Video Conference Presiden RI dg Warga Sinabung dan Warga Aceh, di Jakarta, tgl. 7 Nov 2014
VIDEO CONFERENCE PRESIDEN RI
DENGAN WARGA SINABUNG YANG TERKENA DAMPAK ERUPSI GUNUNG SINABUNG, DAN WARGA ACEH YANG TERKENA MUSIBAH BANJIR
DI PENDOPO WARTAWAN, ISTANA KEPRESIDENAN, JAKARTA
TANGGAL 7 NOVEMBER 2014
Presiden RI:
Mungkin yang pertama ke Sinabung dulu.
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Yang...yang di Sinabung, saya mau menanyakan ini, "Yang...jalan menuju ke relokasi itu sudah dimulai belum?"
Â
Warga Sinabung:
"Sudah Pak, udah dimulai Pak, udah."
Â
Presiden RI:
"Sudah dimulai. Kapan itu dimulainya?"
Â
Warga Sinabung:
"Itu waktu hari itu juga kami ke sana, Pak, bersama dengan anggota TNI itu Pak, bersama-sama kami ke sana Pak"
Â
Presiden RI:
"Ya"
Â
Warga Sinabung:
"Udah dimulai, Pak"
Â
Presiden RI:
"Kira-kira selesainya kapan jalannya ke tempat relokasi?
Â
Warga Sinabung:
"Kalau masalah selesainya, Pak. Ya, itu saya lihat waktu kedatangan Pak KSAD kemarin karena udah rame banyak Bapak TNI, saya rasa bisa lebih cepat jalannya itu dibuat jalannya itu, Pak. Ya, Pak iya."
Â
 Presiden RI:
‘Ya, jadi kan, jadi relokasinya berjalan, jadi nanti saya tolong dilapori kalau sudah selesai, kalau belum selesai juga dilapori. Karena sudah ada perintah langsung dari Pak KSAD untuk selalu diikuti terus, selalu dilihat, dipantau agar segera apa... lokasi untuk relokasi itu bisa diselesaikan."
Â
Warga Sinabung:
"Kami warga masyarakat, khususnya ya tiga desa yang direlokasi pertama itu, Pak, terima kasih sekali, kepada Bapakku Presiden, di mana telah mengintruksikan Pak KSAD sehingga semua jajaran TNI bergotong royong, dan telah mencanangkan kerja-bakti menyelesaikan tempat relokasi, yang khususnya pada kami yang sudah satu tahun lebih kami mengungsi di pengungsian ini, Pak. Sungguh-sungguh terima kasih dari kami kepada Bapak Presiden, nah,  itu Pak, ya."
Â
Presiden RI:
Tapi kemaren gotong royong ikut kerja-bakti buat jalan ndak?
Â
Warga Sinabung:
"Kami sudah diutus bergotong royong itu pake kelompok kami dibuat itu, Pak. Itu kami memang sudah ke sana itu,Pak. Ikut kami Pak"
Â
Presiden RI:
"Ya, nggak apa-apa, bantu-bantu barang sehari nggak apa, tapi bantu dong."
Â
Warga Sinabung:
Ya..ya kami siap juga untuk bantu itu, karena kami pun sadar ya memang itu tempat kami, kira-kira begitu itu, Pak. Jadi kami pun sama-sama dengan kawan-kawan yang ada di sini ya rela untuk itu Pak memang, ya."
Â
Presiden RI:
"Pak, yang lahan untuk relokasi kan besar sekali, jalan menuju ke sana itu kita harapkan juga para pengungsi juga ikut-ikut bergotong-royong, kerja-bakti karena itu juga untuk siapa? Bukan untuk yang lain-lain, jadi untuk seluruh pengungsi sendiri."
Â
Warga Sinabung:
Ya, ya, untuk kami itu Pak, untuk kami masyarakat pengungsi lah yang direlokasi, begitu Pak. Memang sadar kami memang untuk itu, Pak, ya."
Â
Presiden RI:
"Ya, terima kasih, terima kasih, Â Sinabung terima kasih."
Â
Presiden RI:
"Ayo, ganti ke Sinabung 1, silakan"
Ini masih di mana? Ini yang, ini yang di apa? Â Yang di apa
Â
Sinabung 1:
"Yang di Berastepu tepatnya di Simpang Sipitun"
Â
Presiden RI:
Â
"Sebelah mana ya itu ya?"
Â
Sinabung 1:
"Eeu..waktu Bapak lewat ke Gurukinayan, hanya dua kilo cuma, Pak."
Â
Presiden RI:
"Berarti, dua kilo sebelum di Gurukinayan?"
