Laksanakan Program Vaksinasi Covid-19 Nasional, Indonesia Serius Tangani Perlindungan Kesehatan dan Pemulihan Ekonomi Nasional

 
bagikan berita ke :

Kamis, 14 Januari 2021
Di baca 454 kali

Presiden Joko Widoso mengawali Program Vaksinasi Covid-19 Nasional yang dilaksanakan perdana pada Rabu, 13 Januari 202 di Istana Merdeka, Jakarta. Presiden Joko Widodo menjadi orang pertama yang menerima vaksinasi Covid-19. Hal ini sekaligus menandai mulainya program vaksinasi massal secara gratis di seluruh Indonesia dan sebagai salah satu upaya penanganan pandemi Covid-19.

Proses vaksinasi disiarkan secara langsung melalui kanal Youtube Sekretariat Presiden.
Vaksinasi perdana ini dilakukan setelah memperoleh izin penggunaan darurat atau emergency use authorization untuk vaksin Covid-19 Sinovac dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) pada Senin, 11 Januari 2021 dan mendapatkan kepastian fatwa halal yang dikeluarkan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Hasil Dalam Fatwa MUI Nomor: 02 Tahun 2021 Tentang Produk Vaksin Covid-19 dari Sinovac Life Science Co. LTD China dan PT Bio Farma (Persero), yang ditetapkan melalui Sidang Pleno Komisi Fatwa MUI pada Jumat, 8 Januari 2021, MUI menyatakan bahwa vaksin tersebut hukumnya suci dan halal.

Presiden menegaskan, vaksinasi Covid-19 ini merupakan hal yang penting untuk dilakukan. Vaksinasi tersebut diharapkan mampu memutus rantai penularan wabah corona di Indonesia, memberikan perlindungan kesehatan, keselamatan, dan keamanan serta sebagai tahapan awal menangani dampak yang ditimbulkan akibat pandemi. Selain itu, tentu saja membantu proses percepatan pemulihan ekonomi nasional.

Kepala Negara tak henti-hentinya terus mengingatkan kita semua untuk selalu menerapkan protokol kesehatan dengan memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak serta menghindari kerumunan tetap harus dijalankan.

 

Perwakilan Masyarakat Penerima Vaksiansi Bersama Presiden

Sejumlah perwakilan dari beberapa kalangan turut serta bersama Presiden menerima vaksinasi Covid-19 perdana. Tercatat perwakilan dari kalangan kesehatan, pemuka agama, pengusaha, guru, tenaga kesehatan, buruh, hingga pedagang kecil ambil bagian dalam vaksinasi Covid-19 yang diberikan pemerintah secara gratis.

Nama-nama perwakilan tersebut ialah Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Sadikin Gunadi, Panglima TNI, Marsekal Hadi Tjahjanto, dan Kapolri, Jenderal Pol. Idham Azis.

Daeng Mohammad Faqih, lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya, saat ini merupakan Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia. Dirinya tercatat aktif di Badan Rumah Sakit Indonesia tahun 2014-2017 dan pernah tergabung dalam Tim Kendali Mutu dan Kendali Biaya Pusat serta Dewan Pembina Komisi Akreditasi Rumah Sakit.

Amirsyah Tambunan, Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang sekaligus mewakili Muhammadiyah, selain aktif sebagai Sekjen MUI, yang bersangkutan juga tercatat sebagai Wakil Ketua Majelis Wakaf dan Kehartabendaan PP Muhammadiyah 2015-2020. Amirsyah juga pernah menjabat sebagai Wakil Sekjen MUI pada 2010-2015 silam.

                                          

                                                                              (Sumber Foto: BPMI Setpres)

Sementara itu, Ahmad Ngisomudin yang menjadi perwakilan dari Nahdlatul Ulama, saat ini aktif sebagai Rois Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama. Beliau juga aktif sebagai dosen UIN Raden Intan Lampung. Adapun dari kalangan milenial, hadir Raffi Ahmad yang merupakan seorang publik figur.

