Sambutan Presiden pada Peringatan Hari Koperasi Nasional Ke-79 Tahun 2026

 
bagikan berita ke :

Minggu, 12 Juli 2026
Di baca 73 kali

Di Indonesia Arena, Kompleks Gelora Bung Karno, Kota Administrasi Jakarta Pusat, Provinsi DKI Jakarta


Bismillahirrahmanirrahim.

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Selamat siang,
Salam sejahtera bagi kita sekalian,
Syalom,
Salve,
Om swastiastu,
Namo Buddhaya,
Salam kebajikan.

Yang saya hormati para pimpinan lembaga negara yang hadir, Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI) Saudara KH. Ahmad Muzani, Ketua Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) Saudara Sultan Bachtiar Najamudin, Menteri Koperasi sebagai penyelenggara Saudara Ferry Juliantono, Ketua Umum Dewan Koperasi Indonesia (Dekopin) sekaligus Wakil Ketua Komisi XVII DPR RI Saudara Bambang Haryadi, Ketua Dewan Penasihat Dekopin yang sekaligus adalah Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Maruli Simanjuntak, Menko Politik dan Keamanan Jenderal TNI (Purn.) Djamari Chaniago, Menko Pemberdayaan Masyarakat Saudara Abdul Muhaimin Iskandar;
Para Menteri, Kepala Badan, Jaksa Agung, Kepala BIN, Panglima TNI, Kapolri, para Wakil Menteri, serta seluruh anggota Kabinet Merah Putih yang hadir yang tidak bisa saya sebut namanya satu per satu tanpa mengurangi rasa hormat.
Atau perlu saya sebut satu per satu? Sebut enggak? Kenapa? Ini, kabinet saya ini orang-orang hebat, putra-putri terbaik di Indonesia, putra-putri terbaik Indonesia. Saya di sini berdiri di depan Saudara-saudara sekalian, kalau tidak ada mereka, saya tidak bisa berdiri di sini sekarang. Jadi semua kegiatan manusia adalah kegiatan kerja sama.
Arti koperasi adalah kerja sama, adalah gotong royong, to cooperate, kooperatif, kerja sama. Saudara-saudara, tapi oke, karena saya patuh sama rakyat. Hanya 38 nama, kok, enggak apa-apa. Ya sudah nanti, deh; 
Perwakilan keluarga dari Bapak Koperasi Indonesia Keluarga Muhammad Hatta, hadir di sini cucu Bung Hatta, Saudara Mohammad Athar dan Saudara Rico Frantino. Terima kasih kehadiran Saudara-saudara. 

Saudara-saudara sekalian,
Sebagai insan yang bertakwa, marilah kita tidak henti-hentinya memanjatkan puji syukur ke hadirat Allah swt., Tuhan Mahabesar, Tuhan Mahakuasa, yang memiliki sekalian alam. Hanya kepada-Nya lah kita berdoa dan hanya kepada-Nya lah kita meminta pertolongan. Kita bersyukur atas segala karunia, atas segala berkah, dan kebaikan yang diberikan kepada kita dan kepada bangsa kita. Atas kedamaian yang masih kita bisa rasakan di tengah dunia yang penuh perang, pertikaian, dan konflik, atas napas, dan kesehatan yang masih diberikan kepada kita, sehingga hari ini kita berkumpul di Senayan ini pada acara Puncak Peringatan Hari Koperasi ke-79, Saudara-saudara sekalian, tahun 2026. Selamat memperingati Hari Koperasi ke-79 kepada seluruh insan koperasi Indonesia di mana pun engkau berada.

Hari ini adalah hari yang membahagiakan saya. Saya lihat wajah-wajah tokoh koperasi yang sudah lama berjuang. Saya berjuang bersama Saudara-saudara di beberapa koperasi induk koperasi unit desa (KUD) cukup lama, yang terakhir saya sebagai Ketua Dewan Pembina, saya juga memimpin beberapa koperasi di masa 30 tahun yang terakhir ini.

