Sambutan Presiden pada Panen Raya Serentak di Seluruh Indonesia Bersama TNI

 
bagikan berita ke :

Jumat, 17 Juli 2026
Di baca 23 kali

di Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur

Bismillahirrahmanirrahim.

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Selamat sore,
Salam sejahtera bagi kita sekalian,
Syalom,
Salve,
Om swastiastu,
Namo Buddhaya,
Salam kebajikan.

Yang saya hormati Panglima Tentara Nasional Indonesia (TNI) Jenderal TNI Agus Subiyanto sebagai penyelenggara beserta Wakil Panglima TNI; 
Para Kepala Staf Angkatan yang hadir: Wakil Panglima TNI Jenderal TNI Tandyo Budi Revita, Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal TNI Maruli Simanjuntak, Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana TNI Muhammad Ali Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal TNI Tonny Harjono;
Ketua Komisi IV DPR RI Saudara Siti Hediati Soeharto beserta para anggota DPR RI yang hadir; 
Para anggota Kabinet Merah Putih yang hadir: Menko Politik dan Keamanan Jenderal TNI (Purn.) Djamari Chaniago, Menko Pangan Saudara Zulkifli Hasan; Menteri Pertahanan Jenderal TNI (Purn.) Sjafrie Sjamsoeddin, Menteri Luar Negeri Saudara Sugiono, Menteri Sekretaris Negara Saudara Prasetyo Hadi, Menteri Pertanian Saudara Andi Amran Sulaiman, Menteri Perdagangan Saudara Budi Santoso, Menteri Agraria dan Tata Ruang serta Kepala BPN (Badan Pertanahan Nasional) Saudara Nusron Wahid, Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo, Kepala Badan Pusat Statistik Saudara Amalia Adininggar Widyasanti, Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional Profesor Arif Satria, Sekretaris Kabinet Republik Indonesia Letkol Infanteri Teddy Indra Wijaya, Wakil Menteri Pertanian Saudara Sudaryono;
Yang saya hormati pimpinan daerah yang hadir: Gubernur Jawa Timur Saudari Khofifah Indar Parawansa beserta jajaran Forkopimda Provinsi Jawa Timur, Bupati Malang Saudara Sanusi, Bupati Nganjuk Saudara Marhaen Djumadi; Wali Kota Malang Saudara Wahyu Hidayat, Wali Kota Batu Saudara Nurochman, Direktur Utama Perum BULOG Jenderal TNI (Purn.) Ahmad Rizal Ramdhani;
Yang saya hormati para pimpinan perusahaan BUMN dan swasta; 
Para peserta yang hadir melalui video conference (vidcon) di 42 titik, Kodam, Korem, dan Lanud;
Para rektor IPB dan Universitas Brawijaya, para tokoh agama, para alim ulama yang saya hormati;
Para kelompok tani, para petani, para penyuluh pertanian;
Oh, iya, tadi hadir di sini juga Rektor Institut, saya ulangi, Kepala Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia Saudara Akmal Agustira;
Tadi, yang kita hormati Wakil Rais Syuriah PWNU (Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama) Jawa Timur Kiai Haji Abdul Matin Djawahir, Ketua Tanfidziyah PWNU Jawa Timur Bapak Kiai Haji Abdul Hakim Mahfudz Gus Kikin;
Ketua Dewan Pembina Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) Saudara Muhammad Arum Sabil, coba buka topimu. Enggak apa-apa, saya, saya juga mulai botak jadi saya pakai kopiah. Mikirin petani tebu, ya, botak; 
Ketua Asosiasi Produsen Spiritus dan Etanol Indonesia Saudara Giovanni, Pengurus Bidang Hukum dan Advokasi Kontak Tani dan Nelayan Andalan Saudara Ahmad Prayogo, Wakil Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Gula Indonesia Saudara Yonathan, Ketua Umum Asosiasi Petani Tebu Republik Indonesia Saudara Fatchuddin Rosyidi, Perwakilan Kelompok Tani Tebu Jawa Timur Saudara Abdul Mujib, anak buahnya Arum. Kok wajib botak semua, ya? Pengurus Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia harus botak semua, ya? 
Perwakilan Kelompok Tani Padi Jawa Timur Saudara Ngatiman, oh, enggak, enggak botak. Oke, terima kasih; 
Perwakilan Kelompok Tani Kedelai Jawa Timur Saudara Puji Santosa dari Pandean, Nganjuk; 
Baik, Saudara-saudara sekalian, Saudara-saudara yang berada di titik-titik melalui vidcon, saya tidak sebut satu per satu tanpa mengurangi rasa hormat.