Â
Sinabung 1:
"Eeu...Bapak lewat situ waktu Bapak ke Gurukinayan"
Â
Presiden RI:
"Oh iya, yang saya dadah..da..dah itu ya, gini yah"
Â
Sinabung 1:
"Oh ya, betul, betul, betul"
Â
Presiden RI:
"Ingat, ingat, ingat. Ya silakan, gimana"
Â
Sinabung 1:
"Begini Pak, keluhan kami sekarang pengungsi yang tinggal di Simpang Sipitun ini sudah 5 bulan nggak dapat apa-apa pun Pak. Kami mohon bantuan dari Bapak, apa mau bantulah sembako untuk kami karena kami enggak pernah menerima selain dari Bapak pada waktu itu.
Â
Presiden:
"Ya."
Â
Sinabung 1:
"Hanya itu yang cuma kami terima Pak"
Â
Presiden RI:
"Ya, coba diulang lokasinya di mana tadi?"
Â
Sinabung 1:
"Di Berastepu, tepatnya di Simpang Sipitun"
Â
Presiden RI:
"Simpang Sipitun, di Berastepung? Oh, ya, ya Berastepu, Simpang, Simpang Berastepu di Simpang Empat ya?"
Â
Sinabung 1:
"Di Simpang Tiga Pak"
Â
Presiden RI:
"Oh Simpang tiga, ya,ya. Desa Berastepu, di Simpang Tiga. Besok saya kirim, ini berapa pengungsi yang ada di situ?"
Â
Sinabung 1:
"Kami di pengungsian ini, ada kira-kira 160 KK, Pak"
Â
Presiden RI:
"160 KK, besok langsung saya kirim sembakonya"
Â
Sinabung 1:
"Terima kasih, Pak."
Â
Presiden RI:
"Ya, Plus apa? Plus-plus, pake plus enggak?
Â
Sinabung 1:
"Pake plus apa, apa plus? Pake plus"
Â
Presiden RI:
"Nggak, maksud saya sembako, masih pengen di tambah plus enggak?
Â
Sinabung 1:
"Maksudnya apa? Agak kurang ngerti Pak"
Â
Presiden RI:
"Besok mau saya kirim sembakonya, untuk seratus, berapa tadi? 160 KK, masih minta tambahan plus lagi endak?
Â
Sinabung 1:
"Ya, ya, minta-minta tambahlah, Pak"
Â
Presiden RI:
"Apa?"
Â
Sinabung 1:
"Kebutuhan kamipun banyak kali nih"
Â
Presiden RI:
"Ya, nanti saya kirim sembakonya besok, plus nanti satu KK saya tambah plus 500.000"
Â
Sinabung 1:
"Ya, ya terima kasih Pak, atas bantuan Bapak, saya tidak nentuin Pak. Ya ini gunungnya baru nyembur lagi, Pak"
Â
Presiden RI:
"Tapi gak sampai ke apa, gak sampai ke, ke Simpang Tiga?"
Â
Sinabung 1:
"Nggak, nggak Pak, tempat kami ini zona aman Pak."
Â
Presiden RI:
"Ya syukur, ya ditunggu saja besok akan kita kirim."
Â
Sinabung 1:
"Ya, ya Pak, terima kasih, Pak"
Â
Presiden RI:
"Sama-sama terima kasih juga. Ke Aceh, ke Aceh. Aceh 1. salamualaikum"
Â
Aceh 1:
"Waalaikum salam"
Â
Presiden RI:
"Gimana apa kondisi di Aceh?
Â
Aceh 1:
"Alhamdulillah Pak, baik-baik, tapi banjir, banjir Pak"
Â
Presiden RI:
"Banjir?"
Â
Aceh 1:
"Ya"
Â
Presiden RI:
"Di Jawa masih kemarau, di Aceh sudah banjir ya?"
Â
Aceh 1:
"Iya, ya, kami ini Pak dari Melauboh Aceh Barat adalah selaku keti di kampung, desa yang paling parah dulu korban tsunami dan direlokasikan ke desa Blang Beurandang, dan selama posisi kami di sini Pak, sudah 7 tahun setiap tahun kami mendapat selalu banjir. Tapi pada tahun ini adalah yang terbesar yang kami rasakan, ini adalah seolah-olah terjadinya bagi kami selaku warga Perasere yang dirotasi ke Blang Beurandang ini adalah tsunami kedua Pak. Sekarang beda dengan tsunami hanya dulu korban keluarga, tapi kali ini tidak ada korban keluarga tapi korban harta, juga korban ekonomi masyarakat"
Â
Presiden RI:
"Pak Keci, itu apa berapa meter itu banjirnya, sampai berapa meter? Saya itung eman itu"
Â
Aceh 1:
"Tiga meter Pak, ada yang dua meter, ada yang tiga meter tergantung posisi rumahnya masyarakat. Rata-rata yang paling tinggi tiga meter, Pak."
