Doorstop Presiden RI - Meninjau Pembangunan Jalur Kereta Trans Sumatera, Binjai, 2 Maret 2016

 
bagikan berita ke :

Rabu, 02 Maret 2016
Di baca 1351 kali

DOORSTOP PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

MENINJAU PEMBANGUNAN JALUR KERETA TRANS-SUMATERA

BINJAI, SUMATERA UTARA

2 MARET 2016

 

 

 

Presiden:

Kita bisa lebih cepat lagi, bisa lebih cepat, bisa tentu saja memperkuat competitiveness kita, daya saing kita, untuk efisiensi semua biaya, semua harga yang ada di lapangan.

 

Dan saya tadi melihat, dari Medan, yang pertama Medan-Kualanamu, kemudian Medan-Binjai 17 km, 17 km. Ini juga dalam progres yang sangat baik. Kemudian, dari Kualanamu ke Tebing Tinggi, juga semua proses pembebasan tanahnya sudah 97%, berarti kurang sedikit. Hanya yang mendekati Tebing Tinggi saja yang baru 40%. Ini sudah sebuah progres yang sangat baik.

 

Dan kita harapkan tiga ruas serangkai tadi selesai pertengahan bulan Juli 2017. Yang selesai akhir 2016, itu yang dari Medan ke Binjai. Jadi nanti, akhir tahun ini, selesai. Yang dua ruas tadi pertengahan 2017. Akan dikejar untuk bisa diselesaikan.

 

Kemudian akan diteruskan. Nantinya yang Tebing Tinggi masuk ke Parapat. Tapi ini juga masih kita lihat lapangannya sehingga ini akan terus kita perbaiki.

 

Juga bukan hanya jalan tol. Jalur kereta api juga sama. Terus akan kita kerjakan siang dan malam.

 

Memang sekarang sistemnya sangat baik menurut saya: dibagi dalam seksi-seksi. Setiap section, itu dikerjakan oleh kontraktor yang berbeda sehingga kecepatannya akan lebih cepat lagi, lebih baik lagi.

 

Sudah?

 

Wartawan:

... kita tidak agresif dalam membangun pabrik. Artinya kira-kira apa saja ...

 

Presiden:

Pemerintah daerah yang saya lihat, misalnya seperti di Sumatera Utara, kalau melihat dari progresnya pembebasan lahan, itu sudah 97%. Artinya apa? Peran pemerintah daerah di situ, di pembebasan lahan, supaya cepat, supaya lancar, supaya konstruksi bisa masuk, dan selesai.

 

Saya lihat kemarin tol yang di Trans-Sumatera, juga yang di Lampung, juga sama, cepat sekali. Malah keterlambatan di pembayaran, di denah. Ini bagus, ini bagus sehingga konstruksi langsung masuk di Lampung, pembebasan konstruksi masuk. Kecepatan ini yang akan nanti menghasilkan panjang tol yang saya kira, dalam lima tahun ke depan, akan melonjak naik sangat drastis.

 

Tadi diceritakan oleh Pak Dirjen, sejak tahun ’86, kita kerjanya 34,8 km di Sumatera lo, Sumatera. Ya nanti dilihat.

 

Wartawan:

Bapak Presiden, dengan adanya jalan tol ini sebagai sarana infrastruktur, tentu saja akan berpengaruh pada biaya logistik, di mana biaya logistik itu juga, kalau mengalami penurunan, akan berpengaruh pada harga barang dan jasa, baik pasar daerah maupun nasional.

 

Seberapa besar penurunan biaya logistik yang pemerintah harapkan ketika jalan tol, sarana infrastruktur ini terbangun dengan baik?

 

Presiden:

Tadi di depan, sudah saya sampaikan bahwa ini nanti akan mempercepat mobilitas barang, mempercepat mobilitas komoditas, mempercepat mobilitas produk dari satu tempat ke tempat yang lain. Akhirnya apa? Akhirnya nanti, karena biaya transportasinya cepat dan murah, biaya distribusi juga akan jatuh murah.

 

Sekarang, dibandingkan dengan negara tetangga dekat-dekat kita saja, biaya transportasi, biaya logistik kita 2 sampai 2,5 kali lipat. Kita harapkan ya pada posisi seperti itu kalau kita ingin daya saing kita, competitiveness kita baik. Ya minimal sama. Syukur kita bisa lebih murah, biaya transportasi dan biaya logistik kita, dibandingkan dengan negara-negara tetangga kita.

 

Ini yang kita harapkan ke sana. Paling tidak, sama. Artinya nanti separuhnya.

 

Wartawan:

Hampir 10 persen ya, Bapak Presiden? Kan sampai di bawah 15 ribu.

 

Presiden:

Bagamana sih? Sekarang 2 sampai 2,5 kok. Ya berarti jatuh separuhnya.

 

Wartawan:

Jatuh separuhnya.

 

Presiden:

Jatuh separuhnya biaya logistik dan biaya transportasi.

 

Sudah? Terima kasih.

 

Wartawan:

Terima kasih, Pak.

*****

Biro Pers, Media dan Informasi

Sekretariat Presiden