Sambutan Presiden pada Peresmian Pembukaan Rapat Koordinasi Nasional Pemerintah Pusat dan Daerah Tahun 2026
Bismillahirrahmanirrahim.
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Selamat pagi,
Salam sejahtera bagi kita sekalian,
Syalom,
Salve,
Om swastiastu,
Namo Buddhaya,
Salam kebajikan.
Yang saya hormati Wakil Presiden Republik Indonesia, Saudara Gibran Rakabuming Raka;
Menteri Dalam Negeri, sebagai penyelenggara kegiatan, Jenderal Polisi (Purn.) Muhammad Tito Karnavian;
Para menteri koordinator, para menteri, kepala badan, Jaksa Agung, Kapolri, Panglima TNI, Kepala BIN [Badan Intelijen Negara], para penasihat khusus presiden, Ketua Dewan Ekonomi Nasional, Ketua KPK [Komisi Pemberantasan Korupsi], para wakil menteri, wakil kepala badan, dan seluruh anggota Kabinet Merah Putih yang hadir;
Yang saya hormati dan saya banggakan, seluruh kepala daerah setanah air yang hadir, para gubernur, para wakil gubernur, para bupati, para wakil bupati, para wali kota, para wakil wali kota, dari seluruh penjuru tanah air yang hadir pada siang hari ini;
Para pimpinan DPRD tingkat provinsi, pimpinan DPRD tingkat kabupaten dan kota, DPR Papua dan DPR Aceh yang saya hormati;
Para eselon I kementerian dan lembaga, para panglima kodam [komando daerah militer], komandan kodaeral [komando daerah angkatan laut], panglima kodau [komando operasi udara], para kapolda, kajati, dan kabinda dari seluruh tanah air yang hadir;
Para komandan korem [komando resor militer], komandan lanal (pangkalan TNI AL), komandan lanud (pangkalan TNI AU), komandan kodim [komando distrik militer], kapolres, dan kajari dari seluruh Indonesia yang saya hormati dan saya banggakan;
Para kepala Badan Pusat Statistik [BPS] tingkat provinsi dan kabupaten/kota yang saya hormati dan saya banggakan;
Yang saya hormati, seluruh pimpinan instansi tingkat provinsi dan kabupaten/kota;
Para hadirin, undangan, serta rekan-rekan pers, media yang hadir.
Pertama-tama, sebagai insan yang bertakwa, marilah kita tidak henti-hentinya memanjatkan puji syukur ke hadirat Tuhan Maha Besar, Mahakuasa, bagi umat Islam, Allah Swt. yang memiliki sekalian alam, hanya kepada-Nya lah kita berdoa dan hanya kepada-Nya lah kita memohon pertolongan. Kita bersyukur atas sekalian, atas segala karunia, atas kesehatan, kedamaian, yang masih diberikan kepada kita. Selagi kita terus berdoa, agar saudara-saudara kita yang terkena musibah di beberapa daerah seluruh Indonesia, diberi pertolongan, diberi kebaikan, secepat mungkin.
Adalah kehormatan dan kebanggaan bagi saya, untuk bisa hadir dalam acara istimewa ini, bertemu dengan Saudara-saudara semuanya, dari seluruh penjuru tanah air. Dalam kesempatan ini, saya menyampaikan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada Menteri Dalam Menteri yang menyelenggarakan acara yang tertib seperti ini. Hati saya bergetar melihat, mendengar, dan merasakan semangat Saudara-saudara sekalian. Kalau semangat Saudara sungguh-sungguh berasal dari kalbu Saudara-saudara sekalian yang paling dalam, masa depan bangsa kita, saya yakin aman dan saya yakin kita akan berhasil.
Saudara-saudara,
Banyak yang selalu menilai, banyak dari luar, luar bangsa kita yang mengatakan, bangsa Indonesia adalah bangsa yang tidak mungkin. “Indonesia is an impossible nation, an impossible nation. How can so many ethnic groups, so many races, religions, be united?” mereka tidak bisa membayangkan, bagaimana negara yang sekian banyak suku bangsa, kelompok etnis, sekian ras, sekian agama besar, ratusan bahasa, bisa berkumpul, bisa bersatu, bisa mengejar cita-cita dalam suatu kerangka negara kesatuan. Mereka tidak bisa bayangkan.
Dan, terus terang saja, kita sebagai pemerintahan, dari tingkatan pusat sampai tingkat paling dekat sama rakyat, kita harus paham benar peran kita, tugas kita, sebagai pemerintahan, sebagai pimpinan rakyat. Bangsa kita, rakyat kita, adalah rakyat yang baik, rakyat yang ingin hidup dalam ketenangan dan dalam keadaan harmonis. Mereka berharap, bahkan mereka mendambakan selalu pemimpin yang baik, pemimpin yang adil, pemimpin yang jujur, pemimpin yang bekerja untuk kepentingan rakyat semuanya, bukan segelintir orang. Bahkan, mereka tidak suka pemimpin yang hanya memajukan kepentingan pribadinya saja.
Ini, Saudara-saudara, adalah harapan semua rakyat kita, dan hari ini, bagi saya, adalah suatu kesempatan yang baik bahwa saya bisa bertatap muka dengan hampir, bisa dikatakan, 99 persen pemerintah Republik Indonesia dari tingkat pusat sampai tingkat daerah.
Saudara-saudara,
Saya katakan tadi, kita dianggap negara yang tidak mungkin, the impossible country, the impossible nation. Tapi kita juga harus jadi pemimpin yang tidak lugu, kita harus jadi pemimpin yang waspada, kita harus jadi pemimpin yang mengerti, yang tahu situasi. Kita harus jadi pemimpin yang mengerti sejarah kita, yang mengerti latar belakang bangsa kita, yang mengerti sejarah Nusantara, yang mengerti sejarah daerah-daerah, yang mengerti sejarah Nusantara dari Sabang sampai Merauke. Kita harus paham bahwa ratusan tahun, kita ini diintervensi, diganggu, bahkan dijajah, ini harus kita ngerti, kita harus paham. Mereka yang melupakan sejarah, akan dihukum oleh sejarah, mereka yang melupakan sejarah akan terbelit dalam kesalahan-kesalahan yang dilakukan di masa lalu.
Kenapa saya mengatakan itu, Saudara-saudara? Karena kita mendapat kesempatan hari ini, kita dapat kesempatan untuk melihat bagaimana dunia sebenarnya. Kita melihat sekarang, negara-negara besar yang mengajarkan kita untuk demokrasi, untuk hak asasi manusia, untuk the rule of law, untuk menjaga lingkungan hidup, merekalah yang melanggar apa yang mereka ajarkan. Puluhan ribu wanita, orang tua, anak-anak tidak berdosa dibantai dan banyak negara yang diam. Di mana hak asasi manusia? Di mana demokrasi yang mereka ajarkan? Karena itu, Saudara-saudara, kita sebagai pemimpin, kita harus waspada, kita harus mengerti.
