerintah yang bersih dan adil. Kalau tidak, Saudara tidak akan berhasil. Ini berlaku untuk setiap, setiap tingkat.

Karena itu, saya yang dipilih oleh rakyat, saya disumpah oleh rakyat, saya diberi mandat oleh rakyat, saya harus menjaga Undang-Undang Dasar dan menjalankan undang-undang. Saya harus menegakkan pemerintah yang bersih dan adil. Ini kewajiban saya, dan ini kewajiban semua bupati-bupati dan wali kota-wali kota dan camat-camat dan kepala-kepala desa dan lurah-lurah. Kalau tidak, kita tidak akan jadi negara yang berhasil. Kalau tidak, kita tidak akan jadi negara yang berhasil, tidak mungkin ada kemakmuran. Pemerintah yang korup tidak mungkin membawa kemakmuran kepada rakyat. 

Kita sudah lama jadi orang Indonesia. Entah partai mana, ya, kita harus berani ngoreksi diri kita. Kita harus berani. Saya juga kadang-kadang ngeri juga dengan ucapan-ucapan saya. Di MPR, tanggal 15 Agustus, ingat pidato saya? Saya katakan, kalaupun ada anggota Gerindra yang melanggar, saya tidak akan lindungi. Eh, beberapa hari kemudian ada anggota Gerindra, tapi dia anggota, dia belum kader. Kalau kader itu ikut pendidikan, yang tadi itu, Otoman itu, dia harus belajar itu. Aduh, dia enggak keburu ikut kaderisasi ya. Tapi tetap, tetap saya, agak malu saya. Sebetulnya saya, orangnya itu menarik, ya, mungkin dia khilaf.

Saudara-saudara, 
Apakah tidak ingat istri dan anaknya? Kalau tangannya diborgol, pakai baju oranye, apa tidak ingat anak dan istrinya? Saudara-saudara sudah dengar saya pidato berapa kali? Ya, kan. Dari sebelum saya dilantik, sesudah dilantik, pada saat dilantik, terus saya ingatkan. Semua lembaga, bersihkan dirimu sebelum kau akan dibersihkan, dan kau akan dibersihkan, pasti. Saya kasihan kadang-kadang tapi apa boleh buat. Dapat laporan dari Jaksa Agung, dapat laporan dari penegak-penegak hukum yang lain, “Pak, datanya begini, Pak”. PPATK, laporan. Saya ingatkan, tapi kadang-kadang ya khilaf manusia itu, mungkin, atau mengira Pemerintah Republik Indonesia ini bodoh, atau mengira bahwa Pemerintah Republik Indonesia yang saya pimpin lemah, atau mengira Pemerintah Republik Indonesia yang sekarang saya pimpin bisa disogok.

Saudara-saudara,
Saya sudah disumpah, saya akan menegakkan, saya akan menjalankan kewajiban saya, karena saya sudah bersumpah. Saya takut Yang Di Atas, dan saya takut mengecewakan rakyat Indonesia, itu. 

Saudara-saudara, 
Bagaimanapun, dengan berpegang teguh kepada Undang-Undang Dasar kita, di mana saya berpegang teguh kepada rancang bangun yang dibuat oleh pendiri-pendiri bangsa, saya percaya Undang-Undang Dasar 1945 adalah undang-undang yang operasional, adalah rancang bangun yang bisa kita gunakan sekarang. Saya perhatikan, negara-negara yang sedang maju luar biasa, mereka semua punya pasal-pasal pengaman yang saya katakan. Pasal 33, Pasal 34, ini pasal-pasal pengaman. Kalau kita lihat di Undang-Undang Dasar kita yang sangat ringkas, tapi sangat menjawab masalah.

Memang, ada orang-orang pintar yang punya gelar-gelar tinggi, saya yakin sebagian dari mereka memandang pendiri-pendiri bangsa kita sudah tidak relevan: Bung Karno, Bung Hatta, Bung Sjahrir, Profesor Soepomo, Muhammad Yamin, itu semua tidak relevan. Padahal mereka mengalami penjajahan, mereka mengerti imperialisme yang mungkin anak-anak sekarang tidak paham. Dulu kita, kita ini pribumi, dipandang lebih rendah dari hewan. Ini nyata, mereka punya papan-papan, punya prasasti di mana-mana, “Verboden voor honden en inlander”, jadi honden dulu, ya, Saudara-saudara, “pribumi dan anjing dilarang masuk”. Jadi kita disamakan dengan anjing, dan tidak hanya di kita. Di India begitu, nah, itu, dan bedanya di India dipertahankan sebagai bahan pelajaran untuk anak-anak muda, “No dogs or Indians”. Di Tiongkok sama juga. “Dogs and Indians are not allowed”. Di Shanghai juga begitu, “No dogs or Chinese”. Kita dianggap lebih rendah. 