Untuk diketahui, selain enam orang di atas, sejumlah perwakilan juga tampak hadir pada vaksinasi pertama dalam sesi-sesi setelahnya. Mereka yang hadir tersebut ialah Budi Gunadi Sadikin (Menteri Kesehatan), Unifah Rosyidi (Ketua Umum PGRI), Ronald Rischard Tapilatu (Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia), Romo Agustinus Heri Wibowo (Konferensi Waligereja Indonesia), I Nyoman Suarthani (Parisada Hindu Dharma Indonesia), Partono Nyanasuryanadi (Persatuan Umat Buddha Indonesia), dan Peter Lesmana (Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia).

Selain itu, turut pula perwakilan lainnya yakni Penny Kusumastuti Lukito (Kepala BPOM), Rosan Perkasa Roeslani (Ketua Kadin), Ade Zubaidah (Sekjen Ikatan Bidan Indonesia), Harif Fadhillah (Ketua Umum DPP PPNI), Nur Fauzah (perawat), Lusy Noviani (Wasekjen Pengurus Pusat Ikatan Apoteker Indonesia), Agustini Setiyorini (perwakilan buruh), dan Narti (perwakilan pedagang).

Di samping itu, tampak Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Prof. Wiku Adisasmito dan dr. Reisa Kartika Asmo Subroto turut serta mengikuti vaksinasi perdana ini.

 

Alur Vaksinasi Covid-19

Sebelum dilakukan vaksinasi, Presiden dan perwakilan kalangan yang akan menerima waksin terlebih dahulu melakukan pendaftaran dan verifikasi data, serta pemeriksaan kesehatan seperti pengukuran suhu tubuh dan tekanan darah.

Selain itu, petugas pun melakukan verifikasi data dengan menyampaikan sejumlah pertanyaan seputar riwayat kesehatan kepada Presiden (penerima vaksinasi), hingga dinyatakan sehat dan layak mengikuti vaksinasi.

Kepala Negara kemudian menuju meja berikutnya untuk proses selanjutnya yaitu penyuntikan vaksin. Adapun yang bertindak selaku vaksinator presiden adalah Wakil Ketua Dokter Kepresidenan, Prof. dr. Abdul Muthalib, Sp.PD-KHOM dengan dibantu seorang asisten yang mempersiapkan peralatan.

Vaksin Sinovac membutuhkan dua kali penyuntikan masing-masing sebanyak 0,5 mililiter dengan jarak waktu 14 hari. Untuk itu, para penerima vaksin akan mendapatkan kartu vaksinasi dan diingatkan untuk kembali menerima vaksin untuk kedua kalinya.

Program vaksinasi Covid-19 ditargetkan akan dimulai pada minggu ini. Kelompok awal yang akan diprioritaskan menerima vaksin adalah tenaga kesehatan. Tahap awal, mereka yang menerima vaksin akan mendapatkan notifikasi SMS, baru setelah itu diharuskan melakukan registrasi ulang.

Adapun saat pelaksanaan layanan vaksinasi, nantinya para penerima vaksin harus melewati 4 meja. Alur 4 meja ini sebagaimana tercantum dalam Keputusan Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Nomor hk.02.02/4/1/2021 tentang Petunjuk Teknis Pelaksanaan Vaksinasi Dalam Rangka Penanggulangan Pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19).

Dalam prosesnya, berikut ini alur pelayanan vaksinasi Covid-19 di puskesmas, fasilitas pelayanan kesehatan lain, maupun pos pelayanan vaksinasi:

Meja pertama untuk melakukan pendaftaran dan verifikasi data. Petugas memastikan para penerima vaksin dengan menunjukkan nomor tiket elektronik (e-ticket) dan/atau KTP untuk dilakukan verifikasi sesuai dengan tanggal pelayanan vaksinasi yang telah ditentukan. Verifikasi data dilakukan dengan menggunakan aplikasi Pcare Vaksinasi (pada komputer/laptop/HP) atau secara manual yaitu dengan menggunakan daftar data sasaran yang diperoleh melalui aplikasi Pcare Vaksinasi yang telah disiapkan.

Meja kedua, petugas kesehatan melakukan anamnesa untuk melihat kondisi kesehatan dan mengidentifikasi kondisi penyerta (komorbid) serta melakukan pemeriksaan fisik sederhana. Pemeriksaan meliputi pengecekan suhu tubuh dan tekanan darah. Setelah pemeriksaan, selanjutnya data pemeriksaan fisik sederhana ini akan diinput petugas, jika input online tidak bisa maka hasilnya dicatat secara manual untuk kemudian diinput setelah ada koneksi internet.

