Menuju Indonesia Emas 2045, Kemensetneg Tekankan Kemitraan Global dan Transformasi SDM

 
bagikan berita ke :

Rabu, 22 April 2026
Di baca 2 kali

Pemerintah terus memperkuat kemitraan global dalam pengembangan sumber daya manusia sebagai bagian dari strategi menuju Indonesia Emas 2045. Kementerian Sekretariat Neagara (Kemensetneg) Field Visit LAN–Managing Global Governance (MGG)/Institute of Development and Sustainability (IDOS) Training and Learning Conference 2026 di Ruang Rapat Gedung III Kementerian Sekretariat Negara, Jakarta, Rabu (22/04/2026).

Field Visit LAN–Managing Global Governance (MGG)/Institute of Development and Sustainability (IDOS) Training and Learning Conference 2026 ini merupakan kunjungan pembelajaran oleh LAN dan Delegasi IDOS ke Kemensetneg khususnya kepada Biro Kerja Sama Teknik Luar Negeri dan Pusat Pengembangan Kompetensi Aparatur Sipil Negara (PPKASN) Kemensetneg sebagai rangkaian kegiatan IDOS Joint Conference 2026 dengan tema “Systemic Impact through Transformative Training”.  Kunjungan ini  menekankan pentingnya kolaborasi internasional untuk mencetak sumber daya manusia unggul, adaptif, dan berdaya saing global.

Mengawali acara, Sekretaris Kementerian Sekretariat Negara, Setya Utama mengucapkan apresiasinya kepada seluruh peserta LAN-IDOS atas kunjungannya ke Kemensetneg. 

“Kegiatan hari ini tidak hanya untuk menampilkan pengalaman dan pelajaran yang dipetik dari Indonesia, tetapi kami juga ingin belajar dari anda semua. Mulai dari inovasi, perubahan, serta keberhasilan anda. Melalui pertukaran dua arah ini, kita dapat memperkaya perspektif dan memperkuat kapasitas kolektif kita dalam menjawab tantangan pembangunan global,” ujar Setya Utama.

Setya Utama berharap bahwa kegiatan ini dapat menjadi platform dinamis untuk berbagi praktik baik, bertukar pengetahuan, dan memupuk pembelajaran bersama. “Kegiatan ini juga menjamin inisiatif pengembangan kapasitas yang dilakukan benar-benar berdampak, berkelanjutan, dan adaptif,” seraya meresmikan kegiatan.

Kepala Biro Kerja Sama Teknik Luar Negeri Kementerian Sekretariat Negara, Noviyanti, menegaskan bahwa penguatan modal manusia menjadi fondasi utama pembangunan nasional jangka panjang. “Kemitraan global merupakan instrumen strategis untuk mempercepat transformasi kapasitas sumber daya manusia Indonesia melalui transfer pengetahuan, penguatan kompetensi, dan inovasi,” ujar Noviyanti dalam kegiatan tersebut.

Menurut Noviyanti, Indonesia kini menjalankan peran ganda dalam kerja sama teknik internasional, tidak hanya sebagai penerima manfaat, tetapi juga sebagai mitra pemberi bantuan melalui skema South-South and Triangular Cooperation (SSTC). Ia menyebut transformasi peran Indonesia tersebut menjadi bukti meningkatnya kontribusi Indonesia dalam tata kelola pembangunan global. “Indonesia tidak lagi semata menjadi penerima, tetapi turut berbagi praktik baik dan pengalaman pembangunan dengan negara berkembang lainnya,” katanya.

Dalam forum tersebut dipaparkan, sepanjang 2025 tercatat 406 pelatihan internasional dengan 1.585 peserta dan 3.734 peserta yang mendapatkan endorsement dari Kementerian Sekretariat Negara. Sementara dalam rentang 2024–2026, sebanyak 30 program pelatihan terkoordinasi melibatkan 624 peserta dan menjangkau 68 negara sasaran. Capaian ini disebut sebagai indikator meningkatnya efektivitas kerja sama teknik internasional dalam mendukung pengembangan kapasitas nasional.