Kita melihat ekonomi Indonesia dikuasai oleh paham ekonomi neoliberal yang sesungguhnya adalah bertentangan dengan Undang-Undang Dasar 1945. Cukup lama kita berjuang untuk mengembalikan arah pembangunan ekonomi ke arah yang dirancang oleh pendiri-pendiri bangsa kita, yaitu ekonomi kekeluargaan, ekonomi kerakyatan, ekonomi di mana semua unsur harus berperan dan harus diberi kesempatan.

Saudara-saudara,
Kita tidak mencari kesalahan masa lalu. Kita akui itu kesalahan kita bersama, kesalahan para elite. Waktu itu mungkin kita terkesima oleh keunggulan Barat, keunggulan Barat, seolah-seolah Barat adalah peradaban yang sangat unggul, sangat kuat, dan bisa membawa kesejahteraan kepada rakyat dalam waktu yang singkat. Ternyata setelah tiga dasawarsa kita melihat tidak benar. Saya termasuk mungkin salah satu yang dari awal sudah memperingatkan bahwa paham kapitalisme neoliberal tidak akan berhasil, dan tidak akan membawa kesejahteraan, dan tidak mungkin membawa kesejahteraan kepada rakyat banyak.

Dan, Saudara-saudara, sesungguhnya, Saudara-saudara, karena saya ini merasa di kalangan keluarga sendiri. Koperasi itu memang saya merasa adalah keluarga saya. Walaupun saya kalah presiden berapa kali, saya merasa gerakan koperasi selalu berada bersama saya, begitu. Kita belum berhasil tapi kita terus berjuang untuk rakyat Indonesia. Dan akhirnya lah saya menerima mandat dari rakyat Indonesia. Dan, mandat itu akan saya jalankan sekuat tenaga saya untuk, saya akan berjuang dengan sekuat tenaga saya untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat Indonesia.

Saudara-saudara,
Kita memahami bahwa negara kita sangat kaya. Sesudah saya dilantik dalam minggu-minggu pertama saya jadi presiden, saya sadar betapa kayanya bangsa Indonesia. Tetapi saya juga sedih. Saya juga merasa di, dihantam di ulu hati saya melihat betapa besar kekayaan Indonesia dicuri, betapa besar kekayaan kita dibawa ke luar negeri.

Dan, karena itu, saya bertekad memimpin pemerintahan dibantu oleh kabinet saya, saya bertekad untuk bekerja dengan keras, bekerja dengan gagasan pikiran yang besar, bukan yang kecil-kecil-kecil. Kita negara besar. Kesulitan, hambatan, tantangan kita besar. Kita baru sadar begitu banyak negara yang iri sama kita. Bangsa kita bangsa yang terlalu baik hatinya. Kita ini lugu, benar? Itu sifat bangsa kita. Kalau ada tamu datang ke rumah kita, walaupun kita tidak punya minuman, tidak punya kopi, tidak punya gula, kita persilakan. Kalau perlu kita ke tetangga, kita pinjam gula dan kopi, benar? Benar? Ini sifat kita. Kita suka dengan tamu, kita hormati tamu, hanya kadang-kadang ada tamu yang enggak tahu diri. Sudah enggak diundang, ya, datang ke sini katanya mau dagang, lama-lama ngerampok.

Saudara-saudara,
Koperasi adalah alatnya orang lemah, alatnya orang miskin. Tapi, tapi seperti sapu lidi, satu lidi, satu lidi, satu lidi, satu lidi, satu lidi, lemah. Tapi bergabung itu kekuatan, Saudara-saudara sekalian. Jangan khawatir, Gerakan Koperasi Indonesia akan bangkit menjadi kekuatan ekonomi Indonesia. Kekuatan ekonomi yang tidak akan bawa uang lari dari Indonesia. Benar?