Sebagai insan yang bertakwa, marilah kita tidak henti-hentinya memanjatkan puji syukur ke hadirat Allah subhanahu wa ta’ala, Tuhan Mahabesar, Tuhan Mahakuasa yang memiliki sekalian alam. Hanya kepada-Nya lah kita berdoa dan hanya kepada-Nya lah kita memohon pertolongan. Kita bersyukur atas segala kebaikan, karunia, berkah, dan kedamaian yang diberikan kepada kita. Atas kesehatan dan napas yang masih diberikan sehingga kita dapat berkumpul sore hari ini, dalam acara yang sangat membanggakan dan membahagiakan, yaitu Panen Raya TNI, dalam rangka mendukung program ketahanan pangan nasional. 

Saya ucapkan selamat atas terselenggaranya Panen Raya TNI Terintegrasi yang dilaksanakan serentak di 43 titik di seluruh Indonesia. Kegiatan ini menunjukkan bahwa ketahanan pangan bukan hanya urusan Kementerian Pertanian, tetapi merupakan gerakan nasional yang melibatkan seluruh kekuatan bangsa. Saya sangat menghargai semangat persatuan, kolaborasi, dan gotong royong dari seluruh komponen bangsa.

Dua bulan lalu, tepatnya 16 Mei 2026, kita menyaksikan Panen Raya Jagung bersama Polri. Hari ini kita menyaksikan Panen Raya TNI, ada tebu, ada kedelai, ada padi. Ini menunjukkan bahwa TNI dan Polri tidak hanya merupakan penjaga ketahanan dan keamanan negara, tapi TNI dan Polri adalah bagian yang tidak bisa dipisahkan dari rakyat Indonesia. TNI dan Polri adalah anak kandung rakyat. TNI dan Polri harus selalu bersama rakyat, di tengah-tengah rakyat. Kesulitan rakyat adalah kesulitan TNI dan Polri. Selama ada rakyat yang hidupnya susah, itu adalah kewajiban semua komponen untuk bersatu, untuk bahu-membahu, berbuat langkah-langkah yang benar, langkah-langkah yang besar, langkah-langkah yang nyata untuk mengatasi kesulitan-kesulitan rakyat itu. 

Saya bangga hari ini, dan saya bangga beberapa minggu-minggu ini. Saya melihat kerja keras semua unsur, menteri-menteri, Panglima, Kapolri. Semua unsur bekerja dengan gesit, tidak istirahat. Banyak pejabat tinggi negara, menteri-menteri, kepala badan, terus terang, terus terang saja, yang ambruk, masuk rumah sakit karena kerja keras. Kita mengejar sasaran-sasaran. Kita sadar bahwa rakyat sudah terlalu lama mengalami kehidupan yang tidak selayaknya dialami oleh negara besar dan negara kaya seperti kita, sehingga pemerintah yang saya pimpin bertekad untuk berbuat yang terbaik, untuk menggapai sasaran yang tertinggi dalam waktu yang secepat-cepatnya. Kita tidak mau menjadi bangsa yang santai. Kita akan buktikan kepada dunia, bahwa bangsa Indonesia sedang bangkit dengan kekuatan kita sendiri. 

Berkali-kali pendiri-pendiri bangsa kita mengajarkan kepada kita, bahwa percayalah kepada kekuatan kita sendiri. Tidak ada bangsa lain yang kasihan sama kita, tidak ada bangsa lain yang kasihan sama kita. Ratusan tahun mereka datang mengambil kekayaan kita dan sampai hari ini pun ada negara-negara yang selalu ingin ambil kekayaan kita, dan membiarkan rakyat kita miskin. Itu kita tidak terima.