Saudara-saudara sekalian,
Perjuangan bangsa yang puncaknya ada dalam proklamasi 17 Agustus 1945 dan dalam penyerahan kedaulatan kepada kita, yang kita rebut dengan darah, dengan keringat, dan dengan air mata, kita rebut melalui perjuangan ratusan tahun di semua daerah. Negara ini yang sekarang, Saudara-saudara, yang sekarang ada dalam kendali kita, dibangun atas pengorbanan rakyat yang sangat besar. Karena itulah, kita tidak boleh lupa bahwa adanya kita adalah untuk berbakti, mengabdi kepada rakyat kita. Ini hal yang selalu mudah kita ucapkan, tapi harus kita buktikan.
Saudara-saudara,
Karena itu, saya ingin dalam taklimat saya, menyampaikan beberapa hal. Yang pertama, Saudara-saudara, bahwa karena sejarah kita, ya, karena kita pernah dijajah, karena kita pernah mengalami pemerintahan penjajah yang imperialis dan rasialis, bahwa kita, rakyat kita, pribumi kita, pernah dianggap lebih rendah dari anjing, anak-anak muda sekarang tidak merasakan.
Saya masih melihat prasasti-prasasti, yang saya lihat satu prasasti, tahun ‘78, 28 tahun setelah kedaulatan kemerdekaan, masih ada prasasti di kolam renang Manggarai waktu itu, sayang mungkin dibongkar. Kadang-kadang kita tidak menghormati sejarah kita. Situs-situs bersejarah dibongkar, ini para kepala daerah harus memikirkan. Saya mau tanya, di mana stasiun RRI yang digunakan oleh Bung Tomo waktu pertempuran 10 November? Apakah masih ada? Di mana situs-situs [kerajaan] Majapahit? Saya dengar ada beberapa yang sudah jadi pabrik, Saudara-saudara.
Jadi, Saudara-saudara, dengan masalah itu saya ingin juga mengatakan bahwa kita sampai di sini, hari ini, melalui perjuangan yang lama dan melalui kepemimpinan presiden-presiden dan pemerintahan-pemerintahan yang terlebih dulu. Presiden dengan pemerintahan, dengan para gubernur, para bupati, yang terdahulu, terdahulu, terdahulu, semuanya telah menyumbang, semuanya telah berkontribusi terhadap kehadiran kita hari ini.
Ini saya tidak mengatakan ini sebagai suatu kata-kata indah, ini saya yakini. Karena itu, saya selalu mengajak, apapun perbedaan kita, karena kita berbeda, pasti, kita berbeda suku, kita berbeda ras, mungkin, kita berbeda agama, kita berbeda aliran pemikiran politik, tapi, kita adalah satu bagian, satu keluarga besar Indonesia. Dan, kita bersyukur, mulai dari presiden pertama dan selanjutnya, setiap presiden telah memberi sumbangan yang besar terhadap kelangsungan hidup bangsa Indonesia.
Kalau kita melihat kekurangan-kekurangan, kalau kita melihat kesalahan-kesalahan, ya, ada kesalahan, ada kekurangan, karena manusia itu ada kemampuan dan ada batas kemampuan. Tetapi kalau kita lihat sekali lagi, kalau kita belajar sejarah, kita lihat konteks, bagaimana Bung Karno, Bung Hatta, dan pemimpin-pemimpin kita begitu menerima kedaulatan pemerintahan, begitu dihantam oleh pemberontakan-pemberontakan, oleh kudeta macam-macam. Ada angkatan perang Ratu Adil dipimpin oleh [Kapten Raymond] Westerling, beberapa hari—dua minggu setelah penyerahan kedaulatan—terjadi usaha pembunuhan presiden, wakil presiden, perdana menteri kita, dan pimpinan-pimpinan kita. Dua minggu, dan seterusnya, muncul, muncul, muncul.
Jadi, Saudara-saudara, kita harus sadar konsep Indonesia ini tidak disukai oleh banyak kekuatan-kekuatan di dunia, dan, kita terbuka saja, mungkin beberapa kekuatan-kekuatan yang dekat sama kita. Karena itu, Saudara-saudara, bahwa dari mulai presiden pertama, kita Indonesia, tapi seluruh dunia, berada di tengah perang ideologi besar, perang ideologi besar di dunia, di mana dunia dipecah menjadi blok, ada blok komunis dan blok antikomunis, blok—bisa dikatakan—blok demokrasi atau blok kapitalis, ini kenyataan.
Jadi Indonesia, kita, harus sadar bahwa kita tidak hidup sendiri. Perang Ukraina akan berpengaruh kepada kita, peristiwa di Gaza, berpengaruh kepada kita, Saudara-saudara. Jadi, Saudara-saudara, ini yang saya ingin sampaikan ke seluruh barisan pemerintahan, marilah kita waspada, marilah kita mengerti tantangan-tantangan yang ada di dunia ini.
Saudara-saudara,
Saya baru pulang dari Eropa, saya ketemu tokoh-tokoh dunia, saya hadir di Davos, puluhan kepala negara hadir. Hampir semua, hampir semua, merisaukan pecahnya Perang Dunia III. Kita di sini, menghadapi tantangan, ya, perubahan iklim mengakibatkan kita menerima banyak bencana, dan sebagainya. Tapi sekarang, di tingkat dunia, mengkhawatirkan terjadinya, akan terjadinya Perang Dunia III.
Saudara-saudara,
Ada simulasi, kalau terjadi Perang Dunia III, nuklir, kita yang tidak terlibat saja pasti kena. Kita akan kena partikel-partikel radioaktif, mungkin ikan-ikan kita nanti akan terkontaminasi semua, akan terjadi nuclear winter, karena debunya akan menutup matahari, dan menutup mataharinya tidak satu tahun, tidak dua tahun, tidak tiga tahun. Para ahli mengatakan, bisa winter-nya itu puluhan tahun. Ini yang dibicarakan di dunia.
Karena itu, saya jalankan sebagai mandataris, meneruskan warisan pendiri-pendiri bangsa kita, saya menjalankan politik luar negeri, yang menganut tetap garis kita, bebas-aktif tapi non-aligned, nonblok, kita tidak akan ikut pakta militer mana pun. Saya katakan, filosofi luar negeri saya adalah, seribu kawan terlalu sedikit, satu lawan terlalu banyak. Apalagi, satu musuh. Itu garis kita.