Saya ingin lihat tampang-tampang koperasi ini. Muka-muka kalian bukan muka orang yang bawa lari uang ke luar negeri, betul? Tapi, enggak ada masalah. Saya dapat laporan sekarang sudah banyak petani yang libur ke luar negeri, enggak apa-apa libur boleh. Kapan lagi petani libur ke luar negeri? Sekarang karena kita akan buat tani, nelayan, buruh makmur. Ekonomi kita akan bangkit dari desa, kecamatan, kabupaten dan uangnya akan tinggal di desa, di kecamatan, di kabupaten. Kita akan kembalikan, kalau selama ini kekayaan rakyat Indonesia disedot, kita akan kembalikan sekarang, ekonomi akan turun ke rakyat. 

Tapi, tapi saya ingatkan, kita tidak anti perusahaan besar, tidak. Karena Indonesia ini negara besar, kita butuh, kita butuh koperasi, kita butuh UMKM, kita butuh swasta, kita butuh BUMN, BUMD, kita butuh semuanya. Ini harus menjadi kekuatan ekonomi. Itu yang saya maksud Indonesia Incorporated. Itu yang dikehendaki oleh Bapak-bapak pendiri bangsa kita, bahwa koperasi adalah salah satu sokoguru, salah satu sokoguru. Kalau kita memperkuat koperasi, bukan berarti kita akan memperlemah yang lain, no. Kita memperkuat semuanya, Saudara-saudara sekalian.

Indonesia kaya, Indonesia akan bangkit, dan Indonesia akan mampu memperkuat semua kekuatan di Republik Indonesia ini. Yang ragu-ragu silakan duduk di rumah saja, yang merasa Indonesia suram silakan kalau mau cari negara lain. Silakan, tidak ada yang melarang. Kalau di Indonesia, mohon lah mari, mari kita bersatu, mari kita gotong royong, mari kita kerja sama. Yang kuat bantu yang lemah, yang lemah kerja sama yang baik. Insyaallah kita akan bangkit, Saudara-saudara. 

Marilah kita kembali ke sifat bangsa Indonesia yaitu saling memaafkan, saling mengerti, saling mengasihi, saling membantu. Jangan ikut-ikut budaya caci maki, budaya dengki, budaya curiga. Tidak ada keberhasilan dengan pertikaian, tidak ada. Untuk apa kita bertikai? Kita ini satu keluarga. Apa pun latar belakang kita, apa pun suku kita, apa pun latar belakang kita, apa pun partai kita, semua partai banyak patriot dan semua partai banyak bajingannya juga.

Presiden boleh ngomong bajingan? Boleh enggak? Pak? Boleh? Enggak, aku enggak tanya kalian, aku tanya Menteri Pendidikan ini, gimana? Boleh enggak? Ini, kan, tidak termasuk kasar, kan. Bajingan, ya, bajingan itu. Bajingan. Bajingan bangsa, bahasa apa itu bajingan itu? Bahasa Betawi, ya? Memang saya lahir di Betawi. Jadi maaf kalau saya, kalau saya semangat. Saya, kata-kata, kata-kata Betawi keluar. Sorry, ye. Ini hari jadi koperasi atau udah mulai kampanye ini? Gue enggak tahu. Enggak.

Saudara-saudara,
Tadi benar kita akan berbuat gerakan-gerakan atau upaya yang asasi, yang mengurus masalah dari akarnya, Saudara-saudara, ya. Kalau badan sakit, kita cari sakitnya apa, baru kita obati, ya. Jadi, Saudara-saudara, kita mengerti secara garis besar, oke. Dan, saya sudah perjuangkan berkali-kali, karena itu yang saya yakini. Saya tidak percaya dengan teori-teori neolib. Katanya kita berpikir global, tidak ada perbatasan lagi, ya, kan? Jadi ada paham, pahamnya neolib. Kalau kau miskin, itu salah kamu. Iya, itu pemikiran mereka. Dan, paham neolib itu mengatakan biarlah yang kaya hanya satu persen. Kalau mereka kaya nanti lama-lama kekayaannya akan menetes ke bawah. Trickle, trickle-downeffect. Saya tanya, kalian percaya enggak akan menetes ke bawah? Kalian percaya atau tidak akan menetes ke bawah? Ada wartawan, sih.