Karena itu, sekali lagi saya ucapkan terima kasih kepada semua unsur, semua unsur. Kita bahu-membahu. Saya mengajak semua kekuatan, sudah bersatulah. Bersatulah untuk bangsa dan rakyat kita, bersatulah untuk anak-anak dan cucu kita, bersatulah untuk mengamankan, menguasai kembali semua kekayaan bangsa Indonesia, supaya rakyat kita bisa menikmati kekayaan tersebut. Kita akan dilawan, tapi itu risiko. Ratusan tahun kita ingin merdeka, ratusan tahun kita ingin hidup baik, ratusan tahun. Dan, kita merdeka melalui perjuangan, melalui darah keringat, dan air mata. Kita tidak mau memusuhi siapa saja. Saya katakan, kita mau bersahabat dengan semua kekuatan, semua negara. Tapi, kita sadar sekarang bahwa kita harus kompak, kita harus bersatu. Semua unsur, terutama mereka yang dipilih rakyat, terutama mereka yang digaji oleh rakyat, terutama mereka di dalam pemerintahan, dalam birokrasi, dalam BUMN-BUMN. Kita tidak mau toleransi kepada mereka yang dipercaya oleh rakyat, yang digaji oleh rakyat, tapi melaksanakan kebijakan-kebijakan dan tindakan-tindakan yang merugikan rakyat. Apalagi mencuri uang rakyat, kita tidak toleransi. Saya tidak toleransi, sebagai presiden yang dipercaya rakyat, saya tidak akan ragu-ragu.

Saya terima kasih. Target kita swasembada pangan sudah kita capai. Sekarang swasembada energi kita sedang menuju, swasembada air sedang kita rintis, sehingga semua rakyat kita punya akses kepada air bersih dan air untuk tanaman. Kita sedang mengadakan penertiban besar-besaran terhadap semua kegiatan-kegiatan yang ilegal, penyelundupan, kegiatan tambang ilegal, kegiatan perkebunan ilegal, kegiatan perikanan ilegal, permainan-permainan dagang yang ilegal. Pekerjaan kita besar, tapi insyaallah, dengan tekad, dengan hati, dengan kehendak, kita akan mencapai yang kita inginkan.

Tadi Menteri Pertanian menyampaikan kepada saya, bahwa sudah 12 tahun tidak ada peremajaan tebu 12 tahun, 12 tahun. Kita sekarang akan meremajakan semua tebu yang kita miliki. Menteri Pertanian melaporkan kepada saya, program kita sekarang adalah 100 ribu hektare per tahun. Dan, dengan demikian akan dicapai dalam empat tahun. Tapi setelah saya tanya lagi ke beliau, dengan gagah dan berani beliau mengatakan, “Pak kita bisa dalam dua tahun.” Tapi saya bilang, “Bagus, tapi jangan masuk rumah sakit, Menteri Pertanian.” Janji, dua tahun tapi you enggak masuk rumah sakit. Negara dan bangsa masih butuh kau. Ya, menteri-menteri, jenderal-jenderal jangan, jangan ambruk. Kalau mau ilmu, nanti saya kasih ilmu. Tentara itu pintar cari waktu istirahat, ya. Upacara saja bisa tidur, nah, itu. Ini lulusan akademi militer, akademi polisi semua, punya ilmu-ilmu itu semua. Di kelas tidur. Tapi sekarang enggak, itu zaman dulu. Zaman kalian, kan, enggak tidur di kelas, kan? Enggak, kan? Karena gizi sudah bagus.

Jadi, kita akan percepat dan semua usaha kita akan kerja keras. Tapi sekarang hasil-hasil sudah mulai kita lihat. Menteri Keuangan melaporkan kondisi ekonomi kita bagus. Di tengah dunia yang susah, di tengah perang di mana-mana, kita masih lumayan. Kita kemarin berhasil mulai produksi, mulai pembangunan blok gas, salah satu yang terbesar di kawasan kita. Setelah 28 tahun mangkrak, kita hidupkan. Sebelumnya kita berhasil menjadi negara pertama di dunia yang menghasilkan B50. Kita sekarang menghasilkan solar dari kelapa sawit. Jadi, dari mulai bulan Juli ini kita tidak impor solar lagi dari luar negeri, Saudara-saudara sekalian. Lebih baik uang itu beredar di Indonesia, dinikmati oleh petani-petani sawit di seluruh Indonesia.

Dan, hari ini saya dipaparkan, dikasih lihat tadi. Saya minta maaf tadi saya lama melihat pameran, itu ada tadi sudah mulai kita mampu menuju E10, Etanol 10. Jadi nanti bensin bisa dicampur dengan 10 persen etanol. Tapi, tadi para petugas mengatakan kita bisa sampai E20, butuh pabrik. Tadi pabriknya yang baru kita miliki baru satu pabrik, tadi saya putuskan kita akan bangun minimal 30 pabrik. Kalau perlu sampai 50 pabrik. India sudah E20, India sudah E20. Brasil sudah E100. Masa Indonesia enggak bisa? Indonesia bisa, kan? Bisa? Bisa. Bisa. Yang enggak mau, enggak apa-apa. Duduk saja. Duduk saja, nonton. Tapi jangan membebek kepada kekuatan asing terus, ya, Indonesia jelek, Indonesia apa? Indonesia gelap. Kalau pakai kacamata gelap, ya, gelap terus. Tiap bulan Indonesia akan kolaps. Juni kolaps, ini sudah Juli. Juli kolaps, kolaps aja. Mikirnya mikir kolaps, ya, kan. Biar saja. Kalau di tentara itu ada istilah, tinggalkan, beri tanda. Kita jalan terus. Kita bekerja dengan semangat gembira, semangat optimis. Orang berani itu gembira, orang berani itu optimis. Orang sedih duduk di kamar saja, sedih dia.

