Tol Trans Jawa dan Pertumbuhan Ekonomi Regional

 
bagikan berita ke :

Rabu, 26 Desember 2018
Di baca 561 kali

Oleh:

Eddy Cahyono Sugiarto

(Asdep Humas Kemensetneg)

 

Bagi suatu negara pembangunan ekonomi sejatinya merupakan proses peningkatan pendapatan perkapita maupun pendapatan total suatu negara, secara sederhana pendapatan total suatu negara dapat dicermati dari pertumbuhan ekonomi yang dicapai, sebagai ukuran kuantitatif atau proses peningkatan kapasitas produksi, yang diwujudkan dengan peningkatan pendapatan nasional dalam suatu tahun tertentu.

Upaya peningkatan pendapat nasional menjadikan pertumbuhan ekonomi regional sebagai arus utama yang perlu menjadi strategi prioritas pembangunan nasional, guna mengoptimalkan daya saing dan nilai tambah sumber daya pada suatu wilayah, yang dapat dicapai melalui strategi pengembangan infrastruktur konektivitas, sehingga dapat menekan biaya logistik, menggerakkan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi sebagaimana fokus kajian ilmu ekonomi regional.

Perkembangan Ilmu ekonomi regional sejatinya merupakan kritik serta inovasi baru dalam hal menganalisa ekonomi, dengan tujuan melengkapi serta membenahi pemikiran ekonomi tradisional, sebagai jawaban terhadap penyelesaian masalah ekonomi regional khususnya dengan memacu percepatan pembangunan infrastruktur konektivitas.

Pembangunan infrastruktur konektivitas yang masif di berbagai wilayah diyakini akan membuka dan menghubungkan satu daerah dengan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru dan kawasan ekonomi khusus yang terintegrasi, sehingga mampu meningkatkan daya saing dan nilai tambah dengan  menekan biaya logistik, yang pada akhirnya berkonstribusi positip bagi  pertumbuhaan ekonomi regional dalam  meningkatkan kesejahteraan rakyat setempat.

Pertumbuhan ekonomi regional menjadi faktor determinan dalam Ilmu ekonomi regional yang juga bisa diartikan sebagai ilmu ekonomi wilayah, karena berkaitan dengan suatu wilayah, dan menitikberatkan pada pembahasan tata ruang, space dan spatial serta infrastruktur yang dibutuhkan dalam mengakselerasi bergeraknya ekonomi regional dan tumbuhnya pusat-pusat ekonomi baru.

Memacu pertumbuhan ekonomi regional melalui pendekatan akselerasi pembangunan infrastruktur bukanlah tanpa alasan, ahli ekonomi pembangunan, Rosentein-Rodan misalnya, sejak lama telah mengampanyekan pentingnya pembangunan infrastruktur secara besar-besaran, sebagai pilar pembangunan ekonomi yang dikenal kemudian dengan nama big-push theory.

Beberapa hasil studi juga menyebutkan hasil pembangunan infrastruktur memiliki peran sebagai katalisator antara proses produksi, pasar, dan konsumsi akhir serta memiliki peranan sebagai social overhead capital yang berkonstribusi terhadap pertumbuhan ekonomi.

Secara ekonomi makro ketersediaan dari jasa pelayanan infrastruktur mempengaruhi marginal productivity of private capital, sedangkan dalam konteks ekonomi mikro, ketersediaan jasa pelayanan infrastruktur berpengaruh terhadap pengurangan biaya produksi.

Pembangunan infrastruktur yang dilakukan secara masif dan menyebar di berbagai wilayah merupakan bentuk dari ‘Regional Growth Strategy’, utamanya dalam mengatasi masalah pembangunan, yaitu kemiskinan dan kesenjangan, sekaligus bentuk investasi dalam   meningkatkan produktivitas dan daya saing.

Pelajaran berharga setidaknya dapat dipetik dari tinjauan historis pertumbuhan ekonomi AS dan China, peran vital infrastruktur dalam mendorong pertumbuhan ekonomi telah dibuktikan oleh kesuksesan berbagai program ekonomi yang bertumpu pada infrastruktur, diantaranya Program New Deal oleh Presiden Roosevelt, pada saat resesi di Amerika Serikat tahun 1933, telah memberikan dampak positif meningkatkan ekonomi dan lebih 6 juta penduduk dapat bekerja kembali.

Sedangkan konstribusi pembangunan infrastruktur China terhadap kejayaan ekonominya, salah satu faktor disebabkan oleh masifnya pembangunan infrastruktur, yang dapat mengenjot pertumbuhan ekonomi China mencapai double digit di atas 10% per tahun selama hampir 20 tahun.

Melihat contoh China misalnya, negeri ini melakukan reformasi politik dan ekonomi pada 1978 di masa Deng Xiao Ping, yang hingga saat ini telah membangun tol sepanjang 280 ribu km, angka yang sangat fantastis bila kita bandingkan dengan pembangunan jalan tol di Indonesia, yang hanya berkisar 780 km.