Saya ini lahir di Betawi tapi saya asal dari Banyumas, campur sama Minahasa. Waduh, ini darahnya darah keras semua ini. Tapi, saya sudah, saya sudah, saya sudah, sudah tua, jadi sudah sabar. Sekarang saya sabar, kadang-kadang aja kesabarannya hilang. Lupa sudah pensiun.

Jadi, Saudara-saudara, tidak ada dan pemimpin Barat sekarang sudah mengakui mereka sudah meninggalkan neolib. Mereka yang meninggalkan. Amerika, Inggris, Eropa Barat sudah tinggalkan. Hanya di kita, saya enggak tahu ada orang-orang pintar yang entah terlalu pintar atau apa, saya enggak ngerti. Jadi, kalau kita mau buat satu program aliran untuk memperkuat bangsa sendiri, kita diejek, kita dijelek-jelekin, kita difitnah, kita dihajar. Tapi euweuh pangaruhna. Saya katakan euweuh pangaruhna. Kita jalan terus, Saudara-saudara sekalian. Kita tidak ragu-ragu, Saudara-saudara sekalian. Kita berada di jalan yang benar. Kita berada di jalan pendiri-pendiri bangsa kita. Kita berada di jalan yang lurus membela rakyat kehormatan bagi bangsa Indonesia, membela rakyat kehormatan bagi setiap patriot. Saya tidak akan ragu-ragu, saya akan terus untuk membela dan memperkuat bangsa Indonesia dan rakyat Indonesia, Saudara-saudara sekalian. Saya minta kesabaran Saudara-saudara. 

Saudara-saudara,
Kita sudah buktikan, tahun pertama pemerintah yang saya pimpin kita sudah swasembada pangan, Saudara-saudara sekalian. Kita tidak impor pangan lagi, kita ekspor. Tahun pertama pemerintah yang saya pimpin. Baru beberapa hari yang lalu, kita launching B50, solar 50 persen dari kelapa sawit. Petani kelapa sawit ada di Indonesia. Minyak kelapa sawit di Indonesia. Mulai bulan ini, kita tidak impor lagi solar dari luar negeri. Dan, profesor-profesor kita sekarang sedang mengembangkan bensin dari kelapa sawit. Etanol dari singkong, dari jagung, dari sorgum, Saudara-saudara. Jadi, saya harap dalam tiga [sampai] empat tahun lagi, kita nanti juga bisa menghasilkan bensin dari tanaman. Berarti petani singkong akan hidup makmur, petani jagung akan hidup makmur, petani-petani di seluruh Indonesia akan berbuat yang terbaik untuk bangsa dan untuk keluarganya sendiri, Saudara-saudara sekalian.

Kita juga dalam satu tahun pemerintahan kita, kita sekarang sudah konsolidasikan semua BUMN kita menjadi satu, satu dana kedaulatan (sovereign wealth fund), Dana Kekayaan Kedaulatan. Seribu BUMN lebih kita jadikan satu konsolidasi. Nilainya adalah seribu miliar Dolar, satu triliun Dolar Amerika. Kita sekarang adalah dana kedaulatan mungkin kelima atau keenam terbesar di dunia, di dunia. Jadi jangan kita selalu pesimis, rendah diri. Rendah hati harus, jangan rendah diri, ya. Dan, BUMN-BUMN itu akan kita tertibkan. Selama ini BUMN-BUMN itu sumber korupsi. Saudara ingin presidenmu bicara apa adanya, kan? Saya memperingatkan lagi, sekali lagi untuk sekian kali lagi saya bicara dari dulu. Hei, para koruptor, sadar diri. Hentikan praktik-praktik kau, hentikan. Rakyat tidak bodoh. Hentikan. Kembalikan kekayaan rakyat, kembalikan dengan baik. Kita bangsa pemaaf, tapi rakyat butuh keadilan, rakyat butuh kesejahteraan. Rakyat butuh sekolah yang baik, guru-guru butuh gaji yang baik, dokter-dokter, perawat-perawat butuh gaji yang baik, tentara dan polisi butuh gaji yang baik supaya mereka tidak memeras dari rakyat, pegawai negeri butuh gaji yang baik supaya mereka enggak korupsi. Percayalah. 