Sebentar lagi kita sudah punya motor nasional. Saya akan launching beberapa minggu ini, motor listrik nasional. Saya berharap nanti petani-petani kita minimal naik motor, motor listrik, ya. Siapa tahu ada yang pakai mobil semua nanti. Tapi ada beberapa petani yang sudah melapor ke saya, dia sekarang sudah libur ke Hong Kong. Saya senang, ya, kan. Nah, ini bagus, yang bikin pidato tertulis cukup pendek. Saya sudah sampai paragraf lima. Kalau paragraf enam, ucapkan terima kasih. Tapi, saya sudah bicara semua itu.

Saudara-saudara,
Kita optimis, kita canangkan cita-cita kita setinggi langit, Indonesia akan jadi negara makmur, ya. Kita, kita tidak mau bodoh lagi. Kita ramah, dibilang lemah, ya. Kita baik, dibilang bodoh. Ya sudah lah, ya sudah lah, ya, kan. Kita bersahabat, mau datang ke Indonesia, monggo. Dan semua orang, banyak orang asing senang kalau ke Indonesia. Kita ini bangsa yang ramah. Tapi, kita sekarang mau jadi bangsa yang bangkit, Saudara-saudara.

Kita akan punya motor buatan anak-anak Indonesia, kita akan punya mobil buatan anak-anak Indonesia. Sekarang TNI dan Polri sudah pakai jip buatan putra-putri Indonesia. Waktu saya Menteri Pertahanan, disodorkan, “Pak, TNI dan….” TNI, waktu itu saya Menhan, jadi saya enggak bisa, saya enggak bisa urus Polri, sorry. Lantas polisi enggak mau di bawah Menteri Pertahanan, sih. Tapi, TNI saya disodorkan, “Pak, ini jip bagus, Pak, murah, buatan asing. Ini buatan Indonesia tapi mahal, Pak.” Ya, karena kita baru mulai. Ya, kalau saya pilih yang murah ini, kapan Indonesia punya jip sendiri, ya, kan? Ya sudah, saya pilih yang mahal, agak mahal, tapi buatan anak-anak Indonesia sendiri, yaitu Maung, yang sekarang dipakai perwira-perwira kita sekarang pakai Maung. Saya dengar Danramil sudah pakai jip juga, ya? Gagah itu. Ya, enggak bisa semua serentak. Itu ada yang teriak belum, pasti Danramil yang belum dapat jip itu dulu. Babinsa sudah mulai, kan, dapat motor-motor ya? Motor listrik, ya? Itu di film sudah, nah, itu. Jadi sekarang kalau saya lihat kota, saya lihat ada jip-jip, bangga juga saya. Waduh, TNI sekarang pakai jip sendiri.

Senjata kita sudah diakui dunia. Kita menang pertandingan menembak, berapa belas kali? Berapa? Benar 12 kali? Kayaknya lebih, ya? Oh, Australia 12 kali. Ada ASEAN, kan, dan sebagainya. Tapi, apa, yang ini menang 12 kali berturut-turut dalam pertandingan mereka. Yang bikin peraturan mereka, wasitnya mereka, teknik-tekniknya mereka, tapi kita menang 12 kali pakai senjata buatan anak-anak Indonesia. Senapan serbu dari kita, pistol dari kita, SO (senjata otomatis) dari kita.

Saudara-saudara,
Saya dengar begitu kita menang, kaget mereka. Indonesia, kan, dianggap remeh. Hadir di situ militer-militer terbaik di dunia. Tentara Amerika, marinir Australia, Selandia Baru, Singapura, Malaysia, Vietnam, Thailand, ya. Indonesia 12 kali menang. Dan, karena mereka, mereka pikir, kok, bisa menang? Dia periksa senjata kita, katanya. Dibongkar, pelurunya dilihat, jangan-jangan Indonesia ini curang pakai apa, gitu. Enggak, ini saya kasih contoh bahwa kita sebenarnya kalau diberi kepemimpinan yang baik, diberi alat yang baik, uang makan yang enggak dikorupsi. Komandannya kasih contoh, ya. Yang komandan-komandan jangan, apa itu, jarkoni, ngajar iso ngelakoni oraiso. Ojo! Tentara dan polisi Indonesia harusing ngarso sung tulodo, di depan memberi contoh, ya. Nanti ada pertandingan antara jenderal-jenderal, saya wasitnya.