Â
Presiden RI:
"Tinggi banget ya tiga meter. Berapa KK yang terkena banjirnya?"
Â
Aceh 1:
"Kalau yang Parang aja kita 700 lebih Pak, ditambah lagi Blang Beurandang 2200 KK lebih, jadi di sini sekitar lebih-kurang 3000 KK lebih Pak yang kena."
Â
Presiden RI:
"Sudah ada bantuan yang masuk belum, sudah ada bantuan yang masuk belum ke Meulaboh?
Â
Aceh 1:
"Bantuan yang kami dapat cuma hanya di Posko Pak, tapi selama kami pulang dari kemarin ke sini untuk membersihkan rumah, kami belum ada mendapat bantuan yang berupa masa-masa daruratnya, Pak. Sekarang jelas kami sampaikan kepada Bapak Presiden, kami selaku masyarakat rata-rata di sini yang direlokasi masyarakat nelayan juga petani Pak. Jadi kami setelah terjadinya banjir itu kembali ke rumah, kami rata-rata tidak bisa mencari uang, rejeki. Rata-rata kami kesulitan, jadi dalam hal ini mungkin melalui langsung kepada Bapak Presiden, kami mengharap untuk membantu selama masa darurat ini untuk masyarakat kami yang memang sangat mengharapkan bantuan dari pemerintah."
Â
Presiden RI:
"Ya, besok langsung dikirim,"
Â
Aceh 1:
"Ya, insya Allah Pak, terima kasih"
Â
Presiden RI:
"Insya Allah besok. Apa itu, mintanya apa?
Â
Aceh 1:
"Ya, Pak?"
Â
Presiden RI:
"Permintaannya apa?"
Â
Aceh 1:
"Permintaannya yang pertama Pak, bahan pokok untuk masyarakat, untuk makan, bahan pokok masyarakat juga ada kalau memang ada yang lain kami tidak bisa menyampaikan kepada Bapak Presiden, mungkin Bapak Presiden mengerti bagaimana kejadian yang namanya banjir. Jadi kami serahkan kepada pemerintah untuk apa, untuk membantu masyarakatnya Pak."
Â
Presiden RI:
"Ya,besok, besok, besok saya apa, saya kirim langsung ke Aceh. Ditunggu saja ya, Pak Keci ya."
Â
Aceh 1:
"Ya, terima kasih Pak"
Â
Presiden RI:
"Warganya diurus"
Â
Aceh 1:
"Ya, siap Pak"
Â
Presiden RI:
"Urusannya Pak Keci, terima kasih Pak Keci. Wasalammualaikum."
Â
Aceh 1:
"Waalaikum salam warrahmatullahi wabarokatu."
Â
Presiden RI:
"Ke Aceh 2, Aceh 2 ini di mana nih? Silakan"
Â
Aceh 2:
"Ya, di Kabupaten Aceh Barat, Kecamatan Meulaboh, Pasie Aceh Baru, Pak, Pasie Aceh Baru"
Â
Presiden RI:
"Di Aceh Barat?"
Â
Aceh 2:
"Aceh Barat, Kecamatan Meulaboh, Desa Pasie Aceh Baru"
Â
Presiden RI:
"Desa Pasie Aceh Baru, di Meulaboh, ya,ya. Silakan, silakan"
Â
Aceh 2:
"Kami, Pak selama banjir, yang banjirnya sudah surut kemarin hari Rabu, jadi Insya Allah masyarakatnya kembali ke tempatnya masing-masing Pak. Sekarang masyarakat lagi bersih-bersih rumah, dan mengumpulkan barang-barang yang terendam air yang bisa dipake, dan kemudian mengurus pakaian-pakaian mereka yang basah semua. Dan, sekarang sampai Pak sejak hari Senin banjir kami sudah mendapat bantuan cuma baru sedikit, cuma beras, 5 bungkus mie instan, dan 1 telor, kemudian 12... Kemudian, masyarakat tengah mengharapkan bantuan selanjutnya pada donatur-donatur dan dari pemerintah, Pak.