Mari kita bersatu semua unsur. Kita berbeda, tidak ada masalah. Berbeda partai, tidak ada masalah. Tiap sekian tahun kita bertanding dengan baik, enggak ada masalah. Siapa yang menang, monggo. Jangan kalau kalah mau bakar-bakar itu, bangsa apa itu. Pemimpin yang menghancurkan, bakar-bakar di Republik ini itu adalah pemimpin pengkhianat, Saudara-saudara sekalian.

Saya percaya hukum karma akan kena kepada mereka semua itu. Saya maju lima kali pemilihan, empat kali kalah. Enggak pernah saya suruh anak buah saya bakar-bakar. Demo aja enggak. Saya datang pelantikan rival saya, saya datang, saya hormat, saya kasih selamat. Bersaing itu baik, pertandingan itu baik. Iya, kan? Sepak bola ada pertandingan, kan, ada dua. Satu harus menang. Kalau satu kalah masa wasitnya mau digebukin? Ya, persaingan itu biasa. Enggak ada masalah, ya. Ini Gus Imin, pertama bersama saya, habis itu tidak bersama saya. Tapi enggak ada masalah. Karena dalam hati beliau, beliau juga ingin yang terbaik untuk Indonesia. Dan, sekarang beliau bersama saya untuk Indonesia, Saudara-saudara. Enggak ada masalah. Siapa lagi dulu yang ngalahin aku? Harus pakai kacamata ini saya. Tidak ada masalah, Saudara-saudara, ya.

Kita ini satu bangsa, satu nusa, satu bahasa. Kita ini satu keluarga. Buktikanlah bahwa bangsa Indonesia ini bangsa yang khas, bangsa yang bersatu. Kita bersaing habis itu bersatu, bekerja untuk seluruh rakyat. Inilah bangsa Indonesia, Saudara-saudara sekalian. Jangan bisanya nyinyir, ya, kan. Kalau lu enggak, lu enggak setuju, lu enggak mau bekerja, lu duduk aja lihat baik-baik, gitu, lo. Tapi kita terima kritik, kita terima kritik. Kritik itu bagus. Itu artinya koreksi, waspada. Kita kritik, kita mau terima kritik.

Saudara-saudara,
Saya jelaskan bagaimana konsep Koperasi Merah Putih datang. Sebetulnya konsep Merah Putih ini sudah lama ada di benak saya, sudah lama, puluhan tahun. Saya waktu di tentara, saya waktu di tentara kita bertugas di desa-desa, di gunung-gunung. Kita bisa berbulan-bulan di sebuah kecamatan. Saya lihat di situ rakyat kelaparan. Saya lihat ada rakyat yang mati kelaparan, dan saya tidak bisa berbuat apa-apa. Karena makanan saya terbatas untuk kompi saya.

Dari situ saya lihat kita harus menjaga, kita harus memelihara kemampuan kita di desa-desa. Indonesia merdeka, perang kemerdekaan kita, kekuatan kita ada di desa-desa. Tetapi, kita juga ingin jadi negara industri. Nah, untuk itu akhirnya dari dulu saya semakin yakin satu-satunya jalan untuk menjaga rakyat yang paling bawah adalah kekuatan koperasi. Tapi, saya sadar waktu saya mulai bikin koperasi ternyata kalau tidak punya wewenang, kalau tidak punya kekuasaan, sangat lambat, sangat lambat. Betul? Kalau orang modalnya kecil atau tidak punya, modal susah dapat kredit di mana-mana. 

