Bismillahirrahmanirrahim.
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Alhamdulillahi robbil alamin, washolatu wassalamu ‘ala asrofil ambiya’i wal mursalin, wa ‘ala alihi wasohbihi ajma’in. Amma ba’du.
Sebagai insan yang bertakwa, marilah kita tidak henti-hentinya memanjatkan puji syukur ke hadirat Allah Swt., Tuhan Maha Besar, Tuhan Mahakuasa. Hanya kepada-Nya lah kita berdoa dan hanya kepada-Nya lah kita meminta pertolongan. Selawat dan salam kita haturkan ke hadirat junjungan kita, Baginda Nabi Besar Muhammad Rasulullah saw. yang telah memberi kepada kita agama dan peradaban hingga akhir zaman.
Yang saya hormati,
Wakil Presiden Republik Indonesia, Saudara Gibran Rakabuming Raka;
Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 Republik Indonesia, Saudara Muhammad Jusuf Kalla;
Wakil Presiden ke-13 Republik Indonesia, K.H. Prof. Ma’ruf Amin;
Istri Presiden ke-4 Republik Indonesia, Ibu Sinta Nuriyah Wahid;
Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI), Saudara Ahmad Muzani beserta Wakil Ketua MPR RI yang hadir, Saudara Edhie Baskoro Yudhoyono.
Yang saya muliakan,
Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), K.H. Miftachul Achyar beserta seluruh jajaran PBNU yang hadir;
Ketua Umum PBNU, K.H. Yahya Cholil Staquf dan seluruh jajaran PBNU yang hadir;
Wakil Rais Aam PBNU, Ketua MUI, Bapak K.H. Anwar Iskandar;
Wakil Rais Aam PBNU, K.H. Afifuddin Muhajir;
Wakil Ketua Umum PBNU, Saudara K.H. Zulfa Mustofa;
Mustasyar PBNU, Mantan Ketua Umum PBNU 2010-2021, Bapak K.H. Said Aqil Siradj;
Katib Aam PBNU K.H. Ahmad Said Asrori, Katib Syuriah PBNU K.H. Abdul Ghaffar Rozin, Rais PBNU Prof. Mohammad Nuh, Bendahara PBNU Gus Gudfan Arif, Ketua PBNU K.H. Amin Said Husni;
Ketua Umum PWNU Jawa Timur, Pengasuh Pondok Pesantren Tebu Ireng, K.H. Abdul Hakim Mahfudz, Gus Kikin.
Para pimpinan pondok pesantren yang hadir, tanpa mengurangi rasa hormat, tidak dapat saya sebutkan semuanya.
Pondok Pesantren Al-Falah Ploso Kediri, Bapak K.H. Nurul Huda Djazuli;
Pondok Pesantren Lirboyo Kediri, K.H. Kafabihi Mahrus;
Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang, K.H. Hasib Wahab Hasbullah;
Pondok Pesantren Al-Kautsar Al-Akbar Medan, K.H. Ali Akbar Marbun;
Pondok Pesantren Bumi Shalawat Sidoarjo, K.H. Agoes Ali Mashuri;
Pondok Pesantren API (Asrama Perguruan Islam) Tegalrejo Magelang, K.H. Yusuf Chudlori, Gus Yusuf;
Pondok Pesantren Mambaul Ma’arif Denanyar Jombang, K.H. Abdussalam Shohib, Gus Salam;
Pondok Pesantren Ora Aji Sleman, Gus Miftah Maulana;
Sesepuh Tambakberas Jombang, Ibu Nyai Machfudhoh;
Pondok Pesantren Bahrul Ulum Jombang, K.H. Abdul Razak.
Yang saya hormati, Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof. Haedar Nashir;
Yang saya hormati, Gubernur Jawa Timur yang juga adalah Ketua Dewan Pembina PP (Pimpinan Pusat) Muslimat NU, Saudari Khofifah Indar Parawansa;
Para Menko, Menteri, Kapolri, Kepala Badan, para Wakil Menteri, dan seluruh anggota Kabinet Merah Putih yang saya hormati, yang tidak perlu saya sebut satu per satu, tanpa mengurangi rasa hormat, untuk mengejar waktu. Media sudah siap menunggu. Untung waktunya enggak banyak.
Yang saya muliakan, para Kiai, Mustasyar, Rais Syuriah, pengasuh Pondok Pesantren, para Masyayikh dan para Habaib, Pimpinan dan Keluarga Besar Ansor, Fatayat NU, Muslimat NU, emak-emak penting ini. Yang ngatur para kiai ya, para nyai itu;
Terutama yang saya hormati, para Pengurus PBNU, PWNU, dan PCNU seluruh Indonesia yang hadir;
Para Kiai, Alim Ulama, para Ibu Nyai, para Santri dan Santriwati, seluruh hadirin, undangan, yang saya hormati;
Para Duta Besar negara sahabat yang hadir, yang saya muliakan;
Saudara-saudara rekan pers, media, dan seluruh rakyat Indonesia yang mengikuti acara ini.
