Saudara-saudara sekalian,
Sebagai usaha kita bersama, sebagai anak-anak bangsa, kita ingin membangun bangsa dan negara yang berhasil, bangsa negara sesuai cita-cita pendiri bangsa kita. Bangsa yang modern, bangsa yang rakyatnya sejahtera, bangsa yang keluar dari segala kesulitan dengan baik. Bangsa yang merdeka, merdeka artinya bebas dari ketergantungan sama bangsa lain, merdeka artinya memberi kehidupan yang baik kepada seluruh rakyat Indonesia.
Negara yang berhasil adalah negara yang tidak ada rakyatnya yang lapar. Negara yang berhasil adalah negara di mana ada keadilan. Negara yang berhasil adalah negara yang hidup dalam keadaan damai. Itu adalah cita-cita pendiri bangsa, itu adalah cita-cita kita, itu adalah cita-cita orang tuamu semua. Tidak ada orang tua yang ingin anaknya hidup dengan tidak baik. Tidak ada orang tua yang ingin anaknya gagal dalam hidup. Apapun agama kita, apapun suku kita, apapun ras kita, apapun latar belakang kita, setiap orang tua menginginkan anak-anaknya hidup dengan baik.
Saudara-saudara,
Karena itu, bernegara, membangun suatu negara, nation building adalah sebenarnya kunci daripada keberhasilan, nation building adalah pendidikan. Pendidikan dari sangat awal, pendidikan dari sebelum lahir, pendidikan orang tua, pendidikan usia dini, pendidikan taman kanak-kanak, pendidikan sekolah dasar, sekolah menengah pertama, sekolah [menengah] lanjutan, dan seterusnya. Pendidikan ada yang formal, ada yang informal. Kunci daripada negara yang berhasil adalah pendidikan. Pendidikan yang baik, memerlukan investasi yang besar. Pendidikan yang baik, membutuhkan guru-guru yang baik, yang hebat. Negara yang unggul, dilahirkan oleh guru-guru yang hebat. Untuk mendapatkan guru-guru yang hebat, perlu investasi yang besar.
Saudara-saudara,
Ibarat suatu lingkaran, ibarat mana yang lebih dulu, telur atau ayam. Kita butuh pendidikan yang baik, tapi kita butuh investasi yang besar, kita butuh dana yang besar. Karena itu, sumber daya bangsa harus diamankan, sumber daya bangsa harus dijaga, sumber daya bangsa tidak boleh dicuri, tidak boleh diselewengkan, tidak boleh dikorupsi. Korupsi, penyelewengan, penyalahgunaan wewenang, sesungguhnya adalah awal kehancuran bangsa.
Saudara-saudara,
Gagasan mendirikan sekolah semacam Taruna Nusantara, berawal dari kesadaran bahwa bangsa yang berhasil, bangsa yang unggul, memerlukan pemimpin-pemimpin yang unggul. Pemimpin yang unggul harus diseleksi yang baik. Seleksi yang baik, unggul-tidak unggul hanya otaknya, unggul badannya, unggul jiwanya, unggul hatinya. Saudara-saudara, orang pintar tapi hatinya jahat, sangat berbahaya. Yang terjadi adalah penderitaan, ketidakadilan, bencana.
Karena itu, SMA Taruna Nusantara lahir sebagai gagasan untuk mencari tunas-tunas pemimpin-pemimpin yang baik. Gagasan awal adalah kita cari anak-anak yang terpintar dari seluruh Indonesia, dari semua golongan, dari semua suku, semua ras, dan semua agama. Dan, ide awal adalah diberi beasiswa penuh supaya tidak ada perbedaan, anaknya orang miskin tapi pintar harus dapat kesempatan. Itu gagasan awal dan itu gagasan yang kita ingin pertahankan sekarang.