Saudara-saudara,
Banyak pakar di dunia sudah ramalkan bahwa dalam tahun 2045, ‘45 sampai ‘50, Indonesia akan menjadi negara keempat terbesar dan terkaya di dunia. Tahun 2050, China nomor satu, Amerika nomor dua, India nomor tiga, Indonesia nomor empat. Nanti 2075, India naik. Kita, kita oke, lah, ya, keempat di dunia, benar enggak? Kita nanti 2050, kita di atas Jepang, di atas Inggris, Brasil, Prancis. Makanya, kita sekarang harus siap. Itu 2050, itu 25 tahun lagi. Jadi, anak-anak yang sekarang umur 10 tahun yang di SD, dia nanti 25 tahun lagi, dia 35 tahun, dia intinya bangsa Indonesia. Jadi, kalau kita sekarang tidak urus anak-anak itu, dia bagaimana akan menjadi negara keempat terbesar di dunia? Kita harus hilangkan kelaparan, kita harus hilangkan kemiskinan, kemiskinan, apalagi kemiskinan ekstrem harus kita hilangkan. Insyaallah kita akan hilangkan, Saudara-saudara sekalian. Kita akan hemat anggaran kita, kita akan bikin efisien. Bila perlu anggaran pertahanan kita kurangi, anggaran polisi kita kurangi untuk menghilangkan kemiskinan. Rela TNI? Rela polisi? Aku tanya TNI, bukan kau. Rela, ya? Anggaran kurangi, rela? Ikhlas? Kok? Ikhlas, ikhlas? Ikhlas. 

Saudara-saudara,
Pertahanan terbaik adalah rakyat yang kuat dan sejahtera. Kalau ada yang macem-macem sama bangsa Indonesia, seluruh rakyat, seluruh rakyat akan membela bangsa ini, Saudara-saudara. Makanya dari sekarang TNI dan Polri di tengah-tengah rakyat, di tengah-tengah petani dan nelayan, Saudara-saudara. Hari ini saya bangga, hari ini saya bahagia. Saya sungguh bahagia dan saya sungguh merasa terharu. TNI bangun berapa ribu jembatan, Polri juga berapa ribu titik air. Kita atasi, kesulitan rakyat kita atasi. Enggak usah terlalu apalah, ini prosedur ini, kenapa tentara ikut di sawah, kenapa polisi ikut menanam. Enggak, ini Indonesia. TNI-Polri milik rakyat. Kesulitan rakyat harus kita atasi, TNI-Polri harus mengatasi kesulitan rakyat. Kau di negara lain, itu urusan kau. Enggak usah terlalu banyak urusan kita, deh, benar enggak? Lu juga enggak kasihan sama kita, benar enggak? Iya, kan?

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Salam sejahtera bagi kita sekalian,
Syalom,
Salve,
Om santi santi santi om,
Namo Buddhaya,
Salam kebajikan.

Terima kasih semua. 

Hari ini saya bahagia. Saya bangga jadi presiden Republik Indonesia, saya bangga dengan petani-petani Indonesia. Terima kasih petani, nelayan Indonesia. Kau, kau adalah pahlawan yang sebenarnya. Kau menghasilkan pangan untuk kita semua. Yang mengatakan beras terlalu mahal, suruh ikut kau tanam beras. Kalau petani beras enggak boleh dapat penghasilan yang tinggi, ya, suruh mereka tanam padi sendiri itu. TNI akan siapkan lahan untuk mereka. Menteri Pertanian siapkan lahan untuk mereka. Suruh tanam sendiri, wenak aja.

Terima kasih, saya bangga dengan TNI, saya bangga dengan Polri. Terima kasih, Saudara-saudara.

Bismillahirrahmanirrahim, pada sore hari ini, Jumat, 17 Juli 2026, dengan rahmat Tuhan Yang Mahabesar, saya Prabowo Subianto, Presiden Republik Indonesia, menyatakan Panen Raya Serentak bersama TNI secara resmi dimulai.