Saya tentunya mengucapkan terima kasih atas kehormatan yang besar yang diberikan kepada saya sebagai Presiden Republik Indonesia yang ke-8, hadir di Muktamar ke-35 [NU]. Saya tidak mengatur ini semua. Saya juga tidak mengerti tapi ya, kita menerima ini semua. Tadi disebut muktamar yang ke-36 adalah tahun ’31, ya, ini kan 35, nantinya 36 tahun ’31, ya, 3 sama 6 itu 9, iya, kan? Tiga, tunggu, tunggu, tunggu, tahun ‘31 itu 3 tambah 1 [sama dengan] 4, 9 tambah 4 [sama dengan] 13. Jadi saya punya dua angka yang selalu hadir di hidup saya, 8 dan 13. Tapi, kita ikuti saja kehendak Yang Maha Besar.
Ini kehormatan besar bagi saya, Nahdlatul Ulama adalah institusi yang bersejarah, yang sangat besar jasanya dalam perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia. Bukti yang jelas adalah lagu “Syubbanul Wathon” yang sekarang menjadi lagunya Nahdlatul Ulama. Lagu ini bisa dikatakan adalah lagu patriotik, lagu nasionalis, lagu yang dibuat oleh kelompok religius, tapi semangatnya adalah semangat cinta tanah air dan semangat nasionalisme yang luar biasa. Yang menarik bagi kita semua, terutama generasi muda, yang menarik adalah bahwa lagu ini diciptakan oleh K.H. Abdul Wahab Hasbullah, belasan tahun sebelum proklamasi kemerdekaan. Pada waktu itu, kita juga belum tahu negara yang diproklamasikan bentuknya bagaimana, namanya saja belum begitu jelas, tapi pemimpin-pemimpin religius berani membuat lagu yang demikian patriotik dan demikian nasionalis. Belasan tahun sebelum proklamasi kemerdekaan, sudah ada lagu ini, ya.
"Pusaka hati wahai tanah airku. Cintamu dalam imanku. Jangan halangkan nasibmu. Bangkitlah hai bangsaku."
Jadi, cita-cita, cita-cita pendiri NU adalah agar bangsa Indonesia bangkit, agar bangsa Indonesia setara dengan bangsa-bangsa lain di dunia ini, agar bangsa Indonesia kalau bangkit artinya bangsa Indonesia itu terhormat. Bangsa yang terhormat adalah bangsa yang adil dan makmur. Tidak ada bangsa yang dihormati, kalau dia tidak makmur, dan tidak ada kemakmuran tanpa keadilan. Saudara-saudara, karena itu saya sangat bangga hari ini, saya berterima kasih, dan saya tidak akan panjang lebar dalam sambutan ini. Selamat bermuktamar!
Nahdlatul Ulama hadir selalu dalam kejadian-kejadian bangsa ini. Dalam krisis-krisis bangsa ini, Nahdlatul Ulama selalu hadir dan Nahdlatul Ulama yang menentukan stabilitas, keamanan, perdamaian, dan masa depan bangsa Indonesia. Yang disampaikan oleh Gus Yahya itu sangat benar, juga oleh Kiai Hasib. Kalau bangsa ini mau bangkit dan mau aman, pemerintah, umara, harus selalu dekat dengan Nahdlatul Ulama, dan juga Muhammadiyah. Hanya, Gus Yahya, aku dari dulu minta kartu NU, jadi masih utang sama saya, ya. Kalau bisa sebelum penutupan muktamar, lah, kalau gitu. Kalau penutupan [muktamar] tanggal 31 [Agustus], benar, ya? Kalau ada kartu anggota, aku datang lagi tanggal 31.
Saya kira, inti sambutan saya seperti itu, ya. Nahdlatul Ulama, aset bangsa yang sangat-sangat besar, sama dengan Muhammadiyah. Ojo lali. Jadi, kalau saya sebagai presiden, ya, mandataris rakyat, ya jelas, tanpa dukungan NU dan Muhammadiyah, tidak mungkin saya jadi mandataris rakyat. Dan, saya tidak ragu-ragu. Saya berpikir terus bagaimana saya membesarkan, memperkuat, memberdayakan Nahdlatul Ulama, pesantren-pesantren Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah.