Saudara-saudara, 
Mereka mengalami imperialisme, mereka mengalami penjajahan. Karena itu, mereka menyusun. Saya, maaf, Mas Aria Bima, saya ini bukan anggota PDIP tapi saya pernah baca tulisan-tulisan Bung Karno, tidak kalah sama orang PDIP. Jangan-jangan orang PDIP enggak pernah baca? Saya baca Indonesia Menggugat. Bahkan Indonesia Menggugat pidatonya saya bingkai, ada di rumah saya, di Hambalang. Benar atau tidak? Siapa sespri saya? Benar? Pidatonya Bung Karno itu, monggo, saya bingkai. Dan dalam pidato itu, beliau sebut, “kekayaan kita diambil ratusan tahun” dan beliau sebut “komoditas, komoditas, komoditas”. Dia sebut karetnya berapa, teh berapa, kopi berapa, timah berapa, ada. Mas Aria pernah baca kan Indonesia Menggugat? Pernah? Nanti saya uji loh isinya. 

Jadi, Saudara-saudara ya, ini masalahnya adalah bahwa kita ini sering tidak menganggap pendahulu. Jadi, saya merasa bahwa pasal-pasal penting di Undang-Undang Dasar kita, kita abaikan. Ini yang membuat kita sulit sekarang. Tapi tidak ada masalah, pemimpin justru tidak takut dengan kesulitan, pemimpin menghadapi kesulitan, dan pemimpin akan mengatasi kesulitan itu. 

Saya terkesan ketua kalian, Ketua Apkasi, Saudara Bursah, melaporkan dalam kabupaten beliau, tahun ini beliau sudah menghemat Rp462 miliar untuk kabupaten. Luar biasa ini. Efisiensi, dikurangilah perjalanan dinas, kurangilah rapat-rapat, kurangilah seminar-seminar, kurangilah kunjungan-kunjungan kerja, ya. Untuk apa lagi kunjungan kerja? Yang penting kerja, bukan kunjungan-kunjungan kerjanya itu, iya kan? 

Saudara-saudara, 
Saya sudah lama jadi orang Indonesia, gitu. Hati-hati loh, rakyat kita ini sekarang pintar semua. Rakyat kita punya gadget semua, yang disebut tadi Menteri Dalam Negeri. Anda paling dekat sama rakyat, Anda harus peka sama rakyat. Sosialisasi, dengarkan rakyat. Sekarang ada istilah apa? Istilah keren sekarang, istilah bahasa Inggris, apa? FGD, FGD. Apa itu? Forum? Focus? Focus group discussionForum atau focusFocus, focus group discussion. Itu, aslinya itu adalah urun rembuk, adu bakau, ya, kan? Duduk bersila, berkunjunglah, datanglah itu ke desa-desa, tanyain, gimana, “Kira-kira kalau saya naikin PBB berapa yang kalian bisa terima?” Datang ke, ini emak-emak, ya, kan, ini emak-emak, datang ke sesepuh, datang ke kiai-kiai, kan itu, Saudara-saudara. Tapi sekarang FGD. FGD-nya di hotel-hotel mahal lagi, Saudara-saudara, terima kasih. Ini contoh, pantas kalian pilih jadi Ketua Apkasi. You dipilih dari partai mana? Enggak, enggak, enggak, enggak, itu. Delete, delete, ada wartawan, delete, delete, delete, delete, delete. Saya presiden semua partai sekarang, Saudara-saudara.

Ini pidatonya bagus-bagus ya. Saya ringkas saja, ya.

Saudara-saudara, 
Belum satu tahun saya memerintah tapi saya terima kasih kepada tim saya, menteri-menteri yang bekerja keras. Kita buktikan dengan kita berpegang kepada Pasal 33, kita berpegang kepada Undang-Undang Dasar 1945, kita sudah mencapai titik-titik yang penting. Produksi pangan meningkat luar biasa, Saudara-saudara. Terima kasih semua unsur, para gubernur, para bupati, terima kasih TNI-Polri, luar biasa kerjanya. Di saat musim kering berkepanjangan, di saat perubahan iklim, di saat el nino dilanjutkan la nina, kita bisa produksi meningkat secara luar biasa. Cadangan makan, cadangan beras kita di gudang-gudang pemerintah tertinggi sepanjang sejarah Republik Indonesia. Dan, ini terus kita awasi, terus kita awasi. Karena itu, kalau satu kabupaten, tadi laporan ke saya, berhasil menyelamatkan Rp462 miliar dan uang itu dipindahkan, dialokasi untuk bikin irigasi, untuk menghadapi musim kering, beliau bikin irigasi yang akan mengairi 8.000 hektare dari potensi di kabupaten beliau 30.000 hektare. Beliau katakan, dalam lima tahun 30.000 hektare itu semuanya akan dapat irigasi yang baru. Boleh juga bupati ini, ya.  