Saudara-saudara,
Sekolah semacam SMA Taruna Nusantara (TN) memang bisa dipandang elitis. Tapi sebetulnya, maksudnya adalah untuk mencari bibit-bibit yang baik, bibit-bibit unggul. Ibarat kita akan menghadapi Olimpiade, kita harus punya lembaga kaderisasi atlet. Kita harus didik, harus memberi dia latihan yang baik, sarananya baik, perlengkapan yang baik, Saudara-saudara. Ini ibarat kita mau berhasil sebagai bangsa, kita perlu insinyur yang hebat, kita perlu ilmuwan yang hebat, kita perlu dokter-dokter yang hebat, kita perlu ahli-ahli biologi yang hebat, kita perlu penemu-penemu teknologi yang hebat. Dari mana? Kita tidak bisa nunggu, seolah-olah bibit-bibit itu akan jatuh dari pohon. Tidak. Kita harus mencari, kita harus memberi kesempatan. Dan, nanti maksudnya adalah bibit-bibit unggul ini, hasil daripada lembaga ini, akan berkarya, akan berbuat, akan memberi kebaikan untuk negara, akan memberi penemuan untuk negara, akan memberi kekayaan untuk negara. Ini maksudnya.
Sekarang, dari SMA TN yang pertama, yang dibentuk di Magelang sekian puluh tahun yang lalu, berapa tahun yang lalu angkatan pertama? Tahun ‘90? Sembilan puluh. Berarti tiga puluh enam tahun yang lalu. Dibentuk waktu itu, oleh Panglima ABRI waktu itu, Pak Benny Moerdani. Dan sekarang, hasilnya sudah ada. Menteri Koordinator, sudah ada berapa? Ada dua Menko, sudah ada jenderal, sudah ada Mensesneg, sudah ada Seskab, sudah ada Kepala BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika), ya? Ya. Kepala BNPB juga lulusan TN, ya. Kepala Badan Gizi Nasional, TN. Mungkin di kabinet, banyak sekali [lulusan] TN sudah mulai muncul. Dan, saya harus katakan, saya harus akui, yang dari TN, kinerja dan prestasinya baik. Kalau saya bilang baik sekali, nanti mereka kurang motivasi, jadi baik, supaya mereka mengejar baik sekali, ya, kan? Kalau baik sekali itu “A”, ya, kan? “A” itu nilainya berapa? Sembilan puluh? Sembilan puluh tiga, gitu, kan? Sembilan puluh empat, ya. Kalau seratus itu milik Tuhan, iya, kan? Benar?
Saudara-saudara,
Jadi, Saudara-saudara, anak-anakku yang masih mulai sepak terjangmu, saya percaya kalian akan berbuat yang terbaik, kalian akan belajar yang terbaik, kalian akan mengambil nilai-nilai dari SMA Taruna Nusantara. Nilai-nilai SMA Taruna Nusantara adalah nilai kebangsaan, nilai tadi, satu nusa, satu bangsa, dan satu bahasa. Sumpah Pemuda lahir sebelum kemerdekaan, bayangkan. Pemuda-pemuda-pemudi tersebut usianya sangat muda, melahirkan suatu sumpah yang demikian cemerlang, luar biasa kita harus akui. Dan, karena Sumpah Pemuda itulah, kita sekarang masih utuh sebagai bangsa. Karena bangsa sebesar kita, macam-macam ideologinya yang ingin diterapkan.
Kita bersyukur, pendiri-pendiri bangsa kita, pejuang-pejuang kemerdekaan merasakan, meyakini, bahwa hanya dengan persatuan, hanya dengan Bhinneka Tunggal Ika, hanya dengan mengakui dan menghormati semua suku, dan semua agama, dan semua ras, dan semua budaya, dan semua adat, kita bisa bernegara dengan baik. Alhamdulillah, terus-menerus kita berusaha dipecah-belah.
