Sambutan Presiden pada Puncak Peringatan Hari Pers Nasional Tahun 2022

 
bagikan berita ke :

Rabu, 09 Februari 2022
Di baca 2220 kali

Istana Kepresidenan Bogor, Provinsi Jawa Barat
 
 

Bismillahirrahmanirahim.

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Selamat pagi,
Salam sejahtera bagi kita semuanya,
Shalom,
Om Swastiastu,
Namo Buddhaya,

Salam kebajikan.

 

Yang saya hormati, para Ketua dan Pimpinan Lembaga Negara, Ketua MPR RI, Ketua DPR RI, Wakil Ketua DPD RI;
Yang saya hormati, Menteri Komunikasi dan Multimedia Malaysia, Datuk Seri Panglima Annuar Haji Musa;
Yang saya hormati, Yang Mulia para Duta Besar Negara-negara Sahabat;
Yang saya hormati, para Menteri Kabinet Indonesia Maju;
Yang saya hormati, Gubernur Sulawesi Tenggara beserta para Gubernur, para Bupati, dan Wali Kota yang hadir;
Yang saya hormati, Ketua Dewan Pers, Ketua PWI Pusat, Tokoh-tokoh Pers, dan Rekan-rekan Wartawan;
Hadirin dan Undangan yang berbahagia.

 

Pertama-tama, atas nama masyarakat, bangsa, dan negara, saya menyampaikan selamat Hari Pers kepada seluruh insan pers Indonesia di mana pun berada, sekaligus ucapan terima kasih. Meskipun berada dalam situasi pandemi, insan pers tetap bekerja, terus menyampaikan informasi, meningkatkan literasi, membangun optimisme, dan membangun harapan, sehingga masyarakat tetap tangguh menghadapi dampak pandemi Covid-19.

 

Tadi Pak Atal Depari menyampaikan mengenai urusan vaksin, yang saat itu dari PWI meminta untuk didahulukan. Dan saat itu, memang kami hanya bisa memberikan 5 ribu dosis vaksin saat itu. Saat ini, kalau PWI masih minta lagi, Pak Atal Depari, kami ada stok 143 juta. Jadi, Bapak mau minta berapa, akan saya beri sekarang, sekarang juga, karena stoknya banyak. Dan yang sudah kita suntikkan kepada masyarakat sampai saat ini, sampai hari ini sudah 325 juta dosis, baik itu dosis pertama, (dosis) kedua, maupun dosis penguat atau booster.

 

Bapak/Ibu sekalian yang saya hormati,


Saya tahu, dalam dua tahun terakhir industri pers nasional mengalami tekanan yang luar biasa beratnya, mengatasi tekanan akibat pandemi, mengatasi tekanan akibat disrupsi digital, dan juga mengatasi tekanan dari berbagai platform raksasa asing yang menggerus, menggerus potensi ekonomi, dan pengaruh media-media arus utama.

 

Perubahan drastis lanskap persaingan media melahirkan berbagai persoalan yang pelik, yang tadi juga sudah disampaikan oleh Bapak Ketua PWI. Munculnya sumber-sumber informasi alternatif, tumbuh suburnya tren informasi yang semata mengejar jumlah klik atau views, membanjirnya konten-konten yang hanya mengejar viral, masifnya informasi yang menyesatkan bahkan adu domba, sehingga menimbulkan kebingungan dan bahkan perpecahan.

 

Insan pers yang saya banggakan,


Dalam kondisi yang penuh tekanan ini, media-media mainstream, media-media arus utama harus secepatnya bertransformasi, harus semakin inovatif, meningkatkan teknologi untuk mengakselerasi pertumbuhan yang sehat, membanjiri kanal-kanal dan platform-platform dengan berita-berita baik (dan) mencerdaskan, dan mengisi (dengan) konten-konten yang berkualitas, dan menjadikan kepercayaan dan integritas sebagai modal untuk merebut peluang-peluang yang ada.

 

Pers Indonesia harus mampu memperbaiki kelemahan sambil melanjutkan agenda-agenda besar bangsa, menguatkan pijakan untuk melompat lebih tinggi, dan mampu berselancar di tengah-tengah perubahan, mempercepat transformasi digital untuk menghasilkan karya-karya jurnalistik berkualitas, lebih cepat, dan tetap akurat, dan tidak terjebak pada sikap pragmatis yang menggerus integritas kita.

 

Ekosistem industri pers harus terus ditata. Iklim kompetisi yang lebih seimbang harus terus diciptakan. Perusahaan platform asing harus ditata, harus diatur agar semakin baik tata kelolanya. Kita perkuat aturan bagi hasil yang adil dan seimbang antara platform global dan lokal.

 

Tadi yang disampaikan oleh Pak Ketua PWI maupun Prof. Nuh tadi, ada beberapa pilihan yang mungkin bisa segera kita putuskan. (Yang pertama,) apakah segera mendorong undang-undang baru. Atau yang kedua, merevisi undang-undang yang lama. Atau yang paling cepat adalah dengan peraturan pemerintah atau PP. Ini kami serahkan kepada PWI dan Dewan Pers, agar regulasi itu segera bisa kita selesaikan. Saya akan dorong terus setelah nanti pilihannya sudah ditentukan, apakah undang-undang baru, apakah revisi undang-undang lama, atau memakai PP, sehingga menjadikan industri pers semakin sehat dan kuat.