Tapi kita mengerti semua, ya, kita mengerti semua. Kalau kita sungguh-sungguh mau nonblok, kalau kita sungguh-sungguh mau tidak terlibat dalam pakta, kalau kita sungguh-sungguh mau bersahabat sama semua, berarti kita sendiri. Kalau kita diancam, kalau kita diserang, tidak akan ada yang bantu kita, Saudara-saudara. Percaya sama saya, nobody is going to help us. Karena itu dari awal, Bung Karno mengatakan, kita harus berdiri di atas kaki kita sendiri. Dan, panglima besar kita yang pertama, Panglima Besar Soedirman mengajarkan kepada kita, kita harus percaya kepada kekuatan kita sendiri.
Saudara-saudara,
Dengan segala hormat kepada para pakar yang pandai dan pintar, yang punya banyak gelar, saya hormati mereka. Tapi, dunia ini adalah keadaan nyata, bukan keadaan ideal. Saya selalu mengingatkan, mengajarkan, yang berlaku di dunia ini sekarang adalah, yang kuat akan berbuat apa yang mereka kehendaki, yang lemah akan menderita, itu yang kita lihat hari ini, kita lihat di mana-mana.
Jadi, Saudara-saudara, tugas saya, sebagai presiden, sebagai pemegang kepercayaan rakyat yang disumpah, saya harus menjaga bangsa ini, saya harus menjaga rakyat ini. Kadang-kadang, gampang untuk kita bilang, gampang kita ngomong, tapi kadang-kadang tidak gampang untuk dilaksanakan. Kadang-kadang hati kita bergejolak, tapi kita harus senyum, karena kita sudah memilih akan baik sama semua, untuk melindungi rakyat kita.
Kita tidak bisa emosional, kita tidak bisa terlalu idealis, karena yang berlaku adalah dunia nyata, Saudara-saudara. Karena kita tidak mau perang, kita harus siap untuk perang. Kita tidak niat mengancam siapa-siapa, tapi selalu mereka ganggu kita. Kenapa, Saudara-saudara? Karena Indonesia, Nusantara kita, semua pulau-pulau kita adalah kaya dengan sumber daya alam yang luar biasa. Inilah, karena inilah negara-negara Eropa ratusan tahun ke kita, negara-negara di utara ke kita. Mereka ke kita ratusan tahun, Belanda, Portugis, Spanyol, Perancis, Inggris, Jepang, Mongol, mereka ke sini bukan untuk wisata. Mereka pertama datang, mau dagang. Karena bangsa kita baik, kita ini, genetika kita ini, baik, ya, kan? Kita suka dengan tamu, benar? Suka dengan tamu, semua suku, kalau kedatangan tamu, diterima dengan baik. Walaupun rakyat kita miskin, tamu datang, diterima dengan baik. Kalau hanya bisa kasih nasi pakai garam, itu dikasih.
Presiden Singapura yang sekarang pernah cerita sama saya, waktu dia masa muda dia sama istrinya keliling di Sulawesi Selatan, karena waktu masih muda mereka, apa itu, backpacker ya. Backpacking, jadi naik bus menumpang. Suatu saat di tengah sawah hujan badai mereka kesasar, tahu-tahu ketemu anak kecil. Anak kecil membawa mereka ke rumah orang tuanya, mungkin di Sulawesi Selatan, saya tidak tahu namanya apa, dukuh ya hanya kelompok empat-lima rumah, diajak ke dalam ketemu orang tuanya.
Ini Presiden Singapura cerita sama saya, “saya tidak bisa lupa rakyatmu. Kami diajak duduk, mereka sangat sangat miskin. Kami lihat mereka hanya makan nasi sama lauknya pisang.” Bapak, ibu, dua anak, dua tamu, satu, apa itu, satu tampang beras, nasi dengan pisang, itu dibagi ke tamu dulu. Ini sifat bangsa kita.
Saya mengalami sebagai perwira muda, prajurit muda, rakyat kita di mana-mana masih kurang, memberi sesuatu yang bagi mereka sangat sangat susah. Ini cerita Presiden Singapura 30 tahun lalu. Sekarang, rakyat kita masih banyak yang hanya makan nasi mungkin dengan daun singkong, mungkin hanya dengan garam.
Saudara-saudara sekalian,
Karena itu, kita harus hormati semua pendahulu, tapi kita harus paham bahwa kita masih menghadapi kesulitan. Kita masih menghadapi tantangan, kita masih menghadapi kekurangan. Kita tahu bahwa rakyat kita masih banyak yang mengalami kesulitan hidup.
Sekarang, para ahli ekonomi ada istilah desil 1, desil 2, desil 3, desil 4 dan sebagainya. Dan, kita ini kadang-kadang takut bicara apa adanya. Enggak mau kita mengakui, kita enggak mau bilang miskin. Enggak enak. Prasejahtera. Miskin, miskin kasihan kita, tapi enggak enak kita, ya kan. Prasejahtera. Habis itu ada istilah lagi, apa itu bahasa Inggris-nya, the aspiring middle class. Jadi, orang yang berusaha naik ke middle class. Dia berusaha naik, berarti dia belum sampai kan? Berarti dia enggak, dia bukan kelas menengah. Kalau dia enggak kelas menengah, dia kelas apa? Tapi, dia aspiring middle class. Ini BPS, pintar juga kalian cari istilah-istilah ini. Tapi, saya mengerti Saudara yang tidak mau turunkan moril bangsa Indonesia. Habis itu, the aspiring middle class. Habis itu, ada yang rentan miskin. Gimana rentan miskin, gimana? Rentan miskin, habis itu miskin, baru sangat miskin.
Saudara-saudara,
Kita harus berjuang bersama-sama, semua unsur, semua tingkatan, semua latar belakang, semua partai mana pun, kita harus bersatu, kita harus berjuang menghilangkan kemiskinan dari bumi Indonesia. Kita tidak boleh menyerah. Kita tidak boleh takut dengan kesulitan. Kita tidak boleh mengatakan, “aduh, apa bisa? Apa mampu?" Karena di sini banyak kelompok. Ada kelompok-kelompok [mengatakan] apa bisa? Apa mampu? Selalu menimbulkan keraguan-keraguan. Ini orang Indonesia atau orang apa? Saya bingung. Wartawan masih ada ya? Enggak, ini baru pembukaan. Saya belum sampai halaman pertama belum selesai.
