Sambutan Presiden RI pada Peringatan Nuzulul Qur'an 1433 H, Jakarta, 7 Agustus 2012
SAMBUTAN
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
PADA ACARA
PERINGATAN NUZULUL QUR'AN TAHUN 1433 H/2012 M TINGKAT NASIONAL
DI ISTANA NEGARA, JAKARTA
PADA TANGGAL 7 AGUSTUS 2012
Â
Bismillahirrahmanirrahim,
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Salam sejahtera untuk kita semua,
Hadirin dan Hadirat sekalian yang saya hormati,
Saudara-saudara kaum Muslimin dan Muslimat di seluruh tanah air yang saya cintai,
Â
Malam ini, dengan penuh rasa syukur ke hadirat Allah SWT, di bulan Ramadhan yang penuh berkah dan ampunan ini, kita dapat kembali menyelenggarakan Peringatan Nuzulul Qur'an Tingkat Nasional, yang kali ini dipusatkan di Istana Negara, Jakarta.
Shalawat dan salam semoga tercurah kepada junjungan kita, Nabi Besar Muhammad
SAW beserta keluarga, para sahabat, serta para pengikut beliau, dan insya Allah
termasuk kita semua, hingga
akhir zaman.
Kita semua berharap dan berdoa, semoga peringatan Nuzulul Qur'an pada malam ini
dapat membawa hikmah kepada kaum muslimin dan muslimat di seluruh tanah air,
guna lebih memperkokoh keimanan dan ketakwaan
kita kepada Allah SWT.
Saudara-saudara,
Setelah tadi kita mendengar dan menyimak dengan seksama uraian hikmah Nuzulul
Qur'an dengan tema "Al-Qur'an Membangun Peradaban Unggul" yang disampaikan
dengan jelas dan rinci oleh Prof. Dr. Imam Suprayogo, Rektor Universitas Islam
Negeri Maulana Malik Ibrahim, Malang, kita
semua sungguh mendapatkan pencerahan kembali tentang keutamaan dan keluhuran
nilai ajaran Al-Qur'an, bagi pembinaan dan peningkatan kualitas sumber daya
manusia yang unggul. Al-Qur'an tidak hanya berisi tentang akidah dan syariah,
serta petunjuk dan pembeda antara yang haq
dan bathil, tetapi juga tentang
sejarah peradaban manusia, serta luasnya ilmu pengetahuan dan teknologi.
Dari ceramah tadi, secara khusus, saya ingin menggarisbawahi salah satu
kesimpulan yang diambil oleh Prof. Suprayogo, yaitu manakala kelima misi
Al-Qur'an itu ditangkap dengan baik dan diamalkan oleh umat manusia, maka umat
Islam akan menjadi kaya ilmu pengetahuan, berhasil menjadi manusia yang
berkualitas, berada pada tatanan sosial yang adil, selalu menjalankan ritual
untuk membangun spiritual, dan selalu bekerja secara profesional. Dengan semua
kekuatan itu,
insya Allah, umat Islam atau kita semua akan meraih
kemajuan dalam kehidupan kita. Saya tentu sangat bersetuju dengan kesimpulan
tersebut.
Segaris dengan itu, dalam konteks Indonesia, nilai-nilai luhur yang terkandung
dalam Al-Qur'an tersebut dapat dijabarkan, dikembangkan, dan diaplikasikan
dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
Dalam kesempatan berbuka puasa bersama dengan para wartawan dan pimpinan media
massa beberapa saat yang lalu, di tempat ini, saya mengajak seluruh rakyat
Indonesia untuk juga membangun nilai, sikap, dan perilaku yang baik, guna
membangun peradaban bangsa yang unggul dan mulia.
Ada lima karakter, nilai, dan sikap, serta perilaku luhur yang ingin saya
sampaikan kembali pada acara yang sangat penting ini. Pertama adalah perlunya
kita miliki daya pikir dan daya nalar. Kita sering menyebutnya sebagai common
senses atau
the power of reasons. Ciri-ciri masyarakat dan bangsa yang maju adalah
dimilikinya daya pikir dan daya nalar yang kuat. Dengan demikian, segala
sesuatunya bisa dipikirkan, direncanakan, dan dilaksanakan dengan baik. Kita
terbebas dari pikiran-pikiran yang tidak bisa kita pertanggungjawabkan, karena setiap apa pun yang
kita lakukan, selalu berangkat dari pikiran-pikiran yang jernih dan logis.
Selanjutnya, yang kedua adalah terkait dengan kehidupan demokrasi, yaitu
perlunya dimiliki yang disebut democratic values, atau kesadaran dan
perilaku untuk menjalankan demokrasi yang baik.
Syukur alhamdullillah, meskipun perjalanan demokrasi kita belum rampung,
masih harus terus dimatangkan dan dimantapkan. Saat ini, kita telah menjadi negara
demokrasi. Dalam bentangan waktu kurang dari 15 tahun sejak krisis tahun 1998
dan dimulainya reformasi, sekarang ini demokrasi kita makin tumbuh dan
berkembang.
