Wujudkan Perdamaian dengan Teologi Kerukunan

 
bagikan berita ke :

Selasa, 13 Oktober 2020
Di baca 922 kali

Jakarta, wapresri.go.id – Agama memiliki peran penting dalam kehidupan manusia sebagai tatanan nilai dan pedoman hidup. Sebab, seluruh agama mengajarkan umatnya untuk berperilaku jujur, santun, memupuk cinta kasih dan menentang semua bentuk kezaliman. Oleh karena itu, untuk menciptakan perdamaian, diperlukan pendekatan keagamaan atau teologi kerukunan.

 

“Kita harus mampu membuktikan bahwa pendekatan keagamaan atau “teologi kerukunan” lebih manusiawi, mulia dan manjur untuk menciptakan perdamaian yang langgeng, dibandingkan cara-cara militer dan kekerasan. Perdamaian yang dibangun di atas jalinan kesadaran tentang pentingnya kerukunan dan saling menghormati akan jauh lebih kokoh daripada suatu penaklukan militer dan kekerasan yang telah terbukti dalam catatan sejarah selalu menyisakan kehancuran dan dendam,” tegas Wakil Presiden (Wapres) K. H. Ma’ruf Amin pada acara Peringatan Hari Lahir Nabi Kongzi ke-2571 yang diselenggarakan oleh MATAKIN (Majelis Tinggi Agama Konghucu Indonesia) melalui konferensi video di kediaman resmi Wapres, Jalan Diponegoro Nomor 2, Jakarta Pusat, Selasa (13/10/2020).

 

Dalam acara yang mengangkat tema “Masa Depan Bangsa dalam Perspektif Agama-Agama” tersebut, lebih jauh Wapres menjelaskan, teologi kerukunan selain merupakan salah satu pelaksanaan amanat Pembukaan UUD 1945, tetapi juga merupakan bagian dari prinsip agama Islam, yakni persaudaraan sesama warga bangsa (Ukhuwwah Wathaniyah) dan persaudaraan sesama umat manusia.

 

“Salah satu implementasi teologi kerukunan itu adalah penggunaan narasi kerukunan di antara sesama warga bangsa baik dalam pergaulan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Adapun perwujudan dari narasi kerukunan tercermin dalam kesantunan berperilaku dan berekspresi, saling menghormati dan saling menghargai dalam berinteraksi dan berkomunikasi,” ungkap Wapres.

 

Kemudian Wapres menekankan, khususnya di Indonesia teologi kerukunan merupakan pendekatan yang tepat. Sebab, sebagai bangsa yang majemuk, pilar kekuatan Indonesia terletak pada keragamannya. Para pendiri bangsa pun merumuskan dan mengukuhkan Pancasila sebagai dasar negara. Oleh karena itu, agar terus kokoh sebagai ideologi yang hidup, nilai-nilai luhur Pancasila harus dimanifestasikan dalam karya dan amalan nyata masyarakat Indonesia.

 

“Beberapa contoh manifestasi nilai luhur Pancasila yang utama misalnya menjaga kerukunan antar umat beragama, antar kelompok dan antar golongan, memajukan pendidikan, menghapuskan kemiskinan dan ketimpangan sosial. Selain pemerintah, semua elemen bangsa juga mengemban tugas yang sama sesuai kapasitasnya dalam mewujudkan cita-cita tersebut,” papar Wapres.

 

Pada kesempatan yang sama Wapres juga mengimbau, di masa pandemi Covid-19 saat ini, pemuka agama harus aktif mendorong dan membimbing umatnya untuk tetap menjaga kesehatan dan mematuhi protokol kesehatan. Ia menilai, hal ini akan sangat membantu dalam memutus rantai penyebaran Covid-19 karena umat akan mendengar nasihat dan bimbingan para pemuka agama.

 

“Dalam situasi seperti ini, saya mendorong peran para pemuka agama termasuk khususnya dari MATAKIN untuk terus mendukung upaya bersama kita menjaga umat agar tetap menjaga kesehatan dan mematuhi pelaksanaan protokol kesehatan. Nasihat dan bimbingan pemuka agama tentu akan memperkuat keyakinan dan kepatuhan umatnya tentang bahaya dan akibat yang sangat merugikan apabila protokol kesehatan tidak diindahkan,” imbau Wapres.

 

Menutup sambutannya, Wapres pun berpesan agar seluruh elemen masyarakat, khususnya organisasi kemasyarakatan berbasis agama, untuk berkontribusi dalam menjaga persatuan dan keutuhan bangsa.

 

“Oleh karenanya melalui forum yang mulia ini, saya mengajak seluruh organisasi kemasyarakatan, terutama yang berbasis agama termasuk MATAKIN dan segenap elemen bangsa untuk terus berperan dan berkontribusi dalam upaya ikut mengembalikan dan menjaga harmoni, baik vertikal maupun horisontal serta merawat kerukunan antar umat beragama, menjaga persatuan dan keutuhan bangsa,” pesan Wapres.

 

Sebelumnya, Menteri Agama Fachrul Razi menyampaikan bahwa kiranya momentum hari lahir Nabi Kongzi ke-2571 ini dapat dimaknai sebagai momentum untuk meningkatkan nasionalisme dan wawasan moderasi beragama oleh seluruh umat Konghucu. “Momentum ini hendaknya juga dimanfaatkan umat Konghucu untuk memperkuat rasa nasionalisme dan wawasan moderasi beragama.”

 

Pada kesempatan yang sama, Ketua Umum MATAKIN Xs. Budi S. Tanuwibowo menyampaikan harapannya agar ke depan tidak terjadi lagi pertentangan antara agama dan ilmu pengetahuan. Ia menilai, belajar dari pandemi Covid-19 yang terjadi, dapat dijadikan pelajaran bahwa agama dan ilmu pengetahuan adalah dua unsur yang saling melengkapi.

 

“Kita selama ini selalu mempertentangkan agama dengan keilmuan. Pandemi menyadarkan bahwa agama tidak bisa sendiri. Kalau bicara penyakit tentu kedokteran lebih pas. Tapi membekali diri manusia menghadapi hidup penuh welas asih dengan agama. Janganlah kita melihat lagi agama bertentangan dengan ilmu pengetahuan. Dunia ke depan harus dihadapi bersama-sama,” imbaunya.

 

Perayaan Hari Lahir Nabi Kongzi ke-2571 ini merupakan perayaan yang pertama kali dilaksanakan di Indonesia. Acara ini mengundang tokoh-tokoh lintas agama baik nasional maupun internasional. Rangkaian perayaan tersebut disiarkan secara daring melalui aplikasi Zoom dan kanal Youtube MATAKIN.

 

Hadir dalam acara pembukaan secara virtual diantaranya Menteri Agama Fachrul Razi, Ketua Umum MATAKIN Xs. Budi S. Tanuwibowo, para pengurus cabang MATAKIN di seluruh Indonesia, dan tokoh-tokoh lintas agama. (PW/NN/SK- KIP, Setwapres)

Kategori :
Bagaimana pendapat anda mengenai artikel ini?
0           0           0           0           0