Â
Kemudian, yang cukup besar sekali Pak karena penduduk Desa Pasie Aceh Baru 95 persenlah bergerak di bidang pertanian, dan sekarang mulai minggu pertama bulan November ini kami siap-siap mengolah tanah, tapi banjir, kemudian semua alat-alat pertanian sudah terendam dan sekarang baru....,Pak. Kemudian, yang sangat sedih lagi bibit padi lokal yang kami persiapkan semasa musim tanam 2014 dan 2015 telah musnah terendam air, maka kami harapkan ke depannya agak sulit bergerak di bidang pertanian. Maka, dalam hal ini kami harapkan bantuan pemerintah untuk memberdayakan masyarakat kami supaya bisa mulai kegiatan ke sawah lagi, Pak. Itu sangat kami harapkan.
Â
Kemudian untuk mengurangi resiko bencana karena kami bencana agak rutin, dan bencana inilah yang besar kami mengharapkan untuk mengurangi resiko bencana, kami mengharapkan satu bale pengungsian atau gedung pengungsian biar kami tidak jauh lari ke gunung. Kemudian untuk alat transportasi-transportasinya kamipun mengharapkan umpamanya perahu karet itulah kira-kira, karena untuk bisa kami manfaatkan apabila ada bale pengungsian, itulah Pak. Kemudian, di bidang kesehatan lagi Pak, kami misalnya sangat butuh Puskesmas tertentu supaya kami tidak tergesa-gesa lari ke Pusat Ibukota Kecamatan karena agak jauh sampai 5 km. Nah, sehingga ada kemarin waktu banjir ada korban jiwa 1bayi karena kedinginan, mungkin karena jauh dan tidak dapat tertolong, itulah yang korban jiwa cuma 1.
Â
Nah, yang lainnya, yang lainnya untuk menanggapi masa kaget ini, masa kaget ini, kami mohon Bapak pasca kami agak normal gak normal lagi, mohonlah uang kaget untuk sebulan untuk kami, uang kaget. Karena kami lumpuh semua yang jualan, yang jualan, barang-barang jualannya juga terendam semua. Kemudian, alat transportasi motor, motor, motornya terendam semua untuk diperbaikipun agak susah, uangnya pun nggak ada, Pak. Jadi ini semua membutuhkan bantuan uluran tangan pemerintah atau pihak-pihak manapun boleh juga, euu untuk Bapak Presiden pun sangat kami menunggu Pak, itu aja Pak."
Â
Presiden RI:
"Ya terima kasih Pak Arsyad, terima kasih, saya sudah nangkep. Itu yang kena banjir berapa KK itu di desa?"
Â
Aceh 2:
"185 KK Pak"
Â
Presiden RI:
"185 KK, terus desa yang lain masih ada yang terkena lagi ndak?
Â
Aceh 2:
"Apa Pak?"
Â
Presiden RI:
"Desa yang lain, kecamatan yang sama?"
Â
Aceh 2:
"Desa tetangga pokoknya seluruh Kecamatan Meulaboh, cuma 2 desa yang nggak kena yang lain kena semua tu Kecamatan Meulaboh"
Â
Presiden RI:
"Berapa desa itu semuanya?"
Â
Aceh 2:
"28 desa"
Â
Presiden RI:
"28 desa"
Â
Aceh 2:
"28 desa, itu yang nggak kena 2 desa yang di pegunungan"
Â
Presiden RI:
"Ya, ya besok kirim nanti ke mana ini?"
Â
Aceh 2:
"Ke Desa Pasie Aceh Baru"
Â
Presiden RI:
"Ke Desa Pasie Aceh Baru? Ya"
Â
Aceh 2:
"Kecamatan Meulaboh, Kecamatan Meulaboh Kabupaten Aceh Barat"
Â
Presiden RI:
"Ya, udah saya catat, ya besok dikirim apa sembakonya ke, ke apa Desa Pasie segera."
Â
Aceh 2:
"Di Aceh"
Â
Presiden RI:
"Ya, di Aceh betul, saya kirim besok"
Â
Aceh 2:
"Desa Aceh Baru, Pak"
Â
Presiden RI
"Ya, sudah saya catat"
Â
Aceh 2:
"Ya, ya terima kasih, Pak. Alhamdulillah Pak."
Â
Presiden RI:
"Ya ditunggu saja kalau nggak datang besok ya besoknya, karena butuh transportasi ya. Ini dari, dari lewatnya cepat dari  Banda Aceh atau dari Medan?