Untuk lebih mematangkan dan makin meningkatkan kualitas demokrasi yang kita
miliki bersama, maka sangat diperlukan democratic values yang kuat, yang
mesti kita anut dan jalankan bersama-sama. Termasuk di dalam nilai ini adalah
pemahaman tentang kewajiban dan hak warga negara, tanggung jawab, dan misi yang
mereka harus emban, serta kemudian menjalankannya dengan penuh kesadaran dan
keikhlasan. Demikian juga, demokrasi sesungguhnya mengusung nilai-nilai
kedamaian dan tidak menyukai kekerasan, termasuk menolak cara-cara pemaksaan
kehendak kepada pihak lain.
Selanjutnya yang ketiga, sebagai bangsa yang majemuk, maka sangat penting
dimiliki rasa cinta damai, kerukunan, dan toleransi. Riwayat kebersamaan kita
di masa lalu, juga
menghadapi tantangan yang berkaitan dengan kerukunan, kebersamaan, dan
toleransi sebagai bangsa yang memiliki perbedaan identitas yang lebar.
Situasi masa kini pun, kita merasakan masih ada sejumlah masalah dan tantangan
yang berkaitan dengan toleransi dan harmoni dalam kehidupan kita. Di sinilah
nilai penting dari rasa cinta damai, kerukunan, dan toleransi itu. Saya
mengajak, mulai saat ini, marilah kita belajar hidup berdampingan secara damai
dengan saudara-saudara kita yang lain, apa pun agama, etnis, suku, daerah, dan
perbedaan identitas yang lain.
Sedangkan yang keempat adalah patriotisme dan nasionalisme. Patriotisme tidak
selalu identik dengan berjuang mengangkat senjata, menghadapi ancaman dari
negara lain. Patriotisme memiliki arti yang luas, demikian pula nasionalisme.
Dalam banyak hal, patriotisme berdampingan dengan nasionalisme yang positif,
nasionalisme yang sehat, bukan nasionalisme yang sempit atau narrow
nationalism.
Sekalipun saat ini kita hidup di perkampungan global, namun kita mesti punya
rumah sendiri. Rumah itulah tanah air kita. Kita menjaga rumah kita dengan
sebaik-baiknya. Itulah patriotisme dan nasionalisme yang positif. Kita ingin berjuang
mengubah bangsa ini ke arah yang lebih baik, dengan segala kerja kerasnya,
untuk misalnya mengurangi kemiskinan, memberantas korupsi, dan menegakkan
stabilitas dan keamanan publik. Itu juga patriotisme dan nasionalisme.
Sedangkan nilai yang kelima, yang saya pikirkan adalah kepatuhan kepada pranata
hukum. Apabila rakyat kita, kita semua,
patuh pada pranata hukum atau rule of law, insya Allah kehidupan ini
akan makin demokratis, tertib, dan berkeadilan. Masyarakat kita akan terbebas
dari berbagai tindak kekerasan, benturan sosial, dan tindakan main hakim
sendiri.
Kelima hal itulah, di samping nilai-nilai dan pedoman yang diberikan Allah SWT
melalui Al-Qur'an dan Hadis, yang harus dipedomani dan dijalankan oleh segenap
umat Islam, saya pandang masih perlu untuk terus kita mantapkan dalam kehidupan
berbangsa dan bernegara di tanah air kita.
Hadirin sekalian yang saya muliakan,
Â
Mengakhiri sambutan ini, sekali lagi, saya ingin mengajak segenap kaum Muslimin dan Muslimat di seluruh tanah air untuk senantiasa meningkatkan keimanan, keilmuan, dan ketakwaan kepada Allah SWT.
Mari kita jadikan Al-Qur'an sebagai landasan moral, baik dalam kehidupan
pribadi, kehidupan keluarga,
maupun dalam kehidupan masyarakat. Mari kita jadikan Al-Qur'an sebagai pembeda
antara yang haq dan bathil. Al-Qur'an yang memberi tuntunan kepada kita untuk
senantiasa berbuat kebaikan, serta menjauhkan diri dari kejahatan dan
kemungkaran. Mari hindarkan diri kita dari sikap sombong, takabur, dan iri
dengki.
Marilah kita kedepankan sikap saling menghargai, toleransi, dan saling
mengasihi. Marilah kita tingkatkan kebersamaan, persatuan, dan kesetiakawanan
sosial kita kepada sesama muslim di berbagai belahan dunia. Mari kita berikan
perhatian, dukungan doa, dan kepedulian kemanusiaan kepada saudara-saudara
kita, kaum muslimin, yang sedang mengalami ujian dan cobaan yang berat di
berbagai tempat di dunia: di Palestina, di Suriah, dan di komunitas muslim
Rohingya di Myanmar. Dengan cara itu, insya Allah, kita akan menjadi
bangsa yang lebih maju, terhormat, dan bermartabat.
Sekian, Saudara-saudara.
Terima kasih.
Â
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Â
Asisten Deputi Naskah dan Penerjemahan,
Deputi Bidang Dukungan Kebijakan,
Kementerian Sekretariat Negara RI