Berdasarkan data yang diinput akan keluar rekomendasi hasil yang menunjukkan apakah sasaran penerima dapat lanjut vaksinasi atau harus ditunda, bahkan tidak dapat melakukan vaksinasi sama sekali. Jika harus ditunda maka petugas menyampaikan akan ada notifikasi SMS pemberitahuan ulang atau melalui aplikasi peduli lindungi untuk melakukan registrasi ulang dan menentukan jadwal pengganti.

Namun, jika saat pengecekan kesehatan sederhana terdeteksi penyakit tidak menular atau adanya infeksi Covid-19 maka pasien dirujuk ke Poli Umum untuk pemeriksaan lebih lanjut. Perlu diketahui vaksinasi tidak diberikan pada mereka yang memiliki riwayat konfirmasi Covid-19, wanita hamil, menyusui, usia di bawah 18 tahun, usia di atas 59 tahun, dan beberapa kondisi komorbid.

Di meja kedua ini, petugas juga memberikan penjelasan singkat mengenai vaksin yang diberikan, manfaat dan reaksi atau Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) yang mungkin terjadi dan penanganannya.

Meja ketiga, petugas pemberi vaksinasi (vaksinator) akan melakukan penyuntikan vaksin. Untuk vaksin multidosis, petugas menuliskan tanggal dan jam dibukanya vial vaksin pada label di vial vaksin.

   (Sumber Foto: BPMI Setpres)

Petugas memberikan vaksinasi secara intramuskular sesuai prinsip penyuntikan yang aman. Selanjutnya, petugas menuliskan nama sasaran, NIK, nama vaksin, dan nomor batch vaksin pada sebuah memo. Memo diberikan kepada penerima vaksin untuk diserahkan kepada petugas di meja keempat.

Meja keempat yakni meja pencatatan. Petugas akan meminta penerima vaksin untuk menunggu 30 menit sebagai antisipasi bila ada KIPI. KIPI bisa diartikan sebagai setiap kejadian medis yang tidak diinginkan, terjadi setelah pemberian imunisasi, dan belum tentu memiliki hubungan kausalitas dengan vaksin.

Bila telah terlewati 30 menit tanpa adanya keluhan, petugas melakukan pencatatan pada kartu vaksinasi. Penerima vaksin akan menerima kartu vaksinasi dan penanda edukasi pencegahan Covid-19. Kartu vaksinasi berupa manual dan atau elektronik.

Bentuk kartu vaksinasi Covid-19 sebagaimana tertuang dalam Keputusan Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Nomor HK.02.02/4/1/2021 tentang Petunjuk Teknis Pelaksanaan Vaksinasi Dalam Rangka Penanggulangan Pandemi Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) yang berisikan: Nomor Registrasi, NIK, Nama Lengkap, Tanggal Lahir, Jenis Kelamin, Alamat, Nomor Telepon, dan Lokasi Menerima. Pada lokasi menerima tertulis, disarankan menerima vaksinasi Covid-19 di lokasi yang sama pada kunjungan kesatu dan kedua.

  

Jenis Vaksin Covid-19 yang Berlaku di Indonesia

Menteri Kesehatan telah menetapkan tujuh jenis vaksin Covid-19 yang akan digunakan di Indonesia.  Ketetapan itu dituangkan dalam Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/ Menkes/12758/2020 yang ditandatangani pada Senin 28 Desember 2012. 

Jenis vaksin Covid-19 yang dapat digunakan di Indonesia yaitu

  1. PT Bio Farma (Indonesia), Vaksin Merah Putih, Tipe Protein rekombinan, DNA dan RNA.
  2. AstraZeneca (Oxford-Inggris), AZD1222, Tipe Viral vector
  3. 3.Sinovac (Tiongkok), Coronavac, Tipe Inactivated virus
  4. Sinopharm (Tiongkok), BBIBP-CorV, Tipe Inactivated virus
  5. Moderna (Amerika Serikat), Mrna-1273, Tipe RNA
  6. Pfizer Inc and BioNTech (Jerman), BNT162b2, Tipe RNA
  7. Novavax Inc (Amerika Serikat), NVX-CoV2373, Tipe Protein subunit.