Â
Aceh 2:
"Dari Aceh, Pak"
Â
Presiden RI:
"Dari Aceh ya"
Â
Aceh 2:
"Aceh Barat, dari Aceh Barat
Â
Presiden RI:
Ya, ya besok biar, biar, biar segera diurus tetapi nggak ada apa uang kagetnya. Sembako kaget aja besok ya segera saya kirim, ya tadi apa, untuk seluruh KK yang ada. Terima kasih, terima kasih. Assalamualaikum"
Â
Aceh 2:
"Waalaikum salam warrahmatullahi wabarokatuh"
Â
Presiden RI:
"Dari Sinabung 3, silakan Sinabung 3"
Â
Sinabung 3:
"Selamat sore, Pak"
Â
Presiden RI:
"Ya selamat sore, di mana ini?"
Â
Sinabung 3:
"Di GBKP Jalan Kotacane, Kabanjahe"
Â
Presiden RI:
"Ya, gimana Bu, ada yang disampaikan?"
Â
Sinabung 3:
"Ya, setelah tadi kami ngobrol sama pengungsi, ada beberapa hal yang pingin disampein sama Pak Presiden"
Â
Presiden RI:
"Ya, silakan"
Â
Sinabung 3:
"Salah satunya, posko kesehatan maunya disiapkan di posko; dua, keamanan maunya di posko 24 jam"
Â
Presiden RI:
"Ya, terus"
Â
Sinabung 3:
"Tiga, kamar mandinya udah pada rusak semua dimohon perbaikannya, gitu."
Â
Presiden RI:
"Ya, terus"
Â
Sinabung 3:
"Empat, tolong diberikan lahan pertanian karena ladang orang ini di Sukanalu dah itu dah rusak total enggak bisa lagi dipake"
Â
Presiden RI:
"Ya, kelima"Â
Â
Sinabung 3:
"Terus panja, jaminan hidup, jaminan hidup harap dilanjutkan. Itulah, tadi infles dari para pengungsi. Jadi itulah yang diminta sama pengungsi, dan kami pun, kami yakin Bapak bisa mengerti dan apa yang kami butuhkan di sini. Apa yang perlu kami sampaikan atas permintaan pengungsi, Pak."
Â
Presiden RI:
"Ibu Natalie nanti apa, waktu kita ke, saya kirim nanti utusan ke Sinabung nanti biar mampir untuk ketemu, untuk ngecek yang diminta tadi mengenai apa tadi, mengenai kamar, kamar mandi, ya nanti nanti biar mampir, nanti ditunjukkan ya di sana ya ke utusan saya, yang mana yang diperbaiki nanti biar diselesaikan di lapangan. Terima kasih Bu Natalie, terima kasih, nanti salam untuk semuanya yang dipengungsian, yang di gereja di GBKP di jalan Kotacane ya, di Kabanjahe kan ini?"
Â
Sinabung 3:
"Ya Pak. Terus tadi koordinatornya maaf nggak bisa ngobrol langsung sama Bapak karena dia mengikuti  Sidang Raya PGI di Nias"
Â
Presiden RI:
"Ya nggak apa-apa, kan sama saja ketemu"
Â
Sinabung 3:
"Ya Pak, iya Pak"
Â
Presiden RI:
"Terima kasih, terima kasih selamat sore"
Sinabung 3:
"Selamat sore Pak"
Â
Presiden RI:
"Ya, salam untuk semuanya, untuk semua pengungsi yang ada di Sinabung, terima kasih, terima kasih."
Â
Presiden RI:
"Pak Ketua BNPB, Pak Syamsul, selamat sore"
Â
Ketua BNPB:
"Selamat sore, Pak"
Â
Presiden RI:
"Pak Syamsul itu yang apa yang tadi itu yang banjir di Aceh itu, mungkin yang ini, yang apa, yang butuh perahu, dan yang lain-lainnya ini tolong di segera dikirim Pak. Yang lain-lainnya nanti apa beras, sembako urusan, urusan sayalah, segera saya kirim nanti."
Â
Ketua BNPB:
"Ya, siap Pak. Kami laporkan bahwa kami sudah mengirim Rp 1,4 miliar, Pak.
Â
Presiden RI:
"Untuk?"
Â
Ketua BNPB:
"Untuk membantu mereka melalui Pemerintah Daerah-nya, Pak. Perahu segera dikirimkan, Pak"
Â
Presiden RI:
"Ya, ya, terima kasih Pak Syamsul, terima kasih. Selamat sore Pak, terima kasih. Semuanya terima kasih atas perhatiannya. Assalamualaikum warrahmatullahi wabarokatuh. Terima kasih, terima kasih."
Â
Â
Asisten Deputi Naskah dan Penerjemahan,
Deputi Bidang Dukungan Kebijakan,
Kementerian Sekretariat Negara RI