Waktu saya jadi presiden, dengan menteri-menteri kita kebut swasembada pangan. Kita turunkan harga pupuk, kita naikkan harga pembelian gabah. Kita jamin hasil petani naik. Tapi saya dapat laporan, “Pak, percuma, Pak, hasil mereka naik. Kenapa? Karena utang mereka banyak.” Karena pertanian itu, panennya itu 100 hari. Nah, selama 100 hari anaknya ada yang sakit, anaknya harus sekolah. Mungkin ada kerusakan ini, dia butuh uang. Dia pinjam uang dan bunganya luar biasa gila. Dia pinjam uang dari lintah darat, dari mereka-mereka yang memberi bunga kadang-kadang 1 persen sehari. Ini mematikan. Seumur hidup mereka tidak bisa bangkit.

Karena itu, salah satu kebijakan saya pertama mungkin dalam bulan-bulan pertama Saudara ingat, saya hapuskan hutang jutaan petani yang mereka tidak mampu bayar, saya hapus. Kenapa? Pengusaha besar pun banyak yang enggak bayar hutang. Enak saja. Hutangnya triliunan, enggak mau bayar. Habis itu pakai ini, pakai itu, apa namanya? Haircut, apalagi restrukturisasi. Ada istilah-istilah keren. Rakyat enggak bisa. Kemudian selain itu, saya berpikir tidak ada jalan. Mereka rakyat kita harus bisa mendapat kesempatan pinjam uang dengan bunga yang murah. Jawabannya adalah harus ada koperasi simpan pinjam di setiap desa di seluruh Republik Indonesia.

Karena itulah, angka 81 ribu muncul, karena desa dan kelurahan kita di seluruh Indonesia jumlahnya adalah 81 ribu. Masalahnya adalah untuk memotong cengkeraman para lintah darat itu, supaya membebaskan jutaan rakyat kita dari ketergantungan kepada itu. Dan akhirnya muncul lagi bahwa, “Oh, iya, pupuk bersubsidi bisa di koperasi.” Kemudian gas, tabung-tabung gas itu bisa dioperasi.

Kemudian hampir semua barang-barang subsidi bisa kita salurkan melalui koperasi supaya tidak diselewengkan. Karena banyak barang subsidi diselewengkan tidak sampai ke rakyat yang perlu, tapi diatur-atur sedemikian, bahkan banyak yang diselundupkan ke luar negeri, Saudara-saudara sekalian. Itu latar belakang Koperasi Merah Putih.

Kemudian kita mulai rapat, kita mulai susun, kita mulai merencanakan. Ada beberapa pilihan. Kita bisa laksanakan dengan cara-cara biasa. Tapi rakyat yang susah, tidak dalam keadaan biasa. Mereka memerlukan tindakan yang cepat. Kita tidak bisa dengan cara-cara biasa, Saudara-saudara sekalian. Kita harus berpikir besar, berpikir cerdas, berpikir praktis. Jangan teoritis. Saya tahu, saya tahu, “Pak, sebaiknya bikin naskah akademis dulu, Pak.” Naskah akademis itu biasanya delapan bulan. Rapat sini, rapat situ, rapat sini, rapat situ. “Dari naskah akademis nanti kita bikin pilot project, Pak. Pilot project itu dua tahun. Habis itu kita coba di 100 desa dulu, Pak.” Ada 81 ribu desa dan kelurahan. Rakyat itu suruh nunggu delapan tahun. Saya, saya tidak mau. Saya bertanggung jawab kepada rakyat saya. Saya memilih jalan yang berani, jalan yang tegas, jalan yang besar tapi terukur dan terjangkau oleh kita, dan itu yang sedang kita laksanakan, Saudara-saudara sekalian. 