Jadi Saudara-saudara, saya percaya bupati-bupati yang lain, seperti itu juga. Jadi efisiensi jangan diartikan potong transfer daerah. Transfer daerah ada yang langsung dan ada yang tidak langsung tapi semuanya untuk daerah. MBG adanya di desa-desa, MBG ada di kecamatan-kecamatan, MBG ada di kabupaten-kabupaten, dan yang kita turunkan ke daerah-daerah itu, satu tahun ini adalah Rp171 triliun, yang akan masuk ke desa-desa. Tahun depan kita anggarkan Rp330 triliun, ya, Menteri Keuangan, ya? Rp335 triliun, Rp330 triliun itu masuk ke semua desa. 

Hari ini saya dapat laporan dari Kepala BGN, sudah 24 juta, 24 juta. Dua puluh tiga juta, 23 juta penerima manfaat, termasuk ibu-ibu yang sedang hamil, Saudara-saudara. Sudah 6.600 dapur, 6.610 dapur yang sudah beroperasi. Tiap dapur yang kerja 50 orang di tiap desa itu. Jadi Saudara-saudara, kita maju terus, kita maju terus secara riil, secara riil. Setiap hari terus meningkat sampai di ujungnya, [bulan] Desember 82,9 juta penerima manfaat anak-anak, semua anak Indonesia termasuk ibu-ibu yang sedang hamil. Saya kira ini salah satu program yang sekarang ini dilirik oleh seluruh dunia. Negara seperti kita, Brasil, presidennya cerita sama saya, membutuhkan 11 tahun untuk mencapai 40 juta penerima manfaat. Sebelas tahun untuk mencapai 40 juta [penerima manfaat]. Ini ceritanya mantan Presiden Brasil kepada saya.  

Kita diuntungkan sekarang ada teknologi, tapi tidak gampang mencapai semua desa di Republik Indonesia. Kita sekarang menghadapi kesulitan di desa-desa yang terpencil di pulau-pulau yang jauh, ini kita hadapi. Tapi, tidak ada alasan. Mereka adalah anak-anak Indonesia, mereka akan kita urus, mereka akan kita bela, mereka akan kita beri makanan karena mereka anak Indonesia. Di mana pun, mereka tanggung jawab dari Republik Indonesia. 

Republik Indonesia benar-benar merdeka kalau kita merdeka dari kelaparan. Tidak boleh ada anak Indonesia yang berangkat ke sekolah, tidak makan yang baik. Minimal dia di sekolah harus makan yang baik. Kemampuan kita baru seperti ini. Kita baru bisa beri makan satu kali, tapi itu sudah prestasi luar biasa bagi Republik kita. Dasar bangsa Indonesia ya, sudah diberi satu kali makan, sudah ada yang mengajukan, “Pak, kalau bisa di tempat kami dua kali, Pak”, APBN bisa jebol itu. Ini perjuangan, tapi dari mana Ini? Dari efisiensi. 

Saudara-saudara, 
Saya ingin hanya ringkas tapi saya harus, di setiap kesempatan, saya mau ingatkan apa bunyinya Pasal 33. Pasal 3, ini supaya pegangan untuk Bupati ya, kalau nanti Saudara, jangan terlalu murah memberi izin, memberi rekomendasi. Ingat, anak cucumu, ya. Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan, kekeluargaan. Yang kuat silakan, yang menengah ayo, yang lemah kita bantu, yang sangat lemah kita harus angkat, itu keluarga kita, itu anak-anak kita,  itu semuanya warga negara Republik Indonesia. Cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara. Bung Karno itu, Bung Hatta, Bung Sjahrir itu orang-orang pintar, mengalami penjajahan. Mereka alami diperlakukan sama dengan anjing, bahkan lebih rendah dari anjing. 

