Sukseskan Penyelenggaraan KTT G20, Kemensetneg Gelar Setneg Mantul Road to G20 di Bali

 
bagikan berita ke :

Senin, 23 Mei 2022
Di baca 381 kali

Kementerian Sekretariat Negara (Kemensetneg) bekerja sama dengan Pemerintah Kota Denpasar dan Badan Kreatif Denpasar menggelar webinar Setneg Mantul Road to G20 Edisi Bali dengan tema "G20 Sebagai Momentum Akselerasi Pemulihan Ekonomi dan Pariwisata Bali".

 

Webinar yang diselenggarakan secara hybrid, luring di Meeting Room Jumpa Kopi 74, Denpasar, Bali dan daring melalui Aplikasi Zoom Meeting, pada Senin (23/05), dibuka oleh Wakil Wali Kota Denpasar, I Kadek Agus Arya Wibawa.

 

Arya Wibawa menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya atas prakarsa penyelenggaraan acara ini. Arya Wibawa pun berharap acara ini dapat menjadi momentum untuk bersinergi bersama segenap pihak untuk pulihkan ekonomi dan pariwisata Bali, dan bangkit bersama untuk wujudkan Denpasar maju.

 

"Pandemi Covid-19 memang membawa dampak yang siginifikan terhadap industri pariwisata Bali hingga melumpuhkan sendi-sendi utama pariwisata, namun setiap ‘musibah’ selalu mengandung ‘berkah’. Pandemi pun menjadi peluang bagi lahirnya berbagai inovasi baru sebagai solusi untuk menjawab berbagai tantangan dan persoalan," ujar Arya.

 

 


Foto: Humas Kemensetneg

 

Bagi daerah industri pariwisata, seperti Bali, pandemi Covid-19 memunculkan kesadaran baru, yakni dibutuhkannya alternatif industri yang dapat dijadikan sandaran. Saat ini industri rekreasi, industri teknologi informasi, dan teknologi industri keuangan merupakan sektor yang banyak mendapatkan perhatian dan memiliki peluang besar untuk berkembang.

 

Sejalan dengan yang dikatakan Arya Wibawa, Ketua Pelaksana Harian Bekraf Denpasar, I Putu Yuliartha menjelaskan bahwa penyelenggaraan KTT G20 akan menjadi momentum yang sangat baik sebagai titik berangkat untuk mengembangkan semua itu.

 

"Saya senang sekali Kementerian Sekretariat Negara berinisiasi untuk berkolaborasi dengan kami dalam acara Setneg Mantul Road to G20 yang diselenggarakan untuk terus menggaungkan pentingnya Presidensi G20 Indonesia sebagai momentum dalam pemulihan ekonomi dan pariwisata Bali, sekaligus merespons perkembangan yang sedang berlangsung di Bali maupun di dunia global," tutur Putu Yuliartha dalam sambutannya.

 

Lebih lanjut, sebagai pemapar pertama, Kepala Biro Hubungan Masyarakat, Kementerian Sekretariat Negara, Eddy Cahyono Sugiarto, menyampaikan bahwa acara ini merupakan bagian dari rangkaian Setneg Mantul Road to G20. Rangkaian Setneg Mantul sebelumnya telah diselenggarakan di empat daerah. Jakarta sebagai lokasi pembukaan acara, kemudian Labuan Bajo, Mandalika, dan Yogyakarta. Kota Denpasar, Bali terpilih menjadi lokasi terakhir rangkaian acara ini.

 

"Program Setneg Mantul ini memiliki visi untuk mengoptimalkan koordinasi antara kementerian/lembaga/pemerintah daerah dalam penyelengara Presidensi G20 dan meningkatkan partisipasi masyarakat dalam Presidensi G20," pungkas Eddy.

 

Selain itu, Setneg Mantul berperan sebagai ajang untuk menyerap aspirasi publik mengenai poin-poin yang dapat menjadi fokus dan prioritas untuk diperjuangkan dalam perhelatan akbar internasional G20. Poin-poin ini diharapkan nantinya dapat memberi dampak yang besar bagi kesejahteraan masyarakat Indonesia secara luas.

 

Hadir sebagai narasumber lainnya dalam diskusi ini, yakni pelaku Bisnis Kreatif dan Kandidat Doktor Ekonomi Bisnis yang juga mantan Wlikota Denpasar, Ida Bagus Rai Dharmawijaya Mantra; Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Udayana, Prof. Dr. I Wayan Ramantha; dan Co-Founder Kepeng.id dan CEO Baliola.com, I Gede Putu Rahman Desyanta. Diskusi ini pun diikuti oleh perwakilan dari kalangan pemerintah kota/kabupaten di Bali, civitas akademi, dan media serta influencer lokal.

 


Foto: Humas Kemensetneg

 

Ida Bagus Rai Dharmawijaya Mantra menyampaikan pandangannya bahwa pada masa pandemi seperti ini yang kita butuhkan adalah kolaborasi. Karakteristik pandemi Covid-19 yang cenderung volatile, tidak pasti, kompleks, dan ambigu memaksa semua pihak untuk lebih adaptif dengan perubahan di berbagai tatanan kehidupan. Sebagai contoh, pariwisata merupakan sektor yang sangat sensitif dan paling terdampak saat pandemi Covid-19.

 

"Hal serupa juga terjadi pada sektor pendidikan dan bisnis. Inovasi penggunaan teknologi dalam pariwisata, kegiatan belajar mengajar, maupun perdagangan menjadi tantangan bagi mereka yang belum memahami kebutuhan teknologi atau mereka yang tidak memiliki infrastruktur yang memadai," ujar Dharmawijaya Mantra.

 

Dharmawijaya Mantra mengatakan bahwa kehadiran Dharma Negara Alaya (DNA Art & Creative Hub Denpasar) yang dikelola Badan Kreatif Denpasar menjadi sebuah ekosistem yang memungkinkan inovasi dapat diproses dan dikembangkan sehingga tidak menimbulkan hambatan. 

 

Sejalan dengan hal tersebut, Prof. Dr. I Wayan Ramantha menyampaikan bahwa adanya ekosistem inovasi, salah satunya memang dari peraturan pemerintah, akan menjadi semangat dan dorongan bagi industri pariwisata, bisnis, kreatif, dan sebagainya dapat berkembang.

 

"Denpasar sendiri telah lama dirancang sebagai Smart City, sebagai Kota Kreatif. Selain itu, dalam reformasi ekonomi Bali, salah satu yang dicanangkan pemerintah adalah melakukan transformasi ekonomi Bali," tutur Ramantha.

 

Ramantha pun kembali mengingat para generasi muda yang sudah memiliki pola pikir yang lebih terbuka dapat memanfaatkan ekosistem ini dengan baik dan menghasilkan berbagai produk inovatif, kreatif, dan bernilai ekonomi.

 

Sesi diskusi ditutup dengan penjelasan terkait teknologi NFT (Non-Fungible Token) dan Baliola, yang merupakan marketplace NFT pertama yang ada di Bali oleh I Gede Putu Rahman Desyanta. NFT marketplace ini dibuat untuk memfasilitasi para seniman Bali dan content creator untuk mempromosikan karya-karya mereka secara virtual dengan aman dan dapat dijangkau pasar global. (Humas Kemensetneg)

Bagaimana pendapat anda mengenai artikel ini?
0           0           0           0           0