Anak-anakku, belajarlah sejarah. Saya sudah tegur Menteri-Menteri Pendidikan, terima kasih, hadir Menteri Pendidikan Dasar [dan Menengah]. Saya juga sudah bicara kelemahan bangsa Indonesia, pemimpin-pemimpinnya lupa sejarah. Bahkan, ada pemimpin-pemimpin yang malas belajar sejarah. Mereka yang malas belajar sejarah, akan dihukum oleh sejarah. Ini pelajaran ribuan tahun. Teknologi berubah, tapi sifat manusia tidak berubah. Jadi, kalau kita tidak belajar sejarah, kita akan mengulangi kesalahan-kesalahan sejarah, kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh pendahulu kita.
Saudara-saudara,
Pelajaran sejarah yang paling sakit bagi Indonesia adalah kita pernah dijajah oleh bangsa lain. Kenapa berhasil kita dijajah? Karena kita tidak bersatu. Pangeran yang satu, lebih baik dia kerja sama dengan orang asing daripada kerja sama dengan saudaranya sendiri. Ini sejarah kita. Ini yang harus kita belajar. Kelompok penjajah ratusan tahun, ribuan tahun, mereka punya ajaran “divide et impera”. Pecah, belah. Pecah, belah. Jangan kita ulangi kesalahan-kesalahan pendahulu-pendahulu kita. Pendahulu kita banyak kecemerlangan, tapi kita harus belajar dari kekurangannya.
Jadi, Saudara-saudara, saya terima kasih kepada semua unsur yang telah bekerja keras sehingga kita bisa menghasilkan sudah sekarang kampus di Malang, kampus di Cimahi, kampus di Pagar Alam, kampus di Sulawesi Utara, dan kampus di IKN. Enam kampus, ya. Sudah ada enam kampus yang operasional, yang sudah beroperasi. Terima kasih, unsur-unsur yang telah bekerja keras, sehingga kita hasilkan anak-anak yang sekarang menempuh pendidikan di sini. Nilai-nilai yang kita ajarkan, saya minta dipertahankan. Nilai Pancasila, nilai kebangsaan, ya. Karena, masih banyak kelompok-kelompok yang sesungguhnya tidak suka dengan Pancasila. Mereka ingin punya paham lain. Ada yang ingin mendirikan negara agama. Ada yang ingin mendirikan negara berdasarkan suku. Ada yang ingin mendirikan negara berdasarkan ras. Ini sumber perpecahan.
Kita lihat di seluruh dunia sekarang perang, pertikaian, perang, pertikaian, pertumpahan darah. Puluhan ribu ibu-ibu, anak-anak, orang tidak berdosa mati tiap hari. Kenapa? Pemimpin-pemimpinnya tidak waspada. Kenapa? Terpecah. Dan, ada kelompok-kelompok di Indonesia yang ingin negara kita pecah, yang ingin negara kita pecah. Tapi, percayalah, kekuatan NKRI besar. Kita waspada sekarang, dan kita akan atasi semua masalah itu dengan baik. Mereka-mereka yang hatinya tidak baik, pasti ketahuan.
Dan, saya ingatkan mereka-mereka yang tidak setia kepada Pancasila, tidak setia kepada NKRI, atau mereka-mereka yang serakah, mereka-mereka yang bermental mafia yang tujuannya adalah merampok kekayaan negara, pasti akan gagal. Itu pelajaran ribuan tahun peradaban manusia. Yang jahat, pasti akan kalah. Itu pasti. Tidak usah kita ragu-ragu, ya.
Saudara-saudara,
Saya kira itu yang ingin saya sampaikan. Belajarlah dengan baik. Para pamong, para guru, bimbinglah dengan baik, ya. Bimbing mereka dengan sebaik-baiknya ke arah yang sebaik-baiknya untuk bangsa dan negara. Itu, itu yang ingin saya sampaikan.
Terima kasih atas perhatian Saudara-saudara. Tanamkan terus nilai patriotisme integritas. Daripada ratusan orang pintar, berilah kepada negara pemuda-pemudi yang jujur, yang bersih hatinya, yang penuh cinta tanah air, baru kita berhasil sebagai bangsa dan negara.
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.