Dalam hal penguatan Pendidikan di lingkungan Kemensetneg, Kepala Pusat PPKASN Kemensetneg, Sri Prastiwi Utami mengatakan bahwa kerja sama tersebut juga diwujudkan melalui berbagai program beasiswa dan peningkatan kapasitas bersama mitra internasional seperti Australia, Jepang, Korea Selatan, India, Singapura, dan Selandia Baru. 

“Seperti yang disampaikan Ibu Noviyanti, bahwa Kemensetneg ini tidak hanya memperluas akses pendidikan dan pelatihan, tetapi juga memperkuat kepemimpinan birokrasi dan inovasi sektor publik. investasi pada human capital adalah investasi jangka panjang untuk daya tahan dan daya saing bangsa,” ujar Sri Prastiwi Utami.

Dalam kesempatan ini Sri Prastiwi Utami juga menyampaikan bahwa Kemensetneg sangat mengedepankan digitalisasi dan pembelajaran daring untuk penyelenggaraan pelatihan. “Kemensetneg sangat mendukung digitalisasi dengan menyelenggarakan beberapa pelatihan ataupun seminar dengan menggunakan daring, hal ini disambut dengan baik oleh seluruh pejabat dan pegawai,” ucap Sri Prastiwi Utami.

Selain pengembangan SDM, kolaborasi internasional Indonesia juga diarahkan untuk mendukung sektor strategis seperti perubahan iklim, kesehatan, energi terbarukan, serta tata kelola pemerintahan dan keadilan. Beberapa proyek yang disorot antara lain FORCLIME, Sustainable Energy Transition Indonesia (SETI), serta Australia Indonesia Partnership for Justice Phase 2 (AIPJ2) yang dinilai memberi dampak nyata bagi pembangunan berkelanjutan.

Dalam konteks kerja sama Selatan-Selatan dan Triangular, Indonesia mencatat 110 program capacity building sepanjang 2014–2025 yang telah memberi manfaat kepada lebih dari 2.000 peserta dari berbagai kawasan, terutama Afrika, Asia Tenggara, dan Asia Selatan. Program unggulan mencakup pertanian, keluarga berencana, energi, dan perubahan iklim. “SSTC menjadi instrumen diplomasi pembangunan Indonesia sekaligus kontribusi konkret terhadap agenda pembangunan global,” kata Noviyanti.

Kegiatan ini dihadiri oleh 30 ( tiga puluh) orang yang berasal dari 8 (negara) negara yaitu India, Afrika Selatan, Tiongkok, Jerman, Brasil, India, Meksiko, Italia dan Indonesia serta perwakilan pejabat/pegawai Lembaga Administrasi Negara (LAN) dan Perwakilan Pejabat Pimpinan Tinggi Madya, Pratama dan Jabatan Fungsional Madya di lingkungan Kementerian Sekretariat Negara.

Kunjungan pembelajaran ini juga menyoroti kemitraan jangka panjang Indonesia dan Jepang sebagai model keberhasilan transfer pengetahuan, salah satunya melalui kerja sama inseminasi buatan di sektor peternakan. Dari penerima teknologi, Indonesia kini berkembang menjadi pusat praktik baik yang juga mendukung negara berkembang lainnya. Pola pembelajaran menuju inovasi dan berbagi pengetahuan tersebut dinilai relevan untuk direplikasi di berbagai sektor pembangunan.

Para peserta konferensi menilai penguatan kerja sama global perlu terus diarahkan untuk mendukung agenda Asta Cita dan visi Indonesia Emas 2045, terutama melalui pengembangan talenta yang kritis, inovatif, kolaboratif, dan tangguh menghadapi perubahan global. Kemitraan pembangunan, menurut forum ini, menjadi fondasi penting untuk memastikan transformasi nasional berjalan inklusif dan berkelanjutan.

Menutup konferensi, Noviyanti menegaskan komitmen pemerintah untuk terus memperluas kerja sama internasional yang berdampak langsung pada penguatan kapasitas nasional. “Menuju Indonesia Emas 2045 membutuhkan kemitraan global yang saling menguatkan. Dengan kolaborasi, kita membangun sumber daya manusia unggul sekaligus mempertegas peran Indonesia dalam pembangunan dunia,” ujarnya. (Humas Kemensetneg)

Bagaimana pendapat anda mengenai artikel ini?
0           0           0           0           0