Bagi Indonesia, pembangunan infrastruktur konektivitas menjadi semakin relevan bila melihat laporan terbaru Global Competitiveness Index 2017, yang menunjukkan indeks daya saing infrastruktur Indonesia pada 2017-2018 masih berada di urutan ke-52, atau dibawah Singapura, Malaysia dan Thailand.

Dalam laporan Global Competitiveness Index 2017 tersebut juga menyebutkan masalah utama daya saing Indonesia salah satunya disebabkan belum meratanya sarana infrastruktur, sehingga sangat tepatlah pilihan strategis dengan menjadikan akselerasi pembangunan infrastruktur konektivitas sebagai ujung tombak guna memacu pertumbuhan ekonomi regional.

Pilihan strategi ini perlu menjadi fokus perhatian dan berkelanjutan, dengan dukungan dari seluruh pemangku kepentingan, mengingat terdapat korelasi antara pembangunan infrastruktur di daerah dengan PDRB, yang menunjukan bahwa Infrastruktur panjang jalan memiliki tingkat elastisitas sebesar 0,13, artinya setiap kenaikan panjang jalan sebesar 1% akan meningkatkan output (PDRB) sebesar 0,13%, cateris paribus.

 

Tol Trans Jawa tonggak sejarah baru Indonesia

Terhubungnya Jakarta sampai dengan Surabaya, melalui jalan Tol Trans Jawa merupakan tonggak sejarah baru transportasi darat di Indonesia, karena sejak diresmikan 20 Desember 2018 oleh Presiden Jokowi, telah tersambung jalan Tol jalan dari Merak sampai ke Grati di Pasuruan, dari Jakarta ke Surabaya, yang sekaligus memberikan alternatif baru disamping jalan nasional yang telah ada.

Dengan tersambungnya Tol Trans Jawa juga menjadikan mobilitas barang, logistik, maupun orang menjadi lebih cepat, lebih mudah, dan lebih murah, peresmian Tol Trans Jawa juga diharapkan akan mengintegrasikan kawasan-kawasan industri, kawasan ekonomi khusus, dan kawasan wisata sehingga ekonomi regional semakin menggeliat.

Kita patut mengapresiasi langkah strategis yang telah ditempuh Presiden Jokowi dalam memacu percepatan pembangunan infrastruktur pada masa bakti pemerintahannya, utamanya dalam melakukan berbagai langkah terobosan, sebagai pilihan strategi dalam memacu pertumbuhaan ekonomi regional, dengan memastikan bergeraknya ekonomi produktif melalui masifnya pembangunan infrastruktur konektivitas di berbagai penjuru negeri termasuk yang monumental seperti Pembangunan Tol Trans Jawa.

Dalam percepatan pembangunan Tol Trans Jawa, langkah terobosan telah ditempuh dalam mengatasi masalah pembiayaan, yang terbukti mampu mempercepat penyelesaian Tol Trans Jawa ditengah keterbatasan APBN, hal tersebut dapat dicermati dari mulai aktifnya keterlibatan berbagai pihak swasta melalui membiayai proyek-proyek infrastruktur jalan Tol Trans Jawa, dengan model pendanaan kreatif (creative financing).

Creative financing dalam penyelesaian Tol Trans Jawa direalisasikan dalam skema kerjasama pemerintah dan badan usaha (KPBU) atau Public-Private Partnership (PPP). Sebagian atau seluruh pendanaan KPBU dapat berasal dari badan usaha, dengan memperhatikan pembagian risiko di antara para pihak. Jalan tol Batang-Semarang adalah contoh proyek pertama dengan skema KPBU yang mendapat penjaminan oleh pemerintah.

Pengembangan berbagai creative financing sangat diperlukan untuk mengurangi beban APBN dan sekaligus mengurangi ketergantungan BUMN terhadap Penyertaan Modal Negara (PMN). Sekuritisasi aset dapat dipertimbangkan, dengan melakukan sekuritisasi aset, seperti melepas sebagian haknya atau menerbitkan surat utang atas asetnya yang produktif, BUMN akan mendapatkan dana lebih banyak untuk merealisasikan proyek infrastruktur baru.

Tujuan dari berbagai inovasi pembiayaan dimaksud agar pembangunan infrastruktur yang sudah jalan dapat dikembangkan lagi asetnya oleh swasta, dan uangnya bisa digunakan untuk membangun infrastruktur yang lain, jadi berbagai komentar miring yang mengatakan bahwa pemerintah menjual aset negara secara ugal-ugalan adalah tidak mendasar sama sekali, karena esensinya sekuritisasi aset itu hanya menjual future income, bukan menjual aset.

Kita patut bersyukur dengan berbagai dukungan yang penuh dari para pemangku kepentingan, keberlanjutan pembangunan telah ditorehkan, sebagaimana yang kita ketahui bersama, pada tanggal 20 Desember 2018 yang baru lalu, kita telah dapat menyaksikan peresmian empat ruas jalan tol sekaligus menandakan sejarah baru transportasi indonesia, dengan resminya beroperasi Tol Trans Jawa.