Selanjutnya, pemerintah dapat melakukan perubahan jenis vaksin Covid-19 berdasarkan rekomendasi dari Komite Penasihat Ahli Imunisasi Nasional (Indonesian Technical Advisory Group in Immunization) dan memperhatikan pertimbangan Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPC-PEN). Dengan ditekennya Kepmenkes ini, maka Kepmenkes Nomor H.K.01.07/Menkes/9860/2020 tidak berlaku. Dalam Kepmenkes sebelumnya, vaksin Covid-19 produksi Novavax belum ditetapkan sebagai jenis vaksin yang dapat digunakan.

Saat ini, Indonesia telah melakukan pengadaan vaksin Covid-19. Indonesia telah menerima 1,2 juta dosis vaksin dari Sinovac pada 6 Desember 2020. Selanjutnya pada Kamis, 31 Desember 2020, Indonesia menerima 1,8 juta dosis vaksin.

 

   (Sumber Foto: BPMI Setpres)

 

Pemimpin Negara yang Sudah Divaksin Covid-19

Vaksinasi Covid-19 sudah mulai dilakukan sejak akhir Desember 2020 di beberapa negara. Hal ini sebagai salah satu upaya menghentikan pandemi Covid-19.  Berikut Kepala atau Pemimpin Negara yang telah melakukan vaksinasi:

  1. Presiden terpilih Amerika Serikat Joe Biden, disuntik vaksin pada 21 Desember 2020. Penyuntikannya juga disiarkan langsung di televisi untuk meyakinkan rakyat AS bahwa vaksin itu aman. Joe Biden mendapat vaksin Covid-19 dari Pfizer-BioNTech di Rumah Sakit Christiana Care di Wilmington, Delaware, AS. 100 juta vaksinasi Covid-19 di AS menjadi target selama 100 hari pertama pemerintahan Joe Biden-Kamala Harris di Gedung Putih.
  2. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menjadi orang Israel pertama yang divaksin, yakni pada 19 Desember 2020. Penyuntikan vaksin pada PM Israel disiarkan di televisi secara langsung.
  3. Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong menerima vaksinasi Covid-19 pada 8 Januari 2021. Vaksin yang diterima Lee adalah Pfizer-BioNTec.
  4. Raja Arab Saudi, Raja Salman menerima vaksinasi Covid-19 pertama dari Pfizer-BioNTech pada 8 Januari 2021. Arab Saudi meluncurkan kampanye vaksinasi virus Covid-19 pada 17 Desember 2020 setelah menerima pengiriman pertama vaksin Pfizer-BioNTech.
  5. Ratu Kerajaan Inggris, Ratu Elizabeth II dan suaminya Pangeran Philip divaksinasi Covid-19 pada 9 Januari 2021 di Kastil Windsor. Pemerintah Inggris berencana untuk memvaksinasi sekitar 15 juta orang pada pertengahan Februari. Inggris menyetujui tiga jenis vaksin, yaitu Oxford-AstraZeneca, Pfizer-BioNTech dan Moderna.
  6. Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo telah divaksinasi pada Rabu, 13 Januari 2021. Dengan divaksinnya Presiden Jokowi, menjadi penanda dimulainya vaksinasi di Indonesia.

Menkes Budi Gunadi Sadikin, mengajak seluruh masyarakat untuk mendukung jalannya program vaksinasi Covid-19 yang dimulai resmi pada Rabu, 13 Januari 2021. Menkes yang juga menjadi salah satu peserta awal vaksinasi perdana bersama Presiden Joko Widodo ini mengatakan bahwa vaksinasi dimaksudkan untuk melindungi diri, keluarga, tetangga, dan rakyat Indonesia.

Untuk mencapai kekebalan komunal global atau kekebalan kelompok (herd immunity), vaksin Covid-19 harus diberikan bagi kurang lebih 70 persen populasi dunia (7,8 miliar). Oleh karena itu, partisipasi masyarakat akan sangat menentukan keberhasilan program ini dan mengembalikan kita semua ke kehidupan normal. Sejauh ini wabah covid-19 di seluruh dunia mencapai lebih dari 92 juta kasus dan lebih dari 1,9 juta kematian. (R. Efa Febryana - Pranata Humas Ahli Madya pada Biro Humas Kemensetneg)

Bagaimana pendapat anda mengenai artikel ini?
0           0           0           0           0