Saya pernah tahun ’78, Letnan Satu, datang ke kolam renang Manggarai, ada prasasti yang tertutup lumut, saya suruh bersihkan. Kaget saya, saya suruh bersihkan, di prasasti dipahat “Verboden voor honden en inlander”, tahun ’78. Rupanya ditutup lumut, enggak ada yang, enggak ada yang peduli. Kalau saya memang dasarnya ingin tahu. Jadi saya itu selalu, saya punya bakat menemukan. Saya tidak mencari tapi saya sering menemukan, apalagi pelanggaran, saya sering menemukan pelanggaran itu. Saya tidak cari loh, saya tidak cari, ya kan? 

Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. Saudara-saudara, ada pengusaha-pengusaha yang sudah besar, kita kasih HGU, berarti bumi, air, kita kasih kredit dari bank pemerintah. Sudah dikasih, kasih, kasih, masih melanggar, masih enggak mau bayar pajak. masih nipu-nipu. Bahkan ada yang di hutan lindung, menganggap pemerintah Indonesia itu bisa gue atur.  

Saudara-saudara sekalian, rakyat Indonesia yang saya hormati, 
Saya sudah laporan di Majelis Permusyawaratan Rakyat, pemerintah saya sudah menguasai kembali 3,1 juta pada tanggal 15 [Agustus]. Hari ini, sudah 3,2 juta, akhir Agustus akan menjadi 3,5 juta hektare, mungkin September akan menjadi 3,7 juta hektare sudah kami kuasai kembali di tangan Pemerintah Republik Indonesia. Enggak ada pemutihan, pemutihan, enak saja sudah melanggar minta diputihkan. Kalau mau ganti rugi, ganti rugi yang benar. Kalau tidak ganti rugi, ya saya ambil. Dan, katanya laporannya masih banyak lagi yang melanggar, apa boleh buat. Belum lagi tambang-tambang yang enggak ada izin, sudah saya kasih perintah untuk segera diamankan semua itu.

Saudara-saudara sekalian, 
Ini bupati adalah pemerintahan yang terdepan. Jadi saya terima kasih para bupati. Apalagi tadi laporannya Menteri Dalam Negeri 80 persen baru, 80 persen baru, bupati baru. Belajar yang cepat. Tolong Ketua Apkasi jangan malu-malu untuk minta bantuan, ya. Dan, kalau memang Saudara perlu, minta penataran, lapor ke Mendagri, nanti kita cari dana. Kita yang akan bantu pemerintah daerah, jangan malu-malu. Bukan untuk jalan-jalan, benar-benar untuk ditatar ya, kalau perlu ditatarnya para bupati, para kepala dinas di camp-camp tentara kalau perlu. Jangan di hotel bintang lima, enak aja lu, ya. 

 

Saudara-saudara, 
Oh ya, itu ya, ayat empat, perekonomian nasional diselenggarakan berdasar atas demokrasi ekonomi dengan prinsip kebersamaan. Berarti gotong royong, berarti koperasi kita besarkan. Efisiensi berkeadilan. Efisiensi perintah Undang-Undang Dasar, bukan maunya Prabowo. Jangan kau, ya, kan, menteri-menteri bukan hobi aku motong-motong anggaran kalian, tidak. Yang tidak terlalu perlu. Nanti kita kembalikan tapi saya minta kesabaran. Ada berapa menteri yang agak di depan, agak berapa menteri yang nunggu. Ini kayak permainan sepak bola, ya, kan? Ada cadangan, pemain cadangan nunggu dulu. Sekarang kita mainkan ini, 5-6 menteri, 7 menteri, tapi yang ini cadangan. Ya sekarang tugasmu adalah holding, jaga, jaga. Jangan “Oh, kok dia terus, dia terus”, ya.  Pangan mendesak, harus kita amankan, ya, kan. Supaya kita tidak di-bully, kita tidak didikte-dikte oleh bangsa lain, ya, kan. 

Saudara-saudara sekalian, 
Sama para bupati, saya minta para bupati sabar. Jangan “Lho, kita kok, transfer daerah dikurangi, dikurangi”. Tidak dikurangi, ada yang langsung, ada yang tidak langsung. Nanti pada saatnya, kita akan kucurkan besar-besaran. Percaya sama saya, Saudara-saudara.

Saudara-saudara,
Saya ini bukan sok optimistis, saya, ya saya enggak, saya apa adanya. Saya sudah pelajari bukti-buktinya. Saya sudah lihat. Kekayaan kita luar biasa, masalahnya adalah manajemen, pengelolaan, manajemen yang bersih. 