Saya, saya mau minta maaf kepada Nahdlatul Ulama, minta maaf, karena saya baru tahu bahwa layar interaktif panel, banyak sekolah-sekolah, pesantren-pesantren Nahdlatul Ulama yang belum menerima. Ini adalah ketlingsut-nya administrasi. Menteri Pendidikan, Mendikdasmen, ha ini, beliau tidak salah karena dikdasmen mengurus sekolah-sekolah negeri, ya, kan, begitu, ya. Sekolah-sekolah di bawah NU diurus oleh Menteri Agama, benar? Tidak ada masalah, walaupun terlambat, semua ruang kelas sekolah-sekolah NU akan menerima layar interaktif sama dengan semua sekolah negeri. Tahun yang lalu, semua sekolah negeri terima satu layar jadi [untuk] satu ruang kelas. Tahun ini, sekolah-sekolah negeri semuanya akan menerima tambahan tiga [layar interaktif panel]. Tapi, NU segera akan menerima langsung empat. Ya. Jadi utang saya kepada NU sudah agak terpenuhi. Ya, jadi, intinya itu. Apa lagi yang harus saya bicara? Dirgahayu, Nahdlatul Ulama!
Sebagai penutup, saya ingin menyampaikan penghormatan saya kepada para kiai dan ulama, karena kemerdekaan bangsa Indonesia memang diproklamasikan di Jakarta. Tapi, kemerdekaan bangsa Indonesia diuji di Surabaya. Dan, dalam pertempuran Surabaya, Oktober-November tahun 1945, peran dari ulama, peran dari kiai-kiai, peran daripada pesantren sangat besar, Saudara-saudara. Karena itu, saya ingin kalau pernah, kalau tidak salah Bung Karno, ya, mengatakan “Jas merah, jangan sekali-sekali melupakan sejarah”. Saya ingin menyampaikan “Jas hijau, jangan sekali-kali melupakan jasa ulama”. Terima kasih kepada semua ulama, yang terkenal maupun kiai-kiai kampung yang mungkin namanya tidak pernah masuk televisi, tapi setiap hari menjaga akhlak anak-anak kita, menjaga kerukunan umat dan kerukunan antarumat, menjaga kedamaian di desa dan mendoakan bangsa tanpa meminta apapun kepada negara. Terima kasih, hormat saya kepada para ulama semuanya.
Indonesia insyaallah akan bangkit. Saya hampir dua tahun jadi Presiden Republik Indonesia, saya terima kasih dukungan Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah, terima kasih. Dengan belum sampai dua tahun, kita telah mencapai prestasi-prestasi besar. Kita sudah swasembada pangan dan sebentar lagi kita akan swasembada energi. Insyaallah, kita tidak, dalam waktu yang tidak lama, kita tidak perlu impor terlalu banyak BBM dari mana pun. Kita telah membangun puluhan ribu dapur umum MBG (Makan Bergizi Gratis), MBG sudah sekarang dinikmati lebih dari 62 juta penerima manfaat. Kepala BGN (Badan Gizi Nasional) yang baru sudah ada di sini. Ini anak muda yang jantungnya kuat. MBG adalah program yang besar, tantangannya banyak, kekurangannya masih banyak, tapi kita akan selesaikan semua kekurangan tersebut. Karena yang penting adalah manfaat harus diterima oleh semua anak-anak kita dan semua ibu-ibu hamil dan semua orang tua lanjut usia. Itu tekad kita. Dan, sebentar lagi, puluhan ribu Koperasi Merah Putih akan beroperasi. Kita akan menjamin semua barang yang disubsidi rakyat akan sampai ke rakyat dengan harga serendah-rendahnya, harga subsidi. Barang subsidi tidak boleh diperdagangkan dan tidak akan diperdagangkan.
Saudara-saudara,
Prestasi kita cukup, tantangan kita banyak. Cuaca el nino yang sangat kuat, tantangan karena kita hidup di gugusan pulau yang sangat makmur tapi juga penuh dengan tantangan-tantangan alam. Tapi negara kita kuat dan semakin kuat, karunia dari Yang Maha Besar sangat besar. Saya telah lihat hasil-hasil kita sekarang, kita temukan ladang-ladang gas, ladang-ladang emas yang luar biasa kekayaan kita. Saudara-saudara, percaya sama saya, beberapa tahun lagi Indonesia akan bangkit dengan luar biasa dan tidak akan, tidak akan ada yang bisa membendung kita, Saudara-saudara sekalian. Yang penting, yang penting, kita harus berani memberantas korupsi. Kita harus berani memberantas korupsi karena korupsi ini yang mengakibatkan banyak kekayaan kita hilang, dibawa lari ke luar negeri tapi kita mulai menutup, kita mulai menghentikan itu, insyaallah negara kita akan tambah kuat. Dari penghematan-penghematan kita, sudah ratusan triliun yang bisa kita hemat. Uang itulah yang kita gunakan untuk sebesar-besarnya membantu rakyat yang paling miskin, yang paling tidak berdaya, Saudara-saudara sekalian.
Saya kira itu, terima kasih Nahdlatul Ulama, terima kasih para Kiai, terima kasih para Ibu-ibu Nyai, terima kasih para Santri-Santriwati. NU kuat artinya Indonesia kuat. Kalau NU rukun, Indonesia rukun. NU berhikmat, Indonesia bermartabat.
Terima kasih.
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.