Tol Trans Jawa ditandai dengan peresmian empat tol di Jawa Timur. Yakni Ngawi-Kertosono (segmen Wilangan-Kertosono), Jombang-Kertosono (seksi Bandar-Kertosono), Gempol-Pasuruan (seksi Pasuruan-Grati) dan Surabaya-Gempol (seksi relokasi Porong-Gempol). Ruas tol ini memiliki panjang 59 Km, serta peresmian tiga ruas tol di Jawa Tengah, yaitu ruas tol Pemalang-Batang segmen Simpang Susun Pemalang-Pasekaran, Tol Batang-Semarang segmen Pasekaran-Simpang Susun Krapyak, dan Tol Semarang-Solo segmen Salatiga-Kartasura, yang memiliki panjang 142 Km.

Dengan telah mulai beroperasinya Tol Trans Jawa dari Jakarta sampai dengan Surabaya tersebut, dampaknya telah mulai dirasakan bagi masyarakat luas ditandai dengan meningkatnya “arus mudik” jelang libur Natal dan Tahun Baru 2019, kini muncul tren baru   di masyarakat di Pulau Jawa dengan wisata Jalan Tol, menikmati perjalanan dan kuliner di sepanjang rest area, dengan semakin menjamurya sentra oleh-oleh di sepanjang rest area.

Munculnya peluang ekonomi baru ini diharapkan dapat ditangkap oleh pemerintah pusat dan  daerah,  dengan terus mengembangkan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi regional baru melalui kolaborasi  mengoptimalkan nilai tambah pemanfaatan Tol Trans Jawa terhadap pertumbuhan ekonomi regional  dari  kota/kabupaten yang dilintasi, utamanya dalam mengarahkan pengembangan diferensiasi yang memiliki keterikatan kuat dengan daerah penyangga atau kawasan kota kecil atau perdesaan sekitar yang mendukungnya.

Disamping itu, dengan kelancaran mobilitas barang dan jasa, juga memberikan manfaat nyata bagi para petani, seperti produk pertanian petani yang biasanya mengirim tembakau dari daerah Temanggung, Jawa Tengah ke Surabaya, Jawa Timur yang selama ini bisa satu kali pengiriman, bisa sampai tiga kali karena adanya akses tol.

Tol Trans Jawa diharapkan juga akan dapat menggerakkan  berkembangnya  wisata seni budaya sebagaimana kekhasan Pulau Jawa adalah pulau yang kaya ragam seni budaya dengan potensi destinasi wisata (pusaka, tradisional, hijau) dengan berbagai kegiatan festival seni budaya.

Kegiatan rutin festival seni budaya yang selama ini rutin dilakukan di Kota/Kabupaten Cirebon di Jawa Barat, Kota/Kabupaten Tegal, Pekalongan, Semarang, dan Kota Solo di Jawa Tengah serta Kota/Kabupaten Mojokerto, Kota Surabaya, Kota/Kabupaten Pasuruan dan Probolinggo, Kabupaten Banyuwangi di Jawa Timur dapat memanfaatkan nilai tambah dari pemanfaatan Tol Trans Jawa.

Pemerintah daerah harus dapat menangkap peluang dari potensi jumlah festival yang beragam tersebut dengan upaya sungguh-sungguh dalam menyelaraskan dan meningkatkan kualitas penyelenggaraannya dengan narasi festival yang menarik, melibatkan komunitas pelaku/penggiat lokal sehingga mampu menjawab masalah penciptaan lapangan kerja, mengingat keberadaan rest area sepanjang Tol Trans Jawa dapat menjadi etalase promosi pariwisata setiap daerah yang dilintasi.

Untuk itu diperlukan adanya kewirausahaan birokrasi birokrasi  dikalangan pemda guna membuat beragam program pengembangan parisiwata dan ekonomi kreatif. Pejabat daerah harus membuat program yang konsisten dan dapat meningkatkan pendapatan asli daerah, produktivitas di daerah, membuat regulasi yang memudahkan dunia usaha dan iklim usaha yang nyaman dan aman.

Tol Trans Jawa diharapkan dapat mentransformasi perubahan kegiatan ekonomi dan tata ruang kota/kabupaten di sepanjang Trans Jawa dari skala lokal menuju regional dan nasional, dengan tetap memperhatikan kearifan lokal, dalam memanfaatkan  peluang baru untuk mengembangkan bisnis seperti properti, pusat perbelanjaan, tempat penginapan, kawasan industri, dan perdagangan di mulut gerbang tol dan persimpangan, serta optimalisasi area rest area dengan wajah lokal, dengan pendekatan inklusif  mengajak para pelaku usaha kecil dan mikro untuk menjadi mitra di rest area-rest area melalui promosi kuliner dan produk lokal  sebagai etalase potensi daerah.

Kita tentunya berharap beroperasinya Tol Trans Jawa dapat membawa manfaat nyata bagi bergeraknya ekonomi regional pada kota dan kabupten yang dilalui menjadi pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru dengan menggerakkan  ekonomi  produktif rakyat, terintegrasinya kawasan ekonomi regional sehingga seluruh wilayah di Indonesia menjadi bagian penting dari rantai produksi regional dan global (regional and global production chain). Semoga. (ECS – Humas Kemensetneg)

Bagaimana pendapat anda mengenai artikel ini?
2           1           0           0           0