Jadi, Saudara-saudara, kita tidak boleh menyerah sebelum bertanding. Oh, kemiskinan terlalu banyak. Saudara-saudara, iya kemiskinan terlalu banyak, tapi ini tidak bisa kita terima karena kekayaan kita sangat sangat banyak. Sangat sangat banyak. Tapi, terus terang saja, kita harus berani mengakui bahwa unsur pimpinan, unsur pimpinan di semua tingkat, unsur elite. Apa arti elite? Elite itu ya pemimpin, elite ya di atas. Ada elite akademis, para profesor. Elite politik, para pemimpin politik. Elite tentara/polisi, para pimpinan tentara/polisi. Elite yudikatif, elite ya pemimpin. Kita harus akui bahwa elite Indonesia masih kurang dalam tugasnya menjaga dan mengelola kekayaan bangsa Indonesia.
Dan, ini sekarang saya gugah kita semua. Saya gugah, mari kita semua sebagai pemimpin, mari kita sekarang membulatkan tekad kita, membenahi diri kita dan unsur kita, dan lingkungan kita, dan lingkaran kita. Mari kita bertekad untuk menyelamatkan, menjaga dan mengelola kekayaan alam kita untuk sebesar-besarnya kepentingan rakyat kita.
Saya menggugah, saya mengajak, saya mengajak. Mari, Saudara-saudara, kita bersatu. Tidak ada urusan Saudara berasal dari partai mana. Jangan kita terlibat dalam sekat-sekat yang timbul karena sejarah. Kita belajar dari sejarah. Segala pertikaian, segala permusuhan, segala kesalahan, mari kita tanam dalam-dalam. Kita bisa bicara, kita bisa ribut terus. Kita bisa ribut terus, 200 tahun yang lalu, kakek dari kakekmu atau, apa itu, buyut dari buyutmu waktu itu mencuri sapi saya, sapi buyut saya. Mau diteruskan permusuhan itu? Perang 200-300 tahun mau kita teruskan, Saudara-saudara? Tidak ada gunanya, tidak ada gunanya, karena dunia ini berkembang sangat cepat. Dunia ini berkembang sangat sangat cepat.
Saudara-saudara,
Nanti tahap kedua dari taklimat saya, yang khusus intern, Teman-teman Wartawan kita persilakan makan siang di luar. Saya akan jelaskan cerita-cerita menarik. Intinya, Saudara-saudara, sekarang intinya saya dipilih, sekarang saya akan bekerja untuk seluruh rakyat Indonesia. Saya tidak akan tanya, “ini gubernurnya partai mana, ya? Dulu memilih calon nomor 1, nomor 2 atau nomor 3?” Saya tidak akan tanya. Buktinya saya kalah di Sumatera Barat, benar? Tapi tetap MBG sampai ke Sumatera Barat. Tetap kita bangun, kita rehabilitasi Sumatera Barat. Saya juga kalah di Aceh, kan? Tapi, tetap kita bangun Aceh habis-habisan. Enggak ada, tidak boleh ada permusuhan. Tidak boleh ada sakit hati. Kalah [atau] menang biasa, karena kita mengabdi untuk bangsa dan rakyat Indonesia.
Saya enggak tanya, “Pak Bursah, kau partai mana?” Kan enggak saya tanya, enggak saya tanya, kan? Tetap saya dukung beliau, benar? Karena istrimu kan Gerindra, ya. Tapi, saya enggak tanya dia. Saya enggak tanya dia. Kebetulan Istrinya Gerindra. Enggak ada urusan saya. Eh, kalau Gerindra brengsek, Gerindra pun saya tangkap, Saudara-saudara. Jangan macam-macam, enggak ada itu. Kita semua bergerak, kita semua. Jadi, persaingan, pertandingan ya pertandingan. Kalau ada pemilihan, harus ada pemilihan. Dua calon, tiga calon, lima calon, enggak apa-apa, bagus. Tapi, begitu selesai, sudahlah, kerja. Nah, ini yang saya, ini yang saya tawarkan. Ayo, bekerja untuk rakyat. Pak Pram dari PDIP, tapi saya tetap saya akan dukung sebagai Gubernur DKI. Karena tugas saya, kewajiban saya adalah seluruh rakyat Indonesia, termasuk rakyat DKI. Walaupun gubernurnya partai lain, saya akan mendukung beliau supaya DKI aman dan selamat, kan begitu. Nanti 2029, ya terserah, ya kan enggak apa-apa. Enggak apa-apa, benar.
Jadi, Saudara-saudara, saya sedikit jelaskan, ya. Yang saya lakukan sekarang, yang saya tawarkan kemarin waktu saya dipilih sebelumnya adalah saya ingin dan saya punya, dan saya menyebarluaskan sesuatu yang saya pelajari sekian puluh tahun, sehingga saya membuat dan saya pelajari dalam negeri dan luar negeri. Saya keliling, saya, kawan-kawan saya banyak. Saya keliling, tiap kali saya ke satu negara walaupun saya tidak berkuasa dulu. Saya datang ke Pak Mahathir, waktu dia lagi kuat-kuatnya, “Pak Mahathir, bagaimana Bapak menghadapi korupsi.” Saya tanya, “Pak, yang mengganjal saya sebagai patriot Indonesia adalah korupsi yang terlalu banyak di Indonesia. Bagaimana Bapak meng-handle?” Dia kasih pelajaran, dia kasih tipsnya. Dia bilang, “You bisa atasi korupsi, hanya melalui pendidikan. Pendidikan begitu vital.” Habis itu, saya ketemu pemimpin di Tailan, saya tanya. Saya ketemu pemimpin di mana-mana.
Sehingga, saya membuat suatu strategi yang sudah ada di buku, yaitu saya beri nama Strategi Transformasi Bangsa. Jadi, kita mau menjadi negara maju, modern. Kriteria kita adalah maju modern, di mana seluruh rakyat kita mengalami kualitas hidup yang baik. Kita tidak bermimpi untuk menjadi high-income country, kita tidak bermimpi kita mau hidup seperti Norwegia atau Kanada. Kita hanya mau supaya semua rakyat kita hidup, kualitas hidupnya baik, artinya makan harus cukup sehat. Kesehatannya harus dijamin, anak-anaknya harus sekolah dengan baik. Dia punya penghasilan yang cukup. Dan, inilah strategi yang kita buat, ya, yang saya sebut 8 Misi dari Asta Cita, 17 Program Prioritas, dan Program Hasil Terbaik Cepat.