Tadi laporan Menteri Koperasi, kita sudah berapa? Dua belas ribu koperasi atau berapa koperasi yang sudah terbentuk. Silakan, jangan buru-buru. Kalau kita mampu hanya lima ribu, kita resmikan lima ribu. Nanti kapan. Insyaallah. Langkah 1.000 kilometer dimulai, perjalanan 1.000 kilometer dimulai dengan satu langkah. Tidak masalah. Saya dapat laporan sudah, sudah operasional 1.000 koperasi lebih. Dalam waktu dekat mungkin akan jadi lima ribu atau enam ribu, silakan. Insyaallah kita akan sampai tujuan kita dan pasti kita sampai.

Kalau target kita 1,5 tahun dan target itu tidak tercapai, enggak apa-apa. Kita bisa nyusul. Tapi kalau kita tidak punya target, tidak akan sampai-sampai, Saudara-saudara sekalian. Kita harus hilangkan pemikiran, “Apa bisa?” Bisa, harus bisa, akan bisa, dan akan berhasil, Saudara-saudara sekalian. Menang atau kalah ada di pikiran dan di hati kita. Menang atau kalah, kalau kita, kalau kita berpikir, “Oh, mungkin kalah. Oh, mungkin gagal.” Kita sesungguhnya sudah gagal. Tapi kalau kita yakin menang, yakin berhasil, yakin untuk rakyat, kita akan sampai ke situ, Saudara-saudara sekalian.

Saya kira sudah cukup, ya, saya sampaikan semua. Ini angka-angka. Tapi, ini angka-angka bagus. Kalau itu saya mau sampaikan angka-angka ini. Koperasi kita nanti, Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP), koperasi yang anggotanya seluruh, seluruh rakyat penduduk di desa itu. Seluruhnya. Dan, koperasi nanti tidak hanya untuk simpan pinjam. Tapi nanti akan ada gerai simpan pinjam kredit yang murah. Mikrokredit dan super mikrokredit. Super mikrokredit yang Mekaar itu, ya? Mekaar yang super mikrokredit, yang tadinya bunganya 22 persen ya, saya turunkan jadi delapan persen, Saudara-saudara sekalian. Saya maunya lima persen. Tapi, bankir-bankir Pak Rosan CS itu, “Jangan, Pak, terlalu, terlalu tipis kita punya ongkos.” Oke, delapan persen. Tapi dibandingkan dengan 22 persen, lumayan delapan persen. Betul tidak? Begitu, dong. Semangat.

Saudara-saudara,
KDKMP (Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih) nanti akan jadi pusat pelayanan ekonomi desa yang terintegrasi. Di dalam ada kantor koperasi, toko sembako, layanan simpan pinjam, apotik desa. Kita akan buka apotek di desa, obat-obatnya obat generik yang harganya jauh lebih murah dari apotek di kota. Akan ada logistik desa, akan ada gudang, akan ada cold storage (ruang pendingin), supaya hasil-hasil petani tidak akan rusak, dan berbagai layanan ekonomi lainnya.

Saudara-saudara,
Saya ambil keputusan, semua barang subsidi harus disalurkan kepada rakyat melalui Koperasi Desa Merah Putih. Harus. Saya katakan, ini harus. Barang subsidi rakyat tidak boleh diperdagangkan, supaya yang membutuhkan dialah yang terima.

Kita juga akan buka desa-desa dan koperasi-koperasi nelayan. Untuk pertama kali dalam sejarah Republik Indonesia, nelayan-nelayan kita akan kita urus. Mereka juga akan punya gudang pendingin supaya ikan mereka bertahan. Untuk pertama kali, mereka akan punya pabrik es supaya mereka melaut bawa es, dan kita akan bagi kapal-kapal besar untuk tiap desa nelayan yang akan dikerjakan, yang akan dimiliki dan dikerjakan oleh koperasi-koperasi nelayan itu sendiri, Saudara-saudara.