Saudara-saudara, 
Saya sudah buktikan, aset, aset yang ada di pemerintah, aset BUMN, saya kumpulkan di Danantara, nilainya 1.000 miliar dolar [Amerika Serikat], 1.000 miliar dolar [Amerika Serikat]. Sovereign fund kita sekarang mungkin ke-5 ya, ke-5 di dunia. Norway, China—China itu sebetulnya punya tiga, Abu Dhabi, baru kita. Tidak main-main, selama ini tercecer enggak jelas, dan banyak yang tidak baik manajemennya, banyak yang tidak baik.

Sekarang saya ingin beresin semua itu. Saudara tahu, kemarin saya hilangkan apa itu, tantiem, tantiem. Tantiem pun saya enggak jelas apa arti tantiem. Rupanya saya cek, itu bahasa Belanda, bahasa Belanda, tantiem artinya bonus. Kenapa sih, enggak pakai istilah yang sederhana, bonus gitu, loh. Yang repot, perusahaan rugi, dikasih bonus komisarisnya. Enak di lu, enggak enak di rakyat. No, coret. Yang enggak mau, alhamdulillah yang enggak mau, out, get out. Banyak anak muda yang mau masuk. 

Di Indonesia ini, ya, saya kasih tahu, ya, there is no one that can not be replaced, tidak ada orang yang tidak bisa diganti, termasuk Presiden Republik Indonesia. Kalau saya enggak benar, kalau saya brengsek, saya bisa diganti. Enggak ada orang yang tidak bisa diganti. Bupati enggak beres, bupati bisa diganti, ya. Ada itu, direksi-direksi BUMN merasa kayak jadi raja aja, kayak perusahaannya punya neneknya sendiri. Jaksa Agung, ada enggak Jaksa Agung? Jaksa Agung banyak pekerjaannya. 

Baik, Saudara-saudara. Efisiensi bekerja, terima kasih, kebetulan hari ini saya dapat berita baik dari ketua Saudara. 

Penutup, saya hanya memberi tahu kepada Saudara-saudara, ya, konsumsi kita, konsumsi protein per orang, kita masih masih rendah. Kita Indonesia, sama Filipina kalah, Filipina itu konsumsi proteinnya itu 93 gram per orang per kapita, kita masih 62, Malaysia 159. Ini artinya, protein, ya, telur, daging, ayam, daging sapi, pokoknya daging, daging, dan ikan. Ini harus kita kejar. Dan inilah antara lain MBG, ya kan. Antara lain MBG yang mau kita pacu. 

Kita juga harus lebih meningkatkan belanja kita, belanja pemerintah. Dibandingkan dengan PDB kita, persentase kita masih cukup rendah. Kalau kita lihat di slide ini, mungkin kita yang paling rendah di antara sekian puluh negara, kita baru 15 persen dari PDB, India 28 persen, Italia 56, Prancis 58. Jadi kita masih bisa ngejar ini, Saudara-saudara sekalian, dengan pemerintah yang bersih.  

Saya kira itu yang ingin saya sampaikan. Selamat kepada Apkasi. Terima kasih inisiatif Saudara. Terima kasih inovasi-inovasi yang Saudara kerjakan, silakan. Saya hanya titip tadi, bekerjalah dengan sungguh-sungguh untuk rakyatmu, untuk bangsa kita, ya. Dan nanti, kita dengan baik, dengan kerja sama, kita saling mengisi, saling mendukung, dan kita waspada. Negara kita begitu kaya, selalu mau digoyang, ya, kan. Sekarang juga mau diadu domba. Ada orang yang berpikir, kalau terjadi kerusuhan, mereka bisa dapat keuntungan, tidak, tidak. Yang dapat kerugian rakyat, yang dapat keuntungan mereka-mereka yang tidak ingin Indonesia kuat. Tapi Indonesia sekarang sudah kuat, jadi kita, kita akan menuju kebangkitan bangsa Indonesia. 

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. 
Salam sejahtera bagi kita sekalian, 
Om santi santi santi om,
Syalom, 
Salve, 
Terima kasih. 

Selamat,
Dirgahayu Apkasi, 
Selamat bekerja, berjuang untuk rakyatmu, bela rakyatmu, mengabdi kepada rakyatmu, rebut yang terbaik untuk rakyatmu. Saudara akan berhasil sebagai pemimpin.

Terima kasih,
Selesai. 

Dan, dengan demikian, dengan mengucap bismillahirrahmanirrahim, pada pagi hari ini, Kamis, tanggal 28 Agustus tahun 2025, saya Prabowo Subianto, Presiden Republik Indonesia, dengan ini secara resmi saya buka Apkasi Otonomi Expo Tahun 2025. 

Terima kasih.