Saudara-saudara,
Dari itu kalau bisa saya ringkas lebih sederhana, yaitu fondasi pertama kita, mau tidak mau, suka tidak suka, kita harus swasembada pangan, swasembada pangan. Tidak ada alternatif. Kalau kita mau merdeka, kalau kita mau sejahtera, kita harus jamin produksi pangan, sehingga pangan bisa dinikmati oleh seluruh rakyat kita. Swasembada pangan adalah syarat, itu adalah pilar yang utama dari strategi, dari strategi yang saya tawarkan dan saya jalankan sekarang. Saya ajak Saudara, ayo sama-sama sebagai patriot bangsa. Tapi, kalau kau tidak mau ikut saya, saya tetap jalan terus, karena saya bertekad Indonesia harus mampu mencapai kemerdekaan yang sejati.
Kemudian, swasembada energi, harus. Nanti ada kelompok [bertanya], “apa bisa?” Bisa, kita sudah hitung. Kita punya kelebihan-kelebihan luar biasa. Kenapa kelapa sawit bagi saya, saya katakan itu miracle crop. It is a miracle crop. Ada kelompok nyinyir, “kenapa kelapa sawit? Lo Prabowo mau bikin kelapa sawit?” Ya, untuk rakyat Indonesia. Karena, kelapa sawit itu tidak hanya untuk minyak goreng.
Saya ke dunia, keliling-keliling, hampir semua pemimpin negara minta ke saya, “Kami mohon Indonesia tolong suplai kelapa sawit, CPO.” Saya ke Mesir, saya ke Pakistan, saya ke Rusia, saya ke Belarus, di mana-mana, tolong kelapa sawit, tolong. Artinya, it’s a very strategic commodity. Karena dari kelapa sawit, kita bisa punya puluhan derivatif. Cat dinding butuh kelapa sawit, makanan roti harus pakai minyak kelapa sawit dan nanti minyak kelapa, dan sebagainya, dan sebagainya, dan sebagainya. Sabun, berapa miliar rakyat dunia harus mandi tiap hari? Kecuali yang malas mandi. Kadang-kadang pasukan komando mandinya sekali dua minggu gitu, kalau di hutan enggak boleh mandi.
Saudara-saudara,
Tapi yang lebih utama dari kelapa sawit, kita bisa bikin solar. Jadi, kita nanti biodiesel, biosolar itu nanti akan membuat kita membuat bebas dari ketergantungan luar. Yang mau pakai bensin terus, silakan. Ya orang kaya bayar saja harga dunia, tapi rakyat kita bisa hidup dengan solar. Pesawat terbang, avtur. Kita nanti produsen avtur bisa yang terbesar di dunia, avtur. Bahkan, Saudara-saudara, limbahnya kelapa sawit, jelantah itu bisa untuk avtur. Sehingga, maaf, bangsa-bangsa lain saya tutup. Saya larang ekspor limbah kelapa sawit, ekspor jelantah, harus untuk kepentingan rakyat Indonesia dulu, baru.
Saudara-saudara,
Swasembada energi, swasembada pangan, baru kita harus mengubah aliran uang yang dari desa ke kota, ke ibu kota dan ke luar negeri, kita harus hentikan, membalikkan, antara lain dengan Makan Bergizi Gratis. Anak-anak kita harus makan cukup. Dan, alhamdulillah hari ini, tadi malam saya cek Kepala BGN, kita sudah mencapai 60 juta penerima manfaat, 60 juta dalam satu tahun, satu tahun empat-lima bulan, 60 juta.
Tidak ada yang menduga kita mampu, tidak ada yang menduga. Banyak bahkan orang-orang meramalkan pasti gagal. Sekian ribu keracunan. Kita makan di restoran paling mahal saja di Jakarta ada yang keracunan. Kalau kita jumlahkan, berapa ribu yang keracunan dibandingkan berapa miliar makanan yang sudah kita bagi, statistiknya adalah 0,008 atau [0,007]. Artinya apa? Artinya 99,99 usaha MBG harus dinyatakan berhasil. Saya tidak mengerti, mungkin dasarnya adalah menganggap lawan politik, apa saja dibuat harus diserang, harus dijelek-jelekkan. Ya, inilah usaha kita untuk menjelaskan.
Tetapi, saya ingin beri tahu, Saudara-saudara, saya baru satu hari yang lalu, para ahli pakar dari White House sedang mempelajari MBG kita ini, sedang mempelajari MBG kita sendiri. Tiga bulan, empat bulan lalu, saya terima rombongan dari Rockefeller Institute datang ke saya dan dia mengatakan Makan Bergizi Gratis itu adalah investasi yang terbaik, yang bisa dilakukan oleh suatu negara. Satu, satu dolar atau satu rupiah yang kita keluarkan untuk Makan Bergizi akan menimbulkan lipat ganda minimal lima kali, dan dalam jangka panjang akan menjadi 35 kali investasinya itu. Saudara-saudara, ada kecenderungan para orang pintar kita lebih percaya orang asing daripada bangsanya sendiri. Jadi, ya cek saja ke Rockefeller Institute, karena mereka enggak akan percaya. Orang-orang ini saya enggak ngerti, saya enggak ngerti mereka itu pemikirannya kayak apa, tapi tetap harus kita ajak bicara.
Saudara-saudara,
Saya nanti, Saudara, mungkin dua-tiga minggu lagi, kalau saya bicara di sini saya harus bertanggung jawab, ini media ini cover saya, banyak lagi nunggu. Wah, ini blunder apa lagi Prabowo akan bicara, ya kan. Sorry, ye. Saya kaget sendiri, Menteri Kesehatan you boleh cek, kan ini direkam, Secretary of Health dari Amerika Serikat, saya dapat berita ingin jumpa dengan saya, ingin bertanya tentang MBG.
Dan, MBG kita ini sudah sampai 60 juta hari ini. Kita akan mencapai 82 juta paling lambat Desember 2026, paling lambat. Dengan kondisi sekarang saja, hari ini MBG telah ada dapur SPPG yang sudah operasional 22.275 dapur operasional, dalam proses penilaian dan pengajuan 13.829. Dengan 22.000 saja, sekarang kita sudah menciptakan lapangan kerja 1 juta, 22.000×50 orang yang digaji tiap hari, sudah kita ciptakan lapangan kerja 1 juta. Dan, 22.000 dapur itu membutuhkan pemasok: pemasok tomat, wortel, sayur, telur, ikan, ayam, daging dan sebagainya, di tiap desa. Tiap dapur menimbulkan pemasok bisa sampai 10, bisa sampai 20 orang. Itu nanti di ujungnya kalau kita sampai 82 juta, kita akan menciptakan tiga sampai lima juta lapangan kerja, Saudara-saudara. Kita semua paham rakyat kita butuh pekerjaan, tapi kalau kita teriak, teriak, teriak, kita mencela-mencela, kita menghardik-menghardik, enggak akan tercipta. Saya buktikan kepada Saudara-saudara, Prabowo Subianto sebagai Presiden Indonesia, saya telah menghasilkan sekarang 1 juta orang lapangan kerja, hanya dari MBG.