 

Kedaulatan informasi harus diwujudkan untuk kita bersama-sama. Kita harus perkuat ekosistem industri pers nasional yang sehat, membangun dan memperkuat platform nasional periklanan, menciptakan platform video nasional agar tidak sepenuhnya tergantung pada platform video-video asing. Kita juga tidak boleh hanya menjadi pasar bagi produk teknologi digital global, dan harus secepatnya dibangun, dikembangkan platform-platform teknologi inovatif yang membantu dan memudahkan masyarakat (untuk) mendapatkan informasi yang berkualitas, yang akurat, yang dapat dipertanggungjawabkan, memberikan reward yang sepadan kepada media-media arus utama yang konsisten mendedikasikan kemampuan dan sumber dayanya untuk menghasilkan karya-karya jurnalistik yang berkualitas dan mencerdaskan.

 

Hadirin yang saya hormati,


Pers Indonesia adalah lokomotif kemajuan bangsa, menjadi inspirasi lompatan-lompatan kemajuan, menjadi simpul perubahan di semua sektor kehidupan kita, serta menjadikan masyarakat, bangsa, dan negara percaya diri untuk mewujudkan Indonesia Maju. Pemerintah saat ini terus bekerja keras untuk mengawal beberapa transformasi besar. Kita sedang melakukan transformasi struktural agar Indonesia semakin kompetitif untuk menghadapi era hiperkompetisi. Transformasi besar itu dibutuhkan untuk menciptakan kesempatan kerja yang seluas-luasnya dan peningkatan nilai tambah. Ini sangat penting, sehingga memberikan dampak yang signifikan pada penurunan angka kemiskinan, ketimpangan, dan juga menyerap pengangguran yang ada.

 

Pemerintah melakukan investasi besar-besaran dalam pembangunan sumber daya manusia, mulai dari perbaikan layanan kesehatan, penurunan angka stunting, reformasi pendidikan yang tersambung dengan kebutuhan dunia industri, dan juga revitalisasi pelatihan vokasional yang memberikan up-skilling (dan) re-skilling tenaga kerja kita untuk lebih produktif dan kompetitif.

 

Dalam penciptaan nilai tambah, kita tidak main-main dengan hilirisasi, baik hilirisasi industri tambang sampai dengan hilirisasi di sektor pertanian. Kita tidak ingin menjadi negara pengekspor bahan mentah yang nilai tambahnya justru dinikmati negara lain. Pemerintah telah membuktikan bahwa, dengan hilirisasi, maka akan tercipta lapangan kerja baru yang makin banyak, dan nilai tambahnya akan berdampak pada industri-industri nasional kita.

 

Penguatan nilai tambah juga kita lakukan dalam transformasi ekonomi digital dan transformasi energi. Ekonomi digital memiliki potensi yang luar biasa untuk dikembangkan. (Sebanyak) 8,4 juta UMKM kita telah kita dorong naik kelas, masuk ke platform digital, dan jumlahnya akan terus bertambah.

 

Kita juga sedang bergerak untuk transformasi energi ke energi baru- terbarukan dengan memanfaatkan geotermal, angin, solar panel, biofuel, arus bawah laut, dan tenaga hidro. Ini juga sejalan dengan komitmen pemerintah untuk menggerakkan ekonomi hijau yang akan berkontribusi pada penyelesaian persoalan lingkungan di tingkat global. Komitmen untuk transisi energi dan transformasi digital ini akan kita angkat dalam Presidensi Indonesia di G20 di tahun 2022 ini.

 

Indonesia akan menjadi tuan rumah berbagai acara berskala internasional. Ini sebuah kehormatan dan kepercayaan yang sangat berharga, dan kesempatan yang sangat baik untuk menunjukkan kemajuan-kemajuan kita yang telah kita capai, sekaligus meningkatkan kontribusi pada upaya pemulihan ekonomi global.

 

Tahun 2022, saat mata dunia tertuju pada Indonesia, pers punya tugas besar untuk menyukseskan agenda-agenda penting tersebut, memanfaatkan sebaik-baiknya kesempatan berharga yang kita miliki dengan mengabarkan kabar baik dan kabar kebaikan, menunjukkan ketangguhan dan kekuatan kita, kekompakan, persatuan, gotong royong, solidaritas yang menjadi modal penting kita dalam menghadapi pandemi.

 

Hadirin yang saya hormati,


Pemerintah menyadari bahwa kerja besar transformasi bangsa ini masih banyak kekurangan dan keterbatasan. Karena itu, pemerintah selalu terbuka, menerima masukan-masukan dari insan pers agar langkah-langkah besar ini betul-betul bisa tereksekusi dan dijalankan di lapangan, sehingga membawa perubahan dan memberikan kontribusi besar bagi kemajuan Indonesia.

 

Sebagai salah satu negara demokrasi terbesar dunia, kebebasan pers adalah pilar penting kemajuan Indonesia. Kebebasan pers dan perlindungan terhadap profesi wartawan dijamin dalam undang-undang. Kritik, masukan, dan dukungan dari insan pers sangat-sangat penting, mengingatkan jika ada yang kurang, yang perlu diperbaiki, mendorong yang masih lamban, dan juga mengapresiasi yang sudah berjalan baik, agar seluruh jajaran pemerintah dari pusat sampai ke daerah dan desa bekerja dalam frekuensi yang sama, visi yang sama untuk negara kita, untuk Indonesia Maju.

 

Saya rasa itu yang bisa saya sampaikan pada kesempatan yang berbahagia ini. Sekali lagi, selamat Hari Pers Nasional.

Terima kasih.

Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.