Dan, mereka bukan terima, mereka bukan terima hadiah, mereka cicil kembali dari hasil tangkapan ikan mereka. Mereka akan cicil semua uang yang kita. Jadi uang di desa nelayan, uang di desa-desa ini, koperasi adalah uang pinjaman yang akan dibayar kembali.

Saudara-saudara,
Kita proyeksikan uang KDKMP bisa meningkatkan kesejahteraan rakyat sebesar 223 triliun, tiap tahun akan beredar di desa-desa. Tidak keluar, akan beredar di desa-desa. Nanti akan ada pendapatan produsen yang juga meningkat sebesar 202 triliun di petani, peternak, dan nelayan. Saudara-saudara, semua ahli mengatakan logistik Indonesia paling tidak efisien dan paling mahal. Ini yang kita akan membersihkan, kita akan membuat lebih efisien.

Dengan demikian, Saudara-saudara, sekali lagi, Selamat Hari Koperasi. Sekali lagi, saya mengajak semua unsur untuk bersatu. Koperasi nanti ini akan berada di semua desa di semua daerah, tidak pandang apakah desa itu desa yang milih Gerindra atau tidak. Tidak peduli apakah di kabupaten itu Prabowo menang atau tidak. Tidak ada urusan itu. Siapapun tidak ada urusan. Saya sekarang, saya sekarang mengatakan saya bukan presidennya Gerindra. Saya bukan presidennya siapa-siapa. Saya presidennya rakyat Indonesia semuanya, Saudara-saudara.

Dirgahayu Koperasi Indonesia ke-79. Koperasi Berdaya, Indonesia Berjaya.

Oh, iya, ada tambahan. Minta izin saya minum dulu, saya minum kopi ini. Saya minta maaf. Sebetulnya, saya kemarin ini flu, rasa tenggorokan sakit, hampir saya enggak hadir. Tapi, saya pikir-pikir, bayangkan kalau saya enggak hadir. Koperasi Merah Putih, rakyat koperasi sudah kumpul. Tapi, yang saya paling takut nanti malam kalau saya enggak hadir, Pak Margono dan Pak Mitro turun, saya ditempeleng malam-malam. Akhirnya bangkit, minum kopi, semangat, hadir di sini.

Nah, ini yang paling terakhir. Ini kebetulan. Tanya Pak Ferry, ya. Ini dia yang rencanakan. Tanggalnya dia yang pilih, harinya dia pilih. Tapi saya lihat-lihat, ya, ini angka ini, menarik. Bukan saya atur, ya. Ini adalah Hari Koperasi ke-79, ya. Tujuh plus sembilan, 16, ya. 16, satu sama enam, tujuh. 2026 [dijumlah] 10, ya. Tujuh sama 10, 17. Satu sama tujuh, delapan. Jadi, memang ini hari baik. Saya enggak atur. Di mana saya muncul, kok, ada angka delapan. Saya enggak mengerti itu. Berarti ada tondo-tondo ini. Makanya, saya enggak berani enggak hadir.

Dirgahayu Gerakan Koperasi Indonesia!
Selamat berjuang!

Percaya kepada pemimpinmu, percaya kepada pemerintahmu. Bersatu semua unsur untuk rakyat, untuk bangsa. Jangan mau dihasut, jangan mau diatur oleh kelompok-kelompok ekstrem atau bangsa lain. Indonesia kuat, Indonesia hebat, Indonesia maju, Indonesia akan bangkit sebagai negara besar.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Salam sejahtera bagi kita sekalian,
Syalom,
Salve,
Om swastiastu,
Namo Buddhaya,
Salam kebajikan.

Merdeka! Merdeka! Merdeka!

Kalau saya teriak Koperasi Berdaya, kalian jawab, Indonesia Berjaya!
Koperasi Berdaya, Indonesia Berjaya!

Terima kasih.