Dan, ada tuduhan untuk menjelekkan kita sebagai bangsa. Jadi begini ya, kalau Saudara tidak suka dengan dua-tiga orang, jangan merusak seluruh bangsa. Kalau tidak suka sama Prabowo, silakan 2029 bertarung, ya kan. Sedikit-sedikit mau demo, demo boleh, tapi dia tidak berharap demo, dia berharap kerusuhan, dan kerusuhan itu mencelakakan bangsa dan negara, Saudara-saudara. Kerusuhan mencelakakan bangsa dan negara. Bakar-bakar, bom molotov, saya katakan itu membahayakan, itu pidana. Saya tidak ragu-ragu. Kalau demo silakan, tapi bagaimana mau demo. Kalau 5.000 kali demo, tidak akan ada satu pabrik dibuka. Jadi, kelompok-kelompok ini sadar atau tidak sadar, saya yakin mereka dikendalikan oleh kekuatan asing, yakin saya. Yakin saya dan saya punya bukti. Dan, saya mengimbau mereka, “hai! Hai, warga negara Indonesia! Apakah kau tidak kasihan sama rakyatmu?”
Saudara-saudara,
Saya tadi sudah tayangkan capaian-capaian kita dan capaian-capaian ini real, bukan omon-omon. Kita telah bentuk dana, sovereign wealth fund. Saya telah menghimpun semua kekuatan milik negara dalam satu manajemen, satu pengelolaan yang nilainya adalah satu triliun US Dollar, terus lengkapnya adalah 1.040 miliar dolar aset under management. Saudara-saudara, tadinya terpecah-pecah dalam seribu, 1.040 perusahaan. Bayangkan, enggak? Siapa yang bisa manage seribu perusahaan? Ini akal-akalan.
Saya katakan, pimpinan-pimpinan BUMN yang dulu harus bertanggung jawab. Jangan enak-enak kau, siap-siap kau dipanggil Kejaksaan. Kan mereka mengejek, Prabowo hanya bisa ngomong di podium saja. Oh iya? Tunggu saja panggilan, lu jangan menantang gue lo. Saya hanya takut sama rakyat Indonesia dan Tuhan Mahabesar. Saya hanya takut itu dan kita semuanya harusnya itu. Saudara-saudara, sudahlah, kita ini semuanya sebentar lagi dipanggil. Benar. Dan, kalau dipanggil, tidak sesuai nomor urut, tidak sesuai senioritas. Sorry, ye. Belum tentu aku duluan dipanggil, bisa yang muda-muda di sana itu, nah. Iya, kan?
Jadi, lebih baik berbuat kebaikan, lebih baik membela rakyat, lebih mulia, Saudara-saudara, pasti enggak benar. Saudara-saudara, saya paling kasihan kalau saya lihat ada tokoh atau kawan atau siapa yang diborgol pakai baju oranye ya. Oranye, kan? Pakai baju oranye ya kan, kasihan anak istrinya. Sekarang ini, sudahlah, Saudara-saudara, macam-macam ada digital, ada apa, susah sudah.
Saudara-saudara,
Kita tadi, saya sudah katakan kita sudah mencapai 60 juta penerima manfaat tiap hari. Ibu hamil kita antar makanan. Coba tanya di dunia ini. Saudara-saudara, kita nih sekarang jadi role model, kita mau dipelajari. Ibu hamil diantar makanan, orang lansia, orang tua yang hidup sendiri diantar makanan. Kasih lihat, kasih tahu saya negara mana. Dan, Saudara mungkin ada yang percaya enggak, tapi nanti, saya juga kaget lo kok White House mempelajari Makanan Bergizi kita ini.
Saudara-saudara,
Kita sudah mencapai total makan yang kita produksi 3 miliar ya, [diulang] 3,7 miliar. Kalau nanti 82 juta penerima manfaat, kita akan mencapai secara matematik minimal 17 miliar makanan yang kita produksi.
Saudara-saudara,
Tujuh puluh juta rakyat kita sudah dicek kesehatan gratis, pertama kali dalam sejarah, dan yang kita ketemukan hasilnya ya lumayan menantang.
Nanti beberapa bulan lagi akan kita wujudkan minimal 28 ribu koperasi di tiap desa, dan koperasi itu koperasi yang operasional punya gudang, punya cold storage dan akan punya dua truk masing-masing koperasi. Tidak akan ada panen yang tidak terjual. Dulu menunggu siapa yang mau ambil, tengkulaklah, perantaralah, sekarang tidak, koperasi bisa ngirim sendiri hasil panennya. Kalau belum bisa dijual, dia simpan dalam gudang, dia punya gudang sendiri.
Dan, kita akan bikin desa-desa nelayan dan proyek-proyek perikanan sehingga rakyat kita akan dapat ikan segar, protein yang harganya mungkin setengah dari daging. Tiap keluarga Indonesia harus makan lauk protein tiap hari, itu cita-cita pemerintah Republik Indonesia, itu cita-cita saya.
Dan, Saudara bisa lihat hasil-hasil kita yang lain, 282.180 sekolah telah menerima Interactive Flat Panel (IFP). Tahun ini sudah selesai hampir semua sekolah, termasuk yang terluar dan yang terpencil, yang tertinggal, sudah menerima. Di pulau-pulau terpencil, di gunung-gunung tertinggi, mereka sudah punya panel interaktif.
Kemarin di Aceh dan di beberapa bagian ada yang rusak karena banjir, kita akan ganti segera. Tahun ini kita akan lengkapi, kita harap ini cukup untuk satu kelas tiap sekolah. Tahun ini, saya tujuannya adalah tiap sekolah minimal dapat dua lagi, minimal, sehingga nanti dapat tiga kelas, tiga ruang kelas, mudah-mudahan empat ruang kelas. Akhir [2028-2029] setiap ruang kelas di seluruh Indonesia akan punya Interactive Digital Panel.
Artinya apa? Kita bisa mengajar dari Jakarta, sekolah-sekolah yang gurunya kurang, yang guru matematikanya kurang, guru bahasa Inggris kurang, guru fisika, guru biologi, kita bisa menerima pengajaran dari pusat interaktif. Saya sebetulnya nanti ujungnya saya bisa lihat ruang kelas, gurunya ada atau tidak.
Saudara-saudara,
Kita tadi, hasil produksi kita tertinggi dalam sejarah, cadangan beras kita di Bulog tertinggi dalam sejarah. Hasil investasi kita, lapangan kerja baru sudah terbentuk 2,7 juta.
Kita juga sekarang buat inovasi yang jarang dilakukan di dunia. Anak-anak dari kelompok yang paling tidak mampu, kita sekolahkan dalam sekolah berasrama. Kita keluarkan dari kemiskinan, kita beri pendidikan yang terbaik. Anak-anak yang tidak mungkin sekolah, kita sekolah dan kita akan terus, tidak boleh ada anak di jalanan yang tidak sekolah, kita akan ambil semua.
Saudara-saudara sekalian,
Saya kira sudah. Nanti yang salah satu program kita yang sangat strategis adalah Kampung Nelayan, ada 12 juta kampung nelayan kita akan modernisasi. Setiap kampung nelayan akan kita bikin jetty, dermaga kecil. Kita juga beri pabrik es, kita juga beri cold storage, dan kita bantu kapal-kapal ikannya. Kapal ikan yang 5 GT beberapa, nanti kapal ikan yang lebih besar 30 GT kita harap tiap desa akan dapat satu. Artinya apa? Nelayan-nelayan kita bisa melaut lebih lama, penghasilan mereka naik dan kita sudah punya pilot project di Biak yang telah terbukti meningkatkan hasil petani hampir 60 persen peningkatannya.
Saudara-saudara,
Demikian adalah hasil-hasil kita, baru sekelumit, masih banyak lagi hasil kita, tetapi itu highlight. Kita telah berbuat banyak, yang paling strategis nanti saya kira adalah Danantara. Sekarang, kita tidak keluar negeri minta-minta investasi. Kita mengajak, kita mengajak dan kita punya kemampuan sekarang.
Jadi, tadi saya sampaikan pokok-pokok. Yang harus kita mulai, kita laksanakan adalah hilirisasi. Hilirisasi tahun ini ada 18 proyek hilirisasi prioritas 2026: Industri smelter aluminium, industri stainless steel slab, industri oleoresin, industri ikan fillet tilapia, modul surya terintegrasi, industri gasifikasi batu bara, industri copper rod, wire and tube, industri oleofood (kelapa sawit), industri carrageenan (rumput laut), industri bioavtur (dari jelantah), industri aspal, industri besi baja, industri nata de coco, MCT dan tepung kelapa (dari kelapa), kita akan bangun kilang minyak, —masa minyak kita kirim keluar ke kilang minyak, habis itu kita impor lagi, ya kan?— industri mangan sulfat, industri chemical grade, industri clor alkali plant, oil storage tanks. Delapan belas proyek ini akan ciptakan 276.000 lapangan kerja berkualitas dengan investasi Rp618 triliun. Ini, tahun ini akan kita mulai.
Tetapi, sebelum itu saya ingin sampaikan kepada para kepala daerah bahwa masalah bangsa ini sekarang adalah juga yang sangat krusial adalah masalah sampah. Sampah ini menjadi masalah, diproyeksi hampir semua TPA sampah akan mengalami over capacity pada tahun 2028, bahkan lebih cepat.
Untuk itu, tahun ini kita akan buka 34 proyek pembangunan waste to energy di 34 kota. Ini saya minta groundbreaking beberapa bulan ini dilaksanakan, ini kita perkirakan dua tahun lagi sudah berfungsi. Ini investasi cukup besar, totalnya itu hampir 3,5 miliar dolar untuk 34 titik itu. Tetapi, setelah saya lihat di beberapa kabupaten, saya yakin bahwa kota-kota/kabupaten sudah juga mulai harus ada. Dan, ini sudah ada inisiatif beberapa bupati, improvisasi ini sedang kita pelajari, mungkin bisa saling menukar pengalaman.
Penyelesaian masalah sampah kita perlu kerja sama antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah, tapi kita tidak boleh menunggu. Karena itu, bila perlu demi kepentingan rakyat, pemerintah pusat yang akan memimpin, Saudara-saudara sekalian.
Saudara-saudara sekalian,
Saya ingin sekarang membahas masalah juga yang penting. Salah satu masalah tadi kita lihat sampah dimana-mana, ya, ini harus kita selesaikan. Ini tidak bisa dengan caci maki, teriak-teriak, mengejek, iya kan? Tidak bisa, ini harus kerja benar. Realita, ini realita.
Saudara-saudara,
Salah satu yang kita mengerti, yang selalu kelompok-kelompok itu [katakan], “kita butuh lapangan kerja, kita butuh lapangan kerja, ada gap antara yang kaya dan yang miskin.” Mengerti kita, kita sudah mengerti masalah ini, kita sedang atasi.
Saudara-saudara,
Salah satu adalah pariwisata. Pariwisata menyerap lapangan kerja paling banyak, menyiapkannya juga paling cepat dan lebih murah dari yang lain-lain. Tapi, saya menggugah Saudara-saudara sekalian. Pariwisata, apakah turis mau datang melihat sampah? Indonesia indah, dia mau datang lihat kumuh?
Dia mau ke Bali, pantai Bali kotor. Saya di Korea ketemu tokoh-tokoh di Korea, menteri-menteri, jenderal-jenderal kadang-kadang ya tentara dimanapun dia enggak pakai basa-basi bicaranya apa adanya, dia ngomong ke saya. Dia bilang, “Your excellency, I just camefrom Bali. Oh, Bali so dirty now, Bali not nice.” Wah, tapi saya terima itu sebagai koreksi, ya.
Ini kita harus atasi bersama. Ini kalau enggak salah… Sebetulnya saya sudah memenuhi syarat sebagai lansia, jadi pakai kaca mata enggak apa-apa ya.
Nah, ini maaf ya, Gubernur, bupati-bupati dari Bali ini real lo. Bali bulan Desember 2025, ini pantai Bali, bagaimana turis mau datang ke situ lihat sampah?
Gubernur [dan] Bupati, SMA, SMP, SD di bawah kendali Saudara. Apa susahnya sih entah hari Sabtu, hari Jumat, semua sekolah kumpul di pantai ini. Ini pantai kita, ini halaman kita ayo kita bersihkan ramai-ramai, korve. Apa salahnya?
Kalau bupati dan gubernur tidak bisa saya perintah, [maka] Dandim, Danrem, saya perintahkan kau, gerakkan anak buahmu, korve tiap hari atau tiap berapa hari, korve, korve, korve. Kepolisian, kerahkan korve, korve, korve. Danantara, semua BUMN ribuan anak buahnya, korve.
Saya tidak mau lihat plastik atau sampah di sekitar kantor-kantor BUMN. Semua Menteri, K/L, sebelum masuk kantor minimal setengah jam bersihkan lingkunganmu, benar ya? Jangan siap, siap, siap. Minimal setengah jam pagi-pagi sebelum masuk kantor. Kalau perlu menterinya yang pimpin. K/L-K/L semua itu, semua kantor ya.
Kita ini sekarang harus menyatakan perang terhadap sampah. Bagaimana, Bupati, Wali Kota? Ini untuk rakyat kita. Sampah itu bencana, sampah itu penyakit. Kita akan berbuat, kita akan dukung Saudara-saudara. Ini 34 kita segera mulai, begitu ada uang, kita arahkan ke sini juga. Bagaimana kita mau jual, kita mau harapkan pariwisata kalau lingkungan kita enggak benar, jorok, kotor.
Saudara-saudara,
Dalam waktu dekat, saya sebetulnya mau launching apa yang saya sebut, Gerakan Indonesia ASRI (Aman, Sehat, Resik, Indah). Resik saya tanya artinya apa? Artinya bersih, tertib dan sebagainya. Ini hanya suatu, katakanlah nama tapi wujudnya tadi, semua instansi pemerintahan harus memimpin korve. Anak sekolah enggak apa-apa, pagi-pagi 10 menit, 15 menit, setengah jam. Kalau ratusan, ribuan itu cepat itu. Modalnya nanti apa? Modalnya gerobak-gerobak, truk-truk sampah, dan sebagainya.
Kemudian, salah satu dalam rangka Indah, saya lihat, Saudara-saudara, semua kota, semua kecamatan hampir semua desa kita sekarang, maaf ya, terlalu banyak genteng dari seng. Seng ini panas untuk penghuni. Seng ini juga berkarat. Jadi, tidak mungkin Indonesia indah kalau semua genteng dari seng. Maaf, saya tidak tahu ini dari dulu industri aluminium dari mana ya? Maaf, bikin yang lain-lain deh.
Saya ingin semua atap Indonesia pakai genteng, ya. Jadi, nanti ini gerakannya adalah gerakan, proyeknya adalah gentengisasi seluruh Indonesia. Alat-alat genteng itu, pabrik-pabrik genteng itu mahal. Jadi, nanti koperasi-koperasi merah putih akan kita lengkapi dengan pabrik genteng. Genteng itu bahan bakunya dari tanah dan dicampur dengan beberapa zat limbah lainnya bisa ringan dan kuat. Saya dapat laporan dari profesor-profesor kita, bahwa limbah dari batu bara, ash itu dari batu bara ya, itu dicampur dengan tanah bahan genteng yang baik.
Jadi, Saudara-saudara, kita akan bantu Saudara. Nah itu (tayangan gambar genteng rumah), sebelum gentengisasi, sesudah gentengisasi. Ini serius, ya. Bupati, Wali Kota yang tidak mau kotanya indah, terserah. Yang mau, ayo bersama kita bikin kotamu indah, bikin kecamatanmu indah, bikin desamu indah. Bagaimana?
Saudara-saudara,
Mungkin hal ini enggak ada di buku, tapi kalau kita ingat nenek kita, kakek kita, atasnya itu pakai rumbia atau pakai ijuk atau pakai sirak, benar kan? Atau, pakai bahan-bahan dari alam, jadi sejuk, sejuk. Dulu desa ibu saya di Minahasa itu pakai rumbia semua, sejuk. Sekarang seng, seng.
Jadi, Saudara-saudara, saya mengajak ini sangat penting. Turis dari luar, untuk apa dia datang melihat seng berkarat? Karat itu lambang degenerasi. Saya berharap dalam dua-tiga tahun Indonesia tidak akan kelihatan karat. Karat adalah lambang degenerasi bukan lambang kebangkitan. Indonesia bangkit, Indonesia harus kuat, Indonesia harus indah, rakyat kita harus bahagia.
Saudara-saudara,
Saya kira ini dulu untuk tahap pertama, waktu mungkin untuk ishoma. Nanti kembali saya kasih beberapa pengarahan yang mungkin khusus untuk para pemerintah saja. Terima kasih, untuk sementara saya break dulu. Saya sudah bicara tadi berapa lama? Dua jam, ya. Tahap yang kedua ini tidak akan dua jam, mudah-mudahan. Saya berusaha satu jam lagi. Tadi sekarang kita break, ishoma, kita bisa istirahat sebentar nanti kita kembali lagi. Mendagri yang atur, ya. Mendagri kemana ini?
Oke, sebentar lagi saya akan resmi buka.
Oh iya, ini juga dalam rangka Indonesia ASRI, terus terang saya minta kepada para kepala pemerintah, tolong tertibkan iklan-iklan, spanduk-spanduk terlalu banyak. Kalau saya ke Balikpapan dan saya ke Banjarmasin hampir enggak berbeda, spanduk, spanduk, spanduk. Kalau saya naik ke Hambalang, spanduk, spanduk spanduk. Ayam goreng, pesan satu dapat satu free, kenapa harus besar-besar sih? Turis datang, tidak mau lihat spanduk. Bogor itu dulu kota paling indah, kota paling indah. Bung Karno lebih senang di Bogor daripada di Jakarta. Dari dulu aku pingin tinggal di Bogor, akhirnya jadi Presiden ya tinggal di Bogor.
Saudara-saudara,
Terlalu banyak spanduk, baliho, iklan. Tolong ditertibkan, ajak bicara pengusaha Kadin, Hipmi, ya kan, asosiasi pengusaha, bicara sama mereka. You bikinlah iklan jangan terlalu wah. Orang ke Bali lihat, aduh. Orang ke Bali ingin lihat Bali, dia tidak ingin lihat Kentucky Fried Chicken besar-besar, McDonald. Jalan-jalan protokol ditertibkanlah ya kan, ajak bicara baik-baik. Kalau kau mau buka bengkel, bukalah bengkel tapi depannya ya sopan, gitu ya. Ini, ini untuk kita semua. Kabel-kabel listrik, seliweran, seliweran, seliweran.
Baik, terima kasih. Kita break.
Dengan mengucap bismillahirahmanirrahim, pada pagi hari ini, Senin, 2 Februari 2026, saya Prabowo Subianto, Presiden Republik Indonesia, dengan secara resmi saya nyatakan Rapat Koordinasi Nasional Pemerintah Pusat dan Daerah Pusat Tahun 2026 secara resmi dibuka.
Terima kasih. Sampai ketemu pada